
5 pm.
Sampai di kantor Ayah, aku menunggunya di lobi. Ayahku bekerja sebagai seorang manager di sebuah perusahaan besar milik temannya sejak lama. Ayah juga sudah sangat dipercaya oleh temannya yang kini beliau sudah lebih dulu pergi. Sekarang perusahaan ini dipimpin oleh putera pertama teman Ayah, namanya Caspian Rezzada.
(Visual Caspian Rezzada)
Aku sudah cukup banyak tahu tentang perusahaan ini, Ayah selalu bercerita mulai dari bagaimana ia mengenal temannya yang bernama Rar sehingga diangkat menjadi orang kepercayaannya. Ayah juga ceirtakan mengenai keluarga almarhum Pak Rar. Pak Rar memiliki dua orang putera, tapi hanya satu putera saja yang aku tahu dan kenal nama serta wajahnya.
Kata Ayah, putera kedua Pak Rar sempat marah karena kini perusahaan Ayahnya itu harus dipimpin oleh kakaknya. Tapi Bu Anna yang merupakan istri Pak Rar coba meredakan amarah putera keduanya dan itu berhasil, putera kedua mereka sudah menerima keputusan itu terlebih karena Caspian lebih mampu dalam hal bisnis sementara adiknya itu adalah merupakan anak seni.
Aku tidak terlalu faham bagaimana keluarga Pak Rar, tapi yang jelas mereka semua sangat baik kepada Ayah, Caspian juga tak semena-mena menurunkan jabatan Ayah hanya karena Pak Rar sudah tidak ada, ia justru bersikap lebih baik pada Ayah dan sesekali meminta Ayah membimbingnya dalam berbisnis.
"Kenapa aku memikirkan mereka?" Lirihku dan berdiri seketika aku lihat Ayah telah datang menghampiriku di lobi. Ia datang bersama Caspian, pria berusia 24 tahun itu. Dari looknya, Caspian memang sangat pantas menjadi seorang pimpinan perusahaan, tapi entah bila dibandingkan dengan adiknya.
"Hai." Sapa Ayah kepadaku.
(Visual Arash Arshad, Ayah Ashma)
"Hai Ayah." Balasku, aku mencium punggung tangannya dan mengucapkan salam juga, Ayah membalas salamku kemudian kami berjalan ke luar lobi untuk menuju parkiran.
Caspian juga keluar bersama kami, namun berpisah karena mobil kami agak berjarak. Aku lebih dahulu pergi ke mobil sementara Ayah terlihat sedikit mengobrol dahulu dengan Caspian.
Dan tak lama Ayah menyusulku di mobil.
"Gimana kuliahnya hari ini?" Tanya Ayah sembari ia masuk mobil dan memasang sabuk.
"Alhamdulillah lancar seperti biasanya kok yah." Jawabku. Ayah tersenyum mendengar jawabanku dan mulai menjalankan mobilnya. Kami melaju untuk segera pulang.
"Caspian terlihat ...."
"Pak Caspian." Ayah mengoreksi caraku meyebut nama bosnya yang masih muda itu. Aku menutup mulut dengan tangan kemudian kembali bicara.
"Dia masih muda Yah, kenapa harus menyebutnya dengan sangat formal begitu? Lagipula kita kan tidak sedang di ruang kerja Ayah, ini hanya pembicaraan antara aku dan Ayah." Ucapku pada Ayah.
"Apa kamu akan bersikap sopan, baik dan menghormati orang lain hanya di depan orang-orang saja? Kemudian kamu akan berubah menjadi orang yang jahat, senang membicarakan orang lain dan bersikap tak sopan saat tidak ada orang lain. Begitu?" Tanya Ayah kepadaku.
"Bukan begitu maksudku Yah, aku hanya ...."
"Selama itu hal baik, biasakanlah. Menyebut nama orang dengan panggilan yang sopan itu hal baik kan? Maka biasakanlah memanggil nama orang lain dengan panggilan yang sopan." Ucap Ayah.
"Baik Yah, maafkan Ashma." Balasku sembari agak menunduk. Benar juga apa kata Ayah, selama itu hal baik dan sopan dan mudah sekali untuk dilakukan kenapa harus aku lewatkan? Lagipula, aku'kan sudah terbiasa memanggil Caspian dengan sebutan pak.
"Tidak masalah, jangan menunduk seperti itu Nak." Ucap Ayah, aku pun menoleh ke arahnya dan tersenyum lagi.
"Ohya, mau minum kopi?" Tanya Ayah.
"Aku baru saja dari kedai Yah." Jawabku. Ayah menoleh dan tersenyum.
"Waah tidak mengajak Ayah nih." Ucap Ayah sembari tersenyum simpul, aku sedikit terkekeh dan meminta maaf.
"Ayah, aku pergi karena tadi ada tugas yang harus dikerjakan menggunakan internet. Kuotaku habis dan aku malas jika harus menggunakan internet di kampus, aku agak bosan juga dengan suasana kampus Yah. Jadi aku pergi ke kedai untuk mendapatkan internet gratis." Ucapku.
"Hahaha Ayah faham, kamu menjelaskannya sembari cemas begitu. Kamu ke kedai sendiri?" Tanya Ayah.
"Aku sendiri, cuman di sana aku bertemu Azhar tanpa sengaja Yah. Ayah masih ingat Azhar kan?" Tanyaku.
"Azhar mahasiswa teknik itu?" Tanya Ayah.
"Iya, Azhar yang sekarang kuliah di Bandung dan dulu Azhar teman SMA Ashma Yah." Jawabku.
"Oh iya iya. Kamu ngobrol apa saja dengannya? Kalian sudah lama tidak bertemukan?" Tanya Ayah.
"Itu bagus Nak. Kalian memang sudah berpisah, tapi masa depan bisa saja mempertemukan kalian kembali. Mungkin kalian akan bekerja di kota yang sama, mungkin ada yang satu profesi juga dan lainnya. Pesan Ayah, jangan sampai putus tali-tali silaturahmi seperti itu." Ucap Ayah.
"Iya Yah, insya Allah Ashma akan jaga selama Ashma mampu." Ucapku.
"Semoga." Ucap Ayah. "Ohya, bagaimana kalau kita makan di luar malam ini?" Tanya Ayah.
"Boleh banget Yah, lagian sudah lama juga'kan nggak makan di luar." Ucapku menyetujui ide Ayah untuk makan malam di luar. Selain agar tidak perlu masak, kami juga ingin melepas rindu suasana makan malam di luar.
...****************...
Esok harinya ....
6.15 pm
Setelah aku dan Ayah siap untuk pergi, kami pun berangkat dengan memakai mobil tua Ayah. Ayah bilang kami akan pergi ke tempat makan favorit ibuku. Tempat makan yang sederhana namun sangat berkelas.
"Dulu, sebelum memilikimu Ibumu selalu meminta untuk datang ke restoran itu sebulan sekali. Tapi saat kamu lahir, Ibumu lebih memilih menyimpan uang untuk pergi ke restoran ke dalam tabungan, ia bilang itu tabungan untuk pendidikanmu padahal kan kau masih bayi, dan Ayah bisa menabung untuk pendidikanmu." Ucap Ayah.
"Waah, aku senang sekali memiliki ibu yang visioner dan sangat baik. Andai Ibu tahu sekarang aku sudah mau selesai kuliah, ia pasti sangat senang." Ucapku sembari menatap ke arah depan dengan tatapan kosong, pikiranku kini tertuju kepada Ibu yang sudah 16 tahun meninggalkanku.
"Apalagi kau kuliah karena beasiswa prestasi, ibumu pasti sangat bangga." Tambah Ayah, aku hanya tersenyum mendengar ucapan Ayah.
Begitu sampai di restoran, Ayah bilang ia sudah memesan meja, dan di meja yang Ayah pesan itu tidak kosong. Terlihat seorang pria yang tak asing lagi, ternyata Ayah juga mengundang Caspian untuk makan malam bersama kami. Kami pun duduk dan mulai memesan makan serta minum.
Sembari menunggu pesanan datang, Ayah banyak mengobrol dengan atasannya itu. Aku hanya diam dan coba memahami arah pembicaraan mereka saja.
"Adikku tidak pulang sejak dua hari lalu." Ucap Caspian. Mendengarnya wajah Ayah berubah ekspresi.
"Kenapa lagi adikmu?" Tanya Ayah.
"Saya benar-benar tidak mengerti Pak, saat saya coba tanya dia, dia tak menjawab dan tidak bisa dihubungi sampai sekarang." Ucap Caspian. Aku turut tidak faham dengan apa yang terjadi pada adiknya Caspian, apa yang ada di dalam pikirannya dan kenapa harus meninggalkan rumah serta membuat banyak orang cemas segala? Tidak bisakah ia bicarakan baik-baik seandainya ia dalam masalah?
"Mau coba lapor polisi agar bantu mencari?" Tanya Ayah.
"Tidak Pak, saya sudah meminta banyak orang mencarinya, saya sudah kerahkan semua orang kepercayaan Ayah juga untuk bantu mencari." Ucap Caspian.
"Maaf, apa adik Pak Caspian sering kabur-kaburan?" Tanyaku coba bertanya. Ayah menoleh seketika aku bertanya pada atasannya, ia terlihat keberatan dengan pertanyaanku.
"Nak?" Lirih Ayah.
"Tidak masalah Pak Arash. Adik saya memang sering keluar rumah, tapi biasanya dia pulang meski selalu terlambat. Ia biasa datang ke rumah pukul 11 malam atau lebih dan keluar rumah pukul 4 pagi. Tapi sejak dua hari lalu ia keluar rumah dan belum kembali." Jawab Caspian.
"Saat adikmu di rumah, Pak Caspian tidak coba tanyakan kenapa dia seperti itu?" Tanyaku.
"Tentu saja saya tanyakan selalu. Tapi menjawab atau tidak, itu hak dia." Jawab Caspian.
"Oh iya." Ucapku.
Saat kami telah mendapat pesanan kami, tiba-tiba ponselku berdering. Sebuah panggilan masuk dari Lili, karyawan tetap di florist ku. Aku meminta izin kepada Ayah untuk mengangkatnya sejenak.
"Gimana Li? Ada apa telpon jam segini?" Tanyaku.
"Mba Ash, di florist ada sedikit masalah." Ucap Lili. Mendengar statement pertama dari Lili aku segera beranjak dari kursi dan menjauh dari meja makan.
"Ada apa Li? Masalah apa? Kamu kok belum pulang jam segini?" Tanyaku.
"Itu dia Mba. Aku belum bisa pulang karena masalah ini, Mba Ash bisa datang langsung nggak?" Tanya Lili.
"Aku lagi di luar sama Ayah Li, bentar kamu tunggu di sana aku izin Ayah dulu Ya?" Ucapku.
"Iya Mba, aku tunggu di sini." Ucap Lili di seberang sana.
Bersambung...