
"Lo baru dateng Li?" Tanya pria yang datang menghampiri Liana karena dipanggilnya.
"Iya Le, gimana? Pamerannya lancar-lancar aja kan selama gue gak ada?" Tanya Liana yang merupakan salah satu panitia dari pameran tersebut.
"Lancar banget malah!" Seru pria itu.
"Parah lu Le!" Cetus Liana. "Ohya, kenalin ini temen gue, namanya Ashma." Ucap Liana. Pria itu menoleh ke arahku, aku menelungkupkan kedua tanganku di hadapan dadaku dan dia melakukan hal sama guna menghargai sikapku.
"Gue Leo." Ucap pria bernama Leo itu.
"Saya Ashma." Ucapku sembari tersenyum.
"Jadi Le, temen gue ini bukan aktivis tapi dia ini cewek yang berjiwa sosial tinggi. Dia excited banget saat gue kasih tahu dia mengenai event ini. Selain itu, dia juga penikmat seni yang baik. Dia pasti bisa memberikan, ehm semacam masukan atau juga kritikan untuk seni seni yang dipajangkan. Gue saranin juga, ntar saat kita menyalurkan dana untuk panti panti sosial dia juga dilibatkan. Tadinya gue pengen ajak dia dari kemaren Le, ajak ikut meeting lah atau segala macam persiapannya, tapi dia sibuk banget. Ini juga gue jemput dia di flower shop nya." Ucap Liana. Mendengarnya aku malah merasa malu.
"Jangan berlebihan seperti itu Li." Lirihku.
"Lah, lo emang beneran kayak gitu Ash." Ucap Liana.
"Nggak, ehm tidak perlu libatkan saya dalam kegiatan sosial kalian, saya ikut partisipasi sebagai pengunjung saja." Ucapku pada Leo.
"Gue seneng seandainya lo beneran bisa ikut kegiatan sosial ini. Soalnya kami juga sedikit kekurangan tenaga manusia. Kalo lo mau, penyaluran dana akan dilakukan lusa." Ucap Leo.
"Oh, boleh. Terima kasih atas ajakannya." Ucapku.
"Sama-sama. Ohya, lo pada masih mau di sini?" Tanya Leo oada kami.
"Iyalah, gue lagi pesen makan. Amunisi dulu bentaran." Ucap Liana.
"Amunisi? Biar apa lo? Biar meledak ledak?" Tanya Leo, aku terkekeh, sementara Liana terlihat kesal dan meminta Leo segera pergi.
Leo pun pamit untuk masuk lebih dulu, karena ia banyak yang harus diurus.
...*********...
POV Aslan
"Gile!" Seru Leo begitu ia datang ke tempatku.
"Apa yang gile?" Tanyaku.
"Dia cantik bener! Si Liana kenapa baru kenalin ke gue ya tuh cewek cantik?" Cetus Leo. Aku menyipitkan kedua mataku coba menerka apa yang terjadi pada Leo.
"Lo ketemu siapa emang? Sampe segitunya!" Cetusku.
"Rahasia. Bahaya kalo gue kenalin ke lo, bisa-bisa dia jatuhnya ke hati lo." Ucap Leo.
"Sialan lo!" Ucapku.
"Apalagi lo kan lagi jomblo." Ucap Leo.
"Lo pikir, jatuh cinta itu gampang? Kagaklah. Gue butuh waktu buat bisa nerima cewek." Lirihku.
"Lo yang sialan! Cewek satu ini bukan lo yang harus memikirkan apakah lo mau terima dia atau nggak. Tapi dia lebih pantas memikirkan itu." Ucap Leo.
"Sialan!" Cetusku sembari berjalan agak jauh dari Leo. Aku pergi untuk melihat-lihat karya dari seniman lain, sembari bertanya-tanya kepada para pengunjung pendapat mereka mengenai karya seni yang dipajangkan, terlebih mengenai karya-karyaku.
...*********...
"Ini masuk ke dalam favorit lo nggak nih Ash?" Tanya Liana sembari menunjukkan seni lukis beraliran naturalisme, seni lukis yang menggambarkan kembali kondisi alam semirip mungkin dengan aslinya.
(Visual Suasana Pameran Seni)
"Aku lebih ke yang abstrak deh Li. Tapi ini keren banget sih parah, apalagi kalau goresan jingganya dipertegas ya." Ucapku.
"Iya. tepat banget, dilebihin doang deh catnya pas deh." Ucapku.
Kami terus berkeliling melihat-lihat karya seni yang dipamerkan. Selain lukisan 2 dimensi juga banyak sekali seni rupa tiga dimensi yang dipamerkan seperti patung-patung kecil, guci-guci cantik dan topeng-topeng kayu atau yang lainnya.
"Ash, aku ada urusan bentar. Leo manggil-manggil terus nih, pergi dulu nggak papa kan? Lo keliling aja lihat-lihat. Ntar gue samperin lo lagi, nggak papa kan?" Tanya Liana.
"Iya, nggak papa Li." Ucapku.
