A Dry Red Rose From Aslan

A Dry Red Rose From Aslan
Part 5


"Hanum teman baik saya saat kami kuliah dulu." Ucap Ibu itu.


"Masya Allah, nama Ibu siapa?" Tanyaku.


"Anna." Jawab perempuan yang ternyata bernama Anna itu. "Saya Anna teman satu kelas ibumu saat kuliah dulu. Saya tahu sekali perjuangan ibumu membangun florist ini yang kemudian dibantu perkembangannya oleh Ayahmu, Arash. Selain itu, Ayahmu juga kenal dekat dengan suami saya." Ucap Bu Anna. Mendengar garis besar cerita dari Bu Anna, aku seperti tidak asing. Bukankah Bu Anna ini suami Pak Rar Rezzada?


"Maaf bu, Bu Anna ini istri almarhum Pak Rezzada ya?" Tanyaku perlahan.


"Iya, saya istri beliau." Ucap Bu Anna.


"Masya Allah, kita bisa bertemu di sini. Beberapa kali Ayah mengajakku untuk bertemu keluarga Pak Rezzada dalam beberapa event kemarin-kemarin, tapi saya selalu menolak karena kesibukan saya di kampus. Tapi akhirnya kita bisa bertemu di sini Bu." Ucapku.


"Alhamdulillah. Pak Arash juga bercerita bahwa kamu sudah ada di tingkat akhir kuliahmu ya?" Tanya Bu Anna.


"Iya bu." Jawabku. "Ohya bu, kita mengobrol sembari saya buatkan buketnya ya bu." Tambahku.


"Iya iya silahkan." Ucap Bu Anna. "Kamu pasti sangat telaten seperti Hanum." Tambahnya.


"Lili jauh lebih telaten, aku jarang sekali melayani pelanggan Bu." Ucapku sembari mengembangkan senyuman.


"Setiap hari Sabtu seperti ini saya selalu datang kemari untuk beli lavender, tapi sayangnya baru ketemu kamu hari ini." Ucap Bu Anna.


"Waah tahu begitu aku selalu datang tiap Sabtu Bu. Omong-omong semalam aku dan Ayah makan bersama dengan Pak Caspian putera pertama Ibu, tapi kenapa Ibu tidak ikut?" Tanyaku.


"Ohya?" Tanya Bu Hanum heran, aku mengangguk. "Oh itu, Caspian emang ajak Ibu cuman Ibu agak sedikit sakit perut, jadi Ibu tidaj bisa pergi." Tambah Bu Anna.


"Innalillahi, syafakillah ya Bu." Ucapku. "Ohya, ini buket lavender untuk siapa Bu?" Tanyaku.


"Eung, itu Ibu mau taruh di makam Ayahnya Caspian. Saat beliau masih ada, beliau memang senang sekali menghirup aroma lavender. Jadi saat beliau pergi Ibu rutin mengganti bunga di makamnya." Ucap Bu Anna sembari tersenyum manis sekali. Bu Anna terlihat senang tapi aku justeru merasa bersalah telah menanyakan hal tersebut. Aku diam tak berkutip dan hanya membalas senyum Bu Anna.


"Kapan kamu mau datang ke rumah Ibu?" Tanya Bu Anna.


"Wah, belum tahu Bu. Insya Allah kalau ada waktu senggang saya main bersilaturahmi ke rumah Ibu." Ucapku.


"Kalau mau ke rumah, kabari Ibu ya, biar Caspian jemput kamu." Ucap Bu Anna.


"Oh, iya insya Allah." Ucapku.


Setelah selesai buket pesanan Bu Anna aku rangkai, aku memberikannya percuma sebagai ucapan terima kasih karena selalu datang. Bu Anna sempat menolak, karena dari segi materi ia jauh lebih mampu dariku. Tapi aku mengatakan padanya untuk berikan itu dariku untuk Pak Rezzada, akhirnya Bu Anna menerima.


Bu Anna kemudian pergi dan sebelum pergi kami sempat bertukar nomor untuk saling mengabari.


...********...


7 pm.


"Ashmaaaaa!" Panggil Liana di telpon, suaranya yang nyaring sekali membuatku menjauhkan ponsel dari telinga, padahal aku tidak mengaktifkan loudspeaker.



(Visual Liana Winata, teman Ashma)


"Wa'alaikumsalaam Liana." Balasku.


"Eh, assalamu'alaikum Ash, sorry gue lagi excited banget nih." Ucap Liana.


"Wa'alaikumsalaam, tidak masalah Li, tapi lain kali lebih dikontrol lagi ya emosinya." Ucapku.


"Siap!" Sahut Liana. "By the way, besok lo kosong nggak? Weekend masa sih sibuk terus?" Tanya Liana.


"Kosong kok, kenapa Li?" Tanyaku.


"Lo pasti suka deh! Besok ada pameran seni rupa dan tujuannya bukan untuk komersial, tapi sosial. Secara lo kan punya jiwa sosial yang teramat tinggi, jadi lo pasti bakalan suka banget." Ucap Liana.


