A Dry Red Rose From Aslan

A Dry Red Rose From Aslan
Part 12


"Kenapa kau tanyakan hal seperti itu?" Tanyaku.


"Tidak, hanya ingin tahu saja." Ucap Aslan, ia memalingkan wajahnya dariku. Aku tersenyum dan merasa heran.


"Hey, lo ngapain deketin Ashma?" Tanya Leo pada Aslan yang datang mendekat bersama Liana.


"Ih, jomblo mah bebas, iya nggak?" Sahut Liana pada Aslan, Aslan hanya tersenyum simpul.


"Sialan!" Cetus Leo.


"Gue coba tanya Ashma ya, dia mending dideketin cowok kayak Aslan atau dideketin cowok kayak lo?" Ucap Liana. Aku melotot mendengar ucapan Liana begitu.


"Ya jelas, dia bakal pilih ...." Leo terdiam, ia melihat ke arahku dan juga ke arah Aslan sesekali.


"Pilih siapa?" Tanya Liana pada Leo.


"Kalau antara gue sama Aslan, gue kalah lah. Sialan!" Cetus Leo.


"Hahahaha, makanya jangan sok ngedeketin cewek lo! Liat dong, Aslan lebih deket sama Ashma." Ucap Liana pada Leo sembari menunjukkan posisi dudukku dengan Aslan yang cukup dekat. Sontak, aku menjauh, Aslan menoleh.


"Hahaha, Ashma ngejauh noh!" Cetus Leo.


"Maaf." Lirihku pada Aslan, dia hanya mengangguk.


"Buset deh Lia, lo cemburu kan gue deketin temen lo?" Tanya Leo pada Liana.


"Gila lu ya! Mana bisa gue cemburu? Lo itu bukan tipe gue! Enak aja lo!" Cetus Liana mengelak.


"Kalian mau gini terus?" Tanyaku.


"Nggak Ash." Jawab Leo dan Liana kompak.


"Nah loh." Cetus Aslan.


"Apaan sih lu malah ngikutin gue?" Tanya Liana dengan nada tingginya yang khas.


"Li, udah yuk." Ucapku coba menenangkan Liana.


"Dia nyebelin banget Ash." Ucap Liana.


"Nggak papa, biarin aja Li." Ucapku. Aku menarik tangan Liana dan mengajaknya pergi.


"Nyebelin nyebelin! Lama lama gue bikin lo suka sama gue ntar!" Cetus Leo setelah aku mengajak Liana pergi.


"Amit amit!" Cetus Liana.


...********...


POV Aslan


"Lo suka ya sama Ashma?" Tanya Leo padaku.


"Apaan sih Le, tiba tiba nanya gituan. Gue bukan lo ya, lo kan gampang banget suka sama orang. Gue mah nggak." Ucapku.


"Kalo lama lama lo suka sama dia gimana?" Tanya Leo.


"Ya, gue nggak bisa bohongin perasaan gue. Kalau gue suka orang, ya gue bakal jujur." Ucapku


"Meskipun itu ke Ashma? Dan lo tahu kan gue suka Ashma?" Ucap Leo, dia terlihat kaget.


"Masa lo aja punya hak mengungkapkan perasaan lo sementara gue nggak?" Tanyaku.


"Sialan lo! Lo beneran bakal suka Ashma?"


"Ya kan lo bilangnya misalkan. Tapi meski nyata juga gue mah nggak masalah." Ucapku.


"Jangan dong bro! Udah, misal doang ini mah." Ucap Leo.


"Terserah lo deh!" Cetusku dan meninggalkan Leo seorang diri.


...********...


2 pm


"Lo pulang langsung Ash?" Tanya Liana padaku.


"Nggak deh Li, aku ada urusan bentar." Ucapku sembari beres beres dan bersiap untuk pergi.


"Nggak mau gue anterin?" Tanya Liana.


"Atau gue aja yang anterin!" Sahut Leo.


"Nggak usah, makasih ya udah pada nawarin." Ucapku. "Aku pakai bis aja deh Li." Tambahku.


"Okay kalo gitu." Ucap Liana.


"Slan, lo pulang langsung?" Tanya Leo pada Aslan yang juga bersiap untuk pulang.


"Iya, gue disuruh pulang lebih awal." Ucap Aslan.


"Ohya Li, aku sudah bilang Ayah soal lowongan pekerjaan di toko bungaku. Ayahku sudah setuju kalau aku rekrut dua pekerja baru. Tolong, kamu sampaikan pada temanmu itu ya." Ucapku pada Liana.


"Waaah seneng banget, fast respond banget Ayah kamu. Nanti aku kabari temenku ya." Ucap Liana.


"Okay." Ucapku.


...********...


