A Dry Red Rose From Aslan

A Dry Red Rose From Aslan
Part 22


"Liat deh Ash!" Seru Liana sembari menunjukkan Ayahku yang tengah mengobrol bersama dengan Aslan, di sana Leo juga hadir tapi Ayah lebih dekat dengan Aslan.


"Kenapa?" Tanyaku pada Liana.


"Bokap lo deket banget ama si Aslan." Lirih Liana. Aku tidak berpikir hal lain melainkan aku memkalumi mereka dekat karena Ayah mengenal Ayahnya Aslan dengan baik.


"Jangan jangan diem-diem si Aslan mau deketin lo lewat ayah lo?" Ucap Liana.


"Bukan begitu. Ayah kenal baik keluarganya Aslan, itu saja." Ucapku.


"Ohya? Bagaimana bisa?" Tanya Liana.


"Kamu tau perusahaan tekstil milik orang besar bernama Rezzada?" Tanyaku.


"Yang sekarang dipimpin putera pertamanya'kan?" Tanya Liana.


"Iya." Jawabku. "Dan putera kedua mereka adalah Aslan, teman kamu." Ucapku.


"Jangan ngarang lo Ash ...." Ucap Liana.


"Aku gak ngarang." Ucapku.


"Ahhh, pantesan look nya si Aslan tuh sultan banget, tapi lo liat'kan gaya dia? Kayak orang gak punya, mukanya doang yang keliatan muka orang kaya." Ucap Liana. Aku sedikit terkekek mendengar respon Liana.


"Tapi kayaknya si Leo tau deh, tapi dia gak pernah cerita!" Cetus Liana.


"Kayaknya memang begitu." Lirihku. "Tapi kamu tahu'kan siapa anak pertama almarhum Pak Rezzada?" Tanyaku.


"Tau banget itu mah! Beberapa kali dia datang ke kampus dan ...." Liana terdiam sejenak. "Bodoh! Si Aslan gak pernah sapa Abangnya pas abangnya datang ke kampus, itulah kenapa gue gak kepikiran kalo si Aslan tuh adiknya Caspian." Ucap Liana.


"Aku juga baru tahu beberapa saat lalu kalau ternyata Aslan anaknya Pak Rezzada." Lirihku.


"Wow! Beneran gak nyangka sih." Lirih Liana menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Tapi Ash, lo keliatan cocok deh kalo sama si Aslan." Ucap Liana.


"No way. Kenapa jadi bahas cocok-cocokan?" Elakku.


"Hi ladies, makanan sudah siap!" Sahut Leo.


"Ihhh geli banget dengernya!" Cetus Liana.


Kami berkumpul di meja makan. Ayah menyiapkan makanannya dibantu Leo.


"Maafkan aku tidak membantu Yah." Lirihku.


"Tidak masalah, sesekali kamu tidak masak dulu, hehe." Ucap Ayah.


"Waah Ashma bisa masak Om?" Tanya Leo.


"Waah bukan jago lagi! Diamah segala juga bisa dimasak dan dijamin gak ngecewain deh." Ucap Liana.


"Gak kaya lo ya Li." Ledek Leo. Liana terlihat kesal.


"Aku gak jago Le, cuma bisa aja dikit-dikit dan suka banget masak." Ucapku.


"Anak perempuan itu harus serba bisa. Cuci pakaian, cuci piring kotor, masak ini itu, nyetrika pakaian dan lain lain. Selain agar jadi buronan mertua, juga agar tidak merepotkan keluarga barunya kelak." Ucap Ayah.


"Waah ngomong-ngomong mertua, Om udah ada calon menantu belum nih buat Ashma?" Tanya Leo di sela-sela kami makan. Aku coba untuk tidak terpancing dengan pertanyaan Leo pada Ayah.


"Sebetulnya sudah beberapa kali ada yang datang, namun Om belum siap melepas tanggung jawab Om terhadap Ashma kepada orang lain. Dan kemarin ini ada lagi orang yang datang, tapi belum ada kepastian dari Ashma." Ucap Ayah.


Mendengarnya, aku dan juga Aslan tersedak secara bersamaan. Semua menoleh ke arah kami.


"Minum Ash." Ucap Liana menyodorkan segelas air putih. Aku meminumnya. Sementara Aslan meraih gelasnya sendiri.


"Kenapa nih?" Tanya Leo.


"Ayah menambahkan ladanya kebanyakan deh." Lirihku ngeles.


"Itu gak pake lada sayang." Ucap Ayah, mendengarnya aku malu.