Pameran yang bertujuan komersial biasanya diadakan hanya untuk mendapatkan hasil atau memasarkan karya seni rupa saja, tapi pameran yang bertujuan sosial diadakan untuk kepentingan sosial dalam artian hasil yang didapat dari menyelenggarakan pameran tersebut akan disalurkan kepada panti panti sosial atau siapapun yang membutuhkan.


"Besok banget acaranya?" Tanyaku.


"Iya. Kalo soal tiket amanlah, gue yang megang." Ucap Liana.


"Itu, pameran tunggal Li?" Tanyaku lagi.


"Pameran kelompok sih, heterogen juga." Ucap Liana.


Pameran kelompok adalah pameran yang diikuti oleh beberapa orang seniman dengan karya seni yang berbeda beda, sementara pamerab tunggal adalah pameran yang diadakan oleh satu orang seniman saja.


"Okay, jam berapa?" Tanyaku.


"Enakan sore deh kayaknya. Kalo lo udah fix, gue jemput lo ya Ash." Ucap Liana.


"Okay, fix." Ucapku.


"Okay!" Sahut Liana dan ia menutup telpon begitu saja, aku hanya geleng-geleng kepala mendapati hal tersebut.


...*********...


Sementara itu di kediaman keluarga Rezzada tengah melakukan makan malam, di meja makan berkumpul tiga orang, Caspian, Bu Anna dan Oma Edith yang merupakan ibu dari Pak Rezzada.



(Visual Oma Edith Rezzada)


"Caspi?" Tanya Bu Anna sembari menyuapkan makanan ke mulutnya.


"Ya Ma?" Tanya Caspian sembari menoleh.


"Malam kemarin kamu bilang kamu makan malam bersama dengan klien, itu benar?" Tanya Bu Anna, mendengar tanya seperti itu Caspian merasa heran. Kenapa tiba-tiba sang ibu mencurigai?


"Ya, masa Caspian bohongin Mama." Ucap Caspian.


"Sejak kapan puterinya Pak Arash jadi klien kamu?" Tanya Bu Anna sembari agak menggoda puteranya itu. Sejak kemarin, Bu Anna memang sudah curiga pada Caspian karena Caspian pulang sembari senyam-senyum sendiri. Tapi saat ditanya ia makan dengan siapa, ia malah jawab dengan kliennya.


"Maksud Mama?" Tanya Caspian.


"Perlu mama jelasin ini di sini? Biar Oma juga tahu ya?" Tanya Bu Anna, Caspian tersipu malu. "Tuh kan, anak Mama lagi jatuh cinta ternyata." Tambah Bu Anna.


"Loh, jatuh cinta gimana? Caspian nggak cuman pergi berdua kok Ma. Caspian pergi bareng Ayahnya." Ucap Caspian coba mengelak, ia mengelak tapi ekspresinya tak bisa membohongi Bu Anna, Oma Edith yang turut tersenyum-senyum juga sepertinya sudah faham.


"Sangat elegan!" Seru Bu Anna.


"Cara kamu mengajak dia lewat Ayahnya itu sangat indah, kamu nggak berani kan kalo pergi cuma berdua?" Tanya Oma Edith.


"Oma, kok Oma malah ikutan Mama sih?" Tanya Caspian yang semakin terpojokkan.


"Oma nggak bermaksud memojokkan kamu ya, Oma malah mendukung. Kata Mamamu, anak perempuannya Pak Arash sangat cantik dan baik hati." Ucap Oma Edith.


"What? Ini apaan sih kok malah jadi bahas Ashma?" Tanya Caspian masih dengan gayanya yang mengelak.


"Kamu maunya bahas siapa? Mantan kamu yang sudah nikah?" Tanya Bu Anna.


"Ya nggak gitu juga loh Ma." Ucap Caspian.


"Ehh, si Karin kok bisa sih jadiannya sama kamu tapi nikahnya sama temen kamu?" Tanya Oma Edith. Caspian terkekeh mendengar tanya Oma Edith, ia harus sabar menghadapi sang nenek yang super kepo.


"Ya karena bukan jodoh Caspian Oma. Kalau Karin jodoh Caspian pasti nikahnya sama Caspian." Ucap Caspian untuk memberi komentar positif.


"Nggak, maksud Oma, mereka itu sudah kong kaling kong atau bagaimana?" Tanya Oma Edith.


"Oma, masa lalu nggak usah terlalu dibahas ya." Ucap Caspian.


"Iya tuh Bu, masa lalu mah janga terlalu banyak dibahas. Sesekali saja kita tengok masa lalu, jangan keseringan." Ucap Bu Anna.


"Ok deh ok." Ucap Oma Edith.


"Terus sama puterinya Pak Arash bagaimana?" Tanya Bu Anna.


"Ma." Caspian terlihat sangat malu.


"Kenapa? Mamamu nggak bahas masa lalu loh." Ucap Oma Edith.


"Ya belum tepat saja waktunya." Ucap Caspian.


Saat sedang asik mengobrol, tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka dan suara orang masuk ke dalam rumah. Semua mendadak terdiam.


Mengetahui hal itu, Bu Anna memeriksa ke depan untuk tahu siapa yang datang.


Bersambung ....