
Aslan menoleh ke arahku saat Liana menunjukku secara tiba-tiba begitu aku datang ke ruang tengah.
Aslan menatapku marah, wajah penuh amarahnya kian memerah. Aku benar-benar tidak mengerti apa yang terjadi. Kenapa tiba-tiba?
"Kenapa Li?" Tanyaku pada Liana.
"Gak papa Ash. Ehm, gue, Aslan sama Lia boleh pamit sekarang'kan?" Tanya Leo.
"Oh iya, silahkan." Lirihku.
"Kenapa buru-buru?" Tanya Ayah.
"Kami sudah cukup lama di sini Om." Ucap Leo sembari matanya sesekali menatap Aslan yang kini menunduk, aku lihat Aslan seperti benar-benar marah, tangannya mengepal.
"Kalian benar-benar akan pergi sekarang? Ah, Liana tinggallah lebih lama dan temani Ashma." Ucap Ayah.
"Tent ...."
"Liana ada urusan lain dengan saya Om." Ucap Leo, memotong ucapan Liana.
Aku benar-benar heran, sebenarnya apa yang terjadi? Mereka mengayakan senang berada di sini tapi kemudian memilih untuk segera pergi. Apa ada yang salah? -batinku.
"Oh, baiklah. Lain kali datang lagi dan tinggallah lebih lama, ya?" Ucap Ayah.
"Baik Om!" Sahut Leo dan Liana, sementara Aslan masih menunduk dan tangannua masih mengepal.
"Ayah, aku akan mengantar mereka ke depan." Ucapku sembari berjalan ke arah pintu bersama Liana, Leo dan Aslan.
"Pergilah lebih dulu." Ucap Aslan tiba-tiba. Leo dan Liana yang mendengar itu saling menoleh.
"Kita akan pergi bersama, ayo!" Ucap Leo, ia coba menarik tangan Aslan.
"Pergilah!" Tegas Aslan membuat Liana dan Leo segera bergegas.
"Kenap kau ...."
"Siapa yang mengizinkanmu memberitahu orang lain mengenai hubunganku dengan Caspian!?" Tanya Aslan dengan penekanan.
"Apa maksudmu?"
"Apa maksudku? Tolong jangan bersikap seolah tidak tahu apa-apa! Kau mengatakan pada Liana bahwa aku adalah adiknya Caspian kan!?" Tanya Aslan.
"Kalau aku mengatakannya, apa masalahnya? Faktanya memang begitu'kan?" Lirihku.
"Apa kau tahu, aku sangat membenci Caspian! Aku tidak ingin ada yang tahu soal ini tapi kau malah ...."
"Aku mengatakannya untuk ...."
"Aslan? Kau masih di sini?" Tanya Ayah yang tiba-tiba keluar dan hadir di antara aku dan Aslan.
Aslan terdiam tak menjawab, aku menoleh ke arah Ayah yang menatapku.
"Dia akan segera pergi." Ucapku, lalu aku masuk lebih dulu.
Sementara Aslan berpamitan pada Ayah dan benar-benar pergi, menyusul Leo dan Liana yang ternyata masih menunggu di depan gerbang.
...******...
6 pm
POV Aslan
"Dari mana saja?" Tanya Caspian begitu aku masuk rumah.
"Bukan urusan lo." Jawabku sembari tetap berjalan.
"Hei!" Teriakan Caspian terdengar kesal. Hal itu membuatku segera berhenti melangkah. Kemudian aku berbalik mengahadap ke arah Caspian.
"Lo siapa gue?" Tanyaku begitu saja pada Caspian. Caspian terlihat heran.
"Kenapa menanyakan hal itu? Sudah jelas gue kakak lo." Ucap Caspian.
"Mulai hari ini, anggap gue sebagai orang lain, gue bukan adek lo." Ucapku.
"Aslan! Apa yang kamu katakan Nak?" Tanya Mama yang tiba-tiba muncul dari tangga, tak jauh dari tempatku berdiri.
Aku terdiam dan Caspian hanya bisa menatapku.
"Kalian itu saudara, kalian tidak boleh saling menghindari. Kalian harus menyatakan bahwa kalian adalah saudara, tolong jangan bersikap seperti ini terus. Mama sangat khawatir ...."
