
2 pm
Keluar dari kampus, aku putuskan untuk pergi ke toko bunga. Tapi aku teringat akan permintaan Caspian untuk kami bicara setelah aku selesai dari kampus.
"Ah, lupakan saja." Lirihku.
Saat di jalan menuju toko bunga, aku mendapat pesan dari Liana. Dia mengirimkan hasil dari rencana reuni kami. Dan itu akan dilakukan esok hari di kafe dekat sekolah SMAku dulu.
"Ah, aku tidak sabar. Azhar pasti senang sekali bisa bertemu Liana." Lirihku dan terus melaju ke toko bunga.
Sampai di toko bunga, aku lihat selain Lili dan dua pekerja baruku, di sana juga ada Azhar.
"Ash!" Seru Azhar begitu aku datang.
"Waaah kayaknya ada yang seneng nih besok mau ketemu doi." Lirihku meledek Azhar.
"Shhtt! Kamu bisa gak ngeledek gitu'kan?!" Ujar Azhar.
"Haha maaf maaf. Ohya, sengaja nih ke sini?" Tanyaku.
"Iya, begitu dapet kabar soal reuni aku langsung dateng ke sini, kebetulan lagi gak ada kelas." Ucap Azhar.
"Tapi'kan acaranya masih besok Zhar." Ucapku.
"Ya siap siaplah."
"Siap siap mau nyatain perasaan juga ya?" Tanyaku.
"Duhhh!" Azhar terlihat malu.
"Kamu gak masuk Zhar? Di sini udah dari tadi?" Tanyaku.
"Baru sepuluh menitan doang. Ohya, ada karyawan baru ya Ash?" Tanya Azhar.
"Iya, mereka hasil rekrutan Liana." Lirihku, Azhar tersenyum mendengarnya.
"Kamu udah makan siang belom Ash?" Tanya Azhar.
"Udah di kantin kampus, kamu belom ya? Mau aku temenin?" Tanyaku.
"Ngopi aja deh." Ucap Azhar.
"Okay, bentar ya. Aku masuk dulu bentar." Ucapku.
Begitu masuk, aku terkejut karena di sana ada Aslan di sofa. Lili bilang Aslan sudah di sini sejak pukul sebelas.
"Aku ngelukis di sini, gak masalah'kan?" Tanya Aslan.
"Sampai bangunan sebelah siap dan berhasil kamu beli, silakan." Ucapku. Aslan tersenyum.
"Ohya Li, aku keluar dulu ya. Mau ke kedai kopi sama Azhar." Ucapku.
...**********...
POV Aslan
"Azhar!?" Tanyaku spontan. Ashma dan Lili melihat ke arahku.
"Kenal Azhar?" Tanyaku.
"Tidak! Kenapa pergi berdua saja!? Aku harus ikut karena kebetulan aku mau mengajakmu ngopi." Ucapku.
"Hah?!" Ashma terlihat kaget.
"Kenapa terkejut?" Tanyaku. "Ayo!" Aku melipir keluar mendahului Ashma. Aku melihat pria yang waktu itu aku lihat bersama Ashma saat aku mengantar Leo kemari.
"Lo Azhar?" Tanyaku.
"Iya." Jawab pria itu singkat.
"Apa hubungan lo dengan Ashma? Kenapa mengajaknya pergi berdua?" Tanyaku.
"Siapa lo?" Tanya pria bernama Azhar itu.
"Sialan! Lo gak tahu gue?" Tanyaku.
"Emangnya gue harus tahu lo?" Tanya Azhar.
"Udah udah! Apaan sih ini? Ayok kita berangkat!" Ajak Ashma.
"Aku ikut Ash!" Seruku.
"Gak! Ngapain lo ngikut-ngikut segala? Ini urusan gue sama Ashma, lo gak boleh ikut!" Cetus Azhar.
"Sialan lo!" Cetusku.
"Slan, udah. Kamu boleh ikut. Dan Azhar, tolong izinkan dia ikut." Ucap Ashma, aku tersenyum menang.
"Kebetulan dia temen Liana juga." Ashma berbisik pada Azhar tapi aku bisa mendengarnya.
"Benarkah?" Tanya Azhar terlihat antusias.
Di sini aku bisa melihat, Azhar mungkin suka pada Liana, bukan Ashma.
"Iya." Ucap Ashma.
"Ya udah, ayok!" Seru Azhar.
Kamipun pergi ke kedai kopi.
Sampai di sana, kami duduk satu meja. Tapi Ashma lebih banyak mengobrol dengan Azhar. Ia banyak memberi tips untuk Azhar mendekati Liana.
Perempuan itu, aku bahkan tidak bisa melihatnya pandai mendekati pria tapi dia menasihati orang lain untuk hal itu.
"Jadi kalian satu SMA?" Tanyaku.
"Iya. Aku, Azhar sama Liana satu SMA." Ucap Ashma.
"Wow!" Seruku.
"Lo sendiri, satu kampus sama Ashma?" Tanya Azhar. Ashma terkekeh mendengar pertanyaan Azhar.
"Ehm ...."
"Nggak Zhar. Apa menurutmu wajah seperti Aslan cocok bekerja sebagai psikiater?" Tanya Ashma.
