
"Ash, jangan marah dong!" Seru Aslan memanggilku sembari tetap mengikutiku dari belakang.
"Emang aku marah ya?" Tanyaku sembari menoleh ke arah Aslan.
"Enggak sih kayaknya, aku khawatir aja kamu marah karena aku ngaku-ngaku pacar kamu." Ucap Aslan.
"Bener banget, harusnya aku marah." Ucapku.
"Tapi, gak marah'kan?" Tanya Aslan lagi.
"Enggak, soalnya aku tahu kamu becanda." Lirihku.
"Kalau aku serius?" Tanya Aslan. "Eh bentar bentar, kamu kok jadi pake aku kamu sih?" Tanya Aslan.
"Enggak kok, salah denger kamumah." Elakku karena akupun baru sadar.
"Enggak loh, ternyata kamu bisa gak formal ya ngomong sama aku, haha." Ucap Aslan.
"Bisa berhenti bahas hal itu?" Tanyaku.
"Okay. Jawab dulu, kalau aku serius mengatakan kamu pacarku, bagaimana?" Tanya Aslan.
"Itu artinya kamu hanya ngarang, toh aku gak punya pacar kok." Ucapku sembari tetap santai.
"Kalau aku sebutnya kamu tunanganku, bagaimana?" Tanya Aslan lagi.
"Itu jauh lebih ngarang. Aku belum bertunangan." Jawabku.
"Kalau aku melamarmu, bagaimana?" Tanya Aslan lagi.
Pertanyaannya kali ini membuatku terdiam. Aku teringat permintaan Ayah agar membawa pria yang aku sebut sebagai orang yang aku cintai agar Ayah tidak menjodohkanku dengan Caspian.
"Tidak!" Cetusku mengelak pemikiranku sendiri.
Tidak mungkin aku membawa Aslan sebagai pasangan pura-puraku. Karena masalahnya pasti akan semakin panjang ketika Caspian tahu ini.
"Tidak? Kamu akan menolak jika aku melamarmu?" Tanya Aslan sembari mendekat dan berdiri di hadapanku.
"Aku tidak tahu, aku tidak bisa menyimpulkan sesuatu dengan cepat. Terlebih kita baru saling mengenal, jadi ...."
"Kalau begitu aku akan terus mengenalimu lebih jauh dulu, apa kamu akan mempertimbangkannya?" Tanya Aslan.
"Apa kamu sedang becanda?" Tanyaku.
"Aku serius." Tegas Aslan.
Aku tak mau bergeming lagi, wajahku mungkin memerah karena akupun merasakan suhu wajahku jadi hangat.
"Aku serius. Mungkin ini kedengarannya konyol karena kita baru saja saling mengenal. Mungkin ini konyol karena aku yang seorang pemabuk jatuh cinta pada Ashma yang ...."
"Kenapa bicara seperti itu?" Tanyaku. "Aku tidak memandangmu lagi sebagai pemabuk." Lirihku.
"Yang orang lain lihat begitu'kan." Ucap Aslan sembari menunduk.
"Tapi aku tidak begitu." Lirihku lagi.
"Aku tahu." Ucap Aslan. "Aku harus selesaikan ucapanku. Mungkin kedengarannya konyol ketika aku jatuh cinta pada kamu yang begitu sempurna."
"Aku tidak sempurna, tidak ada yang sempurna." Jelasku.
"Ya, tapi kamu orang yang sangat baik. Mungkin saat orang lain tahu ada orang seperti aku jatuh cinta pada orang sebaik dirimu mereka pasti menertawakanku. Aku tidak pantas untukmu karena kamu terlalu baik untukku."
"Siapapun akan terlihat pantas saat cinta dan juga restu orang tua meliputi mereka. Tidak ada kata terlalu baik, kita hanya perlu memantaskan diri. Baik kamu atau aku pasti ada lebih dan kurangnya juga, kamu tidak berhak merasa tidak pantas denganku yang sama seperti dirimu." Ucapku perlahan.
"Maksudmu? Apa ini artinya kamu menerimaku?" Tanya Aslan terlihat antusias.
"Bukan begitu, aku kan sudah bilang, semua butuh proses, aku tidak bisa memutuskan hal besar ini secepat itu." Ucapku.
"Tidak masalah, kamu boleh memikirkannya dulu." Ucap Aslan.
"Okay." Ucapku.
"Kalau begitu, mari. Aku akan mengantarmu pulang." Ucap Aslan.
"Aku akan ke toko bunga terlebih dahulu." Ucapku.
"Aku akan mengantarmu, kamu jangan menolak karena aku tidak keberatan." Ucap Aslan.
Aku hanya tersenyum dan kemudian naik mobil Aslan.
...*********...
Sementara itu di rumah tempat tinggal Ashma dan sang Ayah, Caspian tengah hadir berkunjung ke sana. Ia menemui Ayah Ashma untuk terus bertanya mengenai puterinya.
"Dia sedang pergi bertemu teman-teman SMAnya." Ucap Pak Arash pada Caspian.
"Mereka reuni dimana Om?" Tanya Caspian. Pak Arash memberitahu Caspian tempatnya.
"Ohya, Om sudah tanyakan lagi pada Ashma kelanjutan niatku mempersunting Ashma Om?" Tanya Caspian.
"Ah, itu. Puteriku masih butuh waktu untuk memikirkan hal itu. Dia mungkin akan memberi jawaban beberepa waktu ke depan." Ucap Pak Arash.
"Apa menurut Om dia akan setuju?" Tanya Caspian.
"Aku akan membuatnya menyetujui hal ini." Ucap Pak Arash.
