
***Author Pov***
Sinar matahari menyelinap melalui jendela kamar. Terlihat seorang gadis cantik tengah mamakai sepatu sport, dengan pakaian training bersiap untuk menyapa embun pagi hari. Ya, hari ini Minggu. Mela bangun lebih awal ingin berlari mengitari kompleks dengan Davin. Mencari keringat di pagi hari agar tubuhnya tetap segar bugar.
"Susunya di minum dulu kak, dek" Ucap sang bunda melihat Putra Putrinya turun dari tangga
"Iya Bun" ucap serentak dan segera menghabiskan susu yang di buatkan Bunda tercinta. Setelah itu ia bergegas keluar berolahraga.
1 Jam sudah mereka berdua berolahraga, berhenti di taman sebelah kompleks sembari menyelonjorkan kaki.
"Kak, aku cari minum dulu ya" pamit Davin dan berlalu pergi. Sedangkan Melati merenggangkan otot-ototnya, mengelap keringat yang bercucuran. Tak lama ada seorang laki-laki menghampirinya yang tengah duduk
"Hai" sapanya, membuat sang empu mendongak menatap siapa yang datang
"Hai, sendirian aja lo?" tanyanya kala melihat siapa yang datang. Dia Adit
"Sama temen" Ucapnya salah tingkah
"Masa sih sama temen" sahut Mela menggoda sahabatnya karena terlihat salah tingkah
"I..iya kok" ucapnya dengan nada kikuk menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Mela tertawa dibuatnya karena tingkah konyolnya itu. Adit hanya diam melihat Mela yang tertawa mengejeknya. Ya, Adit mulai melupakan Mela untuk menjadi miliknya. Karena itu tak akan terjadi, Mela sudah menganggapnya sebagai sahabat baiknya tak lebih. Tak lama seorang perempuan manis datang dengan nafas ngos-ngosan, membuat Mela dan Adit menatapnya. Mela mengerutkan kening, namun melihatnya terlihat senyum ke arah Adit ia jadi tahu siapa perempuan itu.
"Hai, Imel" sapanya mengulurkan tangan pada Mela dengan senyum manis
"Hai, aku Mela" menjabat tangan Imel. Sedangkan Adit hanya tersenyum melihat sahabatnya akrab dengan Imel, kekasih barunya
"Sejak kapan? kok ga bilang si" tanya Mela dengan muka yang dibuat cemberut seolah-olah sedang marah dengan temannya karena tak memberitahunya
"Ah itu....baru 2 Minggu ini" ucap Adit. Lama mereka berbincang meskipun baru mengenal Imel, namun Mela type sosok perempuan yang mudah sekali bergaul dengan siapapun. Tak lama Davin datang membawa dua botol minuman dan menyodorkan pada kakaknya.
"Bang Adit" sapanya pada Adit
"Hai kak" sapanya pada perempuan di samping Adit. Namun yang di sapa hanya tersenyum ramah
Dering ponsel berbunyi di atas nakas saat Mela mengeringkan rambut. Terlihat sebuah nama "Sari" di layar, ia segera mengangkat telvon sahabatnya itu
"Melaaaa, ke Cafe yukkk" ajaknya dengan suara cemprengnya, membuat sang empu menjauhkan telpon dari telinganya
"Jam berapa?" tanya Mela
"Sekarang, aku mau otw jemput kamau sama Ratna. Siap-siap ya. byeeee" ucapnya menutup telepon. Terlihat Melati bernjak ke lemari baju untuk memilih pakaian yang akan ia kenakan.
20 menit ia berkutat di depan cermin. Ia memutuskan memakai baju lengan pendek dengan rok diatas lutut, rambutnya di kunci kuda dengan polesan sedikit make up membuatnya terlihat seperti umur 13tahun.
Terdengar suara klakson mobil di luar rumah, ia yakin itu kedua temannya. Ia mengambil tasnya dan segera turun ke bawah berpamitan pada orang tuanya.
"Yah, Bun, aku mau keluar sama Sari dan Ratna" pamitnya pada kedua orang tuanya yang asih nonton tv
"Iya, hati-hati sayang" ucap sang Bunda. Ia pun berlalu keluar rumah
Mereka bertiga pergi ke Cafe xxxx. Sesampainya disana ia bertemu atasannya Bagas, dengan perempuan cantik yang menggandeng seorang anak kecil yang menggemaskan.
