You're The Last

You're The Last
Eps. 26


****


Kini Bagas bersiap untuk pergi ke kantor. Kantor yang ia biarkan beberapa hari terakhir karena ketidak fokusan dan memikirkan Melati. Kini ia ingin memulai bekerja kembali.


Melajukan mobil membelah jalanan kota J***** yang sangat padat kendaraan berlalu lalang. Ia sengaja tidak sarapan untuk menghindari Papa nya.


25 menit sudah kini ia sampai di kantor. Banyak sapaan hormat yang di berikan para karyawan kantor.


"Akhirnya Pak Bagas masuk juga"


"Eh Pak Bagas sudah kembali"


"Huh kasian Pak Bagas"


"Udah tunangan ya Pak Bagas"


Banyak bisikan-bisikan yang terlontar dari para karyawan kala melihat atasan nya kembali bekerja. Ya, mereka semua senang karena semuanya akan terkendali kembali.


**


Seorang Perempuan masuk ke ruangan Bagas, namun Bagas tak menggubris seolah tak melihat.


"Bagas" sapa nya, tapi Bagas masih setia dengan berkas di tangan nya


"Bagas ih, lihat aku dong" menggoyang-goyangkan lengan kekar Bagas


"Apa kau tidak lihat aku sedang sibuk ha?" bentak nya pada sang perempuan, membuat sang empu diam dengan mata berkaca-kaca.


Di liriknya sekilas perempuan itu.


"Ada apa kau kemari?" tanya nya kemudian tanpa menatap perempuan


"Mama nyuruh kita datang ke acara sepupu Mama nanti malam" ucap Selly


"Baiklah" jawab nya kemudian, membuat Selly senang


"Cup" satu ciuman mendarat di pipi Bagas, membuat Bagas melotot tajam ke arahnya. Ia hanya bisa menunduk


"Mau makan siang bersama?" tawar nya mencoba menjinakkan Bagas. 5 menit sudah Bagas belum menjawab, dan Selly tetap menunggu nya.


Bagas berdiri dari duduk nya, melangkah kan kaki untuk keluar, namun baru 2 langkah ia membuka suara.


"Apa kau tetap mau di situ sampai aku kembali?" tanya nya pada Selly dengan dingin


"Tidak" Selly segera berdiri dari duduk nya dan berjalan keluar bersama Bagas.


***


"Selamat siang Pak" Melati masuk ke ruangan Beni


"Siang"


"Hari ini pukul 14:00 ada meeting dengan klien di Cafe xxx" ucap nya memberitahu agenda meeting pada Beni


"Baiklah, sekarang sudah pukul 13:10, bersiaplah. Kita akan berangkat sekarang" titah nya pada Mela. Ya, Beni adalah sosok orang yang selalu tepat waktu dalam apapun.


"Baik Pak" sahut Mela membalikkan tubuhnya ke luar ruangan.


Mereka berdua kini sudah berada di Cafe xxx, tanpa di sadari klien mereka sudah menunggu nya.


"Selamat siang Pak" sapa Beni pada kliennya


"Siang Pak, silahkan duduk" mempersilahkan Beni duduk. Mereka memulai pembicaraan tentang Perusahaan. Melati? tentu saja ia sangat lihai menjelaskan tentang Perusahaan. Membuat Beni tersenyum kagum, begitupun sang klien.


"Sangat bagus" puji sang klien


"Terima kasih Pak" sahut Melati malu-malu


"Baiklah mari kita makan" Beni menbuka suara. Hening, hanya dentingan sendok yang terdengar merdu.


"Ekhem, ngomong-ngomong apa kau sudah menikah?" sang klien yang di ketahui bernama Pak Arham melontarkan pertanyaan pada Melati


"Ah belum Pak" jawab Melati se sopan mungkin, sedangkan Beni hanya diam tampak kesal dengan pertanyaan yang di lontarkan Pak Arham


"Usia mu berapa?" lagi


"22 tahun Pak"


"Waoww kebetulan sekali, anak saya usia nya 24 tahun. Boleh dong kalau kamu jadi menantu saya" ucap Arham, meskipun ia bercanda namun mampu membuat Beni ingin marah, ia mengepalkan tangan kesal.


