
4.30 pm
"Gimana Ash? Udah keliling semua?" Tanya Liana yang baru kembali dari kesibukannya dengan panitia lain.
"Beres Li." Ucapku sembari tersenyum.
"Yang mana yang paling lo suka?" Tanya Liana.
"Kayaknya aku suka semua deh, soalnya bagus-bagus. Tapi kalau paling suka banget itu aku suka lukisan yang temanya Palestina. Aku sampai nggak bisa ngomong apa-apa melihatnya, terlebih saat melihat lukisan perempuan Palestina yang wajahnya bersimbah darah dan air mata. It is more than spectacular, I am speechless and I also cry to show that." Ucapku.
"Wow! Jiwa sosial lo pasti keluar banget deh, parah." Ucap Liana.
"Huftt, sepertinya iya deh Li." Lirihku.
"Okay, sekarang lo mau langsung pulang atau gimana nih?" Tanya Liana.
"Ehm, aku pulang langsung deh Li." Ucapku.
"Yaudah, gue bawa kunci mobil dulu ya." Ucap Liana.
"Nggak, nggak perlu, terima kasih Li. Aku pulang sendiri saja, nggak mau repotin kamu terus. Setelah acara ini selesai kamu pasti masih di sinikan untuk evaluasi? Aku nggak mau kalau kamu harus mondar mandir terus buat antar jemput aku. Kamu fokus saja dengan kegiatanmu. Ohya, aku transfer buat tiket masuk dan lainnya ya." Ucapku.
"Lo baik banget sih, pengertian banget. Tapi beneran deh, kalau mau gue bisa anterin." Ucap Liana.
"Sudah nggak perlu lah Li, aku bisa sendiri kok. Ohya, kamu send nomor rekeningnya ya." Ucapku.
"Yang tiket nggak usah deh Ash, aku mah gratisin buat kamu." Ucap Liana.
"Apaan, nggak ada gratis-gratis. Lagian kan uangnya juga nggak lari ke dompetmu, ini untuk kepentingan sosial, jadi panitia tidak berhak menolak. Okay?" Ucapku.
"Duhh, thanks banget ya Ash. Lo beneran baik deh. Maaf gue ganggu kerjaan lo tadi." Ucap Liana.
"Never mind. Kalau begitu, aku pergi ya Li." Ucapku dan berlalu.
...*********...
POV Aslan
"Liana, temen lo mana?" Tanya Leo kepada Liana yang baru datang ke arah kami.
"Pulanglah, dia males kalo harus ketemu lo." Ucap Liana.
"Sialan lo!" Ucap Leo.
"Aduh gue males ikutan beres-beres deh." Ucap Liana.
"Si Aslan aja, dia kan nggak ikut meeting meeting sebelumnya." Ucap Leo.
"Sialan lo. Nggaklah, panitia kan banyak bukan kalian doang." Ucapku sembari duduk agak menjauh dari Leo.
Mataku tertuju ke arah lukisanku, Razzan Najjar. Aku teringat perempuan berhijab tadi, perempuan bermata sayu dan lebar sekali. Perempuan bermata tajam. Perempuan yang aku tidak tahu namanya.
"Siapa namanya?" Lirihku. Hal tersebut terdengar Leo dan Liana. Mereka menoleh ke arahku dan mengikuti ke arah mataku menatap.
"Lo yang lukis, kok lo yang nanya. Bukannya itu ...." Aku tersadar oleh sahutan Leo.
"Bukan dia." Ucapku sembari menunjuk ke arah lukisan Syahidah Razzan Najjar, karena aku yakin Leo menganggapku bertanya mengenai Razzan Najjar.
"Ya, terus?" Tanya Leo.
"Bukan siapa-siapa." Ucapku dan berlalu.
"Aneh lo!" Cetus Liana dan juga Leo, tapi aku tidak perduli.
...*********...
POV Aslan
7 pm
Aku ikut makan malam bersama Mama, Oma dan Caspian padahal biasanya aku tidak pernah ikut mereka makan bersama. Oma terlihat sangat senang melihatku turut hadir di ruang makan.
"Makan yang banyak Sayang." Ucap Oma Edith.
"Mau nambah apa Nak?" Tanya Mama.
"Sudah cukup Ma, tidak mau nambah." Ucapku. Aku teringat bunga aster kering yang tadi pagi datang untuk Mama, selain itu aku juga teringat kejadian kemarin saat aku tidur di flower shop milik orang.
"The dried daisy?" Tanya Mama, aku mengangguk. "Oh itu dari anaknya Pak Arash, dari anaknya teman Mama sama teman almarhum Papa juga, kebetulan anak mereka itu punya flower shop. Kenapa emang?" Tanya Mama. Anak Pak Arash? fikirku.
Kenapa Mama tidak mengatakan namanya saja? Apa aku harus tanyakan. Atau jangan-jangan, anak Pak Arash yang Mama maksud adalah Mba Ash bosnya Lili? Ah, aku tanyakan saja itu flower shop di daerah mana.
"Flower shop? Ada banyak toko bunga di sini Ma, anak Pak Arash punya toko bunga di daerah mana?" Tanyaku.
