
"Ashma?" Ucap Aslan sekali lagi.
"Kenapa lagi?" Tanyaku.
"Thanks." Ucap Aslan. Aku terdiam sejenak kemudian mengangguk dan segera pergi.
Sampai di rumah, Ayah telah menunggu.
"Ada laptonya?" Tanya Ayah.
"Ada." Jawabku.
"Baiklah, Ayah mau bicara denganmu sebentar." Ucap Ayah. Mau tidak mau, aku menghampirinya dahulu dan duduk di hadapannya di ruang tengah.
"Apa ada yang sangat penting Yah?" Tanyaku.
"Ehm, kamu belum mengatakan apa yang kamu dan Aslan bicarakan tadi?" Tanya Ayah. Sudah ku duga, batinku.
"Dia hanya berterima kasih Yah, dia senang Ayah mau membantunya." Ucapku, tentu saja berbohong.
"Tapi dia terlihat seperti orang marah." Lirih Ayah.
"Ah itu, dia mau memberi hadiah sebagai ucapan terima kasihnya, tapi aku tolak karena aku tahu Ayah senang sekali membantu orang tanpa mau menerima imbalan." Ucapku.
"Benarkah?" Tanya Ayah, aku mengangguk. "Kalian tidak sedang ada masalah'kan?" Tanya Ayah.
"Tentu tidak, aku tidak begitu mengenalnya, bagaimana kami akan bermasalah?" Lirihku.
"Okay, anggap hal itu selesai." Ucap Ayah.
"Kalau begitu ...."
"Caspian ...."
Aku dan Ayah berhenti bicara karena kami tidak sengaja bicara bersamaan.
"Caspian ada bicara denganmu lagi?" Tanya Ayah.
"Tidak Yah." Jawabku.
"Ayah harap kamu bisa menerima Caspian, apa adanya." Ucap Ayah.
"Ayah aku belum sempat memikirkan hal sejauh itu. Lagi pula, selera Caspian pasti sangat tinggi, bukan perempuan seperti aku Yah." Lirihku.
"Caspian sendiri yang bilang menginginkanmu." Ucap Ayah.
"Tolong jangan bahas ini dulu ya Yah, aku benar-benar ingin fpkus pada kuliah dan karirku dahulu." Ucapku.
"Ayah faham, tapi setidaknya buatlah komitmen dengannya."
"Belum mau Yah."
"Okay." Ucap Ayah mengalah, kemudian aku kembali ke kamar.
...********...
POV Aslan
7 am.
Aku kaget begitu Lili masuk ke toko bunga. Lili lebih terkejut dari pada aku. Ia melihatku seperti melihat seorang penjahat tengah merampok sebuah toko.
"Apa yang kakak lakukan di sini?" Tanya Lili.
"Tidur." Jawabku.
"Bagaimana bisa masuk? Kemarin aku menguncinya dengan benar." Lirih Lili.
"Ashma yang membiarkanku masuk." Ucapku.
"Hah? Mba ... Ash?" Tanya Lili.
"Ya."
"Kenapa bisa?" Tanya Lili.
"Ceritanya panjang Li." Ucapku. "Ohya, tadi malam aku tidur di sini sepengetahuan Ashma. Tapi malam itu ...."
"Mba Ash tahu ada seseorang yang tidur di sini, tapi dia belum melihat wajah kakak malam itu, aku pikir dia tidak akan mengingatmu." Ucap Lili.
"Karena itu, tetap rahasiakan itu, ya?" Ucapku.
"Rahasiakan apa?" Tanya seorang perempuan dari arah belakangku. Saat aku menoleh,
"Ashma?" Sapaku, Ashma menatapku.
"Apa yang kalian rahasiakan?" Tanya Ashma.
"Anu Mba ...."
"Ini soal bangunan di sebelah. Aku beritahu Lili bahwa aku akan membelinya dan aku memintanya merahasiakan ini." Ucapku.
"Kau meminta orang lain merahasiakan ini tapi kau sendiri yang memberitahukan itu pada orang lain." Lirih Ashma.
"Maksudku ...."
"Lili, kamu gak bisa jujur?" Tanya Ashma menatap Lili baik-baik.
Lili menoleh ke arahku, aku berpaling untuk menunjukkan bahwa tidak ada apa-apa.
"Orang yang menginap di toko bunga ini malam itu juga Kak Aslan Mba." Ucap Lili. Sial! -batinku.
Sontak mata Ashma tertuju kepadaku, dia menatapku tajam dan penuh tanya.
"Pria itu, kau?" Tanya Ashma padaku.
"Ya." Jawabku pelan.
...********...
Aku teringat Caspian mengatakan bahwa adiknya tida ada pulang selama dua hsri waktu itu, dan malam itu aku datang ke toko bunga karena Lili menelponku. Lili bilang ada seorang pemabuk masuk toko dan tidur, jadi itu Aslan? Batinku.
"Bisa bicara di luar?" Tanyaku pada Aslan.
Aku mengajak Aslan keluar dan duduk di kursi depan toko bunga.
"Malam itu saya juga Ayah makan malam dengan Caspian, Caspian bilang asiknya tidak pulang selama dua hari. Saya benar-benar tidak tahu bahwa kau itu ...."
"Berhenti bicara tentangnya!" Ucap Aslan.