"Ohya? Tapi ini rasa lada gitu Yah." Ucapku lagi. "Aku ke sana sebentar ya." Tambahku dan berlalu keluar.


Kenapa Ayah harus bahas hal itu di sini? -batinku.


Aku coba menenangkan diri terus agar bisa masuk lagi dengan hati tenang.


Setelah tenang, aku kembali.


"Gak papa Ash?" Tanya Liana. Aku hanya mengangguk dan tersenyum sedikit. Kemudian menunduk untuk kembali menikmati makanku.


Setelah semua selesai, aku bersama Liana membereskan bekas kami makan.


"Biar aku selesaikan semuanya Li. Kamu masuk saja duluan." Ucapku pada Liana.


"Ah gue bantu lo ...."


...********...


Saat Ashma sedang mencuci piring, Aslan pergi ke dapur menghampiri Ashma. Di dalam ia mengaku akan ke kamar kecil, tapi ia berhenti di dapur begitu melihat Ashma di sana.


Aslan mendekat, Ashma kaget menyadari kehadiran Aslan di sana.


"Ada yang bisa dibantu?" Tanya Ashma, gugup.


Aslan menggelengkan kepala.


"Kamar kecil di sana." Ucap Ashma menunjukkan kamar kecil karena ia berpikir Aslan hendak pergi ke sana.


"Jadi, karena kamu sedang mempertimbangkan lamaran. Apa karena itu kamu menolak bertemu?" Tanya Aslan.


Mendengar pertanyaan Aslan, piring yang dipegang Ashma terlepas. Untungnya itu jatuh di atas bak cuci piring dan tidak ke lantai.


"Kenapa tidak menjawab?" Tanya Aslan.


"Tidak. Ayah saya hanya becanda." Elakku.


"Kenapa menyembunyikan hal itu?"


"Hal apa?" Tanya Ashma sembari tetap.mencuci tanpa melihat ke arah Aslan.


"Kamu benar-benar dilamar seorang pria? Siapa dia?" Tanya Aslan.


"Who cares?" Tanya Ashma.


"Tolong hanya katakan iya atau tidak."


"Bukankah sudah aku katakan? Tidak." Ucap Ashma dengan sebuah penekanan sembari menengok sedikit ke arah Aslan.


"Secara tidak langsung ...."


"Ashma, sudah selesai?" Tanya Pak Arash yang tiba-tiba datang. Bukan hanya Ashma, Aslan juga kaget. Tapi Aslan coba bersikap seolah ia dan Ashma sedang mengobrol hal yang tidak begitu serius.


"Sedikit lagi Yah." Jawab Ashma agak gugup.


"Aslan? Sudah ke kamar kecilnya?" Tanya Pak Arash pada Aslan.


"Sudah. ini baru akan kembali ke dalam." Ucap Aslan.


Pak Arash menatap Aslan dengan heran, tapi dengan santai Aslan kembali ke dalam. Sementara itu Ashma segera menyelesaikan tugasnya.


...*********...


POV Aslan


"Aslan? Lo itu sebenarnya anak orang kaya'kan?" Tanya Liana tiba-tiba.


"Siapa bilang?" Tanya Liana.


"Sebenarnya gak ada yang bilang secara langsung. Cuma gue nyimpulinnya gitu." Ucap Liana.


"Kalo begitu lo salah menyimpulkan." Elakku.


"Tapi gue udah pastiin itu, dan ternyata benar. Lo sebenernya adiknya Caspian'kan? Pemimpin Rar Corp?" Tanya Liana lagi.


Mendengar hal itu aku terdiam.


"Kenapa nggak lo sih yang pimpin perusahaan? Biar gue bisa kerja di sana juga gitu." Ucap Liana.


Mendengar hal itu aku merasa kesal. Tanganku mengepal, amarahku soal perusahaan pada Caspian kembali meradang.


"Siapa yang ngasih tahu lo kalo gue adiknya Caspian?" Tanyaku dengan sebuah penekanan.


Mendengar pertanyaanku, Liana terlihat heran dan khawatir. Ia pasti melihat amarah di wajahku.


Leo yang mendengar tanyaku dengan nada marah, mendekat dan coba membuatku tenang.


"Gue tanya lagi, siapa yang ngasih tahu lo?" Tanyaku.


"Ehm, lo marah ya?" Tanya Liana.


"Gue marah kalo lo gak ngasih tahu gue." Tekanku.


"Slan, inget, kita lagi di rumah orang." Ucap Leo.


"Liana, katakan!"


"Itu, ehm ...."


Liana menunjuk seseorang di belakangku.


Bersambung ....