A Dry Red Rose From Aslan

A Dry Red Rose From Aslan
Part 20


Keesokan harinya ....


"Ayah. tetaplah di rumah." Ucapku pada Ayah, karena kebetulan ini adalah hari liburnya.


"Ayah tetap di rumah, kenapa emang?" Tanya Ayah.


"Akan ada temanku datang untuk bicara dengan Ayah." Ucapku.


"Maksudmu? Apa maksudmu adalah orang yang kamu cinta?" Tanya Ayah. Mendengarnya membuatku sedikit kaget.


"Tidak, bukan!"


"Lalu?"


"Liana dan Leo akan datang. Mereka mau menanyakan mengenai bangunan kosong di dekat toko bungaku Yah." Ucapku.


"Mereka mau beli?"


"Kalau harganya cocok kayaknya iya mereka akan beli."


"Untuk dijadikan apa?" Tanya Ayah.


"Tanya saja nanti." Ucapku.


"Okay." Ucap Ayah. "Ohya, kamu akan pergi Nak?" Tanya Ayah.


"Ashma akan pergi sebentar nanti, ada yang mesti dilakukan di luar." Ucapku.


"Lalu, kapan teman-temanmu akan datang?"


"Yang jelas hari ini Yah, tapi Liana belum kasih tahu mau jam berapa mereka datang." Ucapku.


"Beritahu Ayah kalau mereka akan segera datang." Ucap Ayah.


"Baiklah, kalau begitu Ashma boleh pergi sekarang?" Tanyaku.


"Ya, hati-hati di jalan ya!" Sahut Ayah.


Dan aku pun pergi.


...********...


POV Writer


10 am


Leo menghampiri Aslan di rumahnya. Ia mendapati Caspian tengah duduk di kursi di teras.


"Mau kemana Le?" Tanya Caspian pada Leo. Leo yang mendapati pertanyaan itu sedikit bingung, apa ia harus menjawabnya dengan jujur atau ia berbohong saja? Karena setahu Leo, Aslan tidak pernah bercerita apapun tentang dirinya pada keluarganya.


"Ada urusan di luar sebentar Bang." Ucap Leo.


"Aslan juga?"


"Iya, makanya gue ke sini." Ucap Leo.


"Urusan apaan?"


"Ehm, rencana buat pameran lagi." Ucap Leo berbohong.


"Oh, masuk aja. Aslan paling baru bangun." Ucap Caspian.


"Kata siapa?" Ucap Aslan yang kemudian datang ke luar menghampiri Leo dan ia sudah bersiap.


"Biasanya'kan lo ...."


"Menurut lo, gue bakal selamanya gitu?" Tanya Aslan menyela ucapan Caspian. Mendengar hal itu, Leo sedikit cemas.


"Slan, ayolah!" Seru Leo coba menghindarkan mereka dari perdebatan.


"Dengar, selama ini mungkin lo menang dan bisa dapetin apa yang lo mau. Tapi gue gak akan biarin lo untuk dapetin apa yang benar-benar lo inginkan!" Ucap Aslan sembari menunjuk Caspian dengan telunjuknya tepat di depan wajahnya.


"Slan!" Seru Leo sembari menariknya.


Sementara Caspian, ia hanya terdiam dan coba mencerna apa yang dibicarakan adiknya itu.


"Apa maksud lo? Apa yang benar-benar Caspian inginkan?" Tanya Leo ketika mereka berdua sampai di mobil.


"Menurut lo?" Tanya Aslan.


"Ashma?" Tanya Leo, menerka.


"Ya." Jawab Aslan.


"Bagaimana bisa lo katakan hal itu? Lo yakin bisa ngalahin Abang lo dalam hal ini?" Tanya Leo.


"Gue tidak pernah tidak yakin untuk setiap hal." Ucap Aslan.


"Kalau ternyata Ashma lebih suka Abang Lo?"


"Mustahil." Ucap Aslan dengan santai.


"Sialan! Lo jangan terlalu percaya diri Slan! Gak baik." Ucap Leo.


"Lo liat saja nanti." Ucap Aslan.


"Kalo Ashma nolak lo?"


"Mustahil!" Tegas Aslan.


"Astaga! Lo benar-benar gila kali ini! Dengar, jangan sampai lo hanya terobsesi pada Ashma. Siapapun bisa melakukan apapun untuk mendapatkan seseorang dengan kedok cinta, padahal ia hanya terobsesi, dan tak memiliki cinta. Karena menurut gue Slan, cinta itu nggak harus memiliki, cinta adalah lo berani berkorban untuk orang yang benar-benar lo cinta." Ucap Leo.


