You're The Last

You're The Last
Eps. 05


Hanya keheningan di dalam mobil. Melihat sang adik yang terdiam tak seperti biasanya ia terheran.


"Kamu kenapa Gas, ada masalah kantor?" tanya Farah pada adiknya, mencoba membuka suara


"Tidak kak" ucapnya masih fokus menyetir, meski pada kenyataannya perasaannya sedang tak baik-baik saja. Ia seseorang yang tak mudah berbagi cerita, meskipun hanya dengan sang kakak.


"Cerita sama kakak, ga seperti biasanya kamu kayak gini" tak mau meyerah, Farah terus mendesak sang adik sampai mau cerita. Namun yang di dapat hanya hembusan nafas kasar dari sang adik, artinya Adiknya masih enggan untuk berbagi cerita. Ia pun mengalah dan tak ingin bertanya lagi karena akan membuat mood sang Adik semakin buruk


****


***Adlan Pov***


Malam ini sengaja aku mengajak Mela keluar. Aku merindukan masa-masa berdua dengannya. Aku ingin sedikit flashback tentang masalalu saat bersamanya. Aku tahu Mela pasti menolak ajakanku, tapi aku akan terus membujuknya. Dan ya akhirnya ia mau menerima ajakanku. Aku mengajaknya makan di Cafe yang dulu sering ku kunjungi dengan Mela. Banyak sekali kenangan di sana bersamanya, tak lama kami pun sudah berada di Cafe.


""Mau makan apa?" tawarku


"Biasanya" ucapnya singkat. Aku segera memesan makanan kesukaannya, aku masih ingat apa saja yang menjadi favorit Mela.


"Gimana kerjanya?" tanyaku basa-basi


"Baik" lagi dan lagi jawaban singkat yang cuek, namun aku tak berhenti berusaha membuat Mela memaafkanku. Aku akan berusaha dan berjuang mendapatkan Mela kembali.


"Inget gak dulu kita sering banget ke sini, kamu selalu meminta ice cream dan selalu habis 5 porsi" ucapku kala mengingat masa lalu yang lucu. Tanpa sadar dia tertawa


"Iya ingat" sahutnya dengan tertawa mengingatnya dulu. Rasanya bahagia melihat Mela tertawa seperti ini.


Sudah lama aku tak melihatnya tertawaan seperti ini. Sejak kejadian di masa lalu aku menghianatinya dengan teman baiknya, aku sudah tak pernah berjumpa dengannya. Ya, setelah putus hubungan dengannya aku pergi ke Jerman melanjutkan studi S2 disana dengan Sarah temannya.


Tak terasa sudah pukul 8 malam, lama sudah kami berbincang mengingat masa lalu yang lucu, meskipun ada rasa canggung sedikit. 2jam sudah berada di Cafe bersama orang tersayang, aku pun beranjak mengajaknya pulang. Ku gandeng dengan hangat tangan Mela, kutahu dia kaget. Namun aku hanya tersenyum dan terus menggandengnya keluar Cafe.


Setelah pergi bersama Mela dan mengantarkannya pulang, aku labgsu Batu bergegas pulang. Bahagia? ya, aku sangat bahagia bisa pergi berdua dengannya.


Baru saja ku rebahkan tubuh di kasur king size ku, dering ponselku bergetar. Tertera nama Sarah disana. Mantan kekasih ku dan juga temannya Mela, karenanya aku menghianati Melati. Dengan malas ku angkat tlvon darinya


"Ya?"


"......."


"Sudahlah aku mau tidur"


"............"


"Jangan macam-macam Sar" ucapku menggertak Sarah


"..........."


"Baiklah, besok ku jemput kau di Bandara"


Setelah berbincang di tlvon, aku memutuskan tidur


****


**Author Pov**


Pagi yang cerah, namun tak secerah semangat Bagas. Terasa redup tak ada sinar yang menyinari paginya, takak ada semangat sama sekali. Mengingat kemarin malam mihat orang yang di sukai ya secara diam ternyata sudah mempunyai kekasih, memikirkannya membuatnya seperti orang gila. Baru beberapa kali bertemu dan ia memikirkannya terus.


