
POV writer
Sementara Aslan masih di mobil, Leo dan Liana menghampiri Pak Arash yang telah menanti mereka di teras.
"Assalamu'alaikum Om." Sapa Liana mewakili.
"Wa'alaikumsalaam Liana. Ini temennya?" Tanya Pak Arash.
"Iya Om, temen kampus Lia, Ashma juga kenal. Namanya Leo." Ucap Liana.
"Halo Om, Leo." Ucap Leo memperkenalkan dirinya sembari menjabat tangan Pak Arash.
"Arash, Ayah Ashma." Ucap Pak Arash dengan tegas membalas uluran tangan Leo untuk dijabat.
"Ayo masuk!" Ajak Pak Arash.
"Satu teman kami masih di mobil Om." Ucap Liana, sembari matanya menunjuk ke arah mobil Leo, Pak Arash menoleh.
"Oh, ajak dong!" Ucap Pak Arash.
"Ehm, dia nanti masuk sendiri Om." Ucap Leo.
"Nah tuh!" Seru Liana begitu melihat Aslan turun dari mobil.
Aslan memberanikan diri untuk turun mobil dan mendekat ke arah Leo, Liana dan Pak Arash.
Pak Arash yang melihat Aslan cukup kaget.
"Aslan?" Lirih Pak Arash.
"Om kenal Aslan?" Tanya Liana yang mendengar lirihan Pak Arash menyebut nama Aslan.
"Iya, dia anak temen deket saya." Ucap Pak Arash sembari tersenyum.
Begitu Aslan mendekat, ia bersalaman dengan Pak Arash dan menyapanya.
"Om masih inget saya?" Tanya Aslan pada Pak Arash.
"Iya." Ucap Pak Arash sembari tersenyum. "Sudah lama sekali tidak bertemu, bertahun-tahun." Tambah Pak Arash.
"Iya Om." Ucap Aslan.
"Kamu kenal puteri saya juga?" Tanya Pak Arash.
"Iya Om, Aslan kenal Ashma juga." Sahut Leo. Aslan yang coba untuk mengatakan bahwa ia hanya tahu Ashma dan tidak begitu mengenalnya merasa heran pada Leo.
"Wah, tapi Ashma nggak pernah cerita kalau dia kenal kamu, sayang sekali." Ucap Pak Arash. Aslan hanya membalas dengan senyuman.
Mereka kemudian masuk, dan Pak Aslan mempersilahkan mereka duduk juga menyiapkan jamuan untuk mereka.
"Senang sekali mendengar teman-teman Ashma akan datang, tapi dia malah ada sedikit urusan yang harus diselesaikan dulu di luar." Ucap Pak Arash.
"Senang sekali akhirnya Lia bisa ketemu Om lagi, hehe." Ucap Liana.
"Hahaha, kenapa sekarang jarang main kemari? Sibuk dengan kampus ya?" Tanya Pak Arash.
"Ya, begitulah Om." Ucap Liana. "Ashma juga cukup sibuk'kan, jadi nggak enak kalau harus ganggu dia terus." Ucap Liana.
"Eh, siapa bilang? Ashma justeru selalu mengeluh karena tak ada teman yang datang ke rumah. Dia bilang, di kelasnya tidak ada teman seperti Liana, meskipun sedikit cerewet tapi Ashma senang berteman denganmu." Ucap Pak Arash.
"Benarkah? Tahu begitu aku akan datang setiap saat!" Seru Liana.
"Datanglah seperti dulu Nak." Ucap Pak Arash.
Aslan dan Leo hanya bisa menyimak obrolan antara Pak Arash dengan Liana. Mereka tidak tahu menahu hal itu.
"Ohya, apa maksud dan tujuan kalian ingin bertemu Om?" Tanya Pak Arash pada ketiga muda mudi di hadapannya.
"Begini Om, kami ada rencana untuk membuka galeri. Ehm sebenarnya Aslan yang akan membuka galeri. Dan tujuan galerinya didirikan adalah untuk ...." Leo terdiam seketika, ia menoleh ke arah Aslan.
"Ehm, pertama mungkin sebagai wadah untuk memajangkan karya karya seni saya dan jika ada yang ingin menyalurkan karya seninya selain saya maka saya akan menampung juga, jadi orang yang berkunjung ke galeri saya tidak hanya melihat karya seni saya." Ucap Aslan.
"Kedua sebagai ruang ekonomi Om, kebetulan Aslan adalah seniman yang serius sekali dalam menekuni keahliannya melukis. Dia sudah menjual banyak sekali lukisan di jalanan, karena itu agar semakin terwadahi maka ia ingin membuka galeri sebagai ruang ekonominya." Tambah Liana.
"Wow, bagus sekali." Ucap Pak Arash.
"Tidak hanya sebagai ruang pajang dan ruang ekonomi, saya ingin menjadikan galeri saya sebagai ruang pendidikan juga, itu bisa dilakukan melalui kegiatan seperti workshop, penelitian terhadap karya seni, seminar, diskusi bahkan tur galeri." Tambah Aslan.
"Dan tentu saja sebagai ruang sosial dan ekspresi juga Om." Sahut Leo.
