
Hari-hari yang dilalui sepasang kekasih ini memang terbilang cukup unik, mereka merasa canggung tiap kali bersama.
Meski Arka semakin posesif juga semakin cinta dan sebaliknya Lulu makin hari semakin mencintai Arka, tapi tiap bersama Lulu merasakan kecanggungan
Seminggu sudah pesta ulang tahun Lulu yang berlanjut dengan lamaran pribadi Arka, kini keduanya masih sangat canggung untuk memulai, tiap kali bertemu dengan Arka atau sedang ngedate dengan Arka, Lulu malah merasa nyaman dengan status persahabatan seperti sebelum pria itu melamarnya.
Lulu masih berjibaku dengan pikirannya tentang hubungan dengan Arka, hingga tak sadar Lulu menabrak seseorang yang di hadapannya.
“Maaf maaf, saya minta ma...” Lulu tidak meneruskan perktaannya karena tersadar dengan parfum yang sangat familiar.
Kemudian mendongak mencari tau siapa gerangan yang ia tabrak. Tapi malah senyum manis dari seorang pria tampan bak titisan dewa Yunani.
“Pagi-pagi kok udah ngalamun aja kenapa sih sayang..” kata Arka setelah berhasil memerangkap pinggang Lulu dengan posesif.
Yah, pria itu menjadi pria posesif sejak melamar sahabat tapi kekasihnya itu.
Lulu yang tersikap dengan panggilan Arka tersebut malah bingung sendiri, antara percaya atau tidak.
“Eh, maaf ya Pak, nggak sengaja aku” jawab Lulu risih, karena berusaha manggil Arka dengan fasih karena selama ini dia lebih senang dan nyaman panggil Ley, panggilan khusus.
Semua orang yang ada di lobi kantor tersebut sudah biasa dengan kelakuan Arka kepada Lulu, karena semua karyawan Soraya Corp sudah mengetahui kalau Lulu adalah tunangan Arka.
“Kamu kenapa ngelamu gitu sih? Ada masalah, kalau ada masalah ngomong sama aku dong, kali aja aku bisa bantu” celoteh Arka sambil menggandeng tangan lulu menuju ruangan Arka.
“Nggak ada apa-apa kok beneran deh” jawab Lulu agak berbohong karena sebenarnya Lulu masih nggak percaya dengan status baru mereka, Lulu merasa menjadi lebih caggung dengan Arka
"Keruangan aku sebentar ya, ini kan masih pagi, sekalian kita sarapan dulu, aku udah masakin buat kamu lho” kata Arka sambil menunjukkan papperbag yang ditangan satunya,
“Aku udah sarapan kok, masih kenyang, kamu mau aku jadi gendut?” balas Lulu dengan senyuman manis yang sangat Arka rindukan
Arka baru saja pulang dari perjalanan dinas selama dua hari di salah satu kota di Jawa Timur, dan pagi ini berniat menjemput Lulu tapi saat ke rumah Lulu orang tua Lulu mengatakan bahwa Lulu sudah berangkat pagi-pagi sekali
“Kamu jangan bohong, aku tadi ke rumah lho dan bunda bilang kamu udah berangkat pagi-pagi sekali dan belum sempet sarapan, makanya aku bawa sarapan ke kantor” Arka menjawab sambil terus menggandeng Lulu dan memasuki sebuah kapsul besi dan menuju ruangan Arka.
Setelah sampai di ruangann Arka, tiba-tiba Lulu merasa tidak enak hati karena sedari tadi banyak karyawan yang menatap Arka dan Lulu.
“Ley... eh maksudnya Arka... aku ke ruangan aku aja ya, aku mau revisi laporan akun kemarin”
“Sarapan dulu aja sayang, ini aku udah buatin spesial buat kita lho, masa kamu nggak mau makan bareng aku sih yang” Arka berubah menjadi mode manja seperti anak kecil.
“Ya kalau gitu biar aku bawa aja makanan ke ruangan aku ya?” tawar Lulu.
