A Dry Red Rose From Aslan

A Dry Red Rose From Aslan
Part 4


"Dasar bodoh! Mana ada orang hidup jam segini!?" Cetus pria berpenampilan bak preman itu sembari mengutuk dirinya sendiri saat ia baru sadar bahwa saat itu sudah menunjukkan pukul 1 lebih dini hari.


Pria itu coba menutup telpon yang belum juga ada jawaban, tapi ....


"Hallo?" Suara jernih seorang perempuan di seberang sana membuat pria itu kembali menarik telponnya.


Gue harus ngomong apa? Say Thanks or .... -tutur sang pria dalam hati namun saat belum selesai,


"Ini mas yang di florist ya?" Tanya perempuan di seberang sana.


"Iya, ini gue." Ucap pria itu.


"Alhamdulillah, sukurlah kalau masnya sudah bangun. Ehm, masnya kenapa telpon saya? Sudah baca memo yang saya tulis?" Tanya perempuan itu, sang pria langsung berpikir bahwa ini yang berbicara kini adalah sang owner.


"Gue sudah baca." Jawab sang pria.


"Lantas, kenapa masnya telpon saya?" Tanya perempuan di seberang lagi.


"Lo bilang gue boleh makan di sini, tapi gak ada apapun yang bisa dimakan selain pisang. Sisanya gue bisa makan setelah gue masak." Ucap sang pria.


"Ya, masnya boleh makan di sana kalau lapar. Ehm, di dapur ada bahan makanan yang sudah disiapkan Lili, karyawan saya. Masnya masak saja apa yang kiranya bisa dimasak."


"Masalahnya gue nggak bisa masak." Cetus sang pria.


"Ah, ya. Ehm, mas mau masak apa?" Tanya perempuan di seberang sana.


"Spaghetti kemasan." Ucap sang pria.


"Okay, saya akan sebutkan prosedur memasaknya. masnya tulis ya. Ambil alat tulis apa saja di meja Lili."


Pria itu meraih secarik kertas dan juga mengambil pulpen, ia bersiap untum segera menulis prosedur memasak spaghetti yang akan dibacakan perempuan lewat telpon.


"Pertama, masnya pasang panci ukuran sedang di atas kompor. Kemudian masnya masak air, agar cepet mendidihnya tambahkan saja garam ke air tersebut. Setelah mendidih masukkan pasta dan biarkan sampai aldente. Sambil nunggu matang, mas siapkan bumbu-bumbunya di piring, kalau mau bisa tambahkan bawang bombay, sosis dan topping lain. Nah, setelah pastanya matang, tiriskan saja kemudian masukkan ke piring yang sudah terdapat bumbu di sana. Setelah itu masnya tinggal makan saja." Ucap perempuan di seberang sana sementara sang pria menuliskannya.


"Okay." Ucap sang pria tanpa ucapan terima kasih sedikit pun. "Gue mulai masak ya."


"Silahkan."


...********...


7 am.


Lili membuka kunci pintu florist dari luar. Begitu ia mendongakkan kepala ke dalam ruangan, ia kaget. Seorang pria yang ia sebut sebagai seorang pemabuk itu kini tengah duduk dan melihat Lili dengan tatapan datar seolah tak bersalah sama sekali. Lili lebih kaget ketika ia melihat meja berserakan. ada piring dan gelas kotor juga kulit pisang di sana.


"Lo owner sini?" Tanya pria itu pada Lili, spontan Lili menggelengkan kepalanya. Ia sedikit gugup karena meski pria itu terlihat sangat bad di mata Lili, tapi pria itu sangat tampan dan tatapannya mematikan.



(Visual Aslan Rar Rezzada)


"Kalau gitu berarti lo itu Lili, yakan?" Tanya pria itu.


"Iya, bagaimana kamu tahu aku Lili?" Tanya Lili sembari dirinya masih berada di ambang pintu. Pria itu berdiri dan mendekat ke arah Lili, Lili sangat gugup dan sedikut gemetaran.


"Lo nggak perlu tahu dari mana gue tahu nama Lo." Ucap pria itu di dekat telinga Lili, Lili menunduk dan cemas akan dirinya sendiri.


"Gue pergi." Ucap pria itu dan berlalu, pria itu pergi tanpa mengucapkan terima kasih atau apapu itu, tak ada kata maaf juga untuk Lili. Lili kesal, tapi kesalnya terkubur karena ia mengingat wajah pria yang sangat tampan itu.