"Kalau ada apa-apa hubungi gue aja." Ucap Liana, aku mengangguk dan Liana pun pergi.
...*********...
POV Aslan
Saat tengah sedikit sharing dengan seniman senior bernama Ariyal, aku melihat seorang perempuan berhijab tengah melihat lukisanku di sudut ruangan.
Sebuah lukisan di atas kanvas 100x110 cm itu menggambarkan seorang perempuan berhijab di tanah Gaza. Di sana aku sedikit mengungkapkan solidaritasku untuk setiap manusia yang hidup di tanah Gaza melalui lukisanku.
Gambar seorang perempuan berhijab dengan wajah bersimbah darah dan air mata, serta kotor penuh debu. Di sudut kiri atas lukisan itu aku gambarkan bendera Palestina juga.
Aku coba memerhatikan ekspresi wanita berhijab itu menikmati lukisanku. Aku melihat dia sangat terbawa ke dalam lukisanku. Dia mengeluarkan tisu dari dalam tas kecilnya dan mengusap matanya yang tiba-tiba meneteskan air mata.
"Maaf, kalian tahu siapa pelukisnya?" Tanya perempuan berhijab itu pada seorang pengunjung lelaki paruh baya. Pria yang ditanyai itu melihat ke arahku dan menunjukku dan kini wanita berhijab itu yang melihat ke arahku.
"Itu pelukisnya, namanya Aslan." Ucap pria paruh baya itu. "Anda juga bisa lihat lukisannya yang lain, itu, lukisan Al Quds karya Aslan juga." Ucap pria itu sembari menunjuk lukisan yang ditempatkan tidak jauh dari lukisan sebelumnya. Wanita berhijab itu melihat ke arah lukisan lain dan mendekat serta memerhatikannya.
Kemudian aku lihat wanita berhijab itu melihat ke arahku lagi, aku kemudian putuskan untuk menghampirinya.
Aku benar-benar kaget melihat wajah perempuan itu dari dekat. Matanya sangat mirip dengan mata perempuan Palestina yang aku lukis. Matanya lebar dan sayu tetapi sangat tajam. Siapapun yang melihatnya akan sulit untuk tidak ingin memandangnya lagi.
Perempuan itu membersihkan matanya dari air yang tadi tiba-tiba menetes. Ia belum mengatakan sepatah kata pun.
Berada di dekatnya membuatku merasa heran, kenapa aku sangat malu berada di dekatnya? Aku benar-benar gugup, tapi aku coba terus kendalikan emosiku.
"Terima kasih telah berkunjung." Ucapku pada perempuan itu.
"Saya akan menyesal seandainya saya menolak untuk datang ke pameran ini. Lukisan yang dipajangkan hari ini, semuanya membuat saya takjub." Ucap perempuan itu sembari melihat ke arah lukisan Al Quds ku lagi.
"Terima kasih." Ucapku.
"Bagaimana bisa kau menggambarkan Palestina?" Tanya perempuan itu.
"Akhir-akhir ini saya sangat mencintai Palestina. Beberapa akhir pekan ini saya juga ikut kegiatan sosial bertema Bela Palestina. Lukisan ini dibuat sebagai bentuk solidaritas saya untuk warga Palestina. Mungkin nanti pendapatan dari pameran ini juga akan disalurkan ke Palestina. Kebetulan seluruh tema dari lukisan saya adalah Palestina untuk saat ini. Di sana ada lukisan perempuan Palestina, lukisan anak-anak Palestina, lukisan Al Quds, dan juga lukisan perempuan bernama Razzan Najjar."
"Tenaga medis Palestina yang tewas oleh pasuka Israel yang menjadi sukarelawan selama protes perbatasan Gaza pada 2018 lalu kan?" Ucap perempuan berhijab itu menjelaskan sosok Razzan Najjar.
"Tepat sekali." Ucapku.
"Aku sangat iri kepadanya. Dia menjadi syahidah di negerinya sendiri. Dia seorang perempuan yang luar biasa." Ucap perempuan berhijab itu. Syahidah adalah seorang perempuan yang meninggal di medan pertempuran atas dasar bela negara, atau bisa diartikan juga sebagai perempuan yang wafat dalam perjuangan baik itu saat melahirkan anak atau perjuangan-perjuangan lainnya.
Mendengar ucapannya, aku sangat takjub pada perempuan berhijab yang kini berdiri di sampingku ini. Seorang perempuan berjiwa sosial tinggi. Selain itu ia juga sangat indah untuk dipandang.
"Maaf, saya tidak bisa berlama-lama di sini, saya akan kembali berkeliling." Ucap perempuan berhijab itu.
"Oh iya, silahkan." Ucapku mempersilakannya pergi, aku tidak bisa menawarkan diri untuk menemaninya berkeliling karena bisa jadi perempuan itu enggan untuk aku temani. Selain itu aku juga mesti menghampiri pengunjung-pengunjung lainnya untuk menjelaskan mengenai lukisan-lukisanku.
Perempuan itu berlalu dan datanglah Leo.
Bersambung ....