A Dry Red Rose From Aslan

A Dry Red Rose From Aslan
Part 25


"Apa tidak salah mengajakku ke tempat seperti ini?" Tanya Aslan.


Aku mengajaknya ke warung tegal yang cukup ramai, ramai pengunjung karena tempat ini dikenal dengan makanannya yang sangat enak dengan bumbu yang khas. Aku dan Lili sudah sering datang kemari.


"Kenapa? Bukan levelmu ya?" Tanyaku.


"Kamu tidak mau mengeluarkan banyak uang jadi mengajakku ke sini?" Tanya Aslan.


"Saya bisa menraktirmu ke tempat mahal lain kali, tapi kali ini kita di sini saja. Ayok duduk!" Ucapku.


"Kau yakin ini higenis?" Tanya Aslan agak berbisik.


"Kalau tidak makan di sini, saya pamit ke kampus dan cari makanmu sendiri." Ucapku.


"Wait wait wait!" Ucap Aslan. "Okay, aku makan di sini." Tambahnya.


Aku kembali dan duduk, Aslan duduk mengikutiku.


"Lihat pengunjungnya! Tidak pernah sepi karena makanan di sini sangat enak." Ucapku.


"Panggil pelayannya!" Ucap Aslan.


"Bi!" Sahutku.


"Ba bi ba bi! Dia pacar kamu?" Tanya Aslan.


"Bibi." Lirihku.


"Iya neng?"


"Saya pesan makanan paling enak di sini paket besar, dengan dua nasi." Ucapku.


"Baik neng."


"Ashma." Ucap Aslan.


"Ya?" Tanyaku.


"Sebenarnya, apa yang terjadi denganmu dan Caspian?" Tanya Aslan.


"Hah?"


"Hah? Pura-pura tidak mendengar!" Cetus Aslan.


"Ulangi saja lagi." Ucapku.


"Kau dan Caspian ...."


"Saya dan kakakmu?" Tanyaku.


"Caspian bukan kakakku." Elak Aslan lagi.


"Terserah. Apa yang kamu pikir tentang saya dan Caspian?" Tanyaku.


"Kalian pacaran?" Tanya Aslan.


"Hahahahahahaha, bisa jangan melucu? Leluconmu sangat aneh." Ucapku.


"Lelucon? Kau bilang ini lelucon?" Tanya Aslan.


"Caspian bukan tipeku." Ucapku.


"Benarkah?!" Tanya Aslan terlihat senang, dia berseru sembari berdiri dan matanya berbinar.


"Iya, kenapa? Kamu terlihat senang mendengarnya." Lirihku.


"Tidak." Ucap Aslan mengelak.


"Ah, benarkah?" Tanyaku.


"Apa kau pikir aku akan menyukaimu?" Tanya Aslan sangat mengelak.


"Hey? Saya tidak berpikir begitu, bahkan tidak membahas itu. Kenapa sensitif sekali?" Tanyaku.


Wajah Aslan terlihat gugup.


"Aku tidak, ehm maksudku aku, mana mungkin aku ...."


"Ini pesanannya neng." Ucap seorang yang bekerja di warteg itu dibantu yang lainnya membawakan pesananku.


"Terima kasih bi." Lirihku.


"Makanan apa ini?" Tanya Aslan terlihat kesal.


"Nasi timbel, cah kangkung, ayam goreng, sambal kentang, tempe bacem, capcai, lalapan dan ...."


"Kau akan makan semua ini?" Tanya Aslan.


"Bersamamu." Ucapku. "Ayo!" Seruku dan mulai makan.


"Di sini, aku atau kamu yang kelaparan?" Tanya Aslan agak berbisik sembari menatapku yang sudah mulai makan.


"Kamu, hehe. Tapi saya juga belum makan. Ayolah kami juga makan, mau saya sajikan di piringmu?" Tanyaku.


"Tidak perlu." Tolak Aslan.


"Baguslah." Lirihku.


Aku lihat Aslan mulai makan. Awalnya dia makan pelan sekali, mungkin khawatir rasanya akan mengecewakan dirinya. Tapi lama kelamaan Aslan terlihat sangat menikmati sarapan kali ini, dia terlihat suka dengan semua makanannya.


...********...


Di kediaman keluarga Rezzada, Caspian tengah mengobrol dengan sang Ibu.


Bu Anna masih mengkhawatirkan putera keduanya yang menghilang sejak kemarin sore. Ia coba menanyai teman-teman anaknya tapi tak ada yang tahu dimana keadaannya.


"Apa Mama masih memikirkan Aslan?" Tanya Caspian.


"Bagaimana bisa Mama menghilangkannya dari pikiran Mama? Dia sangat berarti untuk Mama." Ucap Bu Anna.


"Sebenarnya, aku juga memikirkannya Ma. Tapi bagaimanapun, Aslan telah dewasa dan ia harus belajar untuk menjadi lebih dewasa. Saat ada masalah ia tak seharunya pergi begitu saja, ia harus memecahkannya." Ucap Caspian.


"Bagaimanapun, bawa dia kebali Nak." Lirih Bu Anna.


"Aslan pasti akan pulang." Balas Caspian.


Kriiiiiiing kriiiiiing!


"Siapa ya?" Lirih Bu Anna ketika mendengar bel rumah berbunyi.


Bu Anna memeriksa siapa yang datang diikuti Caspian.


Sampai di depan, Bu Anna terlihat senang karena yang datang adalah Aslan. Tapi Caspian sedikit terkejut karena Aslan datang ditemani Ashma.


"Aslan?" Lirih Bu Anna.


...********...


