A Dry Red Rose From Aslan

A Dry Red Rose From Aslan
Part 17


POV Writer


Caspian mengakhiri pertemuan dengan beberapa koleganya. Setelah menutup acaranya, ia berjalan ke arah Pak Arash.


"Pak Arash?" Sapa Caspian.


"Ya?" Tanya Pak Arash.


"Ehm, Pak Arash mau langsung pulang?"


"Sepertinya kalau tidak ada acara lain saya langsung pulang."


"Kalau saya ajak Bapak makan atau minum kopi dulu, mau?"


"Dalam rangka apa Pak?" Tanya Pak Arash.


"Ehm, saya sedang ingin mengajak Bapak saja."


"Okay, tentu saya bisa."


"Kalau begitu, kita berangkat sekarang Pak." Ucap Caspian.


Mereka pun pergi ke luar. Untuk pergi ke kedai kopi, mereka hanya berjalan kaki karena kedai tidak jauh dari kantor.


Sampai di sana, mereka memesan kopi dan snack sesuai selera mereka masing-masing. Sembari menunggu pesanan, mereka mengobrol lagi.


Pak Arash membicarakan banyak mengenai pekerjaannya dan perkembangan dari beberapa proyek yang dipimpin olehnya. Caspian juga selalu menanggapinya.


Namun kemudian, Caspian dengan sengaja menjuruskan pembicaraan ke arah privasi. Caspian menanyakan kabar puteri Pak Arash, Ashma.


"Ohya Pak, Ashma apa kabar?"


"She's well." Ucap Pak Caspian. "Sebenarnya, aku tidak pernah tahu bagaimana keadaan sebenarnya, aku tidak tahu apakah puteriku benar-benar baik-baik saja atau dia hanya pura-pura agar terlihat baik-baik saja. Dia tidak terbuka sepertiku, dia sangat tertutup seperti ibunya. Dia selalu menerima banyak cerita, tapi dia tak pernah bercerita." Ucap Pak Arash cukup detail.


"Kau tidak pernah coba untuk memintanya bercerita?" Tanya Caspian.


"Selalu, tapi dia selalu bilang Dad everything is gonna be okay. **do**n't worry." Lirih Pak Arash.


"Apa akhir-akhir ini dia terlihat murung? Apa kau pernah merasakan bahwa puterimu sedang tidak baik-baik saja?"


"Tentu aku selalu merasakan itu, beberapa hari terakhir puteriku terlihat berpikir keras, tapi entah apa yang ada di dalam pikirannya. Aku sedikit khawatir, tapi aku percaya padanya, dia akan selalu baik-baik saja." Ucap Pak Arash.


"Ya, dia akan baik-baik saja." Lirih Caspian, mendengar ucapan Caspian, Pak Arash meliriknya.


"Kau belum mau menikahkannya?" Tanya Caspian.


"Aku tidak mau dia menikah karena aku menyuruhnya untuk segera menikah. Saat hadir orang tepat menurutnya dan juga menurut Tuhan, aku yakin puteriku akan membuka hatinya dan segera melangsungkan pernikahan." Ucap Pak Arash lagi.


"Itu benar sekali, tapi mungkin seperti orang tua lainnya, apa kau memiliki karakteristik atau tipe tertentu mengenai calon menantumu?"


"Tidak."


"Tidak? Kau akan terima siapapun yang menurut puterimu cocok dengannya?"


"Iya, selama puteriku merasa bahagia, maka aku juga merasa bahagia. Siapapun yang mampu membuatnya bahagia, maka aku akan menerimanya."


"Seandainya puterimu merasa bahagia denganku, apa kau akan menyetujui itu?" Tanya Caspian. Mendengar hal itu, Pak Arash tentu saja terkejut. Ia langsung berpikir bahwa anak temannya yang kini merupakan bosnya diam-diam menyukai puterinya.


"Siapapun itu." Ucap Pak Arash. Caspian tersenyum mendengarnya.


"Aku senang mendengarnya Pak." Ucap Caspian.


"Tapi, mana bisa seoranh bos besar menyukai puteri karyawannya? Ini tentu hanya ada dalam dunia dongeng saja'kan?"


"Tidak, aku benar-benar menyukainya, puterimu." Ucap Caspian dengan tegas.


"Benarkah?"


"Iya."


"Sejak kapan kau menyukai puteriku?"


"Sejak awal aku bertemu dengannya Pak."


"Sudah bicara pada puteriku perihal ini?"


"Apa jika aku bicara hal ini padanya, dia akan diam dan tidak memberitahumu?"


"Tidak tahu."


"Aku belum bicara dengannya perihal ini."


...********...


Beberapa hari kemudian ....


Aku selalu merasa aneh dengan sikap Ayah, dia selalu bertanya perihal hatiku akhir-akhir ini. Dia juga menanyakan pria yang sedang dekat denganku, padahal aku tak memiliki pria yang dekat denganku. Ayah juga sering membicarakan Caspian. Ayah kadang tanya juga apakah aku telaj bertemu Caspian atau tidak, padahal sudah hampir dua minggu tidak bertemu dengannya.


"Ayah, apa yang terjadi? Kenapa Ayah bertanya mengenai Caspian padaku? Bukankah Ayah yang satu kantor dengannya?"


