You're The Last

You're The Last
Eps. 18


****


***Author Pov***


Melihat kedatangan Bagas membuat nya bangkit dari duduk nya dan beralih duduk di sofa. Ia iri melihat keromantisan Bagas pada mantan kekasih nya itu. Bahkan waktu masih bersama Adlan, Mela tak pernah bisa sebahagia itu. Cukup lama ia melihat keromantisan dua sejoli di depan nya, ia pun bangkit dari duduk nya.


"Ekhemm" Adlan berdehem, membuat Mela dan Bagas menatap nya


"Aku pamit pulang dulu" pamit Adlan pada mereka


"Iya, hati-hati Lan" ucap Mela dengan senyum manis


"Terima kasih" ucap Bagas pada Adlan dengan tulus, Adlan mengangguk dan beranjak melangkahkan kaki ke luar.


Kini hanya mereka berdua di dalam kamar pasien. Mela berceloteh dengan wajah ceria, menceritakan segala hal yang membuat nya tidak canggung. Bagas bahagia bisa melihat Mela kembali ceria.


"Mau tidur ?" tanya Bagas kala melihat Mela menguap


"Iya mas, aku ngantuk" jawab nya


"Yaudah kamu tidur gih" Bagas membantu merebahkan tubuh Mela, menyelimuti hingga dada nya


"Selamat tidur wanita ku" ucap Bagas mencium kening nya, menatap wajah damai sang kekasih kala tidur.


"Aku berharap bisa seperti ini selamanya" gumam nya mencium tangan wanita di depan nya.


Ia terlelap di samping Melati. Tak ada niatan untuk pulang, ia ingin menjaga Melati sampai benar-benar sembuh.


****


Bagas merenggangkan otot-otot tubuhnya yang terasa sakit. Ya, sebelum nya Bagas memang tidak pernah tidur dengan posisi duduk. Namun demi wanita yang di cintai nya ia rela menjaga nya bahkan meskipun rasa pegal menjalar di tubuh. Ia mencium puncak kepala Mela yang masih tertidur dengan damai, beranjak pergi ke kamar mandi untuk cuci muka.


Hari ini ia berniat tidak pergi ke kantor, ia mengeluarkan ponsel dan menghubungi sekretaris nya.


"Halloo" sapa nya


".........."


"Hmm, kosongkan semua jadwal hari ini. Saya sedang sibuk dan tidak ke kantor"


"........"


Mendengar jawaban Sekretaris nya, ia langsung mematikan telpon nya dan beranjak keluar untuk mencari makan.


****


Di kantin Rumah Sakit


Bagas duduk sendiri dengan secangkir kopi di depan nya, dengan tangan memainkan ponselnya.


"Bagas" sapa seseorang membuat sang empu mengalihkan pandangan nya


"Rio" sahut Bagas berdiri memeluk Rio. Ya, Rio adalah teman Bagas sewaktu SMK, sama hal nya dengan Adit. Namun mereka berpisah karena Rio kuliah di bidang Kedokteran, namun siapa sangka mereka bertemu kembali dengan sahabat nya dulu.


"Gimana kabar lo" tanya Rio membuka pembicaraan


"Baik, lo gimana?"


"Baik juga. Ngomong-ngomong siapa yang sakit?"


"Kekasih gue sakit" ucap nya tersenyum


"Demi apa, seorang Bagas mempunyai kekasih? widiiihh, hebat banget perempuan itu mampu mengambil hati seorang Bagas yang dingin" ucap Rio bertepuk tangan, karena memang sejak dulu Bagas terkenal dingin terhadap perempuan. Mendengar perkataan Rio, Bagas hanya tersenyum.


"Pasti dia wanita yang spesial" tebak Rio


"Ya, dia wanita yang sangat spesial. Bahkan saking spesial nya dia, gue gak mau kehilangan dia" ucap Bagas menerawang ke depan


"Buruan Halalin dia bro, keburu di ambil orang nanti" Rio menepuk bahu sahabtnya seolah mendukung penuh, namun Bagas hanya tersenyum kecut. Rio tidak tahu apa yang sudah terjadi dalam hubungan nya.


