
Kami beranjak pergi menemui kedua orang tua mas Bagas. Takut? gelisah? ya, itu yang ku rasakan saat ini. Namun Mas Bagas menenangkan aku
"Maah, Paah, Nek" Sapanya membuat ketiga orang yang duduk menolehkan kepalanya ke arah kami, aku hanya menunduk
"Bagas, sini nak" sapa Mama nya
"Ah ya siapa dia Bagas? ucapnya menanyakan siapa aku
"Dia Melati maah, kekasih Bagas"
"Kekasih? sejak kapan kau punya kekasih?" bukan Mamanya atau neneknya yang berbicara, namun Papanya. Dengan suara berat yang terlihat dingin, aku sungguh takut menatapnya.
"Ah sudah 4 bulan ini Pah" ucap Bagas
"Apa, jadi kalian sudah 4 bulan pacaran?" tanya sang Mama meyakinkan. Aku semakin takut, takut jika mereka tidak menyukaiku.
"Iya Maah"
"Dasar anak kurang ajar, kenapa kamu ga bilang kalau sudah punya kekasih ha?" pertanyaan mamanya membuatku tak bisa berkutik
"Mama apa-apaan si" kini Bagas berbicara
"Bawa perempuan itu kesini" titahnya pada Bagas agar membawaku duduk di sebelah neneknya
*****
***Author Pov***
"Aku sangat merindukannya. Merindukan kebersamaanku sewaktu kuliah dengannya, aku jahat banget ya" ucapnya tertawaan sumbang
"Aku bener-bener menyesal, ga ada niatan buat ngerusak hubungan kalian dan pertemanan aku sama dia" lanjut nya menyadari kesalahannya dulu membuat teman baiknya kecewa terhadapnya.
Seorang laki-laki menangkup wajah manisnya, mengusap tetesan air mata di pipi sang wanita.
"Cukup, kamu jangan kayak gini terus. Ini semua salahku Sar"
"Besok lusa kita temuin Melati, kita minta maaf atas kesalahan yang kita buat dulu. Udah ya jangan nangis, nanti cantiknya hilang" Ucapnya membuat Sarah sedikit tenang
***
Melati meremas gaun yang ia kenakan. Duduk di antara Mama dan Nenek sang kekasih. Ia takut jika tidak di terima dengan baik di keluarga Bagas.
"Jangan tegang seperti itu" ucapan sang Nenek membuat Mela mendongakkan kepala ragu
"Kami tidak jahat sayang" tenang, itulah yang Mela rasakan. Ucapan Mama Bagas dengan tulus membuatnya tersenyum lega. Lain hal nya dengan Yuda, Papa Bagas yang terlihat hanya diam. Bagas? ia pergi ke sepupunya sebentar
"Ngomong-ngomong kamu kuliah atau kerja ? atau mungkin punya usaha bisnis sendiri?" tanya Ayu membuka obrolan
"Saya bekerja di Pratama Gorup tante, sebagai bagian keuangan" jelas Mela
"Oh jadi kamu satu kantor sama Bagas?" Mela mengangguk senyum. Lama ia berbincang dengan Mama dan Nenek Bagas. Tak lama Bagas pun datang menghampiri tiga wanita yang sangat ia cintai.
"Asik banget ngobrolnya" ucapnya duduk di sebelah sang Mama
" Bagas, Papa mau bicara" ucap Yudha dan berlalu pergi, mendengar perkataan sang Ayah ia pun pergi menyusul sang Ayah
Ia pergi ke taman belakang rumah, di sana terlihat Yudha yang berdiri di depan gazebo.
"Ada apa Pah?" tanya Bagas di belakang Ayah nya
Deg!!!
"Maksud Papa?" tanya Bagas tak percaya
"Jauh i dia. Dia tidak pantas untuk mu, dia hanya karyawan di kantor. Tidak sepadan dengan keluarga kita" Bagas mengepalkan tangan mendengar perkataan sang Papa.
"Tidak, Bagas tidak mau. Kenapa Papa melihat seseorang dari derajat keluarganya? kenapa Papa tidak pernah melihat seseorang dari hatinya yang tulus?" ucapan Bagas dengan nafas memburu setelah mendengar perkataan sang Papa.
