A Dry Red Rose From Aslan

A Dry Red Rose From Aslan
Part 18


"Azhar." Jawabku sekali lagi pada Liana. Liana terdiam dan sedikit menganga, kemudian dia terlihat salah tingkah.


"Ngapain dia nanyain gue?"


"Ya, ya nanyain aja."


"Hem, gak penting." Cetus Liana.


"Kalau dia nanyain kamu karena kangen?"


"Maksud lo?"


"Gak papa Li, hehe. Santai aja kali."


"Nyebelin!"


"Ohya, kita reunian yu sama anak-anak SMA kelas kita doang." Ajakku.


"Iya, gue juga pengen banget ketemu semua temen SMA." Sahut Liana.


"Semua atau dia aja?"


"Dihhh dia siapa?!"


"Ahh kamumah pura-pura nggak tahu aja."


"Ih Ashma mah!"


"Apaa Li?"


"Nyebelin!"


"Li, kalo misalkan kamu punya temen yang diem-diem suka kamu, bagaimana kamu akan menanggapinya?"


"Eh kok nanya gitu?"


"Ya nanya aja, gak boleh ya?"


"Boleh sih, tapi heran aja. Masa iya gitu seorang Ashma ngomongin suka-sukaan."


"Aduh Li, aku'kan juga manusia kali ah. Ada kalanya aku juga tertarik bicara seperti itu, aku juga gak jarang kok suka sama orang, cuma ya bedanya aku mah diem aja, kalo kamumah kan always speak up di depan orang banyak tentang perasaan kamu."


"Iya sih, hahaha."


"Jadi gimana?"


"Gimana apa?"


"Gimana cara kamu nanggepin orang yang diem-diem suka kamu?"


"Ya, kalo gue juga suka dia ya bakal gue balas. Tapi kalo gue nggak suka, ya cuekin aja."


"Misalkan, kalau ternyata Azhar diem-diem suka kamu gimana Li?"


"What!?? Kok Azhar sih?"


"Kan misalkan."


"Ck!" Liana berdecak kesal.


"Gimana Li?"


"Males ah!"


"Ciee salting, haha."


"Diiih sebel deh, lo kok gitu sih Ash?"


"Kapan lagi coba aku kayak gini, wkwk."


"Tau ah!"


"Hehe, sorry sorry. Ohya, kamu'kan jago urus event-event, urus juga dong acara buat kita reuni."


"Eh busett masa gue doang?"


"Aku bantu kamu."


"Okay deh."


...********...


POV Writer


4.30 pm


Ashma masih diam di dalam toko bunga yang sudah ditutup sejam lagi untuk dibuka lagi esok. Ia terdiam seorang diri, dalam kepalanya berkecamuk tentang pengakuan Ayahnya bahwa Caspian mencintainya.


Ashma tidak bisa menerima perasaan Caspian, ia tidak begitu mengenalnya. Ia merasa Caspian bukan orang yang tepat untuk dirinya. Ia merasa ada yang lebih baik dari Caspian. Ia malah mengakui pada Ayahnya bahwa ia telah memiliki seseorang di dalam hatinya dan itu bukanlah Caspian. Ia bingung, bagaimana lagi ia harus menanggapi Ayahnya seandainya sang Ayah menanyai hal tersebut.


Sementara di luar toko bunga, seorang pria berdiri. Dia adalah Aslan. Dia ingin menemui Ashma di sini, tapi rasanya terlambat, tokonya sudah tutup.


Aslan putuskan untuk tetap di sana, duduk di kursi depan toko bunga milik Ashma itu. Ia memikirkan perempuan berhijab yang pernah menjadi tambatan temannya sendiri dalam sekejap. Ia memikirkan perempuan yang juga mengenal kakaknya sendiri.


Setelah cukup tenang, Ashma bersiap untuk segera pulang. Saat membuka pintu untuk keluar, Ashma sangat terkejut, ia mendapati seorang pria duduk di depan toko bunganya. Dan pria itupun juga sama terkejutnya.


Mereka saling melihat dengan tatapan heran. Mereka terdiam tak saling bicara.


Perasaan Ashma berkecamuk, antara kesal dan penasaran. Ashma masih merasa kesal karena Aslan tidak bisa ia ajak bicara perlahan ketika Ashma diundang Caspian untuk bertemu Aslan. Ashma juga merasa penasaran, untuk apa pria ini ada di sini?


Begitu melihat Ashma, Aslan langsung merasa dirinya sangat rendah. Ia merasa dirinya seperti orang gila. Ia merasa Ashma adalah orang hebat yang mungkin akan mampu memahami perasaannya dan segala keadaannya.


Begitu melihat Ashma keluar dari toko bunga, Aslan juga merasa heran. Kenapa Ashma baru keluar dan masih ada di sini padahal toko sudah tutup.


Bodoh, inikan tokonya, suka-suka dialah, batin Aslan.


Sementara itu, Ashma coba untuk melewati Aslan untuk pergi. Tapi,


"Ashma?" Lirih Aslan menyapa. Ashma berhenti melangkahkan kakinya, Aslan mendekat.


"Bisa bicara sebentar?" Tanya Aslan.


"Silakan." Jawab Ashma dengan singkat dan dingin sekali, seperti bukan Ashma.


"Kita bicara di tempat lain." Ucap Aslan.


"Saya tidak punya waktu untuk bicara di luar."


"Okay, tidak masalah. Mungkin apa besok kita bisa bertemu dan bicara di tempat ...."


"Oh, ya." Ucap Aslan, ia terdiam sejenak. Ia merasa Ashma benar-benar kesal padanya.


"Kamu marah?" Tanya Aslan pada Ashma. Ashma menoleh dan menunjukkan wajah heran.


"Kenapa marah?" Tanya Ashma.


"Karena waktu itu ...."


"Saya sudah melupakannya."


"Maafin aku." Ucap Aslan.


"Tidak masalah." Ucap Ashma singkat.


"Mau langsung pulang?" Tanya Aslan.


"Tidak."


"Lalu?" Tanya Aslan.


"Ehm ...."


"Aku antar kamu pergi."


"Tidak, terima kasih."


"Sebagai permintaan maaf."


"Saya sudah tidak permasalahkan itu." Ucap Ashma sembari menatap Aslan.


"Ku mohon."


"Saya bisa pergi sendiri." Jelas Ashma.


"Dengar, aku benar-benar sedang kalut saat itu. Caspian tiba-tiba mengatakan aku harus bicara dengan psikiater, dia bilang sikapku gila dan aku sangat aneh. Dia pikir aku benar-benar harus bicara dengan psikiater. Aku tidak terima itu karena aku ...."


"Lalu kamu tidak mau bicara dengan saya." Tambah Ashma.


"Ya. saat itu saja, not today." Ucap Aslan.


"Okay." Ashma hanya mengangguk dan mengatakan okay.


"Aku merasa kamu benar-benar marah."


"Nggak kok."


"Kalau tidak marah, seharusnya kamu mau diajak pergi esok."


"Aku benar-benar tidak bisa."


"Seseorang membuatmu menjadi tidak bisa pergi dengan siapapun?"


"Tidak."


"Lalu?"


"Lalu?" Ashma balik bertanya.


"Caspian, apa kamu dan Caspian ...."


"No." Ucap Ashma.


"Tidak? Apanya yang tidak?"


"Tidak ada apapun antara saya dan Caspian."


"Aku bahkan tidak mempertanyakan hal itu, tapi kamu menyangkal lebih dulu, apa maksudnya ini?" Tanya Aslan. Ashma merasa kesal mendengar ungkapan Aslan.


"Apa yang sebenarnya ingin kamu bicarakan?" Tanya Ashma dengan sebuah penekanan. Hal itu membuat Aslan menatap tajam ke arah Ashma.


"Azhar." Ucap Aslan membuat Ashma semakin bingung.


"Kamu kenal Azhar?" Tanya Ashma.


"Dia siapamu?" Tanya Aslan.


"Kenapa kamu tanyakan hal seperti itu? Apa itu penting bagimu? Apa saya harus mengatakannya padamu setiap orang yang saya kenal?" Tanya Ashma.


"Apa dia kekasihmu?"


"What!?" Ashma sangat kaget dengan pertanyaan Aslan. Ia benar-benar heran kenapa pria ini bertanya hal yang ia tidak pernah pikirkan.


"Dia menemuimu di depan toko bungamu, lalu ...."


"Untuk kedua kalinya kamu bahkan datang ke toko bungaku, apa ada yang menanyakan hal itu?" Tanya Ashma.


"Aku datang untuk ...."


"Apa maksudmu terus bertanya hal begitu? Apa mereka semua adalah urusanmu? Apa saya juga urusanmu?"


"Tidak." Jawab Aslan. Ia benar-benar baru sadar bahwa ia tengah bicara dengan Ashma. Ia baru sadar bahwa ia banyak bertanya. Ia baru sadar ia telah bicara hal yang tak seharusnya dibicarakan saat ini.


Aslan melihat wajah Ashma yang sangat keheranan. Ia khawatir Ashma marah dan merasa kesal padanya.


Ashma terdiam.


"Aku minta maaf." Ucap Aslan.


"Tolong jangan meminta maaf lagi." Ucap Ashma.


"Aku benar-benar tidak sadar terus menanyakan hal seperti itu." Ucap Aslan.


"Tidak masalah." Ucap Ashma.


Ashma memang gadis yang pemaaf. Ia akan memaklumi banyak hal dati orang-orang di sekitarnya. Memang pada awalnya ia selalu dibuat kesal atau bahkan marah, tapi jika seseorang meminta maaf ia akan mudah memberinya maaf.


"Saya harus pergi." Ucap Ashma.


"Baik." Balas Aslan. "Ashma, bisa beritahu aku saat kamu sudah ada waktu luang?" Tanya Aslan.


"Kita lihat nanti." Ucap Ashma dan berlalu karena sebuah taksi berhenti di depan dan menantinya.


Sepeninggal Ashma, Aslan mengutuk dirinya sendiri. Ia benar-benar marah pada dirinya sendiri karena ia tidak sadar telah banyak bicara pada Ashma.


"Dasar bodoh!" Cetus Aslan sembari memukul-mukul kepalanya sendiri berkali-kali.


Bersambung ....