
****
***Melati Pov***
Melihat Pak Yudha memperkenalkan calon menantu nya di depan semua orang, di depan mata ku sendiri, rasanya dunia ku hancur. Sakit, sesak melihat nya, hatiku benar-benar hancur. Orang yang sudah membuat hati ku luluh kini sudah di jodohkan dengan wanita lain.
Ku langkahkan kaki masuk ke dalam rumah dengan gontai.
"Sayang, udah pulang nak" Suara wanita yang ku kenal, ku edarkan pandangan mencari nya. Ya, Bunda
"Bundaaaa" ucapku menangis berlari memeluk bunda ku
"Heii, kenapa nangis hm?" tanya bundaku, semakin ku eratkan pelukan ku pada Bunda. Menyalurkan segala kesedihan yang ku rasakan.
"Gapapa Bun, Mela cuma kangen aja sama Bunda"
"Ekhemmm, Ayah nggak nih?" ku lepaskan pelukan pada Bunda, menghampiri Ayahku. Laki-laki pertama yang tidak akan pernah membuat ku merasakan sakit hati
"Ayahhhhh" ku eratkan pelukan.
"Mandi dulu sana, bau banget" ucap Ayah memegang hidung menggoda
"Ish Ayah" ku cebikkan bibir dan berlalu menuju kamar.
Ku hempaskan tubuhku di atas kasur, menatap langit-langit, mengingat kejadian di kantor tadi rasa sesak kembali menghampiri. Perlahan pipiku basah oleh tetesan air mata yang jatuh dari pertahanan nya.
"Hikss, kenapa sakit sekali. Kenapa semua ini terjadi padaku"
"Kenapaaa, aku benciii" aku berteriak di dalam kamar dengan Isak tangis
****
***Author Pov***
Di dalam kamar sebelah, terlihat pria yang beranjak remaja melangkah kan kaki menuju depan kamar sang kakak. Mendengar teriakan sang Kakak, ia penasaran apa yang telah terjadi pada kakak nya. Ya, Davin sangat menyayangi kakak nya meskipun ia kadang jahil pada Melati. Di tatap nya pintu kamar sang Kakak, memberanikan diri masuk ke dalam kamar nya, menggapai knop pintu dan perlahan membuka nya. Terlihat kakak nya di atas kasur dengan tangan menutup wajah nya, Isak tangis nya membuat Davin berkaca-kaca.
"Kakk" ucap nya di depan Kakak nya. Namun Melati tak merespon
"Kakak, kenapa?" namun lagi-lagi Melati hanya menangis
"Kakk, bicara lah" perlahan Mela bangun untuk duduk, menatap lurus ke arah depan
"Apa kakak tidak pantas untuk di cintai siapapun?" tanya nya pada Davin dengan tatapan lurus
"Kakak bicara apa? kakak pantas di cintai. Kakak adalah kakak terbaik, cantik, penyayang. Tidak ada satu orang pun yang boleh membuat Kakak menangis" ucap Davin membuat Mela menundukkan kepala dan menangis. Davin memeluk sang kakak dari samping.
"Aku janji bakal kasih pelajaran buat orang yang udah sakitin kakak, aku janji kak" batin nya.
****
Di ruangan dengan desain modern, seorang laki-laki tengah menyelonjorkan kaki di atas meja, dengan tangan memegang botol minuman. Ya, Bagas mulai meminum minuman keras. Ia sangat frustasi dengan apa yang di lakukan Papa nya.
"Gas, udah. Lo udah minum 3 botol" Adit mencoba menghentikan Bagas agar tidak minum lagi
"Gue sayang sama dia" ucap nya meracau dengan mata berkaca-kaca, membuat Adit tidak tega. Ya, Bagas sudah menceritakan apa yang telah terjadi di kantor tadi. Ia telah melukai perasaan gadis nya secara langsung.