"Maksud lo? Gue harus menyerah ketika Ashma mengatakan dia gak cinta gue?" Tanya Aslan.


"Bukan menyerah, tapi mengikhlaskan." Ucap Leo.


Mendengar ucapan Leo, Aslan terdiam.


"Ohya, kita jemput si Lia bentar ya." Ucap Leo.


Sementara itu, Liana yang mendapat pesan bahwa Leo akan segera datang untuk menjemput segera bersiap dan menunggu di halte depan.


Sembari menunggu, ia mengabari Ashma bahwa ia dan Leo akan segera ke rumahnya.


"Kamu ke rumah aja Li, Ayah ada di rumah kok." Ucap Ashma di telpon.


"Lah, lo di luar?"


"Iya, maaf ya. Bentar doang kok, kalo sempet aku pulang cepet." Ucap Ashma.


"Okay deh. Tapi lo dah jelasin kan kalo gue sama Leo bakal datang?" Tanya Liana.


"Udahlah." Ucap Ashma.


"Okay deh kalo begitu." Ucap Liana.


Tak lama, Leo dan Aslan datang dengan mobil Leo.


"Masuk buruan!" Seru Leo.


"Iya, santai ngapa! Gue'kan cewek!" Seru Liana.


"Oh, gue kok baru tahu kalo lo cewek." Ucap Leo dengan wajah datar. Dari belakang, Liana menimpuk Leo dengan sebuah majalah yang ia raih dari jok di sebelahnya.


"Sialan lo!" Seru Leo.


"Lo sih!" Cetus Liana.


Ketika Liana dan Leo berdebat, Liana melihat ke arah Aslan yang terdiam dan menatap kosong ke arah depan.


"Woyy!" Gebrak Liana sembari menepuk pundak Aslan.


"Apaan sih Li?" Tanya Aslan.


"Lo kenapa?" Tanya Liana.


"Dia lagi bingung, dia mengatakan sesuatu tapi dia gak yakin akan hal itu." Ucap Leo.


"Apa yang dikatakannya?" Tanya Liana.


"Gak ada!" Sela Aslan.


"Apa itu soal perempuan?" Tanya Liana pada Leo.


"Diem lo!" Cetus Aslan pada Liana sembari melihat ke arahnya.


"Oh jadi benar, siapa dia?" Tanya Liana.


"Sialan!" Cetus Aslan sembari melempar gulungan tisu ke arah Liana. Melihat itu, Liana dan Leo tertawa besar.


"Le, katakan!" Seru Liana.


"Le, diem lo!" Ancam Aslan.


"Slan, apa gak sebaiknya lo cerita juga sama si Lia?" Tanya Leo.


"Kagak! Yang ada bocor gue!" Seru Aslan menolak.


"Cerita aja sama gue, gue bisa bantu lo kalo mau." Ucap Liana.


"Diem lo, gue masih gak percaya lo." Ucap Aslan.


"Sialan lo!" Cetus Liana pada Aslan.


"Yakin lo gak mau cerita?"


"YA!" Seru Aslan dengan tegas.


"Le, apa ada clue?" Tanya Liana.


"Ada banyak, tapi ntar aja deh." Ucap Leo.


"Sialan lo!" Ucap Aslan sembari menimpuk Leo dengan majalah yang tadi dipakai Liana menimpuk dirinya.


Sementara di rumah Pak Arash, Pak Arash tengah menunggu kabar dari Ashma. Dan tak lama, Ashma menelponnya.


"Ayah, mereka sudah sampai?" Tanya Ashma di telpon.


"Belum." Jawab Pak Arash.


"Baiklah. mereka sudah dekat Yah." Ucap Ashma.


"Eh, sepertinya mereka sudah tiba." Ucap Pak Arash sembari ia berjalan ke depan.


"Baguslah, aku harap Ayah bisa sangat membantu mereka." Ucap Ashma.


"Iya." Ucap Pak Arash. Kemudian Pak Arash menutup telpon.


...********...


POV Aslan


Begitu sampai di depan rumah Ashma, Leo dan Liana bersemangat turun karena terlihat di teras Pak Arash telah menunggu.


Sementara itu aku malah menjadi ragu untuk turun.


"Cepetan Slan!" Ajak Leo.


"Lo duluan Le!" Ucapku.


"Lah, kenapa? Kagak bisa gitulah, di sini kan lo yang ...."


"Lo duluan Le, gue nyusul bentar lagi." Ucapku dengan sebuah penekanan.


"Ayo!" Ajak Liana menarik tangan Leo. Leo pun akhirnya pergi bersama Liana.


Bersambung ....