Aku sangat terkejut karena selain Bu Anna, Caspian juga datang menyambut Aslan di depan pintu. Dia menatapku seketika Bu Anna menyapa puteranya.


"Ashma?" Sapa Bu Anna.


"Selamat pagi Tante." Sapaku.


"Kamu pasti meminta Aslan pulang'kan? Terima kasih ya." Lirih Bu Anna.


"Tidak Tante, Aslan juga sudah mau pulang kok." Lirihku.


"Sudahlah Ma, ayo!" Ajak Aslan pada Bu Anna sembari merangkulnya.


"Ashma, kamu masuk juga ya!" Seru Bu Anna yang sudah diseret Aslan masuk. Aku tersenyum.


Lalu, aku dapati Caspian masih berdiri di depanku. Wajahnya penuh tanya.


"Selamat pagi." Sapaku dengan formal padanya.


"Bagaimana bisa kalian ...."


"Aslan menginap di toko bungaku." Jawabku terus terang. Aku berharap dengan jawabanku ini Caspian akan merasa dia tersaingi dan ada selain darinya yang aku kenal.


"Kenapa? Bagaimana bisa? Kamu membantunya, itu akan membuatnya menjadi lebih sering keluar dan ...."


"Aslan sudah sering keluar rumah'kan? Tapi Pak Caspian tenang saja, dia akan tidur di toko bungaku ketika dia keluar rumah dan tak pulang." Lirihku. Aku memanggilnya dengan sebutan Pak lagi.


Aku berharap, dengan mengatakan begitu Caspian akan mengehentikan Aslan ketika Aslan memutuskan keluar rumah.


Caspian terdiam.


"Ohya, saya harus ke kampus Pak. Tolong sampaikan maaf saya pada Bu Anna, mungkin lain kali saya akan berkunjung kemari atau mungkin saya akan datang bersama Aslan lagi. Terima kasih." Ucapku.


Caspian tetap diam.


Saat aku coba melangkah untuk pergi, Caspian memanggilku.


"Ashma?"


Aku berbalik.


"Mari bicara setelah kamu dari kampus." Ucap Caspian. Aku mengangguk dan pergi.


...*********...


POV Aslan


"Bagaimana bisa kamu bersama Ashma Nak?" Tanya Mama sembari ia menyiapkan makanan untukku.


"Ma, Aslan sudah makan." Ucapku.


"Oh, benarkah?" Tanya Mama.


"Iya. Ashma mengajakku makan di warteg, kami sudah sarapan di sana." Ucapku.


"Kamu? Makan di warteg?" Tanya Mama.


"Iya Ma." Jawabku.


"Ya sudah kalau begitu ...."


"Ma, Ashma pergi ke kampus katanya." Ucap Caspian yang tiba-tiba datang dari arah belakang Mama.


"Dia sudah pergi?" Tanya Mama.


"Iya." Ucap Caspian.


"Mama tenang saja, besok aku akan mengajaknya kemari." Ucapku, Caspian menoleh dan meneatapku.


"Kamu mengenalnya dengan baik?" Tanya Mama.


"Iya." Jawabku.


"Kenapa tidak mengatakannya pada Mama kalau ...."


"Ma, Caspian ingin bicara berdua dengan Aslan." Ucap Caspian tiba-tiba.


"Bicara apa? Katakan saja di sini." Ucapku.


"Ohya, Mama baru ingat. Mama mau tata ulang lemari pakaian Mama." Ucap Mama dan berlalu.


"Lo nginep dimana semalam?" Tanya Caspian.


"Apa urusan lo? Gue tidur dimanapun, lo gak peduli'kan?" Tanyaku.


"Bisa lo jawab pertanyaan gue dengan serius?" Tanya Caspian.


"Apa yang mau lo dengar? Kalau gue katakan gue nginep dimana semalam, lo pasti gak akan percaya dan ...."


"Katakan saja." Ucap Caspian.


"Gue nginep di toko bunga milik Ashma. Puas lo?" Ucapku dengan sebuah penekanan.


"Sejak kapan lo kenal Ashma? Apa hubungan lo dengan Ashma dan ...."


"Apa hubungan lo dengan hubungan gue dan Ashma? Kenapa lo tanyakan hal itu?" Tanyaku.


"Hubungan lo dan Ashma?" Caspian terlihat heran dan cukup terkejut.


Aku terdiam.


"Ada apa sebenarnya kalian?" Tanya Caspian.


"Lo terus bertanya seperti ini, karena lo suka Ashma'kan?" Tanyaku.


"Kenapa lo malah membalikkan pertanyaan?" Tanya Caspian.


"Gue gak bakal tinggal diam. Gue akan cegah lo kali ini. Gue gak akan biarin lo dapetin Ashma gitu aja. Ashma tidak pantas buat lo." Ucapku.


"Kalau dia tidak pantas untuk gue, lo jauh lebih gak pantas." Ucap Caspian.


"Itu menurut lo. Apa lo lupa kalau Ashma seorang psikiater? Pola pikir dia berbeda dengan yang lainnya. Pemikiran dia gak pendek. Lo mungkin akan terus memandang gue sebagai orang jahat, pemabuk dan lainnya. Tapi Ashma berpikir bahwa gue bisa lebih baik, dia tidak begitu memikirkan masa lalu gue sebagai orang jahat. Gue akan coba memantaskan diri dengannya." Ucapku dengan tegas.


Caspian terdiam.


"Mulai saat ini, gue akan bersikap lebih dewasa. Gue gak akan kabur kalau ada masalah, gue akan tetap tinggal apapun yang terjadi." Tambahku.


"Ohya, thanks udah kenalin gue dengan psikiater cantik itu." Ucapku dan berlalu ke dalam kamar.


Bersambung ....