
Aku Melati Fransiska, usiaku saat ini 22 tahun.
Pernahkah kalian berfikir ketika kekasih kita bermain api di belakang bersama teman baik kita, segala kepercayaan telah diberikan namun berakhir dengan penghianatan. Kecewa? Sakit? ya, itu yang kurasa. Membuatku enggan untuk membuka hati kembali pada orang baru karena takut di kecewakan seperti hubunganku sebelumnya. Bahkan seringkali ku menghiraukan banyak orang yang mendekatiku. Namun aku selalu berusaha memberi semangat untukmu diriku sendiri agar tak terlarut dalam kesedihan. Mencoba berdamai dengan masa lalu,meski ku tahu itu sulit
****
**Melati Pov**
"Hai Mel" sapa Adit, teman kantor yang begitu perhatian. Ku tahu dia menyukaiku, namun aku sudah menganggapnya sahabat baikku dan tak lebih. Ya, aku bekerja di Perusahaan Pratama Group sebagai Staff Keuangan.
"Hai Dit, tumben jam segini udah berangkat?" tanyaku, karena setahuku dia selalu datang ke kantor hampir masuk jam kerja. Dan itu tandanya hampir telat
"Hehehe, ada laporan yang belum aku selesaikan" ucapnya sembari menggaruk kepala
"Yaudah aku duluan ya" lanjutnya dan berlalu pergi, aku hanya geleng-geleng kepala melihat tingkahnya.
****
**Author Pov**
Di sebuah ruangan yang luas, dengan desain modern yang menambah kesan mewah, seorang laki-laki tampan duduk dengan kaki di atas meja. Terlihat frustasi. Ya, ia memikirkan tawaran orang tuanya. Usia yang tak lagi muda membuat orang tuanya ingin sang Anak menggantikan memimpin Perusahaan, memberikan tanggung jawab Perusahaan Pratama Group sepenuhnya pada sang Putra. Bagas Pratama. Lelaki tampan, anak kedua dari keluarga Pratama, berkulit putih, tubuh atletis, namun berwajah dingin, fisiknya yang hampir sempurna membuat banyak di segani kaum hawa. Anak pertama Farah Cantika, ia sudah menikah bahkan sudah memiliki buah hati perempuan sangat cantik. Bukan hanya fisiknya saja yang hampir sempurna, namun dia sosok laki-laki yang mandiri. Di usia 27 tahun ia sudah memiliki cafe dan cabang di beberapa kota
"Aarrgghh" teriaknya frustasi
Di Perusahaan Pratama Group
"Mel, nanti pulangnya nebeng ya" ucap Sari menghampiri meja Mela dengan senyum yang di buat semanis mungkin, membuat Mela bergidik ngeri. Tapi begitulah sahabatnya. Selain Adit, ia juga memiliki 2 sahabat yang sangat ia sayangi. Sari dan Ratna. Sari yang lebih humoris, konyol, cantik dan juga baik. Berbeda dengan Ratna si pendian, cuek, penyayang dan juga perhatian
"huh baiklah" sahutku. Sudah 3 hari ini Sari tidak membawa mobil
"Aww makasih sahabatku yang cantik" ucapnya memegang pipi dan berlalu pergi. aku hanya geleng-geleng kepala
****
**Melati Pov**
Seharian bekerja dan akhirnya aku bisa merebahkan tubuhku yang cukup lelah. Ku tatap langit-langit kamar, sekilas bayangan sosok laki-laki yang ku benci muncul. Seseorang yang sudah menghianati bahkan memberi goresan luka yang tak kunjung sembuh. Ah sudahlah, ku beranjak bangun dan segera menyegarkan tubuh. Setelah 30 menit menyelesaikan ritual mandi, ku rebahkan tubuhku kembali. Baru sekejap ku tutup mata, terdengar ponselku berdering. kutatap layar tertera nama bundaku tercinta
"Assalamualaikum sayang, apa kabar anak bunda" Sapa seorang wanita cantik di seberang
"Wa'alaikumsalam bunda, Alhamdulillah baik kok. Bunda sama Ayah apa kabar?" ucapku dengan senyum mengembang
"Alhamdulillah baik juga sayang, Davin udah tidur?"
