
POV Aslan
Saat masuk, aku berjalan di belakang Ashma. Wanita yang mengenaliku itu melihat ke arahku dan coba menyapaku sembari menunjukkan wajahnya yang heran. Tapi aku menahannya agar wanita itu tidak bicara.
"Silahkan." Ucap Ashma mempersilakanku masuk.
"Thank you." Lirihku.
"Ohya, Li. Kenalin ini Aslan." Ucap Ashma memperkenalkanku pada Lili. Lili melihat Ashma dengan heran dan Ashma jadi sedikit terlihat malu.
"Ehm, kamu tahu kan kemarin aku ke pameran, nah Aslan ini ehm, salah satu senimannya." Ucap Ashma coba menjelaskan. "Aku kenal dia dari ...."
"Mba Ash," Lili coba menenangkan Ashma yang tiba-tiba menjadi gugup begitu.
"Okay, kamu mau cari bunga apa? You can get free the flower you wanna." Ucap Ashma padaku.
"Kenapa harus free?" Tanyaku.
"Ehm, sebagai ucapan terima kasih saya karena kamu sudah bolehin saya numpang."
"No, saya yang ajak kamu kan." Ucapku.
"Ya, itu sama saja. Ehm, kalau begitu silahkan cari bunganya dibantu Lili. Saya ada urusan sebentar." Ucap Ashma dan ia berlalu.
Lili masih melihat ke arahku, heran.
"Kakak yang waktu itu nginep di sini kan?" Tanya Lili, sudah ku duga ia akan mengingat hal itu.
"Iya. Tolong kamu jangan kasih tahu Ashma soal ini." Ucapku.
"Jadi Mba Ash belum tahu?"
"Belum dan tidak boleh tahu." Ucapku.
"Bagaimana kalau dia tahu Kakak orangnya? Bagaimana kalau Mba Ash tahu aku juga tahu hal ini tapi aku sembunyikan? Ini nggak boleh terjadi, Mba Ash akan marah kalau tahu ia dibohongi, aku harus bicara." Ucap Lili.
"Jangan Li! Tolong. Saya yang tanggung jawab seandainya dia tahu." Ucapku menahan Lili.
"Kak, pernah mendengar? Mencegah itu lebih baik dari pada mengobati. Jadi aku akan cegah semuanya sebelum hal tidak diinginkan terjadi." Ucap Lili.
"Li? Dengerin saya. Saya akan beritahu dia, tapi tidak sekarang. Saya janji." Ucapku sembari menatap Lili, Lili terlihat sangat bingung, tapi aku coba terus meyakinkannya.
...********...
"Sudah dapat bunganya?" Tanyaku kepada Aslan dan Lili. Saat aku datang, mereka terlihat terkejut. Mereka berdiri membuat jarak, aneh sekali.
"Belum mba." Ucap Lili.
"Okay, kamu urus yang lain Li." Ucapku pada Lili.
"Iya mba." Ucap Lili dan beranjak dari tempatnya berdiri.
"Ehm, kamu cari bunga apa?" Tanyaku.
"Mawar merah." Jawab Aslan.
"Baik, kemari." Aku mengajak Aslan mendekat ke arah bunga mawar. Aku mempersilakannya memilih.
"Kenapa tidak kau pilihkan saja?" Tanya Aslan.
"Pelangganku sudah biasa dibiarkan memilih sendiri." Ucapku.
"Okay." Ucap Aslan. Ia memilih bunga mawarnya, kemudian mendapat satu tangkai mawar merah segar.
"Ini cantik kan?" Tanya Aslan padaku.
"Ya." Jawabku.
"Ok, saya pilih ini." Ucapku.
"Nggak serangkai? Kamu boleh pilih lainnya."
"Setangkai saja."
"Okey silahkan, mau dibuat buket atau nggak perlu?"
"No." Ucap Aslan.
"Okay." Ucapku.
Setelah mendapatkan bunganya, Aslan berpamitan untuk pulang. Ia juga berpamitan pada Lili.
"Cie ...." Ucap Lili kepadaku.
"Cie apaan Li?" Elakku. "Ohya, kayaknya mulai dalam waktu dekat kamu bakal ada temen nunggu toko bunga ini deh, soalnya Liana udah bantu aku buat cari karyawan baru." Ucapku.
"Loh, kenapa tiba tiba Mba? Kinerjaku kurang memuaskan buat mba ya?" Tanya Lili, aku kaget mendengarnya.
"Nggak Li, bukan gitu. Aku mau aja cari orang buat temenin kamu, lagiankan kamu udah bakal mulai sibuk persiapan ujian masuk perguruan tinggi juga kan? Aku mau kamu fokus dulu sama tujuanmu, soal kerjaan mah gampang Li." Ucapku.
