A Dry Red Rose From Aslan

A Dry Red Rose From Aslan
Part 9


7 am


Caspian sedikit gelisah, perasaannya tak tentu. Ia seperti merindukan seseorang tetapi ia tidak tahu siapa yang dirindukannya. Bayangan puteri teman Ayahnya terus menari di pelupuk mata, tapi ia tak yakin perempuan itulah yang dirindukannya.


Ia semakin gelisah ketika semalam mendengar pembicaraan Aslan adiknya dengan Bu Anna mengenai bunga yang diberikan untuk Bu Anna, bukan tentang bunganya, tapi tentang pengirimnya.


Caspian merasa khawatir karena Aslan tiba-tiba menanyakan perempuan pemilik toko bunga itu.


Ia ragu. Ia bimbang. Ia gelisah. Kenapa harus sang florist itu yang kini ada di dalam pikirannya? Kenapa harus perempuan berhijab itu yang menjadi alasannya gelisah? Kenapa penjual bunga itu seketika bisa membuat hatinya tak karuan?


"Apa gue samperin dia ke toko bunganya aja ya?" Gumamnya perlahan sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu.


"Caspi?" Sapa Bu Anna ketika ia melihat putera pertamanya masih duduk dan belum beranjak untuk pergi ke kantor. Caspian terperanjat dari tempat duduknya.


"Iya Ma?" Tanya Caspian sembari agak panik, khawatir sang Ibu mendengar gumamannya tadi.


"Kamu kok belum berangkat ke kantor? Sudah jam 7 loh." Ucap Bu Anna sembari menunjukkan jam tangannya yang memeang sudah mengarah ke angka 7.


"Iya, Caspian berangkat bentar lagi." Ucap Caspian sembari meraih sepatu di raknya. "Ohya, Aslan mana?" Tanya Caspian.


"Dia masih tidur, Mama baru saja dari kamarnya bukain gorden kamarnya. Kenapa?" Tanya Bu Anna.


"Nggak papa. Ehm, Caspian dapar dari Leo katanya kemaren Aslab turut jadi anggota pameran, ia memamerkan beberapa karya lukisnya di sana. Karena pameran itu tujuannya untuk kepentingan sosial, Caspian mau coba mengajukan diri untuk menjadi donatur." Ucap Caspian.


"Waah, kok dia nggak bilang-bilang Mama sih? Padahal tujuannya bagus banget loh. Kayaknya Mama juga harus jadi donaturnya deh." Ucap Bu Anna.


"Harus dong Ma. Yaudah kalau begitu, Caspian berangkat Ma." Ucap Caspian berpamitan pada Bu Anna kemudian ia berlalu.


...*******...


2 pm


Setelah dari kampus, aku langsung pergi ke toko bunga. Di sana Lili terlihat tengah sibuk melayani para pembeli. Karena aku tidak terlalu memiliki banyak tugas kampus, jadi aku langsung turut membantu Lili.


"Mba Ash, nggak ada tugas kuliah?" Tanya Lili.


"Nggak Li, santai aja." Ucapku. Aku lihat Lili sudah benar-benar telaten melayani para pembeli. Tangannya dengan gesit menyusun buket, dan ia pandai sekali memilih bunga terbaik dengan baiknya.


Setelah toko agak sepi, kami beristirahat duduk dan memasang papan bertuliskan TUTUP dahulu agar Lili bisa beristirahat dengan tenang, ia bilang belum melakukan apapun selain sholat dan aku juga ada sedikit yang harus dikerjakan di laptopku.


"Kamu mau pesen makan Li? Atau kita makan di luar aja?" Tanyaku.


"Aku pesan aja Mba ah." Ucap Lili.


"Yaudah, aku pesenin ya. Kamu mau apa? Ayam, nasi atau apa? Minumnya apa?" Tanyaku.


"Lili beli aja deh ke depan Mba, Mba mau titip nggak?" Tanya Lili.


"Boleh, aku beli minum aja ya Li. Ini uangnya, pake uang aku." Ucapku.


"Nggak usah mba ...."


"Hey? Kamu nggak boleh nolak Li!" Tegasku. Lili pun nurut apa kataku.


Saat Lili di luar, aku melihat seorang pria berdiri di depan pintu toko bunga. Saat aku perhatikan ternyata dia adalah Caspian. Ada apa gerangan dia datang kemari? -batinku.


Aku beranjak ke depan dan membuka pintu kemudian aku keluar. Aku tidak bisa mempersilakannya masuk sementara aku di dalam sendirian.


"Assalamu'alaikum." Sapa Caspian.