"Jika kau tidak mau menjauhinya, Papa yang akan membuat kau menjauhinya" Ucapan sang Papa membuatnya naik darah. Ia beranjak pergi meninggalkan sang Papa dengan amarah yang tertahan. Menghampiri sang wanita dan menariknya keluar rumah.
"Hei, tidak sopan sekali bocah satu ini" protes sang Mama karena menarik paksa perempuan cantik di sebelahnya tadi
"Kenapa dengannya?" tanya Rahayu sang Nenek, melihat cucu nya seperti itu ia penasaran apa yang terjadi dengan Papa nya tadi.
"Mas, mas, sakittt" ucap Mela ketika sudah di luar rumah, Bagas yang menyadari itu menatap Mela dan melepaskan cekalan tangan nya. Ia memeluk erat Melati, seolah-olah tak ingin berpisah.
"Mas kenapa?" Tanya Mela, namun tidak ada jawaban dari Bagas. ia membiarkan Bagas tenang terlebih dahulu, setelahnya itu ia akan bertanya.
Lama sudah ia memeluk kekasihnya, kini ia sudah merasa lebih baik dan tenang. Memeluk orang yang di sayangi nya membuatnya jauh lebih tenang.
"Maaf telah melukai kamu" Ucapnya melepas pelukannya, menatap wanita cantik di depannya
"Iya mas" ucap Mela tersenyum
"Kita pulang" mendengar perkataan Bagas, ia hanya mengangguk. Ia tak mau banyak tanya, ia takut membuat mood Bagas semakin parah.
Hanya keheningan yang tersisa di dalam mobil. Mengingat perkataan sang Papa membuat emosi nya semakin membara.
Ya, Bagas tidak tahu jika Melati anak dari keluarga berada. Ayah nya mempunyai Perusahaan Furniture yang besar bahkan sangat sukses, mempunyai cabang perusahaan di Malaysia. Meskipun sang Ayah mempunyai Perusahaan sendiri, namun Mela ingin berusaha mandiri. Bukan berarti ia tak mau bekerja dan meneruskan Perusahaan sang Papa, namun ia ingi membuktikan bahwa ia bisa mandiri dan membuka usaha bisnis sendiri kelak. Ia ingin membuat kedua orang tua nya bangga padanya.
Bagas menggenggam erat tangan wanita di sampingnya, dengan satu tangan menyetir. Melihat tingak Bagas yang menurut nya aneh, ia penasaran apa yang terjadi.
"Aku laperrr" ucapnya pada sang kekasih, mencoba memecah keheningan diantara mereka. Ya, Mela belum makan apapun selama di rumah Bagas.
"Baiklah tuan Putri, mau makan di mana?" sahutnya dengan penuh kasih sayang, mengacak pelan rambut Mela
"Nasgor di pinggir jalan aja mas" pintanya, Bagas mengangguk tersenyum
****
***Bagas Pov***
Mengingat perkataan Papa membuatku naik pitam, namun aku mencoba menahan amarahku. Aku tak mau wanita yang ku cintai banyak memikirkan hal yang ku pikirkan. Aku tak mau berpisah dengan nya, bahkan aku berencana ingin melamar nya dalam waktu terdekat ini. Namun perkataan Papa membuatku ingin marah.
"Aku laperrr" perkataan Mela membuatku merasa bersalah, aku melupakan keberadaan nya karena sibuk dengan segala pikiran.
"Baiklah tuan Putri, mau makan di mana?" tanyaku, ku acak rambutnya pelan
"Nasgor di pinggir jalan aja mas" pinta nya, aku mengangguk.
Ya, aku sangat menyayangi nya. Dia wanita yang berbeda dari wanita lain, dia tidak pernah meminta ku ini itu, dia wanita mandiri.
Setelah makan dan ku antarkan dia pulang, aku tak bergegas pulang. Aku melajukan mobil ku menuju Cafe, aku ingin menenangkan diri, memikirkan apa yang harus ku lakukan. Tak lama aku pun sampai di Cafe.
"Woyy, kenapa lu. Muka kusut banget bos, ada masalah?" Baru saja ku langkahkan kaki di Cafe, ucapan Dika menyambut kedatangan ku.
"Hmmm" ucapku berlalu meninggalkan nya yang berdiri mematung