A Dry Red Rose From Aslan

A Dry Red Rose From Aslan
Part 15


Beberapa hari kemudian ....


Setelah pertemuanku dengan Caspian, Bu Anna dan juga Aslan beberapa hari lalu, aku belum ingin bertemu dengan siapapun lagi. Aku tidak keluar kecuali ke kampus.


Permintaan Caspian dan amarah Aslan masih terus bergelut di kepalaku. Kenapa aku harus terlibat ke dalam masalah mereka? Kenapa aku harus mengenal mereka? Kenapa Caspian tidak mengatakan sejak awal siapa nama adiknya dan kenapa Aslan tidak mau coba mendengarkanku untuk bicara?


Di sini, apakah aku yang paling salah? Apakah aku salah telah mengenal Caspian? Apakah aku salah mengenal Aslan juga?


"Mba Ash?" Lirih Lili pelan sekali, ia selalu faham suasana hatiku. ia terbiasa tak mengusikku saat aku datang dengan wajah lemas dan tubuh lunglai.


"Iya Li?" Tanyaku.


"Karyawan barunya akan datang kapan?" Tanya Lili.


"Oh iya, aku belum tanyain ke Liana lagi. Sebentar ya?" Ucapku.


"Okay Mba." Ucap Lili. Perlahan, Lili mendekat dan ia duduk di sebelahku. "Mba Ash, Lili boleh tanya nggak?" Tanya Lili dengan sangat hati-hati, aku menoleh ke arah Lili.


"Boleh lah Li, masa nggak. Tanya aja." Ucapku pada Lili.


"Mba Ash kenapa?" Tanya Lili.


"Maksud kamu?"


"Maaf sekali Mba, Mba beberapa hari tidak datang dan hari ini Mba datang dengan wajah lemas. Apa Mba baik-baik saja?" Tanya Lili. Aku menoleh ke arah Lili, menatapnya dan tersenyum.


"Aku baik-baik aja Li. Maaf ya beberapa hari kemarin nggak aku samperin kamu." Lirihku.


"Iya nggak papa Mba. Tapi, Mba beneran nggak kenapa-kenapa?" Tanya Lili.


"Iya Li." Jawabku.


"Mba, Lili tahu Mba itu seorang psikiaterlah, bisa dibilang begitu. Mungkin ada saja orang yang berpikir bahwa psikiater nggak mungkin punya masalah, tapi bagaimanapun psikiater juga manusia, pasti saja punya masalah. Nah, Lili juga tahu Mba Ash nggak luput juga dari sebuah permasalahan, apapun itu. Lili mau sekali, Mba Ash percaya sama Lili agar Mba bisa cerita ke Lili, Mba bisa curhat-curhat ke Lili dan lainnya. Mba jangan hanya menampung banyak cerita orang, Mba jangan hanya bantu memecahkan masalah orang lain, Mba juga harus ingat Mba punya permasalahan sendiri yang harus diselesaikan. Mva punya Lili andai Mba mau bercerita." Ucap Lili sembari menatapku penuh seluruh.


Mendengar ucapan Lili sangat benar sekali, aku terlalu sering menampung cerita banyak orang sementara aku seolah tak ada tempat untuk bercerita.


Tidak seharusnya aku hanya diam dan memendam masalahku sendiri, sementara aku tidak menganjurkan hal tersebut kepada orang lain.


"Terima kasih Li, aku bersukur sekali punya teman, adik dan partner seperti kamu Li." Lirihku. Aku memeluk Lili, Lili balas pelukanku dengan erat.


...********...


POV Aslan


Niatku untuk pergi menemui Ashma selalu gagal karena satu dan lain hal. Tapi hari ini, apapun yang terjadi aku benar benar ingin melihat keadaannya, apa kabar dia?


"Slan, lo mau kemana?" Tanya Leo yang sedari pagi menemaniku di tempatku.


"Gue, ehm, bukan urusan lo." Ucapku, aku jadi teringat bahwa sejak awal, Leo sudah menyukai Ashma.


"Eh buset dah lo, pelit amat gitu doang." Cetus Leo. "Kalo lo nggak mau kemana mana, temenin gue bentar dong ke toko bunganya Ashma." Ucap Leo. Mendengarnya aku cukup terkejut. Kenapa Leo tiba-tiba membahas Ashma juga? Kenapa Leo memiliki niat pergi ke tempat Ashma juga?


"Ngapain lo?" Tanyaku.


"Bukan urusan lo."


"Ya udah kalo gitu lo pergi sendiri aja."


"Ok." Ucap Leo sembari beranjak dari tempat duduknya. Aku mengejarnya dan akhirnya turut mengantarnya ke toko bunga Ashma.