"Aku diberhentikan dulu ya?" Lili terlihat khawatir.
"Sama sekali nggak. Kamu nggak diberhentikan Li, Mba pengen kamu fokus sama tujuanmu, tapi kamu juga boleh kerja. Mba pengen saat kuliah nanti biar nggak ganggu konsentrasi kamu, kamu kerjanya paruh waktu saja, tapi dengan gaji yang sama seperti kamy bekerja sepanjang hari." Ucapku.
"Mba, maafin aku. Aku malah berprasangka yang nggak baik, padahal niat mba baik banget. Terima kasih Mba." Ucap Lili, ia memelukku dengan erat dan tiba tiba menangis dalam pelukanku. Ia tidak berhenti berterima kasih dan aku coba untuk meredakan tangisnya.
Aku beristirahay sejenak di toko bunga sampai aku mendapat pesan dari Caspian, ia mengingatkanku untuk pergi ke rumahnya dan berbicara dengan adiknya.
"Li, nggak masalahkan kalau aku duluan?" Tanyaku.
"Iya, nggak papa Mba." Ucap Lili.
"Kamu tutup saja tokonya. Aku duluan ya, assalamu'alaikum." Icapku pada Lili dan segera beranjak untuk mendapat taksi atau bis.
...********...
POV Aslan
"Sekarang akan ada yang datang untuk bicara denganmu." Ucap Caspian padaku.
"Maksud lo?" Tanyaku.
"Tetaplah di rumah, dan persiapkan diri. Aku memanggil seorang psikiater, dia akan datang hari ini."
"Untuk apa lo panggil psikiater segala?"
"Untuk bicara denganmu."
"Lo pikir gue gila? Kenapa lo panggil psikiater untuk bicara dengan gue segala?"
"Sikapmu yang gila. Kebiasaanmu yang bodoh. Kelakuanmu yang aneh. Dan kau selalu melakukan semua itu tanpa sebab, saat aku bertanya kau selalu menolak menjawab, saat aku mengatakan kebenaran tentangmu; kau yang pemabuk, kau yang pemarah, kau yang aneh, kau yang tak bisa bergabung dengan keluargamu, kau tidak bisa terima itu semua, kau selalu mengelak. Apa menurutmu aku akan tinggal diam setelah semua ini? Tentu tidak. Aku sudah meminta seorang psikiater untuk bicara denganmu." Ucap Caspian.
Mendengar semua kalimat yang terlontar dari mulutnya, aku merasa sangat rendah sekali dan aku merasa bodoh karena aku masih tinggal diam di rumah sampai saat ini.
"Seburuk itu gue di mata lo?" Tanyaku.
"Kau hanya perlu memperbaikinya." Ucap Caspian.
Sialan -batinku. Tanganku mengepal, seandainya Caspian bukan kakakku, tentu saja ia sudah aku berikan pukulan keras.
"Pak Caspian, ada tamu di depan." Ucap Mba Lastri, asisten rumah tangga yang sudah bekerja di rumah kami sejak lama.
"Terima kasih mba." Ucap Caspian. "Dia pasti sudah datang." Tambah Caspian.
Sementara itu aku hanya diam dan coba untuk mengetahui siapa psikiaternya. Aku benar-benar marah pada siapapun, termasuk psikiater itu.
Aku masih berdiri di tempat berdiriku sejak awal, sementara Caspian pergi untuk menyambut tamunya.
...********...
Caspian menyambutku begitu aku datang, selain itu Bu Anna juga terlihat bersama Caspian.
"Kenapa tidak bilang Mama kalau Ashma mau datang?" Tanya Bu Anna pada Caspian ketika mereka mendekat ke arahku.
"Ngedadak Ma." Ucap Caspian.
Aku menyapa Bu Anna, dia membalasku dengan sebuah pelukan hangat.
"Kamu apa kabar?" Tanya Bu Anna kepadaku.
"Alhamdulillah baik Tante." Jawabku.
"Sukurlah kalau kamu sehat terus Nak, ayok masuk." Ajak Bu Anna, ia merangkulku dan mengajakku masuk. Caspian berjalan di depan kami, lalu kami mengikutinya dari belakang.
"Keputusan Caspian bisa dibilang sangat tepat. Kami butuh seseorang yang bisa bicara dengan adiknya Caspian, dan dia memilihmu." Ucap Bu Anna.
"Terima kasih sudah memberi saya kesempatan untuk bicara dengan adiknya Caspian." Ucapku.
Begitu masuk, Caspian memanggil nama seorang pria, dan nama tersebut sangat membuatku terkejut ketika diaebut.
Bersambung ....