
****
"Mel, kamu tunggu kakak di sini dulu ya. Kakak ada urusan bentar, kalau kamu bosan bisa ke taman" ucap nya pada Mela sebelum meninggalkan Mela di ruangan nya
"Iya kak" sahut nya
1 jam sudah ia berada di ruangan Arka sendiri. Seorang perempuan datang masuk ke ruangan Arka
"Permisi, Dokter Arka nya mana?" tanya nya
"Astagaa, perempuan ini tidak sopan sekali. Masuk tanpa mengetuk pintu" batin nya menatap perempuan itu dari ujung kepala sampai kaki
"Tidak ada" sahut Mela. Tanpa sepatah kata perempuan itu pergi meninggalkan ruangan Arka
"Dasar angkuh" ucap nya
"Huh, bosan sekali" ia berdiri dari duduk nya, berniat keluar mencari udara segar. Menunggu Arka ternyata sangat lah lama.
Kini ia berada di taman Rumah Sakit untuk mencari udara segar. Mengedarkan pandangannya ke segala arah, menangkap sosok laki-laki tampan yang duduk dengan bocah kecil manis dengan jas putih. Seulas senyum tipis tercetak di bibir manisnya. Ya, mungkin Dokter itu sedang dengan anak nya.
Ia duduk di bangku taman, sekilas bayangan sosok yang selama ini ia cintai melintas.
"Bagaimana kabarmu mas, apa kamu sudah menikah?" gumam nya, tanpa sadar air mata jatuh membasahi pipi mulus nya.
Ia mengingat kebersamaan-kebersamaan dengan Bagas. Dering ponsel membuyarkan lamunan nya.
"Halloo" sapa nya pada orang di seberang
"......."
"Lagi di taman"
"......."
"Iya, aku kesana sekarang"
Ia mengakhiri perbincangan di telpon dan beranjak pergi. Ya, Arka telah menelepon nya, menanyakan keberadaan nya saat ini.
"Aku laper kakk" ucap nya manjaa pada Arka, membuat Arka tersenyum melihat tingkah adik sepupu nya itu. Meski usia nya sudah 22 tahun, tapi sikap manja nya tidak hilang sama sekali.
"Baiklah tuan Putri, kita pergi makan" ucap nya tak kalah lembut. Arka sangat menyayangi Melati seperti adik kandung nya sendiri. Itu karena mereka sudah bersama sejak kecil. Mereka berdua keluar dari ruangan dengan bergandeng tangan.
Seorang laki-laki tampan dengan jas rapi menghampiri meja Arka dan Melati.
"Hai broo" sapa pria itu
"Hai Ben" ucap Arka, sedangkan Melati hanya menatap kedua pria itu dan melanjutkan makan.
Beni mengambil kursi dan duduk di antara Mela dan Arka.
"Udah lama lo?" tanya Beni basa-basi
"Lumayan, oh ya kenalin ini Melati sepupu gue" ucap Arka memperkenalkan Melati pada Beni, sontak Melati menatap pria di depan nya dengan senyum tipis
"Hai, Beni" Beni mengulurkan tangan memperkenalkan diri.
"Melati" perempuan itu menerima uluran tangan dari pria di samping Kakak sepupu nya itu.
"Cantik" batin Beni, menyunggingkan senyum setipis mungkin
Arka adalah seorang pengusaha properti, usia nya 26 tahun. Tampan dan juga baik, banyak kaum hawa yang ingin menjadikan diri nya kekasih.
"Jadi sepupu gue lagi nyari kerja di sini. Kira-kira lo ada lowongan nggak buat adik gue yang cantik ini" ucap Arka sembari menggoda Melati, membuat sang empu melototkan mata tajam menatap nya.
"Ada" sahut nya santai
"Serius an lo?" tanya Arka memastikan
"Iya Ar" sahut nya membuat kedua sepupu itu tersenyum
"Besok kamu datang ke kantor" menyodorkan kartu nama pada Melati, dengan senang hati ia menerima nya
****
Seorang wanita datang masuk ke dalam kamar sang adik, melihat kondisi adik nya yang akhir-akhir ini mengkhawatirkan dan sangat berantakan, membuat nya tak bisa tidur. Ia berjalan menghampiri laki-laki yang tidur dengan tengkurap.