"Lili?" Sapaku begitu aku sampai di florist untuk memastikan pria aneh semalam itu masih ada atau sudah pergi, aku heran karena begitu sampai Lili masih berdiri di ambang pintu.


"Mba Ash." Balas Lili. "Aku lupa tanya siapa namanya." Lirih Lili, aku dapat mendengar lirih suara Lili itu.


"Bukan siapa-siapa Mba, hehe." Jawab Lili, ia kemudian masuk dan aku mengikutinya.


Aku sedikit kaget karena di meja dekat sofa sangat berantakan. Tapi aku tidak marah karena sudah pasti pria itu yang melakukannya.


"Pria itu sudah pulang?" Tanyaku.


"Sudah, lima menitan sebelum Mba Ash datang." Jawab Lili.


"Okay, kamu bantu aku beresin ini dulu ya Li." Ucapku sembari mulai beres-beres. Lili mengajukan dirinya untuk mencuci piring, ia membiarkanku untuk membuang kulit pisang saja.


"Assalamu'alaikum." Ucap pria berusia 54 tahunan, dia adalah Pak Herman.


"Wa'alaikumsalam." Balasku. "Pak Herman sudah masuk lagi akhirnya. Gimana Ibu pak?" Tanyaku.


"Alhamdulillah, Ibu sudah mendingan. Sekarang di ditemenin Mirna." Ucap Pak Herman.


"Alhamdulillah kalai begitu. Tapi, kenapa Pak Herman buru-buru masuk? Kenapa nggak tunggu Ibu sampai benar-benar pulih saja? Dan kenapa kemarin tidak mengabari saya Pak?" Tanyaku.


"Oh iya maaf Neng Ash, kemarin saya tidak sempat mengabari Neng Ash sama Pak Arash, saya buru-buru. Tapi saya titip pesan kepada Lili kok Neng." Ucap Pak Herman.


"Lain kali pak, kabari saya atau Ayah, barangkali ada yang bisa kami bantu." Ucapku.


"Iya Neng. Sekarang saya juga sudah masuk lagi karena Ibu yang minta, katanya kasihan Neng Ashma kalau floristnya nggak ada yang jaga." Ucap Pak Herman.


"Masya Allah, tapi Pak saya nggak keberatan kalau Bapak izin dulu buat nemenin Ibu, saya bisa temenin Lili di sini selama Pak Herman nggak ada." Ucapku.


"Terima kasih Neng, hari ini mungkin saya masuk dulu karena maunya Ibu. Dan mungkin kalau Neng nggak keberatan, besok saya mau izin dulu." Ucap Pak Herman.


"Iya pak, tidak masalah. Bapak temenin Ibu sampai Ibu sehat dulu, baru Bapak masuk kerja lagi." Ucapku.


Setelah berbincang-bincang dengan Pak Herman, Pak Herman mulai bekerja. Aku masuk dan bantu Lili melayani pembeli bunga-bunga baik itu bunga imitasi ataupun bunga-bunga asli. Aku membantu Lili sesekali sembari tetap membuka dan mengerjakan tugas-tugas kuliahku.


"Silahkan Bu, ada yang bisa saya bantu?" Tanyaku pada seorang perempuan, mungkin kalau Ibuku masih ada usia ibuku sama dengan usia ibu yang baru saja datang ini.



(Visual Anna Rezzada)


"Saya mau buket lavender." Ucap ibu itu sembari matanya seolah memerhatikanku, seakan ia mengenalku.


"Dried or fresh lavender?" Tanyaku.


"The fresh one." Ucap Ibu itu.


"Baik, ibu bisa tunggu di bangku bu, saya buatkan dulu." Ucaoku.


"Sebentar, kamu puterinya Hanum ya?" Tanya Ibu itu kepadaku sembari matanya terus menatap wajahku. Aku kaget. bagaimana bisa ia mengenalku? Apa mungkin dia ini teman Ibuku?


"Iya, ibu saya bernama Hanum. Ibu ini kenal sama ibu saya?" Tanyaku.


"Ya Allah, wajahmu mirip sekali dengan Hanum. Kenapa kita baru bertemu Nak? Boleh saya peluk kamu?" Tanya Ibu itu sembari merengkuh tanganku.


"Tentu." Ucapku. Aku menghampiri Ibu itu lebih dekat dan memeluknya. Lili yang menyadari itu hanya melihat dengan tatapan agak heran.


"Bagaimana Ibu mengenal Ibu saya?" Tanyaku.


Bersambung ....