Di sini, Pak Arash malah seperti tertekan. Ia ingin memberi kebebasan pada puterinya untuk memilih pasangan, tapi di sisi lain ia merasa tidak enak pada Caspian, putera temannya yang juga bosnya.
"Aku akan menunggu kepastiannya Om." Ucap Caspian. "Ohya, aku akan coba menjemput Ashma untuk pulang, bolehkan Om?" Tanya Caspian.
Tak lama, pergilah Caspian. Ia pergi ke tempat yang diinformasikan Pak Arash.
Sampai di sana, tempatnya sudah sepi. Seorang satpam mengatakan acaranya sudah selesai.
"Ah, apa dia di toko bunganya ya?" Pikir Caspian.
Ia pun sampai di toko bunga Ashma. Di sana ia melihat sebuah mobil yang sangay familiar dengannya terparkir. Ya, itu mobil Aslan.
Caspian berjalan masuk dan ia melihat Aslan tengah bersama Ashma.
...*********...
Aku melihat Caspian di pintu, sementara Aslan belum meyadari hal itu.
Aku segera meraih setangkai mawar yang Aslan pegang. Aslan tersenyum mendapati hal itu.
"Kau cocok sekali dengan mawar ini." Ucap Aslan.
"Ohya?" Tanyaku.
"Iya." Ucap Aslan.
Sudut mataku masih melihat Caspian di pintu. Kenapa dia belum beranjak juga? -batinku.
Pemikiranku salah. Aku kira Caspian akan pergi begitu melihatku bersama Aslan, tapi dia malah masuk.
"Permisi." Sapa Caspian dan masuk.
Aslan menoleh ke arah Caspian, aku juga. Aku lihat Lili dan dua pegawaiku yang lain juga melihat ke arah Caspian.
"Ada yang bisa dibantu Pak?" Tanya Lili.
"Tidak." Jawab Caspian.
"Kalo gitu lo bisa keluar." Ucap Aslan.
"Aslan." Lirihku.
"Oh, Ashma. Aku kira kamu tidak sedang dengan pasienmu." Ucap Caspian meledek Aslan. Aku menoleh ke arah Aslan yang hanya tersenyum.
"Iya Pak Caspian. Gue lagi nemenin psikiater cantik ini. Omong-omong ada apa lo datang? Lo sudah gila? Lo butuh tempat konsultasi juga? Kalo mau lo bisa cari tempat lain, dia psikiater gue. Pasien dia cuma gue." Ucap Aslan dengan bangga, aku tersenyum mendengarnya. Sementara Caspian jadi terlihat malu.
"Ashma, bisa kita bicara?" Tanya Caspian padaku.
"Kamu harus meminta izinnya." Ucapku begitu saja.
Caspian terlihat kaget dan Aslan menoleh ke arahku, heran.
"Izin? Izin siapa?" Tanya Caspian.
"Aslan." Jawabku dengan santai, padahal sebenarnya aku sangat gugup.
Aslan tersenyum sembari melihat ke arahku, sementara Caspian sangat terkejut.
"Kenapa aku harus meminta izinnya?" Tanya Caspian.
"Karena sejak hari ini, kami ...." Aku terdiam karena ragu mengatakannya.
"Kami berpacaran. Dan dalam waktu dekat gue akan lamar Ashma." Ucap Aslan memyambung ucapanku.
Aku benar-benar terkejut. Caspian lebih dari itu. Begitu juga Lili dan pegawaiku yang lain.
"Apa yang lo katakan?" Tanya Caspian.
"Ashma, pacar gue." Jelas Aslan.
"Apa Ayahmu sudah tahu ini?" Tanya Caspian kepadaku.
"Aku baru akan memberitahunya." Jawabku dengan santai.
"Apa kau sudah gila? Kenapa memacari pemabuk seperti ...."
"Tolong berhenti mengatakannya sebagai pemabuk Pak." Ucapku dengan sebuah penekanan.
"Apa bapak lupa, bapak sendiri yang meminta saya untuk bicara dengan Aslan. Di sana Bapak seolah peduli dengan Aslan, tapi sikap bapak yang lagi-lagi mengungkit masa lalunya bukanlah hal baik. Itu akan memperumit keadaan. Tolong, bapak hargai pasien saya dan jangan ikut campur urusan saya." Ucapku.
Caspian terlihat kaget mendengarku mengatakan hal itu. Aku tidak sedang membela Aslan, tapi aku sedang mencoba menjaga kenyamanan seorang yang disebut pasien.
"Apa kau sudah benar-benar ...."
"Anggap saja begitu, aku sudah gila. Jadi sekarang tolong bapak pergi dari hadapan saya, dan bapak tidak perlu datang lagi ke toko bunga saya." Ucapku.
Caspian terlihat mengepalkan tangannya dan membuat ancang-ancang untuk memukul, mungkin dia akan menyerang Aslan. Tapi dia menahan emosinya kemudian segera keluar dari toko bungaku.
Aku kembali duduk.
"Apa kau ...."
"Kamu juga harus pergi." Ucapku sembari menaruh mawar yang aku raih dari tangan Aslan di meja, aku beranjak ke kamar kecil.
Aslan terdiam. Ia pasti merasa heran dengan sikapku yang tiba-tiba memintanya pergi.
"Kau boleh kembali setelah Mba Ash merasa tenang, aku yakin dia sedikit tidak nyaman barusan." Ucap Lili pada Aslan.
"Iya Li, kalau ada apa-apa dengan Ashma, telpon saja." Ucap Aslan, dan berlalulah ia.
Bersambung ....