
"Mela sudah tidak ada di sini" ucap seorang laki-laki yang datang dari dalam, yang tak lain adalah Andi Ayah Mela. Sontak membuat kedua orang yang berada di ruang tamu mengalihkan pandangan menatap nya
"Maaf om, maksud om apa?" tanya Bagas menatap seorang laki-laki yang masih gagah di depan nya
"Ada sesuatu yang harus Mela lakukan" Ucap Andi membuat Bagas semakin bingung
"Tante" ucap nya menatap Arum seolah meminta penjelasan. Melihat Bagas membuat Arum tak tega
"Mela akan segera menikah"
Deggg! bagai ribuan jarum menusuk hati nya, mendengar perkataan Andi Ayah Mela membuat nya diam tak berkutik.
"Jadi om mohon, jangan mencari Mela lagi" ucapnya menunduk, sesungguhnya ia tak tega melakukan ini pada Bagas. Namun ini demi kebaikan mereka berdua.
"Bagas pamit dulu Om, Tante" pamitnya, berjalan keluar dengan langkah gontai.
"Kenapa kamu pergi" lirih nya pada diri sendiri
"Maafin aku udah buat kamu kecewa dan sakit" tanpa ada orang tahu, ia menangis di dalam mobil. Sedih? pasti. Di tinggalkan orang tercinta yang akan menikah dengan orang lain rasanya sakit.
"Apa seperti ini rasanya mendengar orang yang di cintai menikah dengan orang lain, maafin aku" membanting stir dengan keras.
****
Bagas memasuki rumah dengan langkah gontai, seakan ia tak bernyawa. Kini semangat hidup nya hilang, orang yang di cintai telah pergi meninggalkan nya.
"Bagas" suara berat Yudha memanggil nya, namun yang di panggil hanya berhenti dan tak ada niat untuk menyahut panggilan sang Ayah.
"Besok hari tunanganmu dengan nak Selly, persiapkan dirimu" semakin keras ia mengepalkan tangan, ia sangat kesal pada Papa nya. Ia tak menggubris perkataan sang Papa, ia hanya berjalan cepat menuju kamar.
"Aaarrggghhh, sial" umpatnya
****
Seorang perempuan cantik tengah berdiri di depan cermin, menatap diri nya dengan senyum miria. Dering ponsel berbunyi membuyarkan lamunan nya, di tatapnya nama orang yang tertera di layar ponsel. Bagas. Ia senang dan juga sedih, ia bingung harus bagaimana.
"Hallo" sapa nya
"Kenapa pergi?"
Deggg!!! kata pertama di awal perbincangan telvon, membuat nya diam membeku.
"Kenapa kamu tinggalin aku Mel?"
"Aku....aku hanya ingin kita bahagia dengan cara masing-masing" sebulir air mata jatuh dari pertahanan nya
"Maafin aku sudah membuat kamu sakit, kecewa. Maafin aku, sedikitpun aku tidak ingin menikahi nya" jelas Bagas di telvon
"Mas, sudahlah. Cintai dia seperti kamu mencintai aku. Aku akan mencoba ikhlas" jelas Mela menahan Isak tangis
"Tidak, aku tidak akan pernah mencintai nya. Hanya kamu yang mas cintai Mel" mendengar perkataan Mela, ia tak mampu lagi menahan tangis nya. Ia mematikan telvon dan menangis sejadi-jadinya. Tubuh nya luruh di atas lantai kamar, memeluk lutut sampai dada.
Sedang Arka yang sedari tadi berdiri di depan pintu seolah ingin berbalik ke kamar nya sendiri. Namun mendengar tangisan di dalam kamar Mela, kini ia menyelonong masuk. Di lihatnya Mela yang menangis di atas lantai sesegukan.
"Mel, apa yang terjadi" melihat Arka datang, ia langsung memeluk erat Arka
"Cerita sama Kakak" di belainya rambut perempuan cantik yang berada diperlukan nya dengan lembut. Namun Mela hanya menangis dan menangis. Lama sudah Mela menangis di pelukan Arka, kini ia mengurai pelukannya.
