
"Ash?" Sapa Azhar yang tiba-tiba datang. Aku cukup kaget tapi aku sangat senang ia bisa datang dan menemuiku.
"Azhar?" Balasku. Aku berdiri menyambutnya dan mempersilakannya duduk.
"Kamu ...." Belum selesai Azhar bicara, aku segera memotongnya.
"Kamu?" Tanyaku, heran sembari agak tertawa.
"Iya, kenapa emang?" Tanya Azhar.
"Sejak kapan panggil kamu, biasanya tuh kamu ngomong gue elo." Lirihku.
"Ohya?"
"Iya. Masa nggak sadar sih?"
"Iya kali, lupa." Ucap Azhar sembari sedikit memalingkan wajahnya. Aku masih terkekeh mengingat kata 'kamu' diucapkan Azhar.
"Okay, kamu tumben sekali datang kemari." Ucapku.
"Iya Ash, lagi pengen nyegerin otak."
"Enakan di Bandung kali, seger." Ucapku.
"Kalo suhu iya sih enakan Bandung."
"Terus?"
"Ya sengaja aja ke sini, pengen nengokin keluarga, temen dan kamu."
"Nengok aku?"
"Maksudku, pengen ketemu aja." Jelas Azhar.
"Oohh, padahal aku pengen banget ke Bandung loh. Eh malah kamu yang ke sini."
"Nggak bilang sih." Cetus Azhar.
"Hehe."
"Ohya, apa kabar Ash?"
"Baik Zhar."
"Gak nanyain kabarku?"
"Ah gak perlu ditanya, kamumah pasti baik, buktinya bisa ke sini."
"Ya tanya kabar hatinya kek atau apa kek ...."
"Pengen banget ya ditanya?" Tanyaku.
"Ya, gimana ya? Pengenlah."
"Okay, gimana kabar hatinya Zhar? Pasti masih kesepian kan? Cepet nikah dong, hehe." Ucapku.
"Nikah, boro boro. Gambaran cewek yang mau dinikahinya juga belom ada."
"Ya cari dong. Kamu tuh pasti selalu ngeluh kalau nggak punya cewek buat dinikahin, padahal mana mungkin gitu seorang Azhar nggak ada yang deketin?"
"Kok bilang mana mungkin? Beneran nggak ada loh Ash."
"Bohong kamu!"
"Serius. Makanya, aku mau berusaha buat deketin cewek."
"Waaahh selamat ya, udah ada tanda-tanda nih!"
"Kamu tahu nggak Ash, cewek yang mau aku deketin ini udah lama banget aku kenal sebenarnya."
"Ohya, temen sekolah ya? Aku kenal dia nggak?"
"Kenal banget kamu mah!"
"Ohya? Siapa sih?"
"Dia cantik, baik. tapi agak tomboy."
"Wah! Liana ya? Dia'kan tomboy, cantik, baik lagi." Ucapku.
"Iya." Jawab Azhar.
"Waaaahhh ternyata selama ini kamu suka sama Liana? Kenapa nggak bilang dari dulu sih Zhar? Aku kan bisa bantu bilangin ke dia."
"Malu Ash."
"Okay, malu mah wajar. Tapi emangnya kamu mau kalau Liana keburu sama orang lain?"
"Emang ada yang lain?"
"Zhar, mana ada cowok-cowok tinggal diem liat cewek secantik Liana? Dia menarik sekali dan setahuku memang banyak yang suka dia Zhar."
"Menurutmu, kapan waktu yang tepat buat aku ungkapin perasaanku ke Liana?" Tanya Azhar.
"Soon."
"Bantuin dong Ash."
"Apa yang harus aku lakukan?"
"Pertemukan aku sama Liana."
"It's so easy! Aku kasih tahu kamu kalau dia sudah ada waktu ya." Ucapku.
"Okay, thanks ya Ash."
"Siip! Eh by the way, di dalem lagi ada Leo loh, teman dekat Liana. Dia lagi cari bunga tapi kok dia nggak keluar keluar juga ya." Lirihku.
"Belum selesai nyari kali Ash."
"Iya kali, udah dari tadi loh."
Saat aku hendak memeriksanya ke dalam, Leo muncul ke luar. Ia membawa setangkai mawar merah. Hanya setangkai dia bawa tapi kenapa lama sekali? Padahal pelanggan lain sudah berhamburan sejak tadi.
"Udah Le?" Tanyaku.
"Udah Ash." Jawab Leo.
Aku lihat, Leo tidak berhenti menengok ke belakang, ke arah Lili. Ah, apa jangan-jangan dia tiba-tiba jatuh cinta sama Lili? Pikirku.
"Okay, mau langsung pulang Le?" Tanyaku.
"Ehm, iya."
"Eh, sebentar. Ini Azhar temenku waktu SMA." Ucapku mengenalkan Azhar pada Leo.
"Temen SMA? Berarti temennya si Lia juga ya?" Tanya Leo.
"Iya, bener banget." Seruku.
...********...
Sialan! Leo malah salaman segala lagi sama cowok yang deketin Ashma, batinku.
Kemudian Leo kembali ke mobil.
"Gila lo ya!" Cetusku.
"Kenapa? Tiba-tiba ngatain gue gitu?"
"Niatan lo ke toko bunga buat ketemu Ashma kan?"
"Iya, tadinya."
"Terus?"
"Tapi di dalem gue ketemu cewek yang lebih menarik di mata gue, namanya Lili. Gadis berusia 19 tahun yang sangat mandiri, dia baru akan ujian masuk perguruan tinggi, semua karena dukungan Mbanya juga, Ashma. Dan dalam waktu sekejap, gue bisa berubah menjadi suka Lili, dapet nomor telpon Lili, ngobrol sama Lili dan ...."
"Cowok yang sama Ashma siapa? kenapa lo salamin dia segala?"
"Oh itu, dia Azhar. Temen SMA nya Ashma sama si Liana juga." Ucap Leo. Dia bersiap untuk mengendalikan mobil.
"Ngapain dia dateng ke tempat Ashma?"
"Eh buset dah lo! Kenapa lo tanyain ke gue sih? Kenapa nggak lo tanya langsung ke orangnya? Gue kan dari tadi di dalem. Tau-tau pas keluar udah ada dia lagi ngobrol sama Ashma. Gue dikenalin sama Ashma. Lagian, kenapa lo tiba-tiba kepo?"
"Gue gak kepo, gue nanya doang."
"Sama aja Slan."
"Iyalah, terserah lo deh ya." Ucapku. "Ohya, gue ada rencana mau buka galeri dalam waktu dekat."
"Wah? Beneran lo?"
"Yoi."
"Enak banget sih jadi lo mah. Pasti dimodalin Abang lo kan?"
"Sialan! Enak aja lo kalo ngomong! Kagaklah, gue modal sendiri."
"Beneran? Bukannya lo ajuin proposal ke perusahaan Abang lo?"
"Kagak ada! Gue modal sendiri, gue nyari uang sendiri. Lo tahukan gue sering adain pameran tunggal, nah dari sono gue dapet penghasilan, semuanya gue tabung buat bikin galeri."
"Kereen! Ternyata selain seni, dalam jiwa lo juga mengalir darah bisnis ya."
"Kagak ada! Kalo pun iya, gue udah jadi bos di kantoran sekarang!"
"Maksud gue ...."
"Udah deh, jadi panjangkan kalo ngomongnya sama lo mah!"
...********...
"Mba Ash." Lirih Lili.
"Iya Li?"
"Aku masu sedikit cerita Mba."
"Silahkan."
"Tadi ada yang datang, temennya Mba itu loh. Yang namanya itu, siapa , ehm ...."
"Leo?"
"Iya, Kak Leo."
"Okay, kenapa dengan Leo?"
"Ehm, Mba jangan cie-ciein aku ya."
"Idiiihh kok tiba-tiba gitu sih Li? Jangan-jangan ...."
"Belum ada apa-apa kok Mba."
"Kalai belum berarti bakal dong."
"Yah, ehm aku mau minta pendapat Mba dulu."
"Okay, gimana?"
"Jadi dia bilang, dia tiba-tiba suka aku. Itu beneran nggak ya Mba? Aku nggak mau terlalu percaya sama orang, apalagi yang baru kenal."
"Jadi kamu belum percaya dia?"
"Iya, belum."
"Keputusan kamu sangat tepat Li. Di luaran sana ada banyak tipe manusia. Ada yang banyak becanda, ada yang sangat serius dan ada yang selalu mencampurkan antar candaan dengan keseriusan, maksudku yang serius dianggap becanda dan sebaliknya becanda dianggap serius."
"Okay." Ucap Lili.
"Nah, untuk menanggapi sikap Leo yang secara tiba-tiba bilang suka kamu, kamu harus menjadi seorang yang bijak. Pertama, kamu harus belajar memercayai orang lain, termasuk Leo, kamu boleh memercayainya."
"Tapi, bukannya kita nggak boleh terlalu percaya?"
"Iya, percaya bukan berarti sangat percaya. Kamu boleh percaya Leo, tapi jangan terlalu percaya. Karena seperti yang kita tahu, manusia itu bukan tempat yang baik untuk terlalu diberikan kepercayaan. Manusia itu bukan tempat terbaik untuk diharapkan."
"Jadi, aku boleh percaya Leo tapi jangan terlalu percaya?"
"Yaps!" Seruku.
"Terus Mba, apa boleh aku balas perasaan dia?" Tanya Lili sembari agak malu-malu, aku tersenyum mendengarnya.
"Membalas perasaan dengan rasa yang sama?" Tanyaku coba menjebak Lili agar semakin terbuka padaku.
"Ih Mba kok, ehm iya."
"Iya? Dengan rasa yang sama?"
"Iya Mba."
"Menurutku Li, jika perasaan itu positif maka boleh, tapi jangan terlalu."
"Positif maksudnya?"
"Positif dalam artian dia mengungkapkan perasaan tidak dalam maksud mengajak pacaran, karena Li, meskipun banyak orang yang menikah setelah bertahun-tahun pacaran itu tidak jauh lebih baik daripada prosesi pernikahan tanpa pacaran dulu." Lirihku.
"Selama aku belum mau menikah, artinya aku jangan terlalu menanggapi perasaan Kak Leo?"
"Bisa dibilang seperti itu. Terlebih, kamu sudah mau ujian masuk PTN, kamu jangan sampai terganggu oleh hubungan bernama pacaran." Ucapku.
"Iya Mba, terima kasih saran, masukan dan pendapatnya." Ucap Lili, ia memelukku berterima kasih, aku balas pelukannya.
...*******...