A Dry Red Rose From Aslan

A Dry Red Rose From Aslan
Part 19


Begitu sampai di rumah, aku sedikit khawatir. Ayah ada di ruang tengah, aku tidak berani lewat karena khawatir Ayah membahas Caspian lagi.


Tapi, untuk menuju kamarku tak ada jalan lain selain harus melewati ruang tengah. Karena itu, aku memberanikan diriku untuk lewat. Aku coba lewat tanpa menyapa Ayah atau apapun. Tapi,


"Ashma?" Tanya Ayah dengan nada heran.


"Iya Yah?" Tanyaku sembari menoleh ke arahnya.


"Kamu tidak menyadari Ayah ada di sini?" Tanya Ayah.


"Oh, iya." Ucapku, ah! Ayah pasti marah karena aku tidak menyapanya seperti biasa.


"Iya? Kamu tidak sadar?" Tanya Ayah lagi.


"Aku, aku sedang tidak fokus Yah." Lirihku.


"Apa ada masalah? Apa sesuatu menganggu pikiranmu?" Tanya Ayah lagi.


"Tidak, eh iya. Maksudku, aku hanya kelelahan Yah." Ucapku sembari agak gugup.


"Kalai begitu, istirahatlah yang cukup, ya." Ucap Ayah.


"Tentu, terima kasih Ayah." Lirihku dan beranjak ke dalam kamar.


Sampai di kamar, aku menghela nafas lega. Mungkin kalau aku tidak berpura-pura kelelahan Ayah akan mengajakku bicara banyak, dan aku khawatir ia hanya akan membahas Caspian.


Setelah membersihkan badan dan mengganti pakaian, aku mendapat sebuah panggilan masuk dari Liana, segera aku mengangkatnya.


"Ashma!?"


"Ya ampun Li, bisa pelan-pelan nggak? Kalau begini terus aku nggak mau angkat telpon darimu lagi." Ucapku pada Liana, karena seperti biasa Liana berteriak memanggilku di telpon.


"Okay okay, maaf Ash." Ucap Liana.


"Okay, ada apa?" Tanyaku.


"Itu loh Ash, si Aslan ada rencana mau buka galeri. Kata si Leo di deket toko bunga lo ada bangunan kosong yang dijualkan?" Tanya Liana, aduh kenapa harus membahas Aslan sih? Batinku.


"Oh iya, itu bekas toko kainnya Mas siapaaa gitu, aku lupa lagi namanya." Ucapku.


"Nah iya itu, itu beneran dijualkan Ash?" Tanya Liana.


"Iya kayaknya, kalau nggak salah yang punya bangunan itu sempet nawarin juga bangunannya untuk dibeli Ayah, tapi aku Ayah menolak karena aku belum ada rencana gedein bangunan toko bunga." Ucapku.


"Lah kenapa? Lo gak mau toko bunga lo berkembang?" Tanya Liana.


"Toko bungaku sangat berkembang loh, kamu masa nggak sadar sih?" Tanyaku.


"Ah elahhh! Maksud lo banyak bunganya kan? Berkembang, ada kembang mawar, anggrek, lavender dan lainnya." Ucap Liana.


"Hehe."


"Gue serius nanya loh Ash!"


"Iya, aku coba terus mengembangkan toko bunga tapi belum mau memperbesar ruangan."


"Okay, kalo gitu gue paham. Ohya, lo ada tahu soal harga bangunan itu nggak?"


"Aku nggak tahu Li, tapi kalau Ayah mungkin tahu. Dia juga kenal sama yang punya. Kalau mau datang saja ke rumah dan coba bicarakan dengan Ayah. Dia pasti akan senang ketika dimintai bantuan." Ucapku.


"Yang bener?"


"Iya Li."


"Ya udah, besok gue ke rumah lo buat ketemu Om Arash ya?" Sahut Liana.


"Iya."


...***********...


POV Aslan


8 pm


Leo masih berada denganku, kami duduk di balkon kamarku. Kami masih membicarakan mengenai rencana pendirian galeriku.


Saat kami sedang mengobrol, Liana menelpon. Segera Leo angkat panggilan Liana tersebut.


"Leo!" Seru Liana.


"Buset dah nih bocah!" Cetus Leo karena suara Liana mengagetkannya, bahkan aku juga merasa kaget.


"Leo!?" Seru Liana sekali lagi karena Leo belum menyahut.


"Biasa aja kali Li, gue tempelin hp ke telinga." Ucap Leo.


"Kencengin Le." Ucapku pada Leo, Leo mengaktivkan speaker nya dan menaruh hpnya di meja.


"Terserah gue dong!" Seru Liana masih dengan suara nyaringnya.


"Ok, terserah Lo. Gimana? Ada kabar?" Tanya Leo.


"Besok, kita akan temui bokapnya Ashma. Ashma bilang bokapnya kenal sama yang punya bangunan di sebelah toko bunganya Ashma." Ucap Liana.


