
POV Aslan
Caspian memamnggil namaku tepat saat aku baru melangkah untuk pergi ke kamar.
Begitu aku menoleh ke arah Caspian, aku sangat terkejut. Caspian masuk bersama Mama dan satu perempuan lain. Apa dia psikiater yang dimaksudnya? Atau perempuan itu hanya datang mengunjungi Mama karena aku tahu mereka sudah saling kenal, aku tahu hal tersebut karena kiriman buket dari perempuan itu untuk Mama.
Selain aku, perempuan itu juga sangat terkejut. Ia pasti tengah merasa bahwa dunia sesempit itu. Dia mengenal Mama, dia dekat dengan Caspian dan dia juga baru saja kenal denganku. Dia pasti benar-benar terkejut.
Tidak lain, dia adalah Ashma.
Apakah Ashma psikiater yang dimaksud Caspian yang akan bicara denganku? Apa Ashma tahu bahwa aku adalah saudara Caspian? Kenapa dia mau diajak datang untuk bicara denganku? Apa dia menganggapku seperti orang gila?
...********...
POV Writer
Ashma dan juga Aslan hanya bisa saling melihat. Ashma melihat Aslan dengan sangat tidak menyangka. Sementara Aslan menatap Ashma penuh amarah.
Ia benar-benar merasa semua orang menganggapnya gila, termasuk gadis itu.
Bu Anna mengajak Ashma duduk, sementara Caspian mengajak Aslan untuk bergabung. Mereka duduk di ruangan yang sama. Ashma tertunduk, ia bingung apa yang harus dilakukannya ketika Aslan lah yang jadi pasiennya.
Caspian memperkenalkan Ashma dan Aslan karena ia belum tahu bahwa mereka baru saja bertemu sejak pagi tadi dan mereka saling mengenal.
"Dia adalah psikiater yang akan bicara denganmu." Ucap Caspian pada Aslan.
"Tidak, ehm saya ...." Ashma coba mengelak karena ia merasa tidak enak. Setahu Ashma, sejak ia mengobrol dengan Aslan tadi pagi, ia tak bisa merasakan keanehan dari diri Aslan. Aslan layaknya pria pada umumnya, ia tidak gila, stress atau depresi, ia seperti seseorang tanpa masalah, ia seniman yang hebat, itulah yang Ashma ketahui mengenai Aslan.
"Kalau kau perlu waktu untuk bicara berdua, kami akan berikan." Ucap Caspian. Ashma tak membalas, ia rasa bicara empat mata dengan Aslan akan lebih baik untuk mengklarifikasi semuanya.
"Mama juga akan bawakan minum untuk Ashma. Katakan apapun keluhanmu pada psikiater cantik ini ya." Ucap Bu Anna pada Aslan sembari menepuk bahunya pelan.
Kemudian, ditinggalkanlah Ashma bersama dengan Aslan berdua.
Mereka saling diam. Ashma merasa sangat bersalah ketika melihat wajah Aslan yang terlihat marah.
Aslan terdiam, ia benar-benar tidak bisa menerima keputusan kakaknya mengundang Ashma sebagai psikiater untuk bicara dengannya, terlebih sang psikiater adalah perempuan bernama Ashma ini. Perempuan yang membuatnya tertarik saat pertemuan di pameran seni lusa kemarin.
"Maafkan saya." Lirih Ashma memulai bicara. Ia merasa akan lebih baik jika ia meminta maaf pada Aslan.
"Kau datang dan seolah turut menyatakan bahwa aku benar-benar gila." Ucap Aslan dengan nada amarahnya.
Ashma menatap ke arah Aslan sementara Aslan marah dan tertunduk.
"Tidak begitu maksud saya." Ucap Ashma.
"Lalu apa? Aku tidak gila, tapi sangat gila dan jiwaku terganggu sampai seorang psikiater harus dipanggil kemari. Itukah yang mau kau tunjukkan?"
"Tidak. Saya bahkan tidak tahu kalau kamu adalah adiknya Pak Caspian. Saya datang hanya untuk bicara, mencoba untuk bicara denganmu dan ...."
"Mencoba bicara denganku? Kau berpikir aku tidak punya teman untuk bicara?" Tanya Aslan lagi.
"No. Bukan begitu maksud saya. Tolong dengarkan saya dulu, saya ...."
"Kalau kau menganggapku baik-baik saja, pergilah!" Ucap Aslan dengan tegas.
"Tapi Pak Casp ...."
"Kau sudah dibayar olehnya? Berapa bayaran yang kau terima? Biar aku ganti semua dan kau bisa pergi sekarang juga!"
"Pergi dari sini jika kau menganggapku baik-baik saja!" Tegas Aslan lagi.
Wajah Ashma memerah, ia benar-benar tidak menyangka ada yang berani semarah itu pada dirinya. Matanya juga berkaca-kaca, tapi Aslan malah tak peduli akan hal itu. Aslan sangat marah sampai tidak sadar siapa yang tengah ia marahi itu.
"Saya akan pergi." Suara Ashma bergetar seperti orang yang akan menangis. Lalu ia beranjak dari duduknya dan melangkah ke arah pintu. Tapi,
"Ashma?" Seru Bu Anna yang datang membawa minuman untuk puteri temannya itu. Ashma berhenti melangkah dan terdiam.
"Kamu mau kemana?" Tanya Bu Anna. Ia menaruh nampan di meja dan menghampiri Ashma.
"Saya, saya harus pulang bu." Ucap Ashma agak ragu, ia yakin dirinya harus berbohong.
"Kok pulang? Kamu baru saja duduk." Ucap Bu Anna dengan nada tanya, ia menatap anak gadis itu penuh tanya.
"Ehm, Ayah saya menelpon Tante. Saya harus pulang." Ucap Ashma lagi.
"Ada apa Ayahmu menelpon? Kamu benar-benar harus pulang?" Tanya Bu Anna lagi.
"Iya, Tante. Maaf ya, saya nggak bisa lama-lama di sini." Ucap Ashma.
Caspian datang ke arah mereka. Bu Anna menjelaskan pada Caspian bahwa Ashma akan pulang karena Ayahnya menelpon. Caspian malah terlihat tak percaya. Ia coba mengirim pesan pada Ayah Ashma tanpa sepengetahuan siapapun dan bertanya apakah Pak Arash meminta puterinya untuk cepat pulang atau tidak.
Dan ternyata, Ashma berbohong. Ia pergi bukan karena Pak Arash menghubunginya. Pasti ada hal lain, Caspian menoleh ke arah Aslan yang kini tengah menunduk sembari menjambak rambutnya sendiri ke belakang.
"Saya akan mengantarmu pulang." Ucap Caspian pada Ashma.
"Tidak, tidak perlu. Saya akan pakai taksi." Tolak Ashma.
"Saya akan antar kamu."
"Maaf Pak Caspian, tapi saya benar benar akan pakai taksi saja." Ucap Ashma dengan tegas sembari menelungkupkan kedua telapak tanganya di depan dada. Mata Ashma yang sayu menatap Caspian tajam.
Caspian melihat sebuah amarah di wajah Ashma, tidak ia tidak marah, ia pasti kesal saja.
"Okay, hati-hati." Ucap Caspian kepada Ashma.
Bu Anna pun juga pada akhirnya harus menyerah. ia mempersilakan Ashma untuk pergi. Tapi ia memintanya untuk datang sebisa Ashma. Ashma mengangguk dan berlalu.
Aslan juga berlalu, ke kamarnya.
Dari balkon kamarnya, Aslan menatap Ashma yang berjalan ke depan, menunggu taksi lewat.
Sedikitnya, Aslan merasa bersalah pada Ashma. Tidak seharusnya ia marah pada gadis itu, lagi pula Ashma benar, ia pasti tidak tahu sejak awal bahwa Aslan adalah adiknya Caspian. Dan kemungkinannya adalah Caspian tidak pernah menyebut nama Aslan di hadapan Ashma. Jadi karena itu ia merasa sangat bersalah pada Ashma.
Aslan semakin merasa bersalah ketika ia melihat Ashma yang tengah menunggu taksi mengusap matanya, ia berpikir bahwa Ashma menangis. Ia telah membuat gadis itu seolah bersalah. Ia sangat menyesal melakukan semua itu pada Ashma.
Seharusnya ia bersukur memiliki kesempatan lebih banyak untuk bicara dengan Ashma, tapi ia malah menolak dan bersikap seolah paling benar di depan gadis itu.
Lagi pula, apa salahnya jika Ashma hanya ingin mengajaknya bicara? Tak ada yang salahkan?
Okay, besok gue harus temui Ashma dan bicara dengannya, batin Aslan.
Ia masih memerhatikan Ashma sampai Ashma mendapat taksi untuk membawanya pulang. Setelah Ashma berlalu, Aslan pun memilih berlalu.
Bersambung ....