"Apa-apaan dia" batin nya


"Ah Bapak bisa aja" sahut Melati malu


"Karena meeting sudah selesai, kamu mohon undur diri terlebih dulu" Beni berdiri dan berpamitan


Beni berjalan menggandeng tangan Melati.


"Emmm maaf Pak" ucap Melati, ia agak risih karena ini masih berada di jam kerja. Sontak Beni langsung melepas genggaman tangan nya


"Ah iya Maaf" ucap nya dan berjalan lebih dulu.


"Astaga apa-apaan gue ini" batin nya


***


Jam kerja berlalu, kini Melati menunggu taxi lewat. Ya, Melati masih di antar jemput oleh Arka. Namun karena ada pasien yang darurat, Arka tidak bisa menjemput nya. Jadilah ia kini harus pulang dengan taxi.


Sebuah mobil mewah berhenti di depan nya, membuka sedikit kaca agar terlihat.


"Mau pulang?" sapa nya pada perempuan yang masih setia berdiri


"Iya Pak"


"Masuklah, saya antar"


"Tidka perlu pak, saya naik taxi saja" tolak nya halus


"Tidak apa, masuklah" Beni terus memaksa, seolah ia memanfaatkan kesempatan untuk bersama Melati. Kare ucapan Beni yang kedua kali nya, Melati merasa tak enak. Kini ia masuk ke dalam mobil Beni.


"Apa kau mempunyai kekasih di Jakarta?" Beni melontarkan pertanyaan tiba-tiba, membuat Melati diam.


"Kenapa kau diam?"


"Tidak Pak" jawab nya membuang muka ke luar jendela. Ia nampak berkaca-kaca, mengingatnya membuat dirinya semakin rindu.


Beni melirik sekilas, ia tampak tidak enak karena telah melontarkan pertanyaan konyol menurutnya.


"Mau makan dulu?" ia mengalihkan pembicaraan


"Tidak pak, langsung pulang saja" tolak nya lembut.


"Baiklah"


Hanya keheningan yang menyelimuti dalam mobil. Mendapat pertanyaan dari Beni, seolah ia mengingatkan pada seseorang yang sangat ia cintai.


****


Makan malam tiba. Kini Bagas bersama kedua orang tua nya berada di meja makan.


"Pernikahan mu akan di gelar 1 bulan lagi" ucap Andi seketika. Bagas hanya diam, jika ia menyahut i ucapan sang Papa akan membuatnya semakin kesal.


"Apa tidak terlalu cepat Pa?" sahut Ayu, seolah ingin mengulur waktu pernikahan anak nya. Bukan. Ia hanya ingin suami nya berfikir lebih jernih lagi untuk menikahkan putra kesayangannya pada wanita yang tidak ia cintai


"Tidak, lebih cepat lebih baik" jawaban sang suami membuat nya diam.


Setelah makan malam Bagas memutuskan kembali ke kamarnya. Jenuh, itulah yang ia rasakan. Ia mengambil jacket dan kunci mobil, memutuskan untuk pergi ke Cafe. Ia mengeluarkan ponsel dari saku nya, menghubungi seseorang.


"Lo dimana?" tanya nya pada orang di seberang


"......"


"Gue ke Cafe sekarang"


".........."


Ia mematikan telpon dan melajukan pedal gas mobil.


Ia turun dari mobil dan berjalan masuk ke dalam Cafe.


"Selamat malam Pak" sapa seorang karyawan


"Hmm, dimana Pak Adit?" tanya nya pada karyawan tersebut


"Pak Adit sedang di dapur Pak" setelah mendapat penjelasan dari karyawan, ia berjalan ke dapur. Ya, Adit selalu begitu. Terkadang ia juga membantu para karyawan Cafe memasak atau menyiapkan pesanan para pelanggan.


"Dit" panggil nya pada seorang laki-laki yang sibuk dengan spatula di tangan nya


"Ya pak?" sahut nya


"Ikut gue" titah nya, Adit mengangguk dan memberikan tugas nya pada Karyawan dapur.


"Ada apa Pak?" tanya Adit sopan. Dia masih dalam jam kerja, jadi ia harus formal pada Bagas.


"Aelah, biasa aja jangan panggil Pak"


"Tapi ini masih di jam kerja Pak"


"Udah di luar jam kerja" ucap nya dan berjalan