You're The Last

You're The Last
Eps. 12


Aku memutuskan ke ruangan ku, duduk telentang. Tak lama ku dengar derap kaki menuju ruangan ku, aku yakin pasti Dika. Dia selalu ada saat aku sedang dalam keadaan tak baik.


"Lo kenapa" tanya nya padaku dan mendarat kan pantatnya duduk di sebelah ku. Aku hanya diam, mengingat nya membuat ku pusing


"Aku ingin sebotol minuman" pintaku dengan mata terpejam


"Lo gila"


"Pesanin gue sekarang, gue lagi butuh minuman itu" pintaku, lagi lagi Dika menolak mentah permintaan ku


"Jangan harap gue mau pesanin. Gue gak bakal biarin Lo minum lagi meskipun keadaan lo gak baik-baik aja" ucap Dika dan beranjak keluar meninggalkan gue.


Ya, Dika sangat tidak ingin gue minum-minum lagi. Ku pejamkan mata dan tertidur di atas sofa.


****


***Author Pov***


Seorang wanita cantik berdiri di depan cermin, merapikan baju kerja nya dan bersiap turun ke bawah untuk sarapan.


"Pagi Yah, Bun" sapanya pada kedua orang tua nya yang sudah duduk di meja makan


"Pagi nak" sahut kedua orang tua nya


Ia mulai mengambil makanan.


"Kak, besok Ayah ke luar kota. Ada pertemuan bisnis di sana" ucap sang Ayah


"Bunda ikut?" tanya nya


"Iya Bunda ikut, kan Bunda harus selalu berada di samping Ayah setiap saat" ucap Ayahnya menggoda sang istri.


"Ayahh, udah tua juga. Malu di dengar anak-anak" protes sang istri membuat ke dua anaknya tertawa melihat ekspresi sang Bunda yang malu.


"Ayah sama Bunda ih, masih pagi tau" ucap Melati


"Oh ya Vin, kamu di rumah baik-baik sama Kakak mu. Jangan bandel" petuah nya pada sang pangeran kecil di depannya


"Siap Yah" ucap sang anak mengacungkan jempol. Mereka melanjutkan makan dengan tenang, hanya dentingan sendok yang terdengar.


Pukul 06:45 Mela sudah sampai di kantor.


"Hai sayangkuuu" sapa Sari dengan suara cempreng


"Pagi Sari" sindir Melati dengan tersenyum


"Hehe, pagi cintaku" Ucapnya dengan cengengesan


"Gimana kencan nya kemarin sama Pak Bagas?" Pertanyaan yang ia lontarkan membuat nya mengingat Bagas. Ia belum melihat Bagas berangkat, ia juga tidak menghubungi Melati sejak kemarin malam.


"Ya begitulah" jawab nya dengan malas, membuat sahabatnya mencebikkan bibir


"Tuh kan, aku kan penasaran" protes nya membuat Mela memutar bola mata malas. Sahabat nya yang satu ini memang sangat kepo.


Bagas mengerjapkan mata pelan, menatap jam dinding menunjukkan pukul 08:00. Ia beranjak ke kamar mandi membersihkan diri, ia telat datang ke kantor. 25 menit sudah ia berkutat di kamar mandi, ia mengambil kunci mobil dan beranjak pergi ke kantor.


"Ra, nanti kalau Dika nyari saya, bilang saja saya ke kantor" petuahnya pada karyawan yang bernama Rara.


"Baik Pak" Bagas berlalu keluar dari Cafe


20 menit sudah kini ia sudah sampai di kantor. Berjalan penuh wibawa, dengan rahang tegas. Ia melihat meja Mela, terlihat seseorang dengan serius berkutat dengan lembaran kertas di depannya. Ia berjalan ke ruangannya dengan senyum mengembang melihat sang kekasih. Ia tak mau memikirkan masalah kemarin malam dengan Papa nya, ia pun mengeluarkan ponselnya. Terlihat 30 panggilan tak terjawab dari sang Mama, 10 panggilan dari kakak nya. Ia tahu, Mamanya pasti sangat khawatir dan mebcari nya karena ia tidak pulang. Bukannya menghubungi Mama nya kembali, ia malah memasukkan ponsel nya ke dalam saku


Jam kerja sudah berakhir, ia keluar ruangan dan mencari keberadaan sang kekasih hati nya yang sangat ia cintai.