"Benar sekali." Sahut Aslan.
"Itu sangat bagus, sesuatu didirikan tanpa tujuan akan sia-sia, tapi kalian sudah memiliki banyak sekali tujuan untuk sesuatu yang akan kalian bangun." Ucap Pak Arash.
"Tentu saja Om. Dan untuk itu, kami ingin coba mencari tempat yang bagus untuk galerinya Aslan. Menurut hasil riset kecil-kecilanku, bangunan di sebelah toko bunganya Ashma itu bangunan kosong. Melihat kondisi bangunannya yang masih sangat bagus dan kuat, mungkin hanya perlu menambahkan warna baru di sana, kami sangat tertarik." Ucap Leo.
"Benar sekali. Dan kata Ashma, Om tahu siapa pemiliknya bahkan Om juga sempat ditawarkan untuk membeli bangunan itu. Apa itu benar?" Tanya Liana.
"Iyalah Om, kan toko kembang, hehe." Ucap Liana. Mendengar hal itu, Leo dan Aslan tertawa.
"Hahaha, nyambung ternyata." Ucap Pak Arash.
"Soalnya tadi udah ngomongin itu sama Ashma." Ucap Liana sembari terkekek.
"Hahahaha. Baik, ehm jadi kalian mau saya coba bicara pada Eko atau bagaimana?"
"Iya Om, kalau Om tidak keberatan. Kami juga inginkan harga terbaik yang bisa disesuaikan dengan kantong Aslan." Ucap Liana.
"Kau tidak minta bantuan Kakakmu? Dia bisa mendapatkan tempat yang terbaik untuk galerimu." Ucap Pak Arash bertanya pada Aslan.
"Tidak Om. Saya ingin membangunnya sendiri tanpa bantuan Caspian." Ucap Aslan.
"Itu bagus, kau sangat mandiri. Tapi apa Caspian tahu rencana ini?"
"Tidak ada yang tahu. Saya juga mohon agar Om tidak bicarakan ini pada Caspian." Ucap Aslan. Pak Arash tersenyum simpul mendengarnya, ia sangat tahu konflik antara Aslan dengan Caspian.
Pak Arash juga tahu, Aslan selalu menyembunyikan banyak hal dari Caspian.
"Ibumu tahu?" Tanya Pak Arash.
"Mama akan saya beritahu setelah semua selesai." Ucap Aslan.
"Ya, itu bagus." Ucap Pak Arash.
"Kalau begitu, saya akan sangat menunggu bagaimana hasilnya Om. Mungkin Mas Eko bisa menurunkan harga seandainya yang bertransaksi Om Arash." Ucap Leo.
"Akan saya coba." Ucap Pak Arash.
...********...
Setelah selesai urusanku di luar, aku putuskan untuk pulang segera karena Liana lagi-lagi mengirimiku pesan. Ia bilang ia masih di rumah bersama Leo dan Ayah.
"Iya Li, aku pulang sekarang." Ucapku.
"Buruan ya. Gue gak enak nih, bokap lo masak loh." Ucap Liana sembari agak berbisik.
"Makan aja kalo dia masakmah." Ucapku.
"Ah lo mah! Buruan!" Tegas Liana.
"Iya, aku on the way nih." Ucapku setelah mendapat taksi yang bisa membawaku pulang. "Kamu tutup aja telponnya Li." Tambaj Ashma.
"Okay." Ucap Liana.
Tak lama, sampailah aku di rumah. Aku lihat di sana memang terparkir mobil Leo. Segera aku masuk.
Begitu masuk, aku kaget karena tenryata di sana ada Aslan. Liana tidak mengatakan kalau dia datang bersama Aslan juga.
"Argh!" Geramku, aku meyesal karena pulang lebih awal.
"Nah, cepatlah kemari Nak!" Sambut Ayah.
Mendengar sambutan Ayah, Leo, Aslan dan Liana menoleh ke arahku. Aslan menatapku dan aku coba untuk tetap tenang. Kemudian menghampiri mereka.
"Sudah selesai?" Tanya Ayah.
"Sudah Yah." Jawabku.
"Lo dari mana sih?" Tanya Liana.
"Kampus."
"Ngapain?" Tanya Liana lagi.
"Adalah." Balasku.
"Dih! Ditanya baik-baik gak jelas banget jawabnya." Cetus Liana.
"Ash?" Sapa Leo, dia mendekat.
"Hai Le." Balasku.
"Thanks ya. Lo udah saranin kami buat ketemu bokap Lo." Ucap Leo.
"Iya Le, sama-sama." Ucapku.
"Slan, lo say thanks kek ke Ashma." Ucap Leo pada Aslan, Leo kembali menghampiri Ayah yang masih sibuk di dapur.
"Tidak perlu Le, yang bantu'kan bukan saya, Ayah saya." Ucapku.
Aku coba menghindari penolakan dari Aslan jadi aku mengatakan itu. Aku kemudian pergi ke kamar dan mengganti pakaian dengan pakaian kasual. Lalu kembali pada Liana dan bergabung dengan mereka di bawah.
Bersambung ....