"Tidak" jawab nya lemah.
"Huffftt" Arka membuang nafas kasar, ia tak habis pikir dengan Mela yang tak mau berbagi cerita dengan nya.
"Hei, lihat Kak Arka" ucapnya menarik dagu Mela untuk menatapnya
"Kau ini adik kesayangan Kakak, ceritalah, bagi dukamu pada kakak. Kakak siap mendengarkan" ucap nya lembut membuat Mela semakin menangis.
****
"Mel, bangun nak. Udah jam 06:00" seorang wanita cantik yang usia nya sudah kepala 4 membangun kan sang gadis cantik yang masih bergulat dengan selimut
"Emmmm iya Tan" Mela mengucek mata, dan bangun dari tidur nya
"Udah di tungguin Kak Arka di bawah" Mela mengerutkan kening
"Hari ini kau akan di ajak Arka ke Rumah Sakit, sudah cepat bangun dan mandi. Langsung turun ke bawah sarapan ya" ucapnya mengusap kepala Melati. Melati hanya mengangguk dan beranjak ke kamar mandi.
30 menit sudah ia berkutat di dalam kamar. Kini ia terlihat cantik dengan celana panjang, wedgest, baju lengan pendek, dengan rambut di gerai indah.
"Selamat pagi Om, Tante, kakak" sapa nya dengan ceria kala sampai di meja makan.
"Pagi Mel"
"Pagi, udah rapi aja" sahut Arka
"Kata Tante Kak Arka nungguin Mela, mau kemana emang?" tanya nya pada Arka
"Ke Rumah Sakit bentar, abis itu kakak mau ajak kamu bertemu teman kakak"
"Baiklah"
Hening, hanya dentingan sendok makan yang beradu di atas piring.
****
Kini mereka beruda sudah sampai di Rumah Sakit xxxx, Rumah Sakit ternama di kota B******. Berjalan beriringan dengan tangan bergandengan, jangan lupakan sorot mata yang menatap nya.
"Lihat lah kak tatapan orang-orang, astagaa" ucap Mela
"Biarkan" Arka cuek, dan ia pun tidak keberatan jika Mela bergelayut manja menggandeng lengan nya. Menurut nya sepupu nya yang ini berbeda dengan sepupu lain nya. Selain manja dengan keluarga, ia juga wanita yang mandiri.
"Selamat pagi Dok" sapa dokter perempuan, menatap Mela dari bawah sampai atas dengan kagum. Ya, Mela memang cantik, bahkan tubuhnya juga sangat ideal.
"Pagi Dokter Alin" sahut nya tersenyum dan berjalan menuju ruangan nya.
Tanpa di sadari Alin tersenyum miris melihat Arka bergandeng mesra dengan perempuan cantik di samping nya.
"Ternyata sudah punya" gumam nya miris.
Alin adalah dokter spesialis jantung, selain cantik, ia juga berhijab. Ya, ia menyukai Arka sejak satu tahun terkahir ini. Namun Arka tidak mengetahui nya
****
Seorang laki-laki tengah menghabiskan minuman beralkohol, sudah 4 botol ia minum.
"Gas, pulang" ajak Adit. Ya, mereka berdua berada di club. Adit sedih melihat sahabat nya seperti ini
"Bentar lagi" ucap Bagas
"Melati" racau nya. Adit hanya bisa diam, memijat pelipisnya. Ia tak tahu harus bagaimana agar teman nya bisa kembali seperti dulu. Sejak kepergian Melati, Bagas menjadi sosok yang pemarah. Bahkan sering ke club menghabiskan minuman keras.
Bagas pulang ke rumah dengan di antar Adit. Berjalan sempoyongan tangan Adit yang merangkul pundak nya agar Bagas tak terjatuh.
"Astaga Bagas" teriak Ayu histeris melihat keadaan anak nya
"Bawa masuk ke kamar nya" titah nya pada Adit
"Iya Tan" Adit membawa Bagas masuk ke kamar nya. Kamar yang luas dengan desain modern.