"Sudah Bun. Bunda kapan pulang? udah rindu tau" ucapku merajuk, bisa di bilang aku sangat manja pada Bunda dan Ayahku
"Minggu depan mungkin kak" ucap bunda membuat sang putri memanyunkan bibir
lama kami berbincang di telvon hingga akhirnya aku mengakhiri perbincangan karena sudah mengantuk. Ya, Ayah dan Bundaku berada di Bandung karena nenek sedang sakit. Dan jadilah aku di rumah sama adikku Davin dan bibi Eva, pembantu dirumah yang sangat baik dan sudah 15 tahun bekerja dengan kedua orang tuaku.
****
***Author POV***
"Pagi mah, pah" sapanya ketika sudah berada di meja makan, mengecup hangat pipi sang Mama yang hampir keriput.
"Pagi nak" ucap Yudha dan Ayu bersama
"Udah rapi aja anak Mama" ucap sang Mama
"Papa percayakan padamu semuanya, Papa yakin kamu bisa" Ucap sang ayah memberi semangat sang anak
"Iya pah" sahutnya dan melanjutkan sarapan sebelum berangkat ke kantor Papah nya. Ya, ia memutuskan menerima tawaran sang Papa untuk meneruskan Perusahaan sang Ayah. Dan kini ia mempunyai tanggung jawab doble. Perusahaan dan juga Cafe
Tepat pukul 06:35, kini Bagas sudah berada di depan Perusahaan sang Papa. Pratama Group. Dengan penuh keyakinan dan kewibawaan dia berjalan memasuki kantor. Banyak bisikan dan tatapan seolah-olah kagum menatap pria yang berjalan penuh dengan wibawa, dengan seorang laki-laki di belakangnya
"Astaga itu siapa"
"Tampan banget"
"Dengar-dengar dia anak dari Pak Yudha"
"Oh jadi ini anak nya Pak Yudha, tampan parah"
"Gila tampan banget"
"Senyumnya manis banget"
Begitulah bisikan-bisikan dari para kaum hawa, menatapnya dengan tatapan kagum, namun ia mengabaikannya. Berjalan tanpa memandang sekelilingnya
"Selamat pagi Pak Bagas, selamat datang di Perusahaan" Sapa Andre menjabat tangan, Manager Perusahaan Pratama Group
"Selamat Pagi Pak" Ucap Bagas dengan sopan tanpa meninggalkan kewibawaannya
"Mari saya antar ke ruangan Bapak" Andre mengantar Bagas ke ruangannya. Sepanjang perjalanan menuju ruangan Bagas yang baru, Andre mengajaknya berbincang mengenai Perusahaan
Disaat para karyawan tengah heboh dengan bisikan-bisikan tentang sang pemimpin Perusahaan yang baru, beda halnya dengan wanita cantik yang masih sibuk berkutat dengan kertas-kertas di depannya.
"Eh Mel, tau gak" Sari menghampiri sahabatnya dengan penuh kehebohan
"Enggak" sahut Mela tanpa mengalihkan pandangan dari kertas, mungkin menurutnya kertas lebih menarik
"Ih denger dulu, anaknya Pak Yudha tampan banget parah. Dia yang bakal pimpin Perusahaan ini" ucapnya dengan mata berbinar
"Oh" sahut Mela sekenanya, membuat Sari mencebikkan bibir
"Ih Mela ga seru deh kalau di ajakin bicara soal cowok" mendengar perkataan sahabatnya itu, ia mengalihkan pandangannya menatap sahabat. Sontak ia tertawa karena melihat ekspresi lucu sang sahabat.
"Udah dong jangan manyun, jelek tau" ucapnya tertawa. Melihat sang sahabat tertawa lepas membuatnya bahagia
Di ruangan yang luas, dengan desain modern yang menambah kesan mewah, Bagas menatap ke luar jendela. terlihat jelas pemandangan kota Jakarta. Kini ia mulai harus beradaptasi dengan pekerjaan barunya. Masalah Cafe ia sudah serahkan pada Dika, sahabat sekaligus temannya sewaktu SMP. Ya, ia percayakan tanggung jawab Cafe pada tangan kanannya itu. Namun ia juga tak akan melupakan Cafe nya. Ia bertekad akan sesering mungkin berkunjung ke Cafe nya
***Selamat membaca, maaf jika ceritanya kurang menarik. Semoga cerita nya bisa menghibur😊***