"Gue tahu, kalau Mela tahu lo minum-minuman kayak gini dia bakal marah besar sama Lo" mencoba membujuk Bagas
"Percuma, dia udah marah sama gue. Gue menyakiti perasaan nya, gue udah...." belum selesai ia mengucapkan kata-kata, ia pingsan di atas meja. Adit membuang nafas kasar, ia sangat iba melihat keadaan sahabat nya seperti ini.
****
"Sayang bangun" menghampiri anak nya yang masih setia bergulat dengan selimut tebal, di elus nya kepala sang anak
"Astaga, badan kamu panas sekali nak" ucap nya memegang kening Mela
"Yahhh, Ayahhh" teriak nya pada suami nya, membuat Andi masuk dengan tergopoh-gopoh.
"Ada apa Bun teriak-teriak" ucap sang suami
"Mela suhu badan nya panas yaahhh" ucapnya dengan nada khawatir
"Kita bawa ke Rumah Sakit" ucap nya meraih tubuh anak nya untuk di bawa ke dalam mobil.
****
Melati masih setia memejamkan mata, sudah 4 jam ia belum sadarkan diri.
"Nak, bangun" ucap Arum menangis
Tak lama kemudian Sari dan Ratna datang. Ya, Arum tadi memberitahu sahabat nya itu.
"Tante" sapa Ratna
"Ratna" Arum berdiri dari duduk nya, Ratna dan Sari memeluk erat wanita cantik di depan nya
"Gimana keadaan Mela Tan?"
"Dia belum membuka mata sama sekali dari tadi" ucap nya menundukkan kepala
"Tante yang sabar ya" Dari menenangkan Bunda Arum
"Tante udah makan?" hanya gelengan kepala sebagai jawaban
"Kalau begitu biar Ratna sama Sari yang temenin Mela disini, Tante sama Om makan dulu ya" ucap Ratna dengan lembut
"Baiklah, kalau gitu Tante titip Mela dulu ya" Sari dan Ratna mengangguk tersenyum sebagai jawaban, Arum pun keluar dengan Andi.
"Mel, bangun dong" ucap Ratna memegang tangan Mela
"Hfttt, Pak Bagas pasti gak tau" ucapan Sari membuat Ratna menatap nya
"Apa kita beritahu Pak Bagas aja?" sahut Ratna
"Kita hubungi aja Pak Bagas, kalau tahu keadaan Mela pasti dia juga khawatir" Ratna mengangguk setuju, Sari mengeluarkan ponsel nya dan menghubungi atasan nya.
****
***Bagas Pov***
Aku tidak melihat Melati di meja kerja nya. Aku coba bertanya pada kedua sahabat nya, namun kosong. Tidak ada mereka juga. Ku pijat pelipis ku, menghilangkan rasa pusing. Aku benar-benar merindukannya. Tak lama ponsel ku berdering, ku tatap nomor yang tak ku kenal di layar ponsel, rasanya enggan untuk menerima telvon itu. Tapi aku takut jika itu telvon penting.
"Hallo" sapaku
"Hallo Pak ini saya Sari teman nya Melati, saya ingi memberi tahu bahwa Mela sedang di rawat di Rumah Sakit" ucap orang di seberang telepon
"Apa" aku syok mendengar bahwa Mela di Rumah Sakit
"Saya akan ke sana sekarang, kirimkan alamat Rumah Sakit nya" ku matikan telepon dan berlari keluar. Aku sangat khawatir padanya. Ku lajukan mobil dengan kecepatan tinggi, aku tak peduli dengan kendaraan yang lain. Yang terpenting aku ingin segera sampai di Rumah Sakit, aku tak sabar ingin menemui nya.
Ku berlari di lorong Rumah Sakit, mencari ruang kamar dimana kekasihku di rawat. Akhirnya aku sampai di depan ruangan nya, ku tatap sejenak pintu di depan ku. Perlahan ku buka knop pintu, terlihat seorang wanita cantik terbaring lemah dengan selang infus di tangan nya. Rasa nya sakit melihat wanita yang ku cintai seperti ini. Ku langkahkan kaki perlahan menghampiri nya, menatap wajah damai nya yang sedang terlelap.