
Kini aku suda berada di Cafe bersama Sari dan Ratna.
"Mel" sapa Ratna membuka pembicaraan
"Berbagilah cerita dengan kita" tuturnya dengan sorot mata tulus, melihat nya mataku memanas.
"Pak Yudha menyuruh ku menjauhi Pak Bagas" ya, sebulir air mata lolos dari pelupuk mata ku
"Beliau bilang aku hanya bawahan, tidak pantas untuk Pak Bagas yang notabe nya atasan" ucapku menahan Isak tangis.
"Kenapa bisa Pak Yudha sejahat itu, memandang orang rendah karena jabatan, hanya sebatas atasan dan bawahan" Ratna tersulut emosi
"Memang nya Pak Yudha gak tau apa kalau orang tua lo itu punya Perusahaan sendiri" sahut Sari
"Atau jangan-jangan Pak Bagas juga gak tau tentang kehidupan keluarga lo? lo lahir dari keluarga terpandang. Tapi kenapa lo ga pernah mau mengatakan yang sejujurnya? biar hubungan kalian direstui" mendengar perkataan Sari aku menatap nya dengan sendu. Yang di katakan Sari memang benar.
"Kamu tahu, aku ingin semua orang memandang karyawan tidak rendah. Aku ingin mereka bisa menerima ku apa adanya meskipun hanya sebagai karyawan di Perusahaan Wijaya Group" tuturku pada kedua sahabat ku
"Terus Lo mau hubungan kalian berakhir, gitu?" pertanyaan Ratna membuatku terdiam.
"Entahlah, biarkan semua waktu yang mengungkapkan" kudengar helaan nafas dari kedua sahabat ku.
****
***Author Pov***
Bagas menghubungi Melati berkali-kali namun tidak ada jawaban. Ia bingung apa yang terjadi dengan kekasih nya itu, ia pun memutuskan pulang ke rumah. Besok ia akan menanyakan apa yang terjadi pada Melati.
"Nanti malam ada makan malam di rumah, Papa harap kamu tidak kemana-mana" Ucap Yudha kala anaknya baru masuk ke dalam rumah. Ia menghiraukan perkataan sang Papa dan melangkah ke kamar nya. Ya, Yudha memang Papa yang sangat egois. Tidak pernah memikirkan perasaan anak nya, ia lebih mementingkan image keluarga.
"Apa-apaan Papa" ucap Bagas menghempaskan tubuhnya di kasur king size nya
***
Pukul 19:00 di kediaman Yudha, sebuah mobil mewah sudah terparkir rapi di depan rumah nya.
"Gimana kabar anda Pak?' Tanya nya memeluk laki-laki paruh baya yang baru sampai rumahnya dengan istri dan gadis cantik.
"Sangat baik" sahutnya
Ya, malam ini Yudha merencanakan makan malam dengan teman bisnis nya. Namun bukan itu tujuan utama nya, ia ingin menjodohkan anak nya dengan teman bisnis nya itu. Selly, perempuan cantik yang berkelas, seorang model terkenal.
"Maah, tolong panggilkan Bagas di kamar nya" titah nya pada Ayu sang istri
"Sebentar ya saya panggilkan Bagas dulu" pamitnya berlalu pergi ke kamar sang anak.
Ayu geleng-geleng kepala melihat anak nya ternyata belum mandi, bahkan tidur setelah pulang dari kantor. Ia menghampiri anak nya yang tertidur
"Bagas, bangun nak. Sudah di tungguin tuh sama Papa" mengelus puncak kepala Bagas dengan lembut. Sejujurnya Ayu tidak tega melihat anak nya seperti ini, apalagi sang Papa meminta nya untuk meninggalkan kekasih yang di cintai nya
"Emmmm" Bagas menggeliat pelan
"Bagun nak, cepat mandi dan turun ke bawah ya" mendengar ucapan sang Mama ia hanya mengangguk patuh.