"Besok?"


"Iya."


"Gak kecepetan?"


"Lebih cepatkan lebih baik!" Seru Liana.


"Okay." Ucapku.


"Ya ajak aja, toh dia kan yang mau bikin galeri dan bayar berapapun harga bangunannya?"


"Iya sih." Ucap Leo sembari menoleh ke arahku.


"Liana?" Tanyaku.


"Eh, Slan. Lo di sana?" Tanya Liana.


"Gue di rumah Aslan." Ucap Leo.


"Dasar!" Cetus Liana.


"Liana!?" Tanyaku lagi.


"Iya, kenapa?"


"Ashma tahu kalau gue yang nanyain bangunan itu?" Tanyaku.


"Iya, soalnya gue bilang kalau Leo nanyain bangunan itu untuk lo buka galeri." Ucap Liana.


"Okay." Ucapku.


"Udah? Gitu doang?" Tanya Liana.


"Iya." Jawabku. Leo menatapku, ia mematikan telpon dan bertanya,


"Ngapain lo nanyain Ashma?" Tanya Leo.


"Gak papa." Jawabku.


"Lo suka dia ya?" Tanya Leo.


"Apaan sih Lo? Dikit-dikit nanya suka atau nggak. Lagian, kalo gue suka Ashma juga lo nggak masalahkan? Lo'kan suka Lili sekarang." Ucapku.


"Gue nggak bakal bantu Lo sampai peresmian galeri kalo lo nggak jujur soal perasaan lo." Ucap Leo.


"Buset! Gila lo!" Cetusku, aku kesal dengan ancaman Leo.


"Gue serius." Ucap Leo.


"Gila lo mah!"


"Gue hitung sampai tiga atau kalo nggak, udah, lo urus semua sendiri! Satu, dua ...."


"Ya, gue suka." Ucapku.


"Waah! Gila lo! Jangan-jangan lo suka dari ...."


"Gue suka sebelum lo cerita kalo lo suka dia."


"Serius lo?"


"Nggak. Waktu itu di pameran, lo bilang lo suka temennya si Lia, nah gue gak tahu kalo cewek yang lo maksud itu cewek yang kemudian gue suka." Ucapku.


"Kapan lo sadar kalo kita suka cewek yang sama?" Tanya Leo.


"Saat penyaluran dana di panti sosial." Jawabku.


"Buset!" Cetus Leo.


"Lo ingat? Saat gue, Lo dan Lia masih di pameran, waktu itu pameran udah sepi. Gue liatin lukisan Razan Najjar dan gue nanya 'siapa namany?', kemudian lo bilang 'bukannya lo yang lukis? Masa lo gak tahu siapa dia?' dan gue bilang 'bukan dia'."


"Apa yang lo maksud itu Ashma?" Tanya Leo.


"Ya." Jawabku sembari menatap ke depan.


"Sialan!" Cetus Leo, aku tertawa mengingat hal itu.


"Tapi menurut lo, apa gue cocok sama Ashma?" Tanyaku.


"Jujur, gue sejak awal khawatir lo ketemu Ashma dan lo jatuh cinta sama dia. Lo udah bilang kalo lo gak mudah jatuh cinta, tapi saat Ashma yang lo temui, hasilnya? Lo jatuh cinta'kan? Beruntungnya gue segera ketemu Lili sebelum hari ini, dia tidak kalah cantik dengan Ashma. Jadi sekarang, dengan cukup berat hati tapi gue coba ikhlas, gue bilang kalau lo cocok sama Ashma." Ucap Leo.


"Sialan!" Cetusku.


"Tapi, kok gue agak aneh ya, kenapa lo suka Ashma? Tipe lo kayaknya bukan Ashma deh." Ucap Leo.


"Dia tipe gue, secara mendadak setelah gue ketemu dan bicara dengannya." Ucapku.


"What the ...."


"Tapi Le, gue malah khawatir gue gak bisa dapetin Ashma." Lirihku.


"Gue malah yakin lo bakal bisa hidup dengannya." Ucap Leo.


"Haha. Lo tahu? Caspian mengenalnya, dan bokap Ashma kenal dekat dengan Caspian. Menurut lo, gue pantas untuk merasa khawatir karena hal itu?" Tanyaku.


"Gila! Lo becanda'kan!?" Tanya Leo.


"Ngapain gue becanda!?"


"Bodoh! Setiap gue liat Ashma, gue ngerasa dia cocok seandainya punya suami atau pasangan seorang pengusaha!" Seru Leo.


"Sialan lo!" Cetusku dan berlalu ke kamar.


Kali ini aku benar-benar merasa khawatir seandainya pada akhirnya Ashma harus hidup dengan Caspian.


Tidak Aslan! Itu gak boleh sampai terjadi!


...********...


Bersambung ....