"Aku malu Ma punya Kakak kayak dia!" Cetusku.
"Bukannya gue yang lebih pantas merasa malu?!" Teriak Caspian dengan nada tanya.
"Apa maksud lo!?" Tanyaku.
"Pemabuk! Berandal! Apa lo pikir selama ini gue tidak menanggung malu? Kakak macam apa gue tidak bisa mendidik adiknya lebih baik? Lo tumbuh jadi seorang pemabuk! Lo jadi orang yang keras! Tumbuh di jalanan! Lo berandal yang bisanya cuma tawuran! Apa lo pikir gue gak malu karena semua itu!?" Teriak Caspian mengatakannya dengan sangat lantang.
"Tidak tidak, Caspian ...." Mama coba menghentikan Caspian. Aku tahu Mama pasti merasa khawatir aku akan kembali berontak karena ucapan Caspian.
"Mama, Oma, dan semua keluarga harus menanggung malu karena kelakuan lo!" Tegas Caspian.
Aku menelan ludah berkali-kali mencerna apa yang dikatakan Caspian, tenggorok pun mulai tercekat akibat menahan air mata.
"Tidak, Mama sayang kalian berdua. Apapun yang kalian lakukan, Mama merasa bangga." Ucap Mama, aku masih terdiam. Aku tahu, Mama mengatakan itu hanya untuk membuatku baik-baik saja.
"Lantas, apa yang lo merasa malu tentang gue? Bukankah sebaliknya!?" Tanya Caspian lagi.
Aku menarik napas panjang-panjang, kemudian mengurungkan niat beranjak ke kamar dan lebih memilih pergi keluar.
"Aslan?" Mama memanggilku, tapi aku menolak menyahutnya.
Aku berniat pergi memakai sepeda motorku, tapi Caspian melarang itu karena ialah yang memberikanku.
"Pergilah tanpa membawa apapun!" Teriak Caspian.
Mendengar itu, aku turun dari motor dan mengeluarkan dompetku serta menaruh hpku kemudian berlalu hanya membawa badan dan pakaian yang aku pakai saja.
"ASLAN!!!!" Teriak Mama sembari diiringi isak tangis, Oma juga ikut memanggil-manggilku.
...********...
7 pm.
"Ayah, Ashma mau keluar sebentar boleh'kan?" Tanyaku.
"Kemana? Ini sudah malem loh." Ucap Ayah.
"Toko bunga." Jawabku.
"Apa.ada masalah di sana?" Tanya Ayah.
"Okay, Ayah akan antar kamu."
"Tidak perlu, Ashma akan ke sana pakai taksi." Ucapku.
"Okay, hati-hati di jalan dan telpon Ayah kalau ada apa-apa ya?" Ucap Ayah.
"Siap!" Sahutku.
Aku bersiap pergi, tapi Ayah memanggil lagi.
"Ashma?"
"Kenapa Yah?" Tanyaku, heran.
"Apa yang kamu bicarakan dengan Aslan tadi?" Tanya Ayah.
"Ehm, bukan apa-apa Yah. Sekadar ...."
"Pergi saja dulu, kita bicara setelah kamu kembali nanti." Ucap Ayah.
"Okay." Ucapku dan berlalu.
...*********...
Begitu sampai di toko bunga, Ashma dibuat terkejut karena kehadiran Aslan di sana. Aslan terlihat tengah duduk dan menengadah di kursi depan toko.
Melihat Ashma datang, Aslan juga merasa terkejut. Ia segera bangkit dari duduknya dan menatap Ashma.
"Apa yang kau lakukan?" Tanya Ashma agak heran.
Aslan terdiam tak menjawab.
"Di luar dingin, kenapa masih di sini?" Tanya Ashma lagi.
Aslan sedikit berpaling dengan angkuh tapi kemudian kembali menatap Ashma.
"Seharusnya kau tidak memberitahu Liana." Ucap Aslan.
"Ah? Masih soal itu? Apa masalahnya jika saya mengatakan itu? Kalian memang saudara, jadi ...."
"Lupakan bahwa aku adik Caspian, kami bukan saudara lagi. Mengerti!?" Tanya Aslan.