"Wa'alaikum salaam." Balasku. Setelah aku balas sapaannya, bukannya bertanya atau bicara, Caspian malah terdiam.


"Ada yang bisa saya bantu Pak?" Tanyaku.


"Oh, tidak." Ucap Caspian, dia malah menjadi terlihat gugup. Aku heran, kenapa dia datang seandainya tidak ada yang bisa aku bantu?


"Okay?" Ucapku pelan dengan sedikit nada tanya, menandakan aku bingung dan juga heran.


"Oh ya. Maks, maksud, ehm maksud saya ...."


"Mba Ash?" Lili datang tiba-tiba ketika Caspian masih di tempatku. Aku mempersilakan Lili makan duluan. Kemudian aku mempersilakan Caspian duduk di kursi yang terletak di luar toko bungaku.



"Pak Caspian, saya buatkan dulu minum ya." Ucapku.


"Maaf saya datang mendadak." Begitu kata Caspian setelah aku duduk, aku mengangguk.


"Tidak masalah." Ucapku. Aku kemudian terdiam, Caspian juga tak bergeming.


"Mba Ash, minumannya nggak diminum sekarang? Kalau dibiarin dulu bisa nggak enak mba." Ucap Lili sembari ia mendongak ke luar pintu.


"Sebentar Li." Ucapku, Lili kembali masuk.


"Ashma, saya datang hanya karena, karena ingin datang." Ucap Caspian. Aku menyipitkan kedua mataku karena merasa heran.


"Anda bisa datang kapanpun Pak." Ucapku.


"Tidak. Eh, itu. Kau tidak perlu memanggilku terlalu formal begitu. Caspian saja." Ucap Caspian.


"Ayah saya bilang ...."


"Kita tidak ada urusan bisnis atau apapun itu sesuatu yang formal kan?" Ucap Caspian benada tanya.


"Iya, tapi ini tentang kesopanan." Ucapku.


"Kamu bisa memanggil saya aspian karena itu nama saya, dan itu adalah sebuah kesopanan." Ucap Caspian.


"Oh, okay, Pak-ehmm maksudku Caspi-an." Lirihku. Caspian tersenyum, dia terlihat senang sekali. Berbeda eskpresinya dengan saat dia baru datang.


"Saya mau tanya, boleh?" Tanya Caspian.


"Silahkan Pak, eh Caspi." Ucapku mempersilahkan.


"Apa kau kenal dengan adik ...."


"Mba Ash, kita buka sekarang aja ya?" Tanya Lili sembari mendongak lagi ke luar pintu. Caspian berhenti bicara karena Lili.


"Boleh Li." Ucapku. "Sebentar Pak, ehm Caspian, saya ...."


"Kalau kamu sibuk sekarang, bisa kita ketemu nanti setelah selesai kerja?" Tanya Caspian padaku.


"Oh, iya dimana?" Tanyaku.


"Saya jemput kamu saja di sini. Kamu pulang pukul berapa?: Tanya Caspian. Aku sedikit kaget.


"Ehm, pukuull, pukul 4 saya tutup toko." Ucapku.


"Okay, kalau begitu saya pergi. Sampai jumpa nanti, assalamu'alaikum." Ucap Caspian dan berlalu.


"Wa'alaikumussalam." Jawabku. Aku berdiri di dekat kursi sembari menatap kepergian Caspian sampai ia benar-benar tak terlihat.


...********...


4 pm


Lili telah berlalu pulang lebih dulu. Saat aku menunggu Caspian datang, yang datang justru seorang pria lain. Pria yang pernah aku temui di pameran kemarin. Dia adalah pelukis itu.


(Mohon maaf ya, gambarnya nggak sesuai, hehe. Mengikuti ekspresi yang terbayang saja, wkwk. Sekiranya begitulah ekspresi mereka berdua saat bertemu, Ashma dan Aslan.)


Kenapa dia datang kemari? Apa dia ingin membeli bunga? Atau hanya sekedar lewat saja?


...********...


POV Aslan


Perempuan itu? Kenapa dia ada di depan toko bunga ini? Aku benar-benar kaget melihatnya ada di sana. Sedang apa dia? Tapi kali ini, dia benar-benar cantik, jauh lebih cantik dari pada saat aku bertemu dnegannya di pameran hari kemarin.



Matanya yang lebar itu menatapku, aku benar-benar tidak bisa mengalihkan pandangan darinya.


Aku sedikit tersenyum kepadanya, dan dia membalas senyumanku, simpul.


"Toko bunganya?" Tanyaku..


Bersambung ....