
(Visual Ashma Arash Arshad)
"Ashma?" Sapa seorang pria yang tiba-tiba datang dari arah belakangku saat aku tengah fokus memerhatikan sebuah pajangan di dinding kedai yang nampak adalah sebuah gambar pemandangan balon udara yang sudah mulai mengudara di langit Cappadocia, aku menoleh dan berdiri menghadap ke arahnya. Dia adalah Azhar, temanku saat SMA dulu.
(Visual Azhar Khan)
"Azhar, hai." Balasku. Aku kemudian mempersilakan Azhar duduk di hadapanku, Azhar duduk dan memesan kopi sesuai keinginannya. Sementara itu aku menikmati kembali kopi yang sudah ku pesan sejak tadi, agak dingin tapi itu sangat sedap dinikmati, terlebih di kala senja begini.
"Lo sendiri aja Ash?" Tanya Azhar.
"Ya sendiri lah Zhar, sama siapa lagi? Gak ada yang bisa diajak juga, soalnya teman-teman kampus pada jarang minum kopi, sekalinya minum mereka minum sama pasangan mereka sendiri, haha." Balasku.
"Kasian banget ya jadi lo, haha. Tapi bukannya lo bentar lagi dapat pasangan nih?" Tanya Azhar, aku agak kaget mendengarnya. Tapi, ah pasti lelucon saja.
"Heh! Kasihan juga kamu kali, kamu kan juga belum punya pasangan. Do'ain aja Zhar, sudah agak bosen juga sih sendiri terus." Ucapku.
"Gue pasti do'ain lo tanpa lo minta Ash. Tapi, emang bener ya lo sudah mau ada gandengan?" Tanya Azhar, dia seperti memastikanku.
"Hahaha, ya berharap sih gitu." Balasku.
"Yang jelas dong Ash kalau ngomong!" Seru Azhar sembari agak menggertakkan tangannya di hadapanku.
"Kok emosi gitu sih? Heran deh. Lagian Zhar, manusia mana yang dirinya nggak mau dapat gandengan? Kamu juga pasti pengen kan?" Ucapku coba menjelaskan.
"Berarti sekarang lo belum punya pasangan sama sekali?" Tanya Azhar.
"Tentu saja belum, kalau aku sudah mau nikah pun aku bakal kasih tahu kamu, aku undang kamu. Tenang saja, enggak bakal diem-diem kok." Ucapku sembari kembali menikmati kopiku.
"Kalau lo nikah, lo nikah sama siapa?" Tanya Azhar.
"Ya sama calonku lah Zhar." Jawabku polos. Entah kenapa Azhar terlihat agak celingukan setelah membahas hal seperti ini. "Kamu kenapa Zhar? Kamu sudah mau nikah ya? Parah sih kalau kamu nggak undang-undang aku." Tambahku.
"Ngapain gue undang lo?" Ucap Azhar dengan nada tanya yang sedikit ditekankan. Aku mengerutkan keningku karena heran.
"Gak masalah sih, kalau kamu nggak undang aku, aku nggak perlu keluarin duit buat beli kado." Balasku sembari tersenyum simpul.
"Lo nggak ngerti maksud gue?" Tanya Azhar.
"Maksud yang mana? Kamu nggak buat teka-teki kok." Jawabku.
"Sukur deh kalau lo nggak faham." Ucap Azhar kemudian dia turut menikmati kopinya yang baru saja disuguhkan. Aku mengangkat kedua bahuku dan bersikap tak mau tahu.
"Ohya, gimana kerjaan lo? Dan gimana kuliah?" Tanya Azhar.
"Kuliah lancar, alhamdulillah. Kerjaan juga lancar-lancar saja, aku tiap weekend pasti pergi cek florist." Jawabku. "Cuma Zhar, aku kan ada impian, pengen banget pergi ke Turki." Tambahku sembari sedikit memberi jeda dan coba membayangkan kembali apa yang telah aku lihat di pajangan kedai yang kini berada tepat di belakangku. Tanoa disadari Azhar memerhatikan aku saat aku tengah terdiam.
"Cappadocia! Kamu tahu tempat itu kan Zhar?" Tanyaku agak berteriak sampai membuat Azhar sadar dan berhenti memerhatikanku.
"Ohya? Gimana view nya?" Tanyaku.
"Keren, indah banget dan romantis. Sayangnya waktu itu gue ke sana nggak sama pasangan, tapi sama temen-temen doang." Jawab Azhar.
"Woowww. Pengen banget ke sana, kapan ya?" Lirihku.
"Kalau lo mau, gue bisa temenin lo ke sana." Ucap Azhar.
"Haha, apaan? Kita'kan bukan muhrim Zhar, mana bisa kita ke sana barengan?" Ucapku. "Apa aku harus nikah dulu ya? Terus pergi ke Cappadocia sama suamiku, wow! Ide bagus'kan ini Zhar! Keren! Pokoknya aku bakal nabung, kerja keras terus agar aku bisa pergi kemanapun aku mau pergi." Ucapku.
"Ngimpi lo! Mana bisa nikah kalau lo belum ada calon? Lo pikir nyari calon pasangan itu gampang?" Ucap Azhar.