"Pagi mah pah" sapanya pada kedua orang yang sangat di sayanginya dan sangat berarti di hidupnya


"Pagi sayang" sahut sang Mama


"Pagi" sahut sang Papa


"Kak Farah kemana mah" tanyanya pada sang Mama karena tak melihat sang kakak


"Kakamu kemarin malam pulang di jemput sama abangmu" jelasnya membuat sang empu mengangguk paham


"Gimana Gas di kantor" tanya sang Papa


"Semuanya aman Pah, aman terkendali" ucapnya sembari mengunyah roti


"Sudah Papa bilang, kamu pasti bisa" puji sang Papa menepuk pundak sang anak bangga. Ia memang sangat yakin bahwa putranya itu mampu menghandle Perusahaan Pratama Group menjadi semakin Maju dan berkembang pesat.


30 menit kemudian Bagas sudah sampai di kantor. Melangkah masuk ke kantor dengan lihai dan sesekali menjawab sapaan para karyawan.


"Selamat pagi Pak" sapa seseorang yang suaranya ia kenal


"Pagi" ucapnya dingin dan berlalu masuk ke ruangannya


Duduk di kursi yang kini menjadi kekuasaannya, memijat pelipisnya.


"Kenapa aku bersikap dingin padanya" ucapnya monolog


"Aarrgghh" teriaknya frustasi


Ntah kenapa Bagas merasa sedih jika melihat Mela dengan lelaki lain. Dia memang menyukainya dalam diam, namun dia juga ingin memilih waktu yang tepat untuk mengatakan perasaannya. Namun semuanya sudah tak mungkin baginya kala mengingat Melati kemarin bersama laki-laki lain yang ia ketahui kekasihnya. Tapi lagi-lagi nama Melati mengganggu pikirannya terus, mengganggu segala konsentrasinya. Dan akhirnya ia memutuskan keluar kantor untuk pergi ke Cafe menenangkan pikirannya


Beda dengan Adlan, kini laki-laki itu tengah berada di Bandara Soekarno Hatta menunggu seseorang. Tak lama kemudian seseorang berjalan kearahnya dengan senyum manisnya yang ceria. Gadis manis dengan kulit putih, lesung pipi yang menambahnya semakin manis.


Memeluk sang laki-laki menyalurkan segala kerinduannya.


"Aku rindu" ucapnya dengan Isak tangis, Adlan membalas pelukannya. membelai lembut rambut lurus nya


"Udah jangan nangis, kita pergi" ucapnya melepas pelukan, menghapus air mata yang membasahi pipi sang gadis. Mendapat anggukan dari sang gadis, ia pun berjalan menggandeng tangannya menuju mobil. Ia tak langsung pulang, melainkan pergi ke Cafe dahulu. Berjalan beriringan, bergelayut manja di lengan sang pria membuat pengunjung cafe iri di buatnya


Bagas baru saja sampai di Cafe.


"Selamat pagi Pak" ucap pegawainya


"Pagi" sahutnya


Ia melangkah untuk pergi ke ruangan pribadinya, mengistirahatkan sejenak badan dan pikirannya.


1 jam sudah ia berada di Cafe, dirasa sudah lebih dari cukup ia pun beranjak keluar dari ruang pribadinya ingin kembali ke kantor. Namun belum sampai melangkah keluar Cafe, ia menangkap sosok orang yang ia kenal duduk mesra dengan seorang wanita di sampingnya. Orang yang sama bersama Mela kemarin.


"Siapa wanita itu, apa hubungannya" tanyanya pada diri sendiri. Melihat kedua sejoli duduk mesra dengan wanita yang bergelayut manja di lengannya membuatnya semakin curiga


"Dasar buaya" ucapnya berlalu keluar Cafe menuju mobilnya. Menancap pedal gas dengan kecepatan sedang menuju kantor. Kini ia sudah merasa lebih baik dari sebelumnya, mencoba melupakan nama yang terus menganggu pikirannya. Namun setelah melihat laki-laki itu bermesraan dengan wanita lain di Cafenya, ia mengurungkan niatnya untuk mundur dan melupakan Melati.


Ia akan berusaha dan berjuang untuk mendapatkan Melati dengan caranya. Melangkah keluar Cafe dengan senyum mengembang seolah mendapat semangat baru