
"Mba Ash? Mba baik-baik saja'kan?" Tanya Lili.
"Mba mau minum?" Tanya Rai, salah satu karyawan baruku.
"Aku ambilin ya Mba." Ucap Ambar, karyawan baru yang lainnya.
"Nggak usah, terima kasih." Ucapku sembari menyunggingkan senyuman.
Aku menarik nafas panjang dan coba menenangkan diri.
"Kalian jangan sampai buat Liana, Leo atau Azhar tahu soal ini ya." Lirihku pada Lili, Rai dan Ambar.
"Tapi Mba, Mba sama Kak Aslan beneran ...."
"Kami cuma pura-pura." Selaku sebelum Lili menyelesaikan pertanyaannya yang sudah dapat aku tebak alurnya.
"Iya Mba." Ucap mereka bertiga.
"Oh ya, ehm aku boleh duluan kan?" Tanyaku.
"Boleh banget Mba, Mba pulang dan istirahat saja Mba, biar kami jaga toko. Oh ya kalau mba mau aku bisa antar Mba pulang, tapi pakai motor." Ucap Ambar.
"Gak usah Am, aku bisa pakai taksi kok, terima kasih ya." Lirihku menolak.
"Iya deh Mba, hati-hati di jalan ya Mba." Ucap Rai.
"Iya. Kalian jangan sampai lupa kunci pintu ya." Ucapku dan segera beranjak keluar toko untuk segera pulang.
...*********...
POV Aslan
Aku yakin, begitu sampai rumah Caspian akan menghajarku atau memberiku pelajaran.
Aku memarkir mobil kemudian masuk. Di ruang tengah aku mendapati Caspian tengah duduk menatap layar TV bersama Mama juga.
"Aslan?" Sapa Mama.
"Hai Ma." Balasku.
"Kamu habis dari mana?" Tanya Mama.
"Ehm, habis ketemu Ashma." Jawabku sembari sedikit melirik ke arah Caspian, mata Caspian terlihat fokus menatap layar TV.
"Ohya? Kenapa gak ajak dia ke sini kalau kami habis ketemu Ashma?" Tanya Mama.
"Dia'kan cuma pasiennya Ashma Ma." Ucap Caspian berkomentar.
"Ohya? Yang lo tahu hanya itu ya?" Tanyaku coba membuatnya marah.
Caspian berdiri dan berjalan ke arahku dan Mama.
"Mana ada psikiater memacari pasiennya yang gila?" Lirih Caspian bertanya.
"Caspian ...." Mama coba membuat Caspian diam.
"Gak papa Ma, bener apa kata Caspian. Ashma psikiater dan aku pasiennya, tapi sayangnya aku juga pacarmya." Ucapku dengan sebuah penekanan.
Mama terlihat tersenyum, sedangkan Caspian terlihat kesal.
"Yang bener kamu?" Tanya Mama.
"Iya Ma." Jawabku.
"Ya Allah, Mama seneng banget dengernya Nak. Pokoknya, besok kamu harus ajak dia datang ke sini ya? Mama akan siapkan makanan enak buat Ashma." Ucap Mama sembari berlalu dan bernyanyi riang.
Aku tersenyum meski dalam hatiku dilema tiba-tiba, aku telah membuat Mama senang karena aku berbohong padanya.
Sepeninggal Mama, Caspian masih berdiri di hadapanku.
"Lo bohongin Mama?" Tanya Caspian.
"Kenapa gue harus bohongin Mama? Lo sendiri kan udah denger langsung dari Ashma kalau gue sama Ashma itu pacaran. Apa lo belum puas?" Tanyaku.
"Sialan lo!" Cetus Caspian dan ia berlalu dari hadapanku.
Aku tersenyum menang dari Caspian.
Tapi aku juga merasa bersalah, Caspian benar, aku telah berbohong pada Mama.
"Mana Ashma kayak marah sama gue lagi!?" Gumamku sembari berjalan ke kamar.
...**********...
Sampai di rumah, Ayah selalu terlihat telah menunggu setiap kali aku datang.
"Udah Yah." Jawabku.
"Kamu ketemu Caspian gak? Dia ada nyamperin kamu?" Tanya Ayah.
Oh, Ayah tahu soal ini? -batinku.
"Ya." Jawabku singkat saja.
"Bagaimana? Apa yang terjadi?" Tanya Ayah.
"Tidak ada apapun yang terjadi." Jawabku.
"Benarkah? Apa kamu tidak mengobrol dengan Caspian?" Tanya Ayah.
"Tidak Yah." Jawabku. "Oh ya, Ashma ke kamar dulu ya, mau istirahat." Ucapku, aku coba menghindari Ayah agar dia tidak bertanya banyak dulu soal Caspian.
"Kamu menghindar dari Ayah?" Tanya Ayah.
"Hah?!" Aku berhenti melangkah dan berbalik ke arah Ayah.
"Ashma nggak ngehindar. Kenapa harus ngehindar dari Ayah segala?" Tanyaku, padahal kenyataannya memang begitu.
"Kamu tidak ingin Ayah nikahkan dengan Caspian'kan?" Tanya Ayah.
"Aku belum berpikir sejauh itu Yah." Lirihku.
"Ayah tahu kamu pasti akan berbicara seperti itu. Tapi nak, dengarkan Ayah. Ayah selalu inginkan yang terbaik buat kamu, seseorang yang bisa menjagamu seperti Ayah jaga kamu, seseorang yang akan bertanggung jawab sepenuhnya atas dirimu, seseorang yang bisa setiap selamanya bersama kamu dan Ayah lihat itu ada dalam diri Caspian. Jadi ...."
"Tapi aku tidak bisa melihatnya." Ucapku mengelak.
"Bukan tidak, tapi belum. Percayalah nak, sakinah dalam pernikahan itu akan datanh setelah terucap akad dari mulut suamimu." Ucap Ayah.
"Apa Ayah mendukung pernikahan tanpa cinta?" Tanyaku.
"Tentu saja cinta adalah salah satu landasannya, tapi ...."
"Kalau begitu aku dan Caspian tidak bisa menikah karena aku tidak memiliki landasan itu." Ucapku.
"Bukan begitu konsepnya nak, cinta sejati akan lahir setelah pernikahan." Ucap Ayah.
"No. Aku justeru ingin menikahi seseorang yang aku cinta dan mencintaku, bukan cinta yang lahir setelah pernikahan Yah. Karena menurutku itu tidak adil. Saat Ayah mencintai seseorang, kemudian orang itu juga mencintai Ayah tapi Ayah dipaksa menikah dengan perempuan yang Ayah tidak cintai, apa itu adil?" Tanyaku.
"Itu sangat tidak adil, baik untuk Ayah ataupun untuk perempuan yang mencintai Ayah tetapi tidak Ayah nikahi." Tambahku.
"Kenapa kamu berpikir seperti itu?" Tanya Ayah.
"Karena aku adalah orang yang senang mencegah sesuatu yang tak seharusnya terjadi." Ucapku.
"Nak, coba kamu pikirkan. Apa kamu tidak pernah melihat atau mendengar kabar orang yang saling mencinta kemudian menikah lalu mereka bercerai, apa kamu tidak pernah mendengarnya?" Tanya Ayah.
"Apa kamu bisa menjamin, dua orang saling mencinta sejak awal kemudian menikah maka mereka tidak akan berpisah, apa kamu bisa menjamin itu?" Tanya Ayah lagi.
"Ayah, aku tidak mencintai Caspian, aku menyukai orang lain. Aku ingin menikah hanya dengan dia yang jelas-jelas aku cintai dan juga mencintaiku." Ucapku.
"Apa kamu rasa itu bukan egois?" Tanya Ayah.
"Tentu bukan. Justeru egois itu ketika dua hati saling menolak namun harus disatukan oleh pernikahan, itu egois Yah." Ucapku.
Ayah terdiam seketika.
"Apa kamu bisa menjamin andai kamu menikah dengan orang yang kamu cinta maka pernikahanmu akan bertahan terus?" Tanya Ayah.
"Lalu apa Ayah menjamin akan lahir cinta andai aku menikah dengan pria yang tidak aku cintai?" Aku bertanya balik.
Ayah terdiam, begitu juga aku.
"Bawa pria yang kamu cintai itu, besok." Ucap Ayah.
Aku kaget. Kenapa harus begitu cepat? Aku sama sekali belum kepikiran siapa yang akan menjadi calonku? Siapa yang harus aku kenalkan pada Ayah besok?
"Kamu boleh istirahat." Ucap Ayah.
Aku kemudian beranjak ke kamar.
...********...
Di satu sisi, Aslan tengah memikirkan Ashma. Ia memikirkan bagaimana caranya mengajak Ashma untuk bertemu Mamanya? Ia bingung karena Ashma pasti sangat marah setelah Aslan mengakuinya sebagai pacar di hadapan Caspian.
Sementara itu Ashma, dia juga berpikir mengenai esok. Ayahnya meminta ia mengajak pria yang disukainya untuk bertemu dengan Ayahnya. Tapi ia bingung. Siapa kiranya yang akan mau berpura-pura jadi calon suaminya.
Bersambung ....