
POV Aslan
7.30 am
Pertama kai buka handphone hari ini, aku mendapat pesan berupa bukti transfer e-banking dari Caspian. Ia bilang semua yang ia transfer untuk turut disalurkan ke panti sosial. Bagaimana ia tahu akan ada penyaluran dana sosial hari ini? -Batinku.
"Aslan?" Panggil Mama dari luar kamar.
"Iya Ma?" Sahutku sembari membuka pintu.
"Mama kira kamu masih tidur." Ucap Mama.
"Nggak Ma, udah bangun kok."
"Ohya, Caspian sudah transfer ke rekeningmu ya, dana untuk disalurkan ke panti sosial." Ucap Mama.
"Iya Ma, terima kasih. Tapi, bagaimana Caspian tahu kalau hari ini ada penyaluran dana?" Tanyaku.
"Caspian tahu dari Leo, Leo juga bilang lusa kemarin kamu ikut jadi anggota di pameran seni kan?" Tanya Mama. Mendengar bahwa Caspian tahu hal itu dari Leo, aku sedikit kesal.
"Oh, iya Ma. Maaf Aslan nggak sempat ngasih tahu Mama." Ucapku.
"Tidak papa sayang. Mama cuma mau bilang kalau Mama bangga sama kamu." Ucap Mama.
"Thanks." Lirihku. "Kalau begitu Aslan siap siap buat berangkat ya Ma." Ucapku.
"Iya, silahkan Sayang." Ucap Mama.
...********...
"Ashmaaaa!" Teriak Liana di telpon, seperti biasanya.
"Kenapa Li? Bisa nggak suaranya biasa aja, nggak usah teriak-teriak gitu?" Tanyaku karena kesal.
"Hehe, maaf maaf. Ash, gue cuma mau ngingetin, hari ini ke panti sosial ya? Gue tunggu lo!" Ucap Liana.
"Iya Li, nanti aku nyusul deh. Ini sekarang ada praktek sebentar." Balasku.
"Okay!" Sahut Liana, telpon dimatikan tanpa Liana menutup dengan salam atau apapun itu.
...*******...
POV Aslan
8.15 am
Acara dimulai, mulai dari pembukaan sampai dengan serah terima dana terkumpul kepada kepala yayasan. Liana membuka acara, Leo memberikan sambutan panitia dan aku diberikan kesempatan untuk memberikan sambutan dan memberikan semangat kepada anak-anak yang berada di yayasan ini.
Setelah semua rangkaian acara selesai tepat pada pukul sembilan, aku, Liana dan Leo membagi kelompok anak-anak untuk diajak berinteraksi, bermain dan apapun itu yang bisa membuat mereka semangat.
Liana dan Leo berduaan membimbing satu kelompok dan sisanya diberikan padaku.
"Sialan lo! Gue ngapain kalo begitu?" Tanyaku.
"Ya pinter pinter elo deh!" Ucap Leo.
"Sialan!" Cetusku, sementara Leo berlalu.
Kemudian aku beranjak menghampiri anak-anak yang aku harus bimbing.
...********...
POV Writer
10 am
Ashma baru tiba di depan panti sosial sesuai alamat yang dikirim Liana padanya. Ia disambut oleh beberapa orang pengurus panti di depan, Ashma memperkenalkan dirinya pada mereka. Ashma juga bilang bahwa Liana memintanya datang, akhirnya Ashma diajak masuk.
Begitu masuk, Aslan terkejut. Leo terpana. Dan Liana merasa senang.
"Akhirnya, lo datang juga!" Seru Liana. Ashma hanya membalas dengan senyuman. Liana mendekat ke arah Ashma diikuti Leo.
"Hai." Sapa Leo.
"Hai Le." Balas Ashma.
"Jangan genit lo!" Cetus Liana pada Leo.
"Apaan si Li, jomblo mah bebas, iya nggak?" Ucap Leo pada Ashma dengan nada tanya.
"Nggak tahu, hehe." Ucap Ashma.
...********...
"Aslan?" Lirihku.
"Iya, itu Aslan." Ucap Liana sembari menunjuk ke arah pria yang tengah bersama anak-anak. Dia adalah seniman yang aku sangat senangi karya karyanya. Dia adalah pria yang kemarin datang ke toko bungaku.
"Kok Ashma sama Aslan sih Li? Lo aja yang sama si Aslan, Ashma sama gue aja." Ucap Leo.
"No way!" Tegas Liana sembari menarik tangan Leo dan kembali pada kelompok anak mereka.
