You're The Last

You're The Last
Eps. 20


****


***Bagas Pov***


Hari ini aku harus bolos ke kantor karena orang tua ku. Mereka memakaaku untuk fiitting, aku tidak habis dengan mereka. Memaksaku menikah wanita yang tidak kucintai sama sekali.


"Mas, aku lapar" ucap perempuan di samping ku dengan manja


"Makan" sahutku masih fokus menyetir


"Ish, ga peka banget sih jadi orang" Aku hanya diam mendengar ucapan sebal nya, membuatku risih. Ia membuang muka ke luar jendela mobil.


Sampailah kami di butik teman Mama ku. Ah tidak, bukan kami, tapi dia sendiri. Mungkin jika aku datang ke butik dengan Melati, rasanya pasti akan bahagia, berbeda dengan saat ini. Aku hanya tersenyum kecut. Ku biarkan wanita itