You're The Last

You're The Last
Eps. 09


"Dia hanya masa lalu saya Pak" Ucapnya sembari mengunyah Jeruk


"Benarkah? sepertinya dia terlihat sangat menyukai kamu" aku mencoba memancing Mela, namun ia tertawa kecil mendengar ucapan ucapan ku


"Saya tidak peduli, yang saya tau dia telah mengkhianati saya dan saya menganggapnya masa lalu. Ah ya sekarang mungkin teman" ucapnya santai dengan terus memakan jeruk yang ku berikan. Ku lihat sorot matanya tidak menunjukkan bahwa ia menyukai laki-laki tadi. Namun dari sikap laki-laki itu terlihat bahwa ia sangat menginginkan Mela kembali. Melihat jawaban Mela membuatku lega dan aku akan berusaha lagi untuk lebih dekat dengannya.


****


***Author Pov***


Terlihat seorang perempuan tengah berada di Cafe, menunggu seseorang yang akan datang. Mengetukkan jarinya di atas meja. Namun tak lama seorang laki-laki datang menghampirinya, mencium puncak kepala sang perempuan


"Udah lama?" tanya nya pada wanita di depannya yang memasang wajah cemberut


"Baru 30 menit" ucapnya cemberut


"Maaf ya udah nunggu lama" ucapnya membelai lembut rambut wanita di sebelahnya, ia hanya mengangguk tersenyum


"Gimana keadaannya"


"Sudah agak baikan dia" ucapnya menjelaskan


"Aku kangen dia, aku terlalu jahat sama dia" Ucapan penyesalan terucap dari bibir manisnya dengan mata berkaca-kaca


"Udah jangan nangis"


"Aku salah udah rebut kamu dari dia" ia terisak mengingat kesalahannya dulu, betapa jahatnya ia pada teman baiknya itu


"Bukan salah kamu, itu salah aku. Salahmu karena udah jatuh hati pada wanita manis sepertimu" ucapnya menggoda dan menenangkan sang wanita. Membuat sang perempuan mencebikkan bibir


****


"Kak, makan dulu yuk. Terus minum obat" Bunda Arum membawakan makanan untuk anak perempuannya. Melati beranjak bangun dari tidurnya, dengan telaten Bundanya memberikan setiap suap nasi. Baru tiga sendok Melati sudah tak mau melanjutkan makannya


"Udah bund" ucap melati menolak suapan sang Bunda


"Kamu baru makan tiga sendok kak, lagi ya" bujuk sang bunda, namun melihat Mela geleng-geleng kepala ia mengalah. Terdengar suara ketukan pintu, ia beranjak melihat siapa yang datang.


"Eh nak Bagas" ucapnya ketika melihat siapa yang datang bertamu sepagi ini. Ya, ini baru pukul 08:00 pagi dan Bagas sudah bertamu. Ia pun menyalami dan mencium tangan Melati.


"Masuk dulu nak" mempersilahkan Bagas masuk


"Terima kasih Tante" ucapnya tulus


"Mela ada di kamarnya, dia susah makan. Kalau nak Bagas mau bisa ke kamarnya Mela. Biar Tante antar" Bagas mengangguk, berjalan mengikuti Bunda menuju kamar Melati.


Terlihat Melati yang sedang merebahkan tidur, padahal baru beberapa menit Bundanya keluar dan ia sudah merebahkan tubuhnya lagi.


"Astaga dia tidur lagi" geleng-geleng kepala berjalan untuk membangunkan sang anak, namun ucapan Bagas membuatnya terhenti


"Tidak usah di bangunin Tante, biar saya tunggu di sini saja" ucap Bagas tersenyum tulus


"Ah baiklah, kalau gitu Tante tinggal dulu ya" pamitnya menepuk bahu Bagas, ia mengangguk tersenyum


Bagas berjalan menghampiri Melati yang tertidur, menutupkan selimut pada tubu mungilnya sampai menutup dada. Terlihat wajah cantiknya yang sangat pucat pasi, wajah nya sangat tenang saat tertidur. Ia menyunggingkan senyum melihat perempuan di depannya. Konyol memang sepagi ini sudah bertamu di rumah orang.


Ia menggeliatkan badan, menatap jam yang menunjukkan pukul 10:00. Ia kaget ketika ada tangan yang memegang tangannya, memperhatikan sosok yang tertidur di kursi dengan memegang tangannya.


"Pak Bagas" ucapnya lirih, ia tersenyum melihat kehadirannya. Di belainya rambut sang empu dengan halus, ada getaran bahagia dan hangat tersendiri ketika melihat dia


"Ah perasaan apa ini" batinnya


Merasa ada yang membelai rambutnya ia pun terbangun. Melihat Melati yang terlihat salah tingkah, menarik ulur tangannya dari rambut sang empu


"Tidak masalah"


"Maaf jadi ikut tertidur" lanjutnya dengan tersenyum, membuat Mela menyunggingkan senyum manis


"Pak Bagas nggak ke kantor" Mela melontarkan pertanyaan pada Bagas, karena terlihat sekarang sudah pukul 10 dan Bagas sudah disini menemaninya


"Tidak" Mela mengerutkan kening


"Kenapa?"


"Karena ada seseorang yang spesial yang membutuhkan saya" Mela semakin mengerutkan kening tak mengerti maksud ucapan Bagas


"Maaf saya tidak mengerti"


"Kamu. Kamu orang yang spesial" Memegang tangan Mela dengan lembut. Deg!! membuat Mela serasa ingin loncat saja


"Pak" sanggahnya.


Bagas merasa ini adalah saatnya mengungkapkan perasaan yang ia pendam selama ini


"Saya menyukai kamu sejak pertama kali melihat kamu tertawa di pinggir jalan bersama teman perempuan kamu. Saya mencari info tentang kamu, diam-diam saya selalu perhatikan kamu di kantor. Memang saya bersikap dingin, karena saya tidak ingin ada yang tahu bahwa saya menaruh perasaan pada kamu" Jelasnya membuat pipi Melati merona merah seperti tomat


"Kenapa pipi kamu" goda Bagas


"Tidak" ia memegang pipinya yang memanas, Bagas mengacak gemas rambut perempuan di depannya


"Apa kamu tidak menyukai saya?" kini tatapannya pada Mela berubah serius


*****


***Melati Pov***


Aku sangat bahagia tentang ucapan Pak Bagas bahwa ia menyimpan rasa padaku. Senang? ya sangat senang.


"Apa kamu tidak menyukai saya?" ku lihat sorot matanya berubah menjadi serius. Perlahan ku anggukan kepala, ia langsung memelukku erat. Aroma maskulin menembus Indra penciuman ku.


"Tapi saya takut" ia merenggangkan pelukan dan menatapku, aku menundukkan kepala


"Saya takut jika saya membuat kecewa Bapak begitupun sebaliknya. Saya takut Bapak seperti masa lalu saya, yang tega mengkhianati saya" ucapku berkaca-kaca. Ya, masa lalu yang mengecewakan kini membuatku terlalu takut untuk kembali membuka hati. Aku tau telah salah menyamakan semua laki-laki karena kesalahan laki-laki di masa laluku.


"Hei, lihat saya" ucapnya menarik daguku menatapnya


"Saya tidak berjanji tidak akan membuat kamu kecewa, tapi saya akan berusaha membuat kamu bahagia dan melupakan masa lu yang membuat sakit" mendengar ucapannya yang tulus, setetes bulir air mata jatuh dari pertahananku. Ku peluk dia erat menumpahkan segalanya.


"Bapak udah makan?" Tanyaku setelah merasa baikan


"Belum" astagaa, jadi dia kesini belum makan. Aku beranjak bangun dari dudukku, namun ia mencekal tanganku


"Kemana"


"Ke bawah ambil makanan buat Bapak" ucapku


"Tidak perlu, kita ke bawah saja. Kamu makan sedikit kan tadi" aku hanya nyengir. Kami pun berjalan turun ke bawah untuk makan. Terlihat Bunda sedang berkutat di dapur dengan bi Eva pembantu


"Bunda lagi ngapain?" tanyaku


"Lagi bikin kue sayang, kebetulan sekali ada nak Bagas juga di rumah" ucap Bundaku


"Mau makan?" tanyanya, aku hanya mengangguk


"Yaudah kalau gitu biar bi Eva yang siapkan ya" lagi-lagi aku mengangguk dan berjalan menuju meja makan, duduk bersampingan dengan Pak Bagas