"Aslan, dengar, sebenarnya apa yang kamu alami? Kenapa sampai memutuskan untuk tidak menganggap Caspian sebagai saudara lagi? Kenapa tidak mau melibatkan Caspian dalam segala hal? Kenapa saat mendengar namanya kamu meminta diam?"
"Sekalipun aku jelaskan, kau tidak akan pernah mengerti." Ucap Aslan.
"Benarkah? Bagaimana bisa aku coba mengerti sementara kamu tidak mau mengatakannya?" Lirihku bertanya.
"Kenapa kau sangat ingin tahu mengenai Caspian?"
"Tidak. Ayah kalian adalah teman baik Ayahku, ibu kalian juga adalah teman baik ibuku saat mereka SMA. Saya ingin putera teman Ayah dan Ibu keduanya akur dan tidak berselisih terus. Saya tahu, kamu sempat marah karena kamu tidak mendapatkan apa yang kamu inginkan. Tapi ...."
"Apa maksudmu? Apa yang aku inginkan?" Tanya Aslan menyela.
"Kamu memimpikan untuk menjadi pemimpin perusahaan'kan?"
"Jadi itu yang ada di kepalamu tentangku?" Tanya Aslan tedengar marah.
Aku terdiam.
"Aku pikir seorang psikiater akan mampu bicara dengan baik tentangku, tapi apa yang kamu pikirkan tentangku tak ada bedanya dengan yang orang lain pikirkan." Lirih Aslan terdengar seperti kecewa.
"Saya tahu, kamu berpikir bahwa dunia seolah hanya berpihak pada Caspian'kan? Itu yang ingin kamu dengar dariku kan?" Tanyaku.
Aslan terdiam.
"Semua orang sudah memiliki bagiannya sendiri. Mungkin yang Caspian miliki adalah kecerdasan, kebaikan dan jiwa kepemimpinan yang baiknya yang diketahui orang. Tapi bisa jadi, Caspian tidak.bisa memiliki apa yang kamu akan atau telah miliki." Lirihku.
"Begitupun kamu, sekarang kamu tidak bisa memiliki apa yang Caspian miliki, tapi boleh jadi kamu akan memiliki sesuatu yang tidak mungkin dimilikinya." Tambahku.
"Atau mungkin kamu khawatir karena Caspian bisa lebih menarik perhatian banyak orang karena kebaikannya, sementara kamu hanya seorang yang dipandang buruk karena sikapmu. Tapi percayalah, sebenarnya kamu hidup bukan untuk menarik perhatian orang lain, bukan untuk dilihat orang lain. Jadi berbuatlah sesukamu dengan sebaik-baik perbuatan, karena sebenarnya kamu berbuat untuk dirimu sendiri." Ucapku.
"Seperti saya yang pernah memandangmu sebagai seorang pemabuk, tapi aku yakin dalam hatimu kamu tidak ingin melakukan itu, kamu tahu itu salah dan kamu ingin menghentikannya." Ucapku.
"Kenapa bicaramu panjang sekali?" Tanya Aslan.
"Saya yakin kamu adalah seorang yang bisa dewasa. Saat ada masalah di rumah, kamu tidak pergi dan akhirnya bingung harus tinggal dimana? Saat ada masalah di rumah, kamu harus mengahadapinya bukan malah menghindarinya." Lirihku.
"Saya tahu semua itu tidak mudah, kamu mungkin mengalami tekanan batin yang tidak saya rasakan. Tapi percayalah, Tuhan sayang padamu maka Tuhan memberimu ujian. Saat kamu bisa menghadapinya, kamu akan mendapatkan sesuatu sesuai pekerjaanmu atau bahkan lebih." Lirihku lagi.
"Hari ini, kamu harus pulang dan temui juga saudaramu." Ucapku.
"Kenapa memerintahku?" Tanya Aslan.
"Karena saya ingin memerintahmu." Jawabku.
"Aku sudah berjanji untuk pergi dan tidak akan kembali." Ucap Aslan.
"Ibumu tidak akan menganggap perkataanmu itu serius, percayalah." Lirihku. "Caspian juga pasti mengharapkanmu kembali." Tambahku.
"Tidak mungkin."
"Sangat mungkin." Balasku.
"Apa kai berpikir Caspian sebaik itu?"
"Ya." Jawabku. "Saya tidak pernah berpikir setiap orang buruk, kecuali saat pertama melihatmu terbaring di sofa tokoku dan kau menginap, yang ada dalam pikiranku dan juga Lili adalah bahwa kau seorang pemabuk. Tapi saya tahu tidak ada kata terlambat untuk seorang pemabuk berhenti melakukannya lagi." Ucapku.
Aslan terdiam.
"Ohya, kau sudah makan?" Tanyaku.
"Kau menanyaiku karena sudah mengatakan aju seorang pemabuk'kan?" Tanya Aslan.
"Kalau itu yang kamu pikirkan, saya pamit ke kampus ...."
"Aku belum makan." Ucap Aslan.
"Kita cari sarapan, ayok!" Ajakku pada Aslan.
"Kau tahu, aku keluar tanpa uang ...."
"Saya yang akan bayar." Ucapku lagi.
Aku dan Aslan pun pergi mencari sarapan.
Bersambung ....