"Iya juga ya." Lirihku sembari menggaruk kepalaku yang berbalut khimar hijau mint. Melihatku kebingungan, Azhar tertawa cukup keras tapi aku coba untuk tidak memedulikannya.
"Tapi Zhar kata Ayahku, kita jangan risau soal jodoh. Nggak perlu takut nggak bakalan ketemu jodoh karena semua orang sudah punya bagiannya masing-masing. Ya, tinggal kitanya saja yang berusaha untuk terus memantaskan diri agar dapat jodoh yang sepadan. Kalau mau pasangan yang baik, artinya kita harus menjadi orang baik. Kata Ayah nggak susah kok cari pasangan, tapi mencari yang benar-benar tepat untuk kita itu baru menantang." Ucapku sembari mengembangkan kembali senyumanku di hadapan Azhar.
"Definisi tepat menurut lo itu seperti apa Ash?" Tanya Azhar.
"Menurutku kita telah tepat memilih pasangan ketika kita bertemu dengan pasangan yang memiliki visi dan misi pernikahan yang sama. Sebuah ikatan pernikahan yang dibangun bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan biologis saja. Dari awal pertemuan sebelum adanya ikatan yang pasti harus sudah jelas apa tujuan dari pernikahan yang akan dilakukan nantinya. Jadi ya menurutku, tepat itu dilihat dari visi dan misinya." Ucapku sembari menatap kosong ke arah depan.
"Gilaaa penjelasan lo keren banget! Tapi Ash, memangnya satu visi satu misi sudah pasti saling cinta?" Tanya Azhar.
"Saling cinta atau tidaknya itu bagaimana orangnya. Menurutku Zhar, cinta yang nyata dalam sebuah pernikahan akan muncul setelah akad, terlebih setelah lahirnya buah-buah cinta." Ucapku.
"Ash? Lo lagi sadar'kan?" Tanya Azhar kepadaku dengan tatapan melongo dan tak percaya.
"Ya sadar lah Zhar. Kalau nggak sadar aku nggak bakalan ada di sini." Ucapku dengan santai.
"Iya juga sih, hehe." Ucap Azhar, giliran Azhar yang menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Tapi beneran deh Ash, lo kan belum ada pengalaman menikah atau menjalin hubungan, tapi saat lo berbicara topik tersebut lo keren banget. Kalau kata anak zaman sekarang mah berdamage parah!" Sambung Azhar.
"Bisa aja kamu Zhar! Aku cuma keluarin dan ungkapkan apa yag aku tahu dan aku pernah dengar soal pernikahan saja kok." Ucapku.
"Seriusan keren banget. Elo berbicara seolah lo ada di dalam pembicaraan tersebut, dan lo pandai banget membawa pendengar masuk ke dalam apapun yang lo bicarakan. Gue barusan coba bayangin ketika gue harus menikah dengan orang yang nggak cinta gue atau sebaliknya, terus gue bayangin cinta itu baru hadir setelah gue mengucap akad, kemudian cinta terus lahir setelah buah-buah cinta gue lahir." Ucap Azhar.
Saat Azhar bicara, ia melihat ke arah pajangan bergambar Cappadocia yang tadi aku tatap. Aku melihat Azhar sangat serius membicarakan hal yang juga aku bicarakan. Ia benar-benar terbawa ke dalam topik tersebut. Tapi, kenapa Azhar sampai memikirkan dirinya yang berada di posisi tersebut? Apa ia benar-benar tengah berada di posisi tersebut? Apa ia ingin menikahi perempuan yang tak mencintainya? Atau ia harus menikah dengan perempuan yang tak dicintainya?
"Aduh Zhar! Aku beneran lupa! Tadi pagi sebelum ke kampus, Ayah memintaku untuk pulang lebih awal dan menghampirinya ke kantor. Aku duluan, nggak papa kan Zhar?" Tanyaku sembari membereskan laptop dan tasku yang berserakan di meja.
"Iya Ash, nggak papa. Malah kalau lo mau, gue bisa anterin lo ke kantor Ayah lo." Ucap Azhar.
"Oh thank you, tapi kayaknya aku naik bis saja deh Zhar. Jarak dari sini ke kantor Ayah nggak terlalu jauh." Ucapku.
"Okay kalau begitu, lo hati-hati di jalan ya?" Ucap Azhar, aku mengangguk, mengucapkan salam dan berlalu setelah Azhar menjawab salamku.
Tepat saat hendak melangkahkan kaki keluar dari kedai, di depan pintu bahuku tak sengaja bersenggolan dengan bahu kekar seorang pria sehingga benda-benda di tanganku terjatuh. Ingin sekali marah, tapi barang-barangku jauh lebih penting akhirnya aku membungkuk membereskan dahulu barang-barangku dan kembali berdiri. Tapi, dimana pria itu? Dia sama sekali tak meminta maaf apalagi membantuku membereskan benda yang jatuh dari tanganku. Karena aku lihat di sekelilingpun tidak ada, aku kembali berjalan keluar kedai dan berlalu.
Bersambung ....