
"Sudah tutup." Ucap perempuan berhijab itu. Dia terlihat heran melihatku datang, aku juga sedikit heran. Kenapa dia ada di sini?
"Oh, okay." Ucapku. "Kalau begitu, saya pamit." Tambahku, perempuan itu hanya mengangguk.
Aku berniat pergi, tapi saat aku sudah melangkah cukup jauh dari toko bunga, aku jadi ingin tahu siapa nama perempuan berhijab itu. Aku coba berbalik ke tempat perempuan itu duduk.
Tapi di sana, sesuatu membuatku sangat terkejut. Perempuan itu kini tidak hanya seorang diri. Pria yang sangat aku kenal hadir di sana, dia adalah Caspian.
Aku tersenyum bak orang bodoh. Lagi lagi Caspian. Kenapa dia selalu lebih dulu dariku? Kenapa dia selalu menang dariku?
Lebih parahnya lagi, aku lihat perempuan berhijab itu pergi bersama Caspian dengan mobilnya.
Andai saja, aku tidak buru-buru pergi. Mungkin Caspian yang akan berada di posisiku saat ini. Andai saja aku tidak kembali, mungkin aku tidak akan pernah tahu bahwa Caspian sedang berurusan dengannya.
Aneh sekali. Kenapa hatiku marah ketika melihat perempuan itu bersama dengan Caspian. Kenapa aku begitu tidak menerima?
Aku tidak mengenal perempuan itu, tapi Caspian mungkin saja sangat mengenalnya, lalu kenapa aku merasa berat saat perempuan itu bisa kenal dengan Caspian?
Aku benar-benar heran dengan hal ini. Ini tidak seharusnya terjadi'kan?
Untuk coba menepis perasaan bodoh ini, aku pergi dari tempat itu.
...********...
"Maaf ya, tadi harus menunggu agak lama." Ucap Caspian sembari dirinya menyetir mobil.
"Tidak masalah." Balasku sembari agak melirik ke arahnya sejenak.
"Ohya, suka kopi?" Tanya Caspian.
"Iya, tapi tidak terlalu sering saya minum kopi." Ucapku.
"Kalau hari ini minum kopi, bisa?" Tanya Caspian sambil menoleh ke arahku lalu kembali fokus ke depan.
"Ehm, boleh. Tapi sepertinya saya memesan minuman non-coffee saja hari ini." Ucapku.
"Iya, no problem." Sahut Caspian.
Sampai di kedai kopi Copilogi, aku dan Caspian turun mobil kemudian masuk bersama. Kami duduk berhadapan. Caspian memanggil seorang pelayan kedai.
Setelah melihat menu di list menu-nya, aku memesan Green tea latte dan waffle sebagai snack-nya. Sementara itu Caspian memesan long black coffee dan french fries.
"Baik, ditunggu sebentar ya Mba, Mas." Ucap pelayan itu dan ia pergi.
Sembari menunggu, kami sedikit mengobrol untuk mencairkan suasana.
"Omong-omong, saya belum tahu jelas kamu ajak saya kemari dalam rangka apa?" Tanyaku pada Caspian. Mendengar tanyaku, wajah Caspian sedikit memerah.
"Ehm, tidak. Saya cuma pengen ada temen ngopi aja." Ucap Caspian, aku tersenyum mendengarnya.
"Memangnya di kantor tidak ada teman ngopi sama sekali?" Tanyaku lagi.
"Ada, cuman kebanyakan mereka pergi bersama pasangan mereka. Jadi saya memutuskan untuk mencari orang lain untuk diajak ngopi." Ucap Caspian.
"Oh, hahaha. Oh ya, waktu itu saat makan malam adikmu kamu bilang tidak ada pulang ke rumah kalian kan? Bagaimana sekarang?" Tanyaku.
"Iya, adik saya sekarang sudah pulang keesokan hari setelah kita makan malam waktu itu." Ucapku.
"Ohh okay, sukurlah. Ehm, apa kamu sudah tanya kenapa dia menghilang dari rumah?" Tanyaku.
"Belum. Saya mau biarkan dia dulu sampai tenang, baru setelah ada momen yang kiranya pas, saya akan coba tanyakan." Ucap Caspian, aku mengangguk.
"Oh, okay." Ucapku.
Pesanan kami datang, kemudian kami menikmatinya dan terdiam sejenak. Di sela sela makan, kami kembali mengobrol.
"Pernah bertemu adik saya?" Tanya Caspian.
"No, never." Jawabku spontan. "Saya tidak tahu wajah adik Pak, ehm maksudku adikmu." Jelasku.
"Ohya, kamu mahasiswi psikolog kan?" Tanya Caspian.
"Iya." Jawabku.
"Mungkin kamu lebih paham bagaimana cara mengatasi atau cara bicara dengan orang yang agak susah diajak bicara. Atau kamu mungkin bisa lebih mengerti perasaan orang lain. Seandainya kamu bertemu dengan adik saya dan coba bicara dengannya, apa kamu bisa?" Tanya Caspian.
"Oh, ehm kapan?" Tanyaku.
"Kapanpun kamu bisa, datanglah ke rumah." Ucap Caspian.