Kemudian aku beranjak ke kelompok yang dibimbing pria bernama Aslan itu. Pria itu mempersilahkanku duduk di sebelahnya, aku pun duduk di sebelahnya.
"Okay adik adik semua, akhirnya Kakak ada teman di sini, pertama kita berkenalan dulu dengan kakak yang satu ini ya, silahkan." Ucap Aslan padaku.
...*********...
Perempuan berhijab itu tersenyum, membenarkan posisi duduknya agar lebih nyaman kemudian mulai berbicara.
"Hai, assalamu'alaikum." Sapa dia sebelum menyebut namanya, ia menyapa anak-anak dengan sangat ramah.
"Wa'alaikumsalaam Kakak." Balas semua anak bersemangat.
"Terima kasih jawaban salamnya. Baik, Kakak mulai saja ya. Sesuai instruksi dari Kak Aslan, Kakak harus perkenalkan dahulu diri kakak katanya. Kira-kira, ada yang bisa tebak nggak siapakah nama Kakak?" Tanya perempuan itu dengan sedikit candaan.
"Aku tahu aku tahu!" Seru beberapa orang anak.
"Okay, kamu saja yang jawab!" Seruku sembari menunjuk satu orang anak.
"Nama Kakak adalah Kak Ashma." Jawab anak yang aku tunjuk. Mendengar namanya, aku sedikit kaget. Ashma? Ash? Apa dia ini pemilik toko bunga itu? Apa dia ini puteri pak Arash? Apa dia ini yang mengangkat telponku saat aku menginap di toko bunganya? Apa dia tahu aku yang menginap kala itu?
Lalu, apa ini perempuan yang dimaksud oleh Leo? Perempuan yang membuat Leo terpana begitu saja. Perempuan yang Leo akan coba untuk ungkapkan perasaannya pada perempuan ini? Apa ini yng dimaksud Leo?
"Yes! Benar sekali! Jadi, nama Kakak adalah Ashma Arash. Kalian boleh panggil Kakak dengan sebutan Kak Ash." Ucap perempuan bernama Ashma itu.
Dari nama belakangnya aku semakin yakin bahwa Ashma adalah puteri Pak Arash, teman baik Papa.
"Hai Kak Ash?" Sapa semua anak.
...********...
Aku lihat Aslan malah terdiam setelah aku datang.
"Sekarang, apa yang harus dilakukan kak?" Tanyaku pada Aslan. Aslan menoleh ke arahku, dia terlihat gugup.
"Ehm, terserah kau dulu." Ucap Aslan kepadaku.
"Okay." Ucapku.
Aku mulai mengajak anak anak berbicara, mengobrol, berbagi cerita, memainkan beberapa permainan, aku juga mengajarmembaca pada anak yang masih kurang kemampuan membacanya.
Sementara itu Aslan mengambil gambar untuk dokumentasi. Dan tanpa aku sadari, Aslan juga mengambil gambar diriku diam diam.
"Cie Kak Aslan fotoin Kak Ash cantik banget." Ujar seorang anak. Mendengar itu, pipiku memanas.
"Heh?" Tegurku pada anak itu.
"Iya Kak Ash, Kak Aslan memotomu." Ucap anak yang lain.Aku menoleh ke arah Aslan, dan dia hanya tersenyum.
"Cie ciee ...." Seru beberapa anak.
"Eh sayang, nggak boleh begitu. Ayok kita lanjut lagi. Ada yang bisa baca kalimat ini dengan lantang nggak?" Tanyaku sembari menunjuk ke arah papan tulis. Semua anak antusias ingin mencoba dan aku memberi mereka semua kesempatan untuk mencoba. Setelah selesai, Aslan membubarkan anak anak yang bergabung dengan kami untuk beristirahat. Semua anak pun bubar.
"Kau di sini?" Tanya Aslan padaku.
"Iya, Liana mengajakku." Jawabku.
"Oh okay. Ehm, apa kau kenal Leo?" Tanya Aslan sembari menatap serius.
"Leo? Dia?" Tanyaku sembari menunjuk ke arah Leo, Aslan mengangguk.
"Ya, Liana memperkenalkan kami." Ucapku.
"Kalian saling bicara?" Tanya Aslan lagi. Aneh! Kenapa pria ini terus bertanya hal seperti itu?
"Tentu." Jawabku.
"Apa kau menyukai Leo?" Tanya Aslan lagi, aku kaget dengan pertanyaannya itu.
Bersambung ....