Arka yang sudah duduk di sofa set seketika mengulurkan tangan yang berisi makanan ke arah Lulu, dan saat Lulu hendak mengambil kotak makan tersebut tia-tiba Arka menarik Lulu hingga jatuh ke pangkuannya
“A... Arka lepasin iihh Ka,, malu entar kalau ada yang lewat” Lulu masih berusaha melepaskan belitan tangan Arka di pinggang Lulu.
“Biarin aja salah sendiri mu ninggalin aku buat sarapan di ruangan kamu, memangnya kamu nggak kangen sama aku yang? Aku kangen lho sama kamu, dua hari rasanya lama banget yang, sakau aku tu” Gombalan Arka meluncur dengan bebas dari mulut Arka
“Pokoknya kamu harus temenin aku sarapan disini kalau kamu nggak mau aku kurung di ruangan aku seharian dan nggak boleh kerja” Arka masih betah memangku Lulu sambil menciumi seluryh wajah Lulu tanpa jeda.
Hingga keduanya pun tertawa dan saling pandang, dan dengan gemas Arka mencium bibir Lulu, Lulu yang tersikap atas perbuatan Arka tapi hati dan pikiran Lulu seakan menuntun untuk membuka mulut, hingga akhirnya Lulu membuka mulut agar Arka bisa mengakses rongga mulut Lulu
Ciuman mereka sangat lembut saling mencecap satu sama lain, jujur ini baru pertama bagi Lulu tapi seakan naluri membantunya untuk mengimbangi ciuman Arka
Ciuman mereka berakhir karena hampir kehabisan oksigen, Arka tersenyum “Kalau kamu nggak mau makan bareng aku disini, aku akan hukum kamu lebih dari yang tadi” Suara Arka parau di depan bibir Lulu sambil mengusap lembut bibir Lulu yang sedikit bengkak karena ulah Arka.
Akhirnya mereka makan dengan sesekali bercanda, hingga akhirnya jam sudah mulai menunjukkan pukul delapan lebih tiga puluh menit, Lulu akhirnya kembali ke kubikelnya, mereka kembali bekerja dengan sungguh sungguh.
****
Jam istirahat pun tiba, Lulu masih mengerjakan laporan penjualan yang hampir selesai, “Lo nggak istirahat Lu, kata Sandi”
“Bentar deh, gue lanjutin dulu bentar tinggal dikit lagi” Jawab Lulu.
“Oke gue duluan ke kantin sama yang lain, ntar lo nyusul ya,” kata Sandi sambil berlalu meninggalkan Lulu.
Lima menit berlalu dan tugas Lulu selesai, kini sedang membereskan pekerjaannya dan segera menuju ke kantin.
Tiba-tiba
“Lulu, nanti setelah jam makan siang kamu ikut bagian personalia meeting dengan klien ya, saya ada urusan mendadak, istri saya sedang sakit dan dilarikan ke rumah sakit, kamu gantiin saya ya,” perintah Pak Bowo kepala marketing pada Lulu.
“Oh iya pak, tapi nanti kalau saya kesulitan saya telfon bapak ya? Kata Lulu
“Iya, nanti kalau kamu ada yang nggak ngerti kamu telfon saya aja, saya pergi dulu ya Lu,” pamit pak Bowo.
Akhirnya setelah jam makan selesai Lulu dan Pak Eka kepala bagian personalia sedang berada Handoko Grup menggantikan Pak Bowo.
Mereka berada di ruang meeting sedang menunggu perwakilan dari Handoko Grup
Tok tok tok...
Ceklek.....
Pintu terbuka beriringan dengan seorang pria tampan mengenakan setelan jas berwarna merah marron dengan kemeja merah dan dasi yang senada.
Lulu pun memutar kepala mengikuti arah suara dan tanpa sadar Lulu menatap pria itu dengan mata membulat dan nafas tercekat.
“Dia....” batin Lulu karena kaget dengan pria itu.
Begitu pun dengan pria itu yang menatap Lulu dengan penuh selidik.