"Okay, ehm besok sore mungkin saya akan datang." Ucapku. "Sembari saya mau ketemu bu Anna." Tambahku.
"Okay, datanglah. Eh, besok saya jemput kamu saja ya?" Usul Caspian.
"Tidak, terima kasih. Saya akan datang sendiri saja, kebetulan besok ada acara dulu di luar." Ucapku.
"Baik, tidak masalah." Ucap Caspian.
...********...
POV Aslan
Aku lihat Caspian baru saja datang. Apa ia baru saja mengantar perempuan berhijab itu pulang? Apa selama itu pertemuan Caspian dengan perempuan berhijab itu?
Mama menyambut Caspian dengan wajah senang, Oma Edith juga begitu. Mereka terlihat senang.
"Dari mana dulu kamu Nak?" Tanya Mama.
"Caspian ada urusan sebentar Ma." Jawab Caspian. Ya, urusan berkencan dengan perempuan itu -batinku melanjutkan.
"Baiklah, sekarang bersih bersih badan, ganti pakaian dan cepat turun lagi buat makan ya." Ucap Mama penuh perhatian.
"Iya Ma." Ucap Caspian sembari berjalan ke arah kamarnya. Saat ia lewat di hadapanku, dia bilang;
"Besok sore lo gak boleh telat pulang ke rumah." Ucap Caspian padaku. Aku sedikit tidak menerima, bagaimana bisa ia mengaturku, sementara dirinya saja pulang terlambat.
"Apa urusan lo?" Tanyaku, tapi Caspian sama sekali tidak menjawab. Ia berlalu.
Sialan, gumamku dalam hati.
...*******...
Begitu sampai di kamarku, aku mendapat panggilan masuk dari Liana. Segera aku mengangkatnya.
"Ash, besok lo beneran harus ikut ya? Gue sama Leo kebagian penyaluran dana untuk panti sosial di dekat kampusmu itu, di Yayasan Kasih Kita. Pokoknya, lo ditunggu banget buat datang. Acaranya jam 8 pagi sampai selesai, bisa'kan?" Tanya Liana.
"Insya Allah Li, besok aku ke kampus pagi banget. Kalau sempat dan kamu masih ada di sana, aku datang setelah selesai dari kampus." Ucapku.
"Okay siiip! Thank you ya Ash!" Seru Liana.
"Iyaa, santai aja Li." Ucapku.
...*********...
POV Aslan
Leo menelponku, aku sempat menolaknya beberapa kali, tapi ia tak henti menelponku jadi aku coba mengangkatnya.
"Kenapa sih Le, gak tahu gue lagi pusing aja!" Cetusku.
"Gue di depan rumah lo!" Cetus Leo.
"Ngapain?" Tanyaku geram.
"Gue butuh bantuan Lo!"
"Yaudah masuk!"
Tak lama, Leo masuk kamarku. Ia terlihat sangat menyebalkan. Terlihay sekali sedang membutuhkan bantuan.
"Lo besok ikut acara penyaluran dana juga ya!" Sahut Leo.
"Nggak nggak, gue sibuk. Lo aja sama Liana."
"Nggak bisa gitu Bro! Selain menyalurkan dana, kita juga butuh tenaga manusia buat bantu berinteraksi dengan orang-orang di yayasan yang akan kita kunjungi. Gue bawa temen, Lia juga bawa temen." Ucap Leo.
"Ya lu kan sama Liana bisa berinteraksi sama mereka. Nggak harus gue diikutsertakan segala."
"Gini Bro, di yayasan yang akan kita kunjungi, ada banyak sekali penghuninya. Ada banyak anak-anak dan juga remaja. Lo tahu kan kenapa mereka bisa ada di panti sosial, ada yang berasal dari jalanan, ada anak yatim yang dititipkan, ada yang sejak bayi sudah di sana karena dibuang. Menurut lo, gue sama Lia doang bakal cukup buat memahami mereka? Bakal cukup tenaga gue berdua sama Lia buat bantu hibur mereka? Sehari besok doang lah Bro!" Ucap Leo.
Leo bicara ada benarnya juga. Lagi pula besok aku tidak ada acara apapun dan tidak ada yang akan aku kerjakan.
"Ok, gue dateng besok." Ucapku.
"Yes! Ohya, si Lia bilang temennya juga bakal ikut dateng. Dia itu cewek yang gue maksud waktu itu Slan, waktu di pameran."
"Yang bikin lo kesengsrem tiba-tiba?" Tanyaku.
"Iya. Gue jadi agak gugup, gue grogi. Menurut lo, besok gue harus ngomong langsung ke itu cewek nggak soal perasaan gue?" Tanya Leo.
"Buset! Buru buru amat Lo!"
"Ya abis, gue khawatir keduluan." Ucap Leo.
"Okay, terserah lo deh. Tapi lo harus terima bagaimanapun keputusan cewek itu, lo diterima atau pun ditolak, itu konsekuensinya." Ucapku.
"Iyalah. gue mah jantan." Ucap Leo.
Setelah urusan Leo selesai, ia pun pamit pergi.
Bersambung ....