"Ayah pikir dia akan menemuimu."


"Untuk apa dia menemuiku? Tidak ada hal penting, maka tidak bisa bertemu."


"Menurutmu, apa cinta itu sebuah hal penting, atau tidak?"


"Penting."


"Kalau begitu ...."


"Caspian bukan cinta, tapi dia memiliki cinta."


"Setiap orang memiliki cinta Yah, lalu kenapa yang Ayah tanyakan selalu Caspian dan Caspian?"


"Setiap orang memiliki cinta, tapi tidak semua cinta setiap orang adalah untukmu."


"Maksud Ayah?"


"Caspian mencintaimu."


"No way!" Elakku.


"That's the truth." Ucap Ayah, aku terdiam.


"Okay, aku tidak bisa mengelak atau aku tidak bisa melarang jika ada orang yang mencintaiku, tapi semua itu tidak berarti aku harus membalasnya." Lirihku.


"Maksudmu?"


"Aku sama seperti Caspian, aku juga mencintai seseorang, aku memiliki cinta, tapi cintaku bukan untuk Caspian." Jelasku.


"Nak? Kenapa kau tidak mencintainya? Seharusnya ...."


"Ayah? Tolong jangan katakan seharusnya dan seharusnya, aku benci itu." Aku memotong pembicaraan Ayah yang sudah mulai terdengar tak terima dengan pernyataanku. Kenapa Ayah seperti tak menerima ketika aku katakan bahwa aku tidak mencintai Caspian?


"Ayah rasa Caspian adalah orang yang tepat untukmu."


"Itu hanyalah apa yang Ayah pikir dan rasakan. Tapi aku tidak merasa begitu."


"Kenapa?"


"Caspian bukan tipeku Yah."


"How's your type?"


"Aku tidak mau beritahu siapapun."


"Cinta itu bukan tentang tipe atau bukan, cinta itu akan datang di saat yang tepat."


"Aku tahu, tapi ini bukan saat yang tepat."


"Bagaimana bisa kamu katakan ini bukan saat yang tepat?"


"Caspian terlambat Yah, aku sudah mencintai pria selain Caspian."


"Maksud kamu?"


"Aku sudah memiliki seorang pria untuk dicintai dan aku yakin dia akan mampu mencintaiku, dan itu bukan Caspian."


"Siapa dia?" Tanya Ayah.


"Aku tidak bisa katakan sekarang."


"Apa dia membalas cintamu? Apa dia mencintaimu terlebih dahulu? Atau ini hanya ada dalam hatimu?"


Mendengar pertanyaan Ayah membuatku pamit untuk pergi, aku enggan berdebat dengannya.


"Ashma pergi duluan Yah." Ucapku dan berlalu.


...********...


Hari ini aku pergi ke toko bunga, Liana sudah berhasil mendapatkan dua karyawan untuk toko bungaku. Dan begitu sampai di sana, ternyata dua karyawan baruku sudah hadir di sana, duq perempuan cantik dan sangat sopan. Liana juga ada di sana bersama Lili.


"Nah akhirnya owner nya dateng juga." Ucap Liana menyambut kedatanganku.


"Hehe, maaf ya agak telat, barusan ada sedikit masalah yang harus diselesaikan." Ucapku, masalah yang ku maksud perdebatanku dengan Ayah.


Setelah mengatakan itu sebagai sebuah masalah, aku jadi teringat betapa Ayah tidak pernah berdebat denganku sebelumnya, tapi kenapa hari ini dia tiba-tiba bertolak belakang denganku? -batinku.


"Nggak masalah Mba Ash." Lirih Lili.


"Ohya Ash, nih sesuai janji gue, gue udah bawa dua orang yang bisa jadi karyawan baru lo. Mereka temen gue waktu SMP." Ucap Liana.


"Hai." Sapaku pada dua orang baru di hadapanku itu. "Aku Ashma." Lirihku. Kedua karyawan baruku juga memperkenalkan diri mereka, mereka adalah Rai dan Ambar.


"Okay, buat kalian berdua; Rai dan Ambar selamat bergabung di toko kami ya, semoga kalian betah dan nggak bosen kerja di sini." Ucapku.


"Terima kasih Mba." Ucap Rai dan Ambar.


"Nggak usah pake Mba, Ashma aja. Kita kayaknya seumuran deh, hehe." Elakku ketika disebut Mba oleh mereka, mereka terkekeh seketika.


"Ohya, untuk awal-awal kalian akan diberitahu oleh Lili apa saja yang harus dilakukan dan pastinya mengenai cara merangkai bunga segar ataupun imitasi, bagaimana cara mengombinasikan daun, tanaman dan bunga-bunga itu akan bantu dijelaskan dan dicontohkan oleh Lili juga." Tambahku.


"Baik." Ucap Rai dan Ambar kompak.


"Okay, sekali lagi, selamat bergabung ya." Ucapku.


Setelah bicara pada dua karyawan baruku, Rai dan Ambar mulai belajar dari Lili. Sementara aku mengobrol bersama dengan Liana.


"Ohya Li, ada yang tanyain kamu loh." Ucapku.


"Siapa?"


"Azhar."


"Siapa!?" Liana terdengar sangat kaget mendengarnya.


Bersambung ....