"Gue mau coba buat nyatain perasaan gue ke dia." Ucap Leo tiba tiba, mendengarnya aku benar benar kaget. Bagaimana kalau Ashma juga suka Leo? batinku.


"Lo yakin?"


"Maksud lo?" Tanya Leo.


"Ya gapapa." Lirihku. "Pasalnya bro, kalo nyatain cinta pasti ada dua kemungkinan yang harus lo terima dengan lapang dada. Pertama, lo bisa saja diterima. Dan kedua, lo ditolak. Maksud gue, ya bagaimanapun hasilnya, lo nggak bisa memaksakan dan lo harus terima semenerimanya." Ucapku.


"Soal gituanmah gue udah paham." Ucap Leo.


Sampai di depan toko bunga Ashma, Leo segera turun. Tapi aku putuskan untuk menunggu di mobil.


"Lo beneran mau di sini aja?" Tanya Leo padaku.


"Lah kenapa? Lagian lo geer banget bakal ditanyain Ashma." Ucap Leo.


"Udah udah sono! Dengerin aja kata gue!" Cetusku sembari mendorong Leo keluar mobil.


Aku lihat Leo mulai berjalan ke arah pintu toko bunganya Ashma. Di sana juga lumayan ramai pengunjung.


...*********...


POV Writer


Leo coba melihat ke dalam dan yang ia lihat bukanlah Ashma, seorang perempuan yang sama sama berhijab seperti Ashma tapi itu bukanlah Ashma. Perempuan itu juga cantik, siapa dia? -batin Leo.


"Maaf." Sapa Leo.


Perempuan itu menoleh ke arah Leo.


"Ada yang bisa dibantu?" Tanya perempuan itu.


"Ehm, Ashma ada?" Tanya Leo.


"Mba Ash? Ada." Jawab perempuan itu.


"Bisa kau panggilkan?"


"Maaf, kakak siapa ya? Temannya Mba Ash?"


"Iya, aku Leo." Jawab Leo. "Eh, kamu siapa?"


"Lili, saya karyawannya Mba Ash. Sebentar, saya panggil dulu Mba Ash nya ya." Ucap perempuan yang tak lain adalah Lili itu.


"Eh Li, nggak usah. Nggak jadi." Ucap Leo tiba-tiba.


"Loh?" Lili terlihat heran.


"Ehm, aku sudah temukan yang lain." Lirih Leo.


"Maksudnya?" Tanya Lili.


"Tidak." Ucap Leo salah tingkah.


Sementara di dalam mobil, Aslan masih memerhatikan apa yang terjadi. Kenapa Ashma tidak keluar juga? Apa Leo malah nyangkut di Lili? Ah, itu lebih baik -gumam Aslan.


"Leo?" Sapa Ashma yang tiba-tiba hadir di antara Lili dan Leo.


"Ashma?" Leo tersenyum begitu Ashma datang. Anehnya, perasaan yang sejak pertama bertemu hadir untuk Ashma kini terhapus seketika Leo bertemu Lili.


"Kamu di sini Le? Cari bunga?" Tanya Ashma.


"Euhhh, iya Ash." Jawab Leo.


"Udah dibantu Lili ya?" Tanya Ashma.


"Iya." Jawab Leo.


"Okay, kalau ada yang kamu butuhkan boleh panggil saya." Ucap Ashma.


"Tentu, thanks Ash." Ucap Leo.


Ashma beranjak keluar dan duduk di kursi depan toko.


Dari dalam mobil Aslan melihat Ashma, Ashma duduj seorang diri di kursi depan toko sementara Leo tetap di dalam. Apa yang sebenarnya terjadi? -pikir Aslan.


"Apa gue turun aja ya? Gue temuin Ashma, ajak ngobrol, gue minta maaf, dan ...." Lirih Aslan sembari terus berpikir. Sebenarnya ia ingin sekali menemui Ashma terlebih hari ini pun ia berniat menemui Ashma hanya saja waktu selalu tidak tepat.


Dan tidak hanya itu, Aslan khawatir Ashma akan marah dan tidak mau bicara dengannya. Tapi, Aslan juga yakin bahwa Ashma bukan perempuan seperti itu. Ashma pasti bukan tipe pemarah -batin Aslan.


Ia menguatkan tekad untuk menemui Ashma, ia coba untuk turun dari mobil yang diparkir Leo di seberang toko bunga Ashma.


Tapi saat hendak turun, sesuatu yang sangat tidak diinginkan terjadi. Seseorang datang menghampiri Ashma. Seorang pria, selain Leo.


Bersambung ....