POV Aslan


Semua mulai beranjak setelah berpamitan pada kepala panti sosial dan juga anak-anak yang ada di sana. Leo pulang sendiri dengan mobilnya, Liana juga pulang dengan mobilnya. Sementara aku lihat Ashma masih menunggu bis atau taksi yang bisa membawanya ke tempat tujuannya.


Aku menghampirinya sebelum naik mobilku.


"Mau langsung pulang?" Tanyaku pada Ashma, Ashma menoleh dan seidkit mundur agar tidak terlalu dekat denganku.


"Nggak, saya mau ke toko bunga dulu." Balasku.


"Oh, ke toko bunga itu ya?" Ucapku sembari agak berpura-pura tidak tahu padahal aku tahu toko bunga miliknya.


"Kenapa tidak bilang sejak kemarin kalau toko bunga itu milikmu?" Tanyaku.


"Jadi sekarang kamu berpikir bahwa toko bunga itu milikku? Padahal aku tidak mengatakannya. Lagi pula bisa jadi kan toko aku hanya pekerja di sana, atau bisa jadi kemarin aku datang tapi tokonya tutup." Ucap Ashma.


Ah Aslan! Bodoh banget lu! Batinku sembari agak mengutuk diriku sendiri.


"Oh saya kira itu memang toko bunga milikmu." Ucapku berpura-pura.


"Well, itu emang saya yang kelola. Toko bunga itu milik almarhumah Ibu saya." Jelas Ashma.


"Tuh kan." Cetusku.


"Hm?" Ashma terlihat heran.


"Tidak. Oh ya, kebetulan sekali, saya mau cari bunga. Karena kemarin tutup, jadi boleh saya datang ke sana sekarang?" Tanyaku.


"Silahkan, tentu saja boleh." Ucap Ashma.


"Kalau begitu, kita ke sana bareng saja. Kebetulan tujuan kita sama'kan? Bagaimana?" Tanyaku.


"Ehm, saya nggak enak kalau harus numpang. Sepertinya saya tunggu taksi atau bis saja." Ucap Ashma menolak dengan perlahan.


"No, saya nggak sebut kamu menumpang. Saya ajak kamu buat bareng." Ucapku.


"Bukankah itu sama saja?" Tanya Ashma.


"Jelas, berbeda. Kamu tunggu di sini, saya keluarkan dulu mobil ya?" Ucapku dan beranjak ke mobilku. Aku yakin Ashma akan menunggu dan mau ku ajak.


...********...


Aslan menghentikan mobilnya di hadapanku, ia turun lalu mengajakku untuk pergi bersama karena ia bilang ia akan pergi ke toko bungaku.


"Ayo!" Ajak Aslan.


"Tidak perlu, saya bisa ...."


"Kalau ada yang mudah, kenapa harus nunggu yang susah. Ayoklah!" Aslan kini membuka kan pintu mobilnya untukku.


"Kamu tidak keberatan?" Tanyaku.


"Sangat keberatan seandainya kamu tolak. Ayok!" Ujar Aslan.


"Okay, terima kasih." Ucapku sembari menyerah dan mau ikut pergi dengannya.


Di dalam mobil, kami terdiam. Tapi kemudian Aslan coba membuka pembicaraan.


"Masih kuliah?" Tanya Aslan.


"Iya, masih." Jawabku singkat.


"Semester?"


"Akhir."


"Jurusan apa?"


"Psikologi."


"Wow! Bisa faham perasaan orang lain dong ya?"


"Tergantung siapa dulu yang difahaminya."


"Nggak semua?"


"Tentu nggak."


"Menurutmu, saya tipe orang mudah dimengerti?"


"Saya belum begitu kenal kamu."


"Harus mengenal dulu ya?"


"Mengenali lebih jauh tepatnya." Ucapku.


"Punya kenalan dekat?"


"Banyak."


"Cowok?"


"Yang deket banget sih cewek. Kenapa?"


...********...


POV Aslan


"Jadi nggak punya kenalan cowok yang deket?" Tanyaku pada Ashma.


"Belum ada yang sangat deket sih. Kenal ya sekedar kenal doang, tahu namanya, tahu mengenai pendidikannya dan tahu wajahnya, sudah." Jawab Ashma.


"Yakin?"


Aku ingin coba menelusuri hubungan Ashma dengan Caspian. Tapi ternyata Ashma tidak mengakui memiliki kenalan yang sangat dekat.


"Iya." Jawab Ashma.


"Kalau ada yang ngajak kenalan lebih dekat bagaimana?" Tanyaku.


"Ya, tergantung tujuannya saja. Dia deketin buat apa, apa maksudnya, tujuannya apa, dan lain sebagainya."


"Oh begitu." Lirihku.


Tak lama, sampailah di toko bunga Ashma. Aku memarkir mobil kemudian aku dan Ashma turun.


Begitu masuk, aku dikejutkan oleh seorang wanita yang mengetahuiku dan aku tahu juga dirinya. Sialan! Bagaimana ini?


Bersambung ....