30 menit sudah ia bersiap untuk turun ke bawah, ia berhenti di tangga melihat siapa yang datang. Namun Papa nya menyadari keberadaan Bagas
"Bagas, sini" suara berat Yudha menginstruksi anak nya segera ke meja makan. Ia pun berjalan menuju meja makan dan mengambil duduk di sebelah sang Mama, bahkan ia sangat acuh pada orang yang di meja makan bersama Papa dan Mama nya.
"Bagaimana tentang perjodohan anak kita Pak Ari" ucapan Yudha membuatnya sangat kaget
"Apa-apaan ini" batin nya
"Saya sangat setuju, apalagi melihat nak Bagas yang terlihat sangat dewasa" ucapnya tersenyum pada Bagas
"Nak Selly, bagaimana denganmu nak. Apa kamu mau dengan Bagas?" tanya nya pada wanita cantik yang tersipu malu
"Emmm, Selly mau om"
"Bagas ke kamar dulu" ucap Bagas berdiri ingin ke kamar nya, namun suara sang Apap mengurungkan niat nya untuk pergi ke kamar.
"Bagas, tunggu dulu"
"Papa mau menjodohkanmu dengan Selly. Kau tahu, dia perempuan yang sangat cerdas dan juga cantik" sanjung nya pada perempuan yang sedari tadi tersenyum malu
"Bagas" suara berat Yudha menginstruksi nya agar kembali ke duduk nya, namun Bagas menghiraukan nya.
"Astaga anak itu" gumam nya
"Maaf atas kelakuan anak saya Pak" ucap nya pada Ari, ia tak enak hati atas sikap anak nya itu.
"Ah tidak masalah Pak, seiring berjalannya waktu Bagas pasti menerima perjodohan ini" sahut nya santai
"Maafkan anak Tante ya sayang" memegang pundak Selly
"Iya Tante gapapa, mungkin mas Bagas butuh waktu"
****
"Aarrgghh" teriak nya frustasi. Ia tidak mau kehilangan Melati. Ia mengambil ponsel dan menghubungi Melati, ia sangat merindukan gadis nya itu.
"......."
"Aku sangat merindukanmu" ucap Bagas dengan mata berkaca-kaca
"........"
"Aku ingin bertemu kamu Mel"
"........."
"Besok aku jemput kamu seperti biasa"
"............"
"Tidak ada penolakan" ucap nya tak mau Mela membantah nya
"..........."
"Selamat tidur sayang" ucap nya mematikan telpon.
Ia membuag ponsel nya ke segala arah, menjatuhkan tubuh di atas kasur, ia sangat lelah dengan semua nya. Ketika ada seseorang yang mampu membuat hati nya luluh, kenapa Papa nya malah menolak keras hubungan nya dengan Melati?
****
***Melati Pov***
Aku berdiri di balkon kamar, mentap bintang-bintang nan cantik dan indah.
Aku sangat merindukan Pak Bagas, aku bingung harus bersikap bagaimana. Tak lama dering ponsel ku berbunyi di atas nakas, aku berharap itu mas Bagas yang menelpon. Dan ya, ku lihat nama di layar tertera nama mas Bagas. Aku sangat bahagia.
"Hallooo mas" sapaku pada nya
"Aku sangat merindukanmu" ucap mas Bagas, membuatku ingin meneteskan air mata.
"Aku juga merindukan kamu mas"
"Aku ingin bertemu kamu Mel" ucap nya
"Ini sudah malam mas"
"Besok aku jemput kamu seperti biasa"
"Tapi mas...." aku ingin menolak nya
"Tidak ada penolakan"
"Baiklah. Aku tutup dulu telvon nya mas, aku ingin tidur"
"Selamat tidur sayang" ucap nya mengakhiri perbincangan di telpon.
Tangisku pecah mendengat suara nya, terdengar bahwa ia sedang tidak baik-baik saja.
"Kenapa semuanya begini, aku hanya ingin bahagia dengan nya" ucapku terisak. Aku sangat terluka, aku tidak ingin meninggalkan nya dan juga sebalik nya. Aku ingin bersama dia selamanya. Banyak sekali impian-impian yang ingin ku gapai bersama nya, selamanya. Tapi ntah lah, apa memang aku tidak bisa bersama dengannya?