"Tidak, hahaha." Jawab Azhar sembari tertawa. Ingin rasanya aku menggetok kepala pria ini, tapi di sini ada Ashma jadi aku harus benar-benar menjaga Image ku.
"Kami kenal di acara penyaluran dana sosial Zhar." Lirih Ashma.
"Oh, lo pegiat sosial?" Tanya Azhar kepadaku.
"Iya. Dia pegiat sosial." Jawab Ashma mendahuluiku.
"Wow!" Seru Azhar.
"Ohya Zhar, saranku mengenai Liana, sebaiknya kamu gerak cepat. Soalnya gak sedikit yang coba deketin Liana. Bener gak Ash?" Tanya Ashma padaku.
"Iya, bener. Dia juga dideketin banyak kakak tingkat, bahkan alumni juga ada yang deketin dia." Ucapku.
"Saat dia dideketin banyak cowok, lo liat respon dia gak?" Tanya Azhar padaku.
"Dia hanya mengatakan sesuatu seolah dia punya seseorang yang harus dia jaga dan menjaganya. Tapi lo tahu? Dia gak punya pacar. Mungkin selama itu dia nunggu seseorang yang tepat buat ngajak dia pacaran atau nikah, karena itu dia gak ada cowok. Dan kemungkinan orang yang dia tunggu itu lo." Ucapku.
"Lo gak lagi bikin gue seneng doang'kan?" Tanya Azhar.
"Gue bicara apa adanya." Ucapku.
"Okay, thanks ya." Ucap Azhar.
"Yoi!" Sahutku.
...**********...
Sepeninggal Azhar dan juga Aslan yang memutuskan untuk segera pulang, datanglah Caspian ke toko bungaku.
"Mba Ash, gak bosen bertemu cowok terus? Kenapa mereka datang lagi dan lagi?" Tanya Lili.
"Seandainya kamu mau, gantikan aku." Lirihku.
"Tidak!" Cetus Lili.
"Okay, aku ke depan dulu ya Li." Ucapku. Lili mengangguk dan pergilah aku ke depan toko menemui Caspian.
"Bapak mau minum? Teh atau kopi? Atau air mineral saja?" Tanyaku pada Caspian.
"Tidak perlu." Balas Caspian, aku kemudian duduk di kursi sebelahnya.
"Apa yang bapak mau bicarakan dengan saya?" Tanyaku dengan formal.
"Kamu mungkin sudah dengar dari Ayahmu mengenai ...."
"Iya, sudah dengar." Ucapku.
"Lalu, apa kamu bersedia untuk ...."
"Pak Caspian, saya mohon maaf sekali. Bapak dan saya berbeda. Bapak seorang pengusaha dan pemimpiin perusahaan besar sementara saya hanya seorang mahasiswi psikolog yang masa depannya belum tentu baik seperti bapak. Saya berpikir bahwa ini terlalu jauh untuk saya raih. Saya tidak bisa seandainya saya ...."
"Kenapa bicara begitu? Aku memang memimpin perusahaan, tapi bukan berarti aku akan memilih orang yang sama dalam hal seperti ini. Aku ...."
"Bagaimanapun alasan bapak, tapi saya benar-benar tidak enak. Dekat dengan orang besar membuat saya tidak nyaman."
"Apa ada orang lain?" Tanya Caspian.
"Tidak untuk saat ini." Jawabku.
"Apa itu Aslan?"
"Tidak ada hubungannya dengan adik bapak." Ucapku.
"Bagaimanapun keadaannya, aku hanya inginkan kamu. Aku tidak melihat siapa kamu dan apa yang kamu punya. Aku hanya melihat kerendahan hatimu dan kecantikan hatimu."
"Bapak belum mengenal saya dengan baik, bagaimana bisa bapak mengatakan hati saya cantik?" Tanyaku.
"Itu terlihat dari ...."
"Bapak sudah mengenal Aslan bertahun-tahun, lalu bagaimana bisa bapak tidak mengenali hatinya?" Tanyaku.
"Kenapa Aslan lagi?" Tanya Caspian terlihat kesal.
"Bukankah permintaan bapak agar saya coba memahaminya? Dan sekarang saya sudah mulai memahaminya." Lirihku.
"Hentikan itu dan jangan bertemu dengannya lagi!"
"Saya tidak bisa seenaknya meninggalkan pasien saya." Ucapku dengan sebuah penekanan pada kata pasien. Caspian menatapku.
"Oh ya, saya rasa sudah terlalu lama bapak di sini." Lirihku.
"Iya. Kalau begitu saya ...."
"Silakan." Ucapku sembari berdiri dan mempersilakannya pergi.
Caspian pasti heran dengan sikapku. Aku bahkan merasa heran pada diriku sendiri, kenapa aku ingin sekali membuat Caspian malu dan aku tidak ingin terlalu bersikap welcome kepadanya.
Saat mengobrol dengan Aslan pagi tadi aku merasa perihatin. Bukan karena Caspian bersalah, tapi karena Caspian tidak bisa memandang Aslan dari sisi baiknya.
Aku benci siapapun yang melihat seseorang dari satu sisi saja.
Sepeninggal Caspian, aku kembali masuk ke toko bungaku dan beristirahat sejenak sebelum pulang.
Bersambung ....