"Itu loh dekat Rumah Sakit Bunda Kasih." Ucap Mama.
Sial! Itukan toko bunga tempatku tidur kemaren. Jadi benar anak Pak Arash yang dimaksud Mama adalah anaknya Mba Ash bosnya Lili? Bagaimana kalau dia bercerita ke Mama soal aku menginap di toko bunganya? Sialan!
"Kenapa Nak?" Tanya Mama, ia mungkin heran melihat perubahan ekspresi di wajahku berkali-kali.
"Mama sudah bertemu dengannya?" Tanyaku.
"Terakhir ketemu sih, kemarin." Ucap Mama. Itu artinya Mama bertemu Mba Ash setelah kejadianku menginap di toko bunganya, aku benar-benar bingung bagaimana caraku membuat Mba Ash tutup mulut dan tidak membocorkanku terhadap Mama.
Eh, tapi kan Mba Ash tidak tahu nama juga wajahku? Yang tahu hanya Lili. Sepertinya aman-aman saja, batinku.
"Kamu seperti ada yang difikirkan deh Nak." Lirih Mama sembari memerhatikan diriku.
"Nggak kok Ma." Ucapku.
"Kenapa tiba-tiba nanyain bunga itu?" Tanya Caspian yang juga menyimak pembicaraanku.
"Bukan urusan lo." Ucapku tanpa melihat ke arahnya sedikitpun.
"...." Caspian tak menjawab.
Karena suasana menjadi agak tegang setelah pertanyaan dari Caspian muncul, dan aku pun enggan untuk menjawabnya, Mama dan Oma Edith saling menoleh sembari menunjukkan ekspresi tidak tahu apa-apa.
...*********...
"Waah anak Ayah ngelamun aja nih, lagi mikirin apa?" Tanya Ayah yang kemudian duduk di sebelahku di sofa ruang tengah.
"Aku nggak ngelamun kok Yah, lagi nonton televisi." Ucapku.
"Nonton televisi tapi tatapanmu kosong gitu. Ohya, tadi siang pergi kemana?" Tanya Ayah.
"Aku nemenin Lili di toko bunga Yah." Ucapku.
"Kata Liana, kamu ...."
"Oh iya, aku ke pameran seni juga, sama Liana. Tapi, kok Liana ngomong ke Ayah?" Tanyaku.
"Tadi kan Ayah telpon kamu, kamu nggak angkat panggilan dari Ayah. Ayah coba telpon Lili, Lili bilang telpon aja Liana, yaudah Ayah telpon deh Liana." Jelas Ayah padaku.
"Oh okay, tadi aku pergi ke pameran seni, kebetulan Liana salah satu panitianya." Ucapku.
"Bagaimana pamerannya?" Tanya Ayah.
"Sangat ramai. Karena aku nggak mau terlalu berdesakan, jadi aku tunggu dulu di luar sampai keadaan agak kosong. Semua karya seninya juga sangat menakjubkan. Dan Ayah tahu? Di sana ada seorang seniman yang membawakan tema Palestina. Ayah tahu kan aku sangat senang hal tersebut, karya lukis seniman tersebut sangat menyentuh. Ia menyampaikan solidaritasnya untuk Palestina melalui lukisan. Aku bener-bener nggak bisa ngomong apapun saat lihat karya karyanya, that is so waah! Very amazing to touch my heart." Ucapku menceritakan keadaan di pameran tadi siang.
"Woww! Siapa nama pelukisnya?" Tanya Ayah. Mendengar pertanyaan Ayah aku menoleh, siapa? Tadi seseorang menyebut namanya, tapi siapa?
"I forgot it." Lirihku sembari coba mengingat kembali nama pelukisnya.
"Haha aneh kamu ini. Kamu bisa menceritakan pengalamanmu dengan baik meskipun itu telah berlalu cukup lama, tapi perihal nama orang yang hanya satu kata saja kamu bisa dengan cepat lupa." Ucap Ayah meledek daya ingatku terhadap nama-nama orang di sekitarku.
"Hehehe." Aku pun ikut terkekeh. "Ohya Yah, kayaknya aku bakal coba cari karyawan baru deh buat toko bungaku."
"Lili butuh temen?" Tanya Ayah.
"Iyalah. Tapi ini bukan karena itu. Insya Allah tahun ini Lili katanya mau daftar masuk PTN tapi yang deket-deket aja katanya, nah dia kan pasti bakal cukup sibuk nih nantinya. Tapi dia bakal tetep kerja meskipun paruh waktu. Nah untuk antisipasinya, aku mau cari karyawan baru." Ucapku.
"Bagus deh kalau begitu, kamu sudah dapat karyawan barunya?" Tanya Ayah.
"Belum lah, aku kan izin dulu sama Ayah. Kalau Ayah sudah izinin aku tinggal bilang Liana, soalnya temen dia ada yang lagi butuh kerjaan." Ucapku.
"Okay, Ayah setuju." Sahut Ayah.
"Wahh, terima kasih Yah." Ucapku.
...*********...
Bersambung ....