"Ah itu dia" ucapnya pada diri sendiri kala melihat wanita yang di cintai tengah membereskan pekerjaan nya


"Ti..tidak Pak. Hari ini saya membawa mobil" tolak nya halus


"Tidak ada penolakan. Biar nanti mobil kamu di bawa pak Parjo" mendengar ucapan Bagas, ia hanya mengangguk pasrah. Menolak nya juga tidak mungkin, karena laki-laki itu pasti memaksa nya


Sepanjang perjalanan Mela membuang wajah ke luar jendela, diam tanpa kata. Mengingat kejadian tadi membuat nya ingin menangis, namun ia tak mungkin menangis di depan Bagas. Ia tak mau terjadi perselisihan antara anak dan sang Ayah.


Ya, tadi Papa Bagas datang ke kantor.


**Flashback**


Di kantor


"Mel, di suruh ke ruangan Pak Yudha" ucap Meri teman sekantor nya. Ia pun beranjak pergi ke ruangan Pak Yudha. Sebenarnya dia bingung untuk apa Pak Yudha menyuruhnya datang ke ruangannya. Baru kali ia ke ruangan Pemilik Perusahaan ini. Ia mengetuk pintu dengan pelan


"Permisi pak, apa Bapak mencari saya?" tanya Mela, namun yang di ajak bicara masih setia menatap ke luar jendela dan membelakangi nya.


"Ya" ucap nya memutar badan menghadap Mela


Deggg!!!


"Pak Yudha? Papa nya Pak Bagas?" melontarkan pertanyaan pada orang di depannya. Hanya tatapan tajam yang di berikan Yudha


"Jauh i Bagas" ucapan Yudha membuat dunia nya terhenti


"Dia sudah saya jodohkan, kamu tahu? kamu hanya bawahan Bagas. Tidak pantas seorang bawahan dengan atasan"


Tes!! sebulir air mata jatuh dari pertahanannya mendengar perkataan orang di depan nya


"Baik, saya akan jauh i Pak Bagas" ucap nya menyeka air mata di pipinya


"Saya permisi" pamit nya keluar. Berlari ke kamar mandi, menumpahkan tangisan yang ia tahan.


"Kenapa haru begini?" Isak nya di depan kaca


10 menit ia berada di kamar mandi, menenangkan diri sejenak


**Flashback off**


"Kamu kenapa hmm?" tanya Bagas melihat wanita di sampingnya diam sedari tadi.


"Aku gapapa kok" ucap Mela mencoba tersenyum


"Mau makan dulu?" tawar nya


"Tidak, langsung pulang saja" Bagas mengangguk paham


****


Setelah Bagas pulang, tangis nya pecah. Ia berlari ke dalam rumah dengan penuh kehancuran.


"Apa hubungan ku dengan Pak Bagas akan berakhir secepat ini?" ucapnya pada diri sendiri. Ia tidak mau hubungan nya berakhir untuk yang ke dua kali nya. Ia sudah melabuhkan hati nya pada Bagas, susah payah ia membuka hati kembali, susah payah ia melupakan masa lalu dan harus kah berakhir karena tidak ada restu dari orang tua nya?


"Kak" panggil Davin di ambang pintu. Mendengar suara isakan tangis dari kamar sang kakak, ia memutuskan untuk ke kamar Mela.


"Kakak kenapa?" tanya Davin menghampiri kakak nya yang terduduk di lantai kamar


"Kakak gapapa" ucapnya bohong


"Kakak jangan bohong, Davin udah gede. Kakak bisa cerita ke Davin" ucapnya pada sang Kakak dengan bijak.


Mela tersenyum mendengar perkataan adik nya. Meskipun adik nya sudah SMA, namun ia menganggap Davin tetap lah adik kecil nya.