"Eh itu kan Pak Bagas bukan si?" Ucap Sari
"Eh iya sama anak kecil, apa Pak Bagas udah nikah ya" sahut Ratna. Mela hanya diam menatap Bagas, entahlah ada rasa tidak rela
"Astaga kenapa aku ini" batinnya
****
Hari weekend ini Kak Farah pulang ke rumah Mama Papa tanpa kak Faris suaminya. Terlihat bocah kecil berlari ke arah Papa dan Mama, bocah kecil yang banyak bicara.
"Omaa, opaa" teriaknya berlari ke arah Papa dan Mama
" eh cucu Oma" ucap Mama menarik Putri ke pangkuannya
"Gas, mau kemana kamu?" tanya kak Farah. Ya, hari ini aku mau mengunjungi Cafe.
"Cafe kak" jawabku
"Kebetulan nih kakak laper, tadi ngga masak hehe" huh, pasti dia mau ikut ke Cafe. Ku putar bola mata jengah, berpamitan pada kedua orang tuaku dan melangkah berjalan keluar rumah diikuti Kak Farah dan Putri.
"Gas" Panggil Dika, tangan kananku dan juga sahabatku. Aku menghampirinya, sedang kak Farah memilih makanan yang ia pesan. Orang itu selalu saja mau yang gratis
"Gimana Cafe?" tanyaku
"Aman terkendali, banyak kemajuan juga. Siapa dulu dong" Ucapnya bangga, ku putar bola mata malas. Ku lihat setiap inci tempat ini, tak sengaja ku menemukan sosok perempuan cantik tengah tertawa bersama temannya. Rambut yang di kuncir membuatnya semakin cantik di mataku. Seolah tak sadar garis bibirmu tertarik ke atas membentuk senyuman, ku abaikan Dika di depanku
"Gas" panggilnya tapi ku hiraukan
"Woe Gas, kesambet lo ya" ucapnya sontak membuatku menatap tajam kearahnya
"Sembarang kalau ngomong" sahutku tak terima
"Ya abisnya lo di ajak bicara ngelamun sambil senyum-senyum, kan gue khawatir" Ucapnya a membuatku mencebikkan bibir. Ku seruput Kopi di depanku dan tetap fokus menatapnya.
Ntahlah, aku merasa tak bosan sama sekali melihatnya. Ingin segera ku ungkapkan rasa yang selama ini ku pendam. Berharap ia melihatju dan memberikan senyum cantiknya, namun sepertinya mustahil. Dia terlalu sibuk dengan teman-temannya
30 menit berlalu Putri datang menghampiriku, merengek duduk di pangkuanku. Astaga anak ini benar-benar membuatku kesal, namun tidak. Tingkahnya yang lucu dan menggemaskan membuatku tak bisa marah dengan princess kecil di depanku.
"Om Dika om Dika" ocehanya memanggil Dika
"Ada apa princess kecil" ucap Dika, ia memang senang sekali memanggil Putri dengan sebutan Princess kecil
"Om Dika main ke lumah Putli dong" celotehnya
"Hahaha baiklah Om akan main ke rumah Putri" godanya. Ku biarkan saja dia berceloteh dengan Dika, benar-benar membosankan.
****
***Melati Pov***
Hari ini Sari dan Ratna mengajakku pergi ke Cafe, ku iyakan ajakan mereka. Ku bersiap di depan cermin sembari menunggu kedua temanku datang menjemput. Tak lama mereka sampai
Baru selangkah ku memasuki Cafe, ku tangkap sosok yang ku kenal dengan seorang wanita cantik menggandeng anak kecil di sampingnya. Dia Pak Bagas.
"Eh itu kan Pak Bagas bukan si?" Ucap Sari menunjuk ke arah pak Bagas
"Eh iya sama anak kecil, apa Pak Bagas udah nikah ya" sahut Ratna.
Aku hanya diam menatapnya, entahlah ada rasa tidak rela melihatnya dengan wanita lain
"Astaga kenapa aku ini" batinnku