"Selamat pagi sayang" sapa Bagas melihat Mela yang sudah terbangun


"Pagiii" sahut Mela dengan senyum manis


"Sarapan dulu ya"


"Iya, tapi suapin" manjaa Melati membuat Bagas gemass


"Baiklah tuan Putri,mari kita makan" menyuapkan sesendok bubur ke mulut Melati. Suapan demi suapan telah masuk ke dalam mulut Melati, tak lama Arum dan Andi datang.


"Assalamualaikum" ucap Arum


"Wa'alaikumsalam Bunda, Ayah"


"Wa'alaikumsalam Om, Tante" sahut Bagas mencium kedua tangan orang tua Mela.


"Makasih ya nak Bagas sudah menjaga Melati" ucap Bunda Arum tulus


"Sama-sama Tante, apapun akan saya lakukan untuk Mela" mendengar perkataan Bagas, Mela tersenyum getir. Akan kah bisa seperti ini terus selama nya?


****


Siang ini Bagas pulang terlebih dahulu untuk mengganti pakaian. Baru saja ia melangkah masuk ke dalam rumah, sudah ada Selly dan kedua orang tua nya di sana.


"Dari mana saja kamu Bagas" Ucap Yudha, namun Bagas menghiraukan nya. Ia tetap berjalan menaiki tangga


"Bagas" Gertak Yudha, membuat Bagas mengentikan langkah nya


"Cepat mandi dan turun" titah sang Papa. Bagas melengos menuju kamar nya.


"Anak itu benar-benar" desah Yudha melihat sikap anak nya yang semakin kurang ajar pada nya. Jangan salahkan Bagas, namun Yudha lah yang membuat Bagas menjadi pembangkang.


Bagas segera membersihkan tubuh nya, mengganti pakaian yang lebih santai dan setelah nya kembali ke Rumah Sakit. Ya, Bagas memang berniat pulang hanya untuk mengganti pakaian.


"Bagas, kamu fitting baju sama Selly ya nak" ucap Ayu memasuki kamar putra nya


"Bagas tidak bisa Ma, Bagas ada urusan" sahut Bagas


"Tapi nak, kasihan nak Selly sudah menunggu mu dari tadi" Arum mencoba membujuk Bagas agar mau fitting baju pernikahan mereka.


"Mahh, jangan paksa Bagas untuk menikah dengan nya" Bagas menatap mata teduh Mama nya, seolah memohon agar tidak memaksa nya lagi.


"Bagas pergi dulu" ucap nya mencium pipi sang Mama dan berlalu pergi. Ia tidak memperdulikan Papa nya di ruang tamu dengan Selly.


"Bagasss" gertak Papa nya, namun Bagas tetap berjalan ke luar rumah menuju mobil nya.


"Bagas,heii mau kemana" Farah turun dari mobil nya bersama suami dan anak nya. Tapi Bagas tidak memperdulikan panggilan sang Kakak


"Huhhh, astaga kenapa anak itu" Farah menggelengkan kepala atas sikap Adik nya


20 menit sudah ia sampai di Rumah Sakit. Ia bahagia karena hari ini Melati sudah bisa pulang ke rumah.


*****


Di kediaman Wijaya


Setelah melihat sikap Adik nya yang berbeda, Farah mencoba bertanya pada sang Mama yang berada di Dapur. Selly? sudah pulang setelah Bagas pergi meninggalkan nya .


"Maah, Bagas kenapa sikap nya aneh?" sontak Ayu menghentikan aktifitasnya, membuang nafas gusar.


"Adikmu di jodohkan sama Papa mu. Kau tahu sendiri jika Bagas sudah mempunyai kekasih, ia enggan dan tidak mau kehilangan kekasih nya itu. Mama juga tidak ingin Bagas seperti ini, tapi kau tahu kan kalau Papa mu selalu memandang orang rendah jika hanya sebatas karyawan dan Atasan?" jelas Ayu memijat pelipisnya


"Kenapa Papa tidak berubah sama sekali. Padahal aku sangat menyukai wanita itu, dia baik dan penyayang" sahut Farah


"Aku yang akan bicara pada Papa" putus nya. Ia hanya ingin adik nya bahagia tanpa tertekan seperti ini, adik nya berhak bahagia dengan wanita yang di cintai nya.