"Kenapa kamu jadi seperti ini Gas" ucap nya duduk di sebelah nya dan mengelus rambut dengan penuh sayang. Setetes air mata jatuh dari pertahanan nya.
"Kamu tahu, sejak kecil Kakak selalu mengalah. Kakak selalu ingin melihat kamu bahagia, tapi sekarang apa?" ucap nya menahan Isak tangis.
Ya, Farah sangat menyayangi adik laki-laki nya itu. Baginya kebahagiaan adik nya lah yang utama.
****
"Besok kita kesana mau?" tawar nya membuat sang empu menoleh, dengan senang hati ia mengangguk cepat. Melihat respon kekasih nya itu membuat dia sangat bahagia.
"Tapi aku takut dia marah" ucap nya kemudian dan menunduk
"Kamu tahu kan gimana sifat Melati?"
"Dia perempuan yang baik, dan lembut. Ga mungkin dia masih marah, apalagi menyimpan dendam" tutur Adlan, membuat hati Sarah sedikit cemburu. Ya, ia selalu cemburu jika Adlan memuji temannya. Namun tak bisa di pungkiri, Melati memang sosok perempuan yang cantik dan baik. Ia sangat menyesal telah menghianatinya dulu, jika ia tidak mengkhianati nya, mungkin pertemanan mereka akan baik-baik saja sampai saat ini.
****
Dering ponsel berbunyi, dengan cepat ia mengambil dan mengangkatnya.
"Melatiiiiiiii, rinduuu" ucap Sari manjaaa, membuat Mela terbahak. Ya, Sari dan Ratna sengaja video call Melati karena ingin melihat nya.
^^^^^^"Aku juga rindu kalian" ^^^^^^
"Kenapa ga bilang?" tanya Ratna seolah menghakim i sahabat nya itu.
^^^^^^"Kalian tahu?" tanya Melati^^^^^^
"Ya, kita tahu"
Mendengar jawaban dari sahabat nya membuat nya diam.
"Mel" ucap Sari karena Mela tak kunjung menjawab
^^^..."Aku mohon sama kalian, jangan katakan ini pada siapapun" ucap nya menunduk...^^^
"Hfttt, baiklah" ucap Ratna kemudian
"Gue kasihan lihat Pak Bagas, dia jarang masuk ke kantor" ucap Sari membuat Mela mendongakkan kepala seolah meminta penjelasan
"Yang gue denger, dia sering mabok sekarang. Menyedihkan sekali"
^^^"Kalian serius?" ^^^
"Iya, untuk apa kita bohong" sahut Ratna
^^^^^^"Gue tutup dulu telvon nya" ucap Melati mematikan telpon sepihak. ^^^^^^
Ia menangis mendengar kabar tentang Bagas, sejujurnya ia sangat merindukan Bagas. Bahkan sangat ingin bertemu, namun Mela sadar bahwa Bagas akan menikah dengan wanita pilihan orang tua nya.
****
***Melati Pov***
Aku berdiri di depan cermin, menatap penampilanku. Memoles sedikit make up dan lipstik. Ya, bersiap untuk datang ke Perusahaan Kak Beni.
"Selamat pagi Om, Tante, Kak" sapa ku kala sampai di meja makan.
"Selamat pagi sayang" sahut Tante Linda
"Pagi girl" sahut kak Arka
"Udah cantik aja keponakan Om" Ucapan Om Arif membuatku tersenyum
"Tuh driver nya sudah siap anterin" goda Om Arif pada sang Kak Arka
"Ganteng gini di bilang driver" sahut kak Arka tak terima, membuat semua orang yang berada di meja makan tertawa.
****
***Author Pov***
Sepanjang perjalanan menuju Perusahaan Pradipta Group di iringi canda tawa.
Kini mereka berdua sudah sampai di depan gedung tinggi nan megah, Pradipta Group.
"Yuk" ajak Arka pada Melati. Mereka berjalan dampingan masuk ke dalam kantor.
"Permisi, ruangan Pak Beni dimana?" tanya Arka menghampiri receptionis.
"Maaf, apa sebelum nya sudah ada janji?"
"Ya" sahut Arka