"Apa maksudmu bukan saudara lagi?" Tanya Ashma.
"Aku telah meminta Caspian mengatakan bahwa aku bukan adiknya lagi. Jadi, kau bersalah karena menyebarkan kebohongan pada Liana bahwa aku dan ...."
"Pengakuan seperti itu tidak berarti, kalian memiliki darah yang sama yang mengalir dalam tubuh kalian, lantas untuk apa kamu bersikap seolah memintaku memperbaiki ucapanku tentang hubunganmu dengan Caspian? Semuanya tidak bisa berubah begitu saja." Lirih Ashma.
Aslan terlihat geram pada Ashma.
"Bisa lupakan hal itu dan jawab pertanyaan saya?" Tanya Ashma.
"Tidak semudah itu." Elak Aslan.
"Baik, maafkan saya karena telah mengatakannya pada Liana. Sekarang katakan, apa yang kamu lakukan di sini?" Tanya Ashma.
"Kau sendiri, apa yang kau lakukan?"
"Ini toko bunga saya, saya datang untuk mengambil laptop yang tertinggal." Ucap Ashma sembari membuka pintunya. "Kalau datang untuk beli bunga, datang lagi esok, sekarang toko sudah tutup." Tambah Ashma kemudian masuk.
...********...
Aku tidak habis pikir, kenapa Aslan ada di sini? Untuk apa? Dan wajahnya terlihat sembab seperti orang habis menangis, apa dia ada masalah?
Aku meraih laptopku kemudian segera keluar setelah menemukannya.
"Masih di sini?" Tanyaku pada Aslan yang masih berdiri di depan pintu.
"Aku pergi dari rumah." Ucap Aslan.
"Kalai begitu kembalilah ke rumahmu, ini sudah cukup malam." Ucapku tanpa menoleh ke arah Aslan karena tengah mengunci pintu.
"Tidak akan kembali lagi." Ucap Aslan.
"Kenapa?" Tanyaku sembari melihatnya. "Karena kamu bukan adiknya Caspian lagi?"
"Aku memang bukan adiknya."
"Benarkah?"
"Ya."
"Okay, terserah. Sekarang pergilah dari toko bungaku dan cari tempat tidur yang nyaman." Ucapku.
"Apa kau setega itu?"
"Kenapa bertanya begitu? Bukankah kamu keluar dari rumah? Itu artinya kamu harus mencari tempat tidur yang nyaman di luar rumahmu. Apa saha salah?" Tanyaku.
"Tidak bisa'kah kau membiarkanku tidur di kursimu ini? Kenapa malah mengusirku?" Tanya Aslan.
Ya Tuhan, kenapa aku tidak peka? Apa Aslan duduk di sini untuk bisa tidur di sini?
"Kenapa tidur di sini?" Tanyaku.
"Aku tidak membawa apapun dari rumah, tidak ada uang dan ...."
"Berhenti bicara." Ucapku. Aku krmbali membuka pintu.
"Apa kau sudah makan?" Tanyaku pada Aslan.
"Hanya makanan yang dimasak Ayahmu dan Leo tadi." Ucap Aslan.
"Masuklah, saya akan pesan makanan." Ucapku mempersilakan Aslan masuk.
Aslan masuk dan ia duduk di sofa tengah toko bungaku. Aku memesan makanan untuk Aslan.
"Makanannya akan segera sampai, saat makanan datang kau hanya perlu mengambilnya, aku sudah membayarnya." Ucapku. " Tidurlah di sini untuk sementara. Di sana ada selimut agar tidak kedinginan. Ohya, di dapur ada air jadi tidak perlu khawatir kau akan kehausan, ada buah-buahan juga di lemari es, makan saja kalau mau."
"Kau akan pergi?"
"Tentu saja, Ayahku sudah menunggu." Ucapku.
"Apa kau datang dengan Ayahmu?"
"Tidak, dia menunggu di rumah ...." Aku berhenti sejenak karena aku teringat bahwa Ayah ingin mendengarku mengatakan apa yang aku bicarakan dengan Aslan sore tadi di depan pintu rumah.
"Sudahlah, aku titip toko bungaku, kunci setelah makananmu datang." Ucapku dan pergi.
Bersambung ...