
"Nak?" Lirih Bu Anna ketika tahu yang datang adalah putera keduanya. Seorang pria muda berusia 22 tahunan berdiri menatap sang ibu yang kini tengah berkaca-kaca matanya.
Bu Anna disusul Caspian dan juga Oma Edith. Oma Edith terlihat senang melihat cucunya yang akhirnya pulang juga setelah tiga hari menghilang. Ia mendekat dan memeluknya.
"Kamu dari mana saja Sayangnya Oma?" Tanya Oma Edith pada cucu keduanya itu sembari memeluknya penuh cinta dan kerinduan.
"Kamu tidur dimana selama dua malam kemarin?" Tanya Oma Edith lagi.
"Di rumah temen." Jawab sang cucu.
"Oma senang sekali kamu pulang, tolong lain kali jangan tinggalkan Oma lagi. Oma sayang banget sama kamu." Ucap Oma Edith.
"Iya Oma." Ucap cucunya.
"Sekarang kamu masuk kamar, bersih-bersih dan turun lagi untuk makan malam ya? Kamu pasti lapar, Mamamu sudah masak banyak dan enak buat kamu, ya?" Ucap Oma Edith, cucunya hanya mengangguk.
Saat anak kedua putera Pak Rezzada itu hendak pergi ke kamarnya, Caspian mencoba untuk mengajak bicara sebentar.
"Aslan!" Ucap Caspian menyebut nama sang adik yakni Aslan. Aslan berhenti melangkahkan kakinya tapi Bu Anna mempersilakannya untun kembali berjalan.
"Pergi saja ke kamar Nak." Ucap Bu Anna untuk coba melerai suasana yang kian tegang itu. Aslan kembali berjalan dan berlalu ke kamarnya.
"Kita biarkan dia tenang dulu Casp." Ucap Bu Anna pada Caspian, Caspian mengangguk.
...********...
POV Aslan
Aku mendapat sebuah panggilan masuk di ponselku yang tengah aku charge selepas dari bersih-bersih badan. Sebuah panggilan dari teman bernama Leo, aku segera mengangkatnya dan mengeraskan suaranya .
(Visual Leo Wardhana)
"Apaan lo telpon gue?" Tanyaku sembari menyisir rambut.
"Harusnya gue yang tanya lo, kemana aja lo dari kemaren? Gue telpon lo bulak balik gak ada jawaban! Keterlaluan banget lo!" Cetus Leo.
"Gue baru balik ke rumah, gak bawa hp!" Ucapku sembari mencabut ponsel dari charger-annya.
"Sumpah yah, lo kagak ada berubahnya! Lo inget gak sih besok ada apaan? Lo punya acara besok bro! Tapi lo malah hilang berhari-hari. Sialnya gue yang harus urusin semuanya." Ucap Leo.
"Lo temen gue bukan sih?" Tanyaku pada Leo.
"Iya gue emang temen lo, tapi nggak gini konsepnya bro. Pokoknya gue gak mau tahu, besok lo harus dateng! Dateng lebih awal biar gue bisa jelasin dulu konsepnya." Ucap Leo.
"Okay." Ucapku, aku menutup telpon dan menaruh kembali ponselku di meja.
...*********...
8 am.
"Li, ini bagus banget nggak sih? Lucu gitu. Kayaknya Bu Anna bakal suka deh." Ucapku pada Lili sembari menunjukkan serangkai buket dried white daisy.
"Lucu banget Mba Ash. Tapi, Bu Anna itu siapa?" Tanya Lili.
"Loh, dia langganan kita loh. Katanya selalu datang tiap hari Sabtu. Yang kemaren ngobrol sama aku itu loh." Ucapku sembari coba memerhatikan buket tersebut.
"Oh iya iya,dia langganan banget. Kamu kenal dia Mba?" Tanya Lili.
"Aku baru tahu kemarin kalau Bu Anna itu ternyata istrinya Pak Rezzada, teman baik Ayah." Ucapku.
"Oalah. yaudah, Mba mau kirim itu buat Bu Anna?" Tanya Lili.
"Iya Li, dia pasti suka." Lirihku. Lili kemudian segera mengurus pengirimannya ke alamat rumah Bu Anna yang aku dapat dari Bu Anna sendiri kemarin saat kami berbincang. Di buket itu aku juga menyelipkan memo untuknya, sekedar ungkapan penyemangat.
"Beres mba, sebentar lagi juga sampai rumah Bu Anna." Ucap Lili.
"Okay, thank you Li." Ucapku.
...********...
POV Aslan
Saat aku hendak membuka gerbang rumahku untuk menguarkan mobil, aku malah harus menerima sebuah paket dulu. Serangkai buket aster kering, itu sangat indah, tapi itu ditujukan untuk Mama.
"Thanks." Ucapku pada pengantar bunga tersebut. Aku membawa buket tersebut untuk diberikan pada Mama, dan sebelum aku berikan tanpa sengaja aku membaca memo yang terselip di buket tersebut. Isinya sekedar ungkapan semangat, tapi tak ada nama sender-nya.
"Ciee pagi-pagi cucu Oma udah dapet kiriman aja. Buket dari siapa nih?" Tanya Oma Edith.
"Bukan untuk Aslan kok." Ucapku sembari berhenti sejenak.
"Buat Mama, nggak tahu dari siapa." Ucapku kemudian memberikannya pada Mama karena Mama datang menghampiri.
"Dari siapa?" Tanya Mama sembari menerima buketnya, aku menggelengkan kepala. "Ah pasti ini dari anak baik itu ...." Ucap Mama sembari berlalu, entah apa lagi yang Mama katakan.
...********...
2 pm.
"Ashma, gue jemput lo sekarang ya?" Ucap Liana di telpon, lagi-lagi dia bicara di telpon seolah sedang berbicara dengan orang yang snagat jauh jaraknya, ia mengeluarkan suara nyaringnya.
"Bukannya ntar sore Li?" Tanyaku.
"Sekarang aja ah, gue mau jalan dulu sama lo." Ucap Liana, aku kemudian membiarkannya datang mejemputku di f**lower shop karena aku tengah menemani Lili di f**lower shop. Sebenarnya weekend aku membebaskan Lili untuk libur saja, namun Lili selalu ingin bekerja meski hari libur. Tapi pendapatan di hari libur justeru selalu meningkat. sehingga Lili pun pasti mendampat bonus tiap bulannya.
"Li, kayaknya kita tutup aja dulu, soalnya aku ada janji dulu sama temen." Ucapku pada Lili.
"Tutup aja Mba?" Tanya Lili.
"Iya. Kalau kamu mau ikut aku sama Liana pergi juga boleh kok, mau nggak?" Tanyaku.
"Kemana Mba?" Tanya Lili.
"Pameran seni." Ucapku.
"Nggak deh Mba, aku mau pulang saja. Aku mau habiskan siang ini buat latihan soal-soal ujian masuk perguruan tinggi, aku bosen gap year Mba." Ucap Lili.
"Waah masya Allah, semangat ya Li. Aku seneng kalau kamu lulus masuk PTN favorit kamu. Aku tunggu kamu juga di kampusku, hehe. Ohya, kalau ada yang bisa aku bantu kamu hubungi aku saja ya?" Ucapku pada Lili.
"Terima kasih semangatnya Mba, ohya Mba Ash juga semangat ya!" Sahut Lili.
"Terima kasih Li." Ucapku. Aku memberi Lili setangkai mawar putih untuk penyemangatnya. "Ini biar kamu semangat, belajar yang rajin yan anak baik." Ucapku.
"Terima kasih Mba Ash." Ucap Lili sembari memelukku dan aku membalas pelukannya.
Tak lama, Liana datang. Aku berpamitan pada Lili dan mengingatkannya untuk mengunci pintu flower shop.
"Si Lili nggak lo ajak? Gue masih ada beberapa tiket loh." Ucap Liana.
"Tadi aku sudah ajak kok Li. Dia kataya mau belajar saja di rumahnya, soalnya tahun ini dia mau daftar masuk PTN." Ucapku.
"Waah turut seneng deh gue. Terus kalo si Lili kuliah, yang jadi karyawan lo siapa dong?" Tanya Liana.
"Yang pasti, aku nggak bakalan berhentikan Lili. Dia bakal tetap kerja meskipun dia mau ambil part time. Selebihnya aku bakal cari karyawan baru yang telaten soal bunga-bungaan." Ucapku.
"Gila! Lo baek bener deh Ash." Ucap Liana.
"Jangan gitu dong Li." Ucapku.
"Kalo lo beneran mau cari karyawan baru, lo bilang gue ya." Ucap Liana.
"Kenapa? Mau daftar?" Tanyaku.
"Iya."
"Hah?! Iya kali orang sekaya kamu jadi florist." Cetusku.
"Apaan kaya apaan gue? Yanga da lo tuh yang kaya, punya usaha sendiri, bentar lagi dapet job baru. Emang deh gue pantes banget iri sama lo." Ucap Liana.
"Ehh, kok gitu? Nggak loh, orang tua kamu pengusaha. Kamu mah enak, nggak kerja juga bisa makan." Ucapku.
"Hahaha berlebihan banget sih Lo! By the way, gue pengen tawarin temen-temen gue yang lagi cari kerjaan seandainya lo emang cari karyawan." Ucap Liana.
"Boleh banget. Kalau bisa sekarang-sekarang aja kamu tawarin, biar Lili latih dulu, nanti kalau Lili jadi karyawan part time ku temenmu sudah telaten." Ucapku.
"Beneran nih? Berapa orang?" Tanya Liana.
"Dua aja dulu deh Li." Ucapku.
"Okay siap!" Sahut Liana. "Eh, kita langsung ke tempatnya aja ya Ash, tapi jangan masuk dulu. Kita jajan dulu, hehe." Ucap Liana.
"Boleh." Ucapku.
Sampai di tempatnya, Liana memarkir mobilnya dan kami duduk dahulu di depan sebuah angkringan di depan gedung serbaguna yang merupakan tempat pameran diselenggarakan. Saat tengah memesan makanan, Liana meneriaki seorang pria.
"Hey!" Seru Liana. Pria yang dimaksud Liana menoleh dan ia mendekat.
Bersambung ....