
Sampai di florist milik Ibu yang kini aku urus atas bantuan Ayah juga, Lili menyambutku di depan gerbang sembari wajahnya terlihat panik. Sebelum mengatakan apapun, ia menghela napas panjang-panjang.
"Tenang Li, kamu tenangkan diri kamu dulu." Ucapku pada Lili sembari merengkuh tangannya yang coba meraih tanganku.
(Visual Lili Pradani)
"Mba, di dalam, di dalam ada, ada seorang pria." Ucap Lili sembari terus memberi jeda. Aku mengerutkan keningku.
"Seorang pria? Pak Herman?" Tanyaku, Pak Herman sendiri adalah security yang sudah bekerja sejak Ibu masih ada dulu. Lili menggelengkan kepalanya. "Terus siapa? Dan Pak Herman dimana?" Tanyaku.
(Visual Pak Herman, hehe)
"Kebetulan Pak Herman hari ini tidak datang Mba, istrinya sakit parah. Mba ikut Lili yuk!" Lili menuntun diriku untuk masuk.
Aku kaget, begitu masuk aku disuguhi seorang pria berpenampilan layaknya preman tengah berbaring di sofa.
"Siapa Li?" Tanyaku agak berbisik.
"Aku nggak tahu Mba. Dia datang sejak sore tadi saat pelanggan ramai. Setelah ku urus semua pelanggan, aku lihat pria ini sudah ada di sini, dia mabuk berat lalu tertidur sampai saat ini. Aku tidak bisa pulang karena itu." Ucap Lili.
"Kenapa tidak hubungi aku dari tadi Li?" Tanyaku.
"Maaf Mba, aku kira dia bakal cepet bangun. Tapi ternyata lama sekali." Keluh Lili.
"Okay, tidak masalah. Apa tidak ada tanda pengenal?" Tanyaku.
"Aku belum cek Mba." Jawab Lili. Aku kemudian meminta Lili melihat barangkali pria ini membawa dompet berisi tanda pengenal atau apapun yang bisa menunjukkan identitasnya.
"Nggak ada Mba Ash." Ucap Lili.
"Okay." Ucapku kemudian terdiam sejenak. "Kita tinggalkan saja dia di sini sampai besok dia bangun, karena saat kondisi mabuk berat seperti itu pasti sulit untuk bisa sadar lagi." Ucapku.
"Mba Ash yakin mau tinggalin florist sementara dia ada di sini?" Tanya Lili.
"Mau bagaimana lagi? Kita nggak punya jalan lain Li." Ucapku.
"Bagaimana kalau dia ini orang jahat? Dia seorang pemabuk." Tanya Lili. Aku menoleh ke arah Lili dan tersenyum.
"Kamu jangan berburuk sangka dulu Li. Mungkin penampilan dia memang seperti itu, tapi kita tidak pernah tahu bagaimana isi hati seseorang dan bagaimana pemikirannya." Ucapku coba membuat Lili berpikir positif. Lili menunduk dan mengangguk.
"Terus, kalau nanti dia bangun tengah malam atau sebelum besok kemudian dia bingung bagaimana?" Tanya Lili.
"Ambilkan aku memo Li." Ucapku memerintah Lili, Lili mengikuti apa yang aku perintahkan kepadanya, ia juga memberiku pulpen untuk menulis. Aku kemudian menulis pesan singkat untuk pria yang tengah tertidur pulas ini. Aku menulis untuk memberitahu dia bahwa dia tengah berada di florist kami, aku meminta dia agar tidak pergi sebelum Lili atau aku datang esok hari, aku juga mempersilakan dia seandainya dia ingin minum, makan atau membersihkan badan.
"Kalau dia orang jujur, dia tidak akan makan sebelum kita persilakan. Saat bangun nanti, mungkin dia akan merasa lapar, masa kita biarkan dia bangun tanpa memberinya makan?" Ucapku pada Lili.
"Kenapa Mba baik sekali? Kita tidak benar-benar tahu siapa dia, wajahnya saja Mba tidak tahu Mba, kenapa Mba bisa dengan mudah memercayainya?" Tanya Lili.
"Apa aku harus kenal kamu dulu untuk aku bantu kamu? Apa kamu akan membiarkan orang yang kamu tidak kenali berada dalam kesulitan meskipun kamu bisa membantunya?" Tanyaku pada Lili.
"Maaf Mba, Lili salah lagi. Sejak awal kenal Mba Ash, Lili coba belajar banyak dan Lili benar-benar mendapat banyak pelajaran. Terima kasih Mba, kalau begitu Lili siapkan dahulu apa yang bisa pria ini makan nanti ya Mba." Ucap Lili sembari ia pergi ke dapur mini kami.
Setelaj Lili selesai, kami pun mengunci florist dari luar. Aku dan Lili pergi ke arah berlawanan, aku akan kembali menemui Ayah dan Caspian, sementara Lili langsung pulang ke rumahnya.
...*******...
1 am.
Pria yang disebut Lili sebagai "Pemabuk" itu tiba-tiba bangun saat hari sudah semakin gelap dan sunyi. Ia terbatuk-batuk dan merasakan kepalanya berat sekali.
Lalu saat matanya benar-benar terbuka, ia melihat ke sekelilingnya penuh bunga dan benda-benda yang biasa digunakan untuk merangkai bunga dan lainnya. Ia heran, bagaimana dirinya bisa berada di tempat seperti itu.
Pria itu merasa haus dan tenggorokannya benar-benar kering.
"Halo?" Seru pria itu untuk memastikan siapa yang berada dengannya di sana. Tak ada jawaban.
Ia berdiri dan beranjak dari sofa tempatnya berbaring tadi. Lagi-lagi ia coba memerhatikan benda-benda di sekelilingnya sampai ia menemukan kertas berisi pesan singkat yang berada jelas di hadapannya, ia membacanya.
"Assalamu'alaikum. Saya owner florist ini. Untuk masnya yang sedang berada di florist ini, maafkan kami tidak bisa menunggu sampai masnya bangun. Kami mempersilakan Mas seandainya mas masih ingin beristirahat di sini, jika masnya butuh makan pergi saja ke dapur dan buat saja makanan yang masnya suka, di sana juga ada air minum, ambil saja gelas bersihnya. Di florist juga terdapat kamar mandi kecil, jika masnya ingin bersih-bersih silakan. Kami percaya pada masnya untuk tetap berada di florist kami sampai esok saya atau karyawan saya datang. Terima kasih, wassalamu'alaikum." Baca pria itu lirih.
"Bagaimana bisa dia percaya gue gitu aja?" Lirih pria itu kemudian ia berjalan melihat-lihat benda di sekitarnya. Bunga-bunga cantik berjejeran di sana.
Pria itu kemudian beranjak ke dapur untuk minum, ia juga melihat bahan yang bisa dimasak. Ia kira ia akan menemukan makanan yang matang, tapi sepertinya ia harus masak dahulu.
"Bagaimana gue mulai masaknya, mau masak apa saja gue nggak tahu." Cetus pria itu sembari duduk di kursi di sudut dapur mini. Ia melihat terdapat satu sisir pisang, ia meraih satu dan memakannya untuk mengganjal perut.
"Masa iya gue harus makan pisang terus? Perut gue kenapa lapar gini sih?" Cetus pria itu. Ia berdiri dan melihat barang kali ada makanan instan. Ya, ia melihat spaghetti kemasan.
"Gimana cara masak spaghetti?" Keluh pria itu. Ia menyerah dan kembali ke depan. Ia melihat sebuah telpon rumah di meja kerja di ruangan imyang serba ada itu. Ia duduk di depan meja itu dan mencoba menelpon ke rumahnya, tak ada jawaban.
"Sial!" Cetus pria itu. Matanya kini tertuju pada nomor ponsel di secarik kertas yang tertempel di dinding. Terdapat namanya juga di sana, Mba Ash.
"Mba Ash siapa ya? Owner tempat ini atau saudarinya karyawan di sini?" Lirihku. "Atau justeru kakaknya owner?" Tambah pria itu.
"Apa gue telpon dia saja dan tanyain bagaiamana cara gue masak spaghetti?" Tutur sang pria sembari mengetikkan nomornya untuj dihubungi.
Setelah semua nomor dimasukkan, ia menekan tombol call.
Bersambung ....