
"Apa yang kamu katakan pada Caspian?" Tanya Ayah saat aku datang.
Pertanyaannya membuatku berhenti melangkah sejenak.
"Kamu menolaknya'kan?" Tanya Ayah.
"Ayah, tolong jangan bahas ini." Ucapku tanpa melihat ke arah Ayah.
"Apa ada yang lebih baik dari Caspian? Dia memiliki segalanya tapi kamu ...."
"Aku tidak butuh orang yang Ayah anggap memiliki segalanya. Aku tidak butuh orang yang ...."
"Apa maksudmu?" Tanya Ayah tegas.
"Aku tidak suka Caspian!" Cetusku.
"Apa ada yang lain?"
"Apa tidak jelas pernyataanku sejak awal Yah? Aku katakan aku tidak suka Caspian, aku sudah memiliki seseorang yang jauh lebih baik dari Caspian." Ucapku sembari menoleh ke arah Ayah.
"Siapa dia?" Tanya Ayah.
"Ayah tidak perlu tahu."
"Bawa dia datang temui Ayah, kalau tidak, Ayah akan menetapkanmu bersama Caspian." Ucap Ayah membuatku kaget.
"Apaan sih Yah? Kenapa Ayah malah menentukan hal seperti ini?" Tanyaku.
"Bawa dia minggu ini." Ucap Ayah dan berlalu meninggalkanku.
Aku benar-benar kesal. Kenapa Ayah bisa tahu aku bertemu Caspian dan menolaknya? Apa ini kerjaan Caspian? Caspian pasti mengadukan hal ini pada Ayah.
Semuanya terbuka di sini, sifat asli Caspian terlihat secara jelas.
"Aaarggh!" Geramku.
...*********...
9 am
"Ashmaaaaa!" Teriak Liana lagi-lagi, di telpon.
"Kenapa Li? Kamu udah berangkat?" Tanyaku.
"Gue di depan rumah lo." Ucap Liana.
"Okay, aku keluar sekarang." Ucapku dan beranjak ke luar rumah. Aku lihat Liana sudah ada di sana.
"Udah siap'kan?" Tanya Liana.
"Udah." Ucapku dan segera naik mobil Liana.
Di dalam mobil aku terdiam, kepalaku saat ini memikirkan ucapan Ayah. Ayah memintaku mengajak lelaki yang aku maksud untuk bertemu dengannya agar aku tidak harus bersama Caspian.
"Siapaaaaa!?" Tanyaku agak berteriak.
"Buset deh! Lo kenapa Ash?" Tanya Liana.
"Aaaah pusing Li!" Cetusku.
"Ya kenapa? Kita beli obat ya?" Ucap Liana.
"Gak usah Li." Ucapku.
"Ada masalah ya Ash?"
"Sedikit." Jawabku singkat.
"Lo kalo ada masalah terus jadi pengen marah, jangan lampiasin ke gue dong! Gue gak suka kalo lo ngomongnya singkat-singkat gitu!" Cetus Liana.
"Hehe, maaf." Lirihku.
"Tapi lebih baik kalo lo ada masalah dan butuh cerita, lo cerita ke gue deh. Jangan dipendam sendiri, entar bisa sesak kalo dipendam." Ucap Liana.
"Iya Li, terima kasih. Ohya, kita happy aja dulu buat hari ini, aku ogah galau-galau. Apalagi bakal terjadi sesuatu yang menyenangkan hari ini, hehe." Ucapku pada Liana.
"Sesuatu apa?"
"Kita reuni, itu kan bikin seneng banget, hehe." Lirihku.
Sampai di tempat, tempatnya masih sangat sepi karena aku dan Liana serta beberapa teman lain yang mengadakan ini. Kami lalu masuk dan melihat keadaan di dalam kafe yang sengaja disewa Liana untuk acara kali ini.
"Waaah ini keren banget sih!" Seruku.
"Lo suka gak?" Tanya Liana.
"Suka banget." Jawabku.
"Ashma? Lia?" Sapa beberapa teman yang mulai berdatangan. Kami menyambut mereka dengan hangat.
"Selamat datang ya!" Seru Liana.
"Pokoknya lo semua harus bahagia banget hari ini! Kita bakal cerita- cerita, nari-nari, nyanyi-nyanyi dan pastinya makan-makan!" Seru Liana.
"Gue salut banget sama kalian berdua, gak pernah gagal kalau bikin event!" Seru teman kami dengan antusias yang tinggi.
"Iya dong!" Liana menyombongkan dirinya.
Setelah hampir semua teman datang, aku belum melihat Azhar.
"Dimana ya dia?" Lirih Liana, aku tersenyum mendengarnya.
"Siapa Li? Azhar ya?" Tanyaku.
"Aaaah apaan sih Ash!" Seru Liana, mengelak.
"Dia pasti dateng kok." Ucapku.
Dan benar, tak lama datanglah Azhar.
Wajah Liana terlihat memerah, ia malu-malu tapi rindu.
"Kita mulai acaranya ya!" Ucapku.
Liana beranjak ke depan dan bertugas sebagai pembawa acara kali ini.
"Lia gugup." Ucapku pada Azhar.
"Apa karena gue?" Tanya Azhar percaya diri.
"Iya." Jawabku.
...***********...
Acara telah berlangsung selama beberapa jam. Tapi Ashma kesal pada Azhar yang belum bertindak pada Liana sedikitpun.
"Kamu mau keduluan orang lain?!" Tanya Ashma pada Azhar dengan tegas.
"Nggak lah Ash." Jawab Azhar.
"Ya udah sono!" Seru Ashma.
Azhar mengikuti perkataan Ashma dan berjalan ke arah Liana. Sementara Ashma memantau dari jauh.
"Li." Sapa Azhar pada Liana.
"Eh, hai." Balas Liana.
"Lo, ehm maksudku, kamu ...." Azhar terlihat gugup, ia melihat ke sekeliling berkali-kali.
"Kenapa Zhar?" Tanya Liana.
"Kamu gak ajak pacar kamu ke sini?" Tanya Azhar pada Liana.
"Hahaha, mana ada. Ini'kan acara kita, maksudku ini acara kelas kita. Lagian, aku gak ada pacar kok." Ucap Liana.
"Ohya?" Tanya Azhar.
"Hehe, iya Zhar." Jawab Liana.
"Kenapa gak pacaran? Pasti di kampus banyak yang deketin'kan?" Tanya Azhar.
"Kata siapa?" Tanya Liana.
"Kata Ashma." Jawab Azhar, polos. Ashma yang mendengar itu menunduk karena Liana juga sedikit melototi dirinya.
"Oh, iya sih. Tapi seberapa banyakpun yang deketin aku, kalo gak bikin nyaman percuma." Ucap Liana.
"Kenapa?" Tanya Azhar.
"Aku masih suka cowok di SMA dulu." Ucap Liana.
"Kamu? Ada suka sama anak SMA kita dulu?" Tanya Azhar penasaran.
"Iya." Jawab Liana. "Sampai sekarang masih sama." Tambahku.
"Siapa dia?" Tanya Azhar. Ia khawatir pria yang dimaksud Liana itu bukan dirinya.
"Ehm, aku kasih klu aja ya." Ucap Liana, Azhar mengangguk.
"Dia, kuliah di Bandung, fakultas teknik." Ucap Liana.
"Maksudmu?" Tanya Azhar.
"Dia ada di hadapanku sekarang." Tambah Liana semakin jelas.
Azhar sangat terkejut. Ia tidak menyangka Liana justeru mengutarakannya lebih dulu.
"Aku?" Tanya Azhar memastikan, Liana mengangguk dan tersenyum. Azhar terlihat sangat senang dan spontan ia merangkul Liana.
"Uhuyyyyyyy!" Seru Ashma sembari mendekat ke arah Liana dan Azhar. Teriakan Ashma membuat Azhar dan Liana membuat jarak karena malu.
"Cieee malu malu nih!" Ledek Ashma.
"Apaan sih lo Ash!" Cetus Liana.
"Ke Azhar ngomongnya aku kamu, giliran ke temen deketnya gue elo." Ledek Ashma.
"Kan namanya juga temen deket." Ucap Liana.
"Kalo aku temen deket, Azhar apanya dong?" Tanya Ashma.
"Pacar." Jawab Liana dan Azhar bersamaan.
Mereka tertawa dan kembali menikmati acaranya.
...*********...
Setelah acara selesai, semua mulai berhamburan keluar kafe.
"Lo nau gue anterin gak Ash?" Tanya Liana.
"Gak usah Li, aku bisa pake taksi kok." Ucapku. "Kamu sama Azhar aja, dia kayaknya gak bawa kendaraan deh." Tambahku.
"Gak papa nih?" Tanya Liana.
"Gak papalah ...."
"Ashma'kan ada gue!" Seru Aslan yang tiba-tiba datang.
"Waahhhh, wait wait wait! Lo berdua pacaran?" Tanya Liana.
"Nggak!" Elakku.
"Iya." Jawab Aslan.
Aku menoleh ke arah Aslan penuh tanya.
"Kalau gitu, gue jadi gak bingung mau ninggalin Ashma sendirian. Gue titip Ashma ya!" Seru Liana sembari menepuk pundak Aslan dan berlalu menghampiri Azhar.
"Iya gue bakal jaga dia." Lirih Aslan.
"Seenaknya aja kamu." Ucapku pada Aslan.
"Hehe."
Aku berjalan keluar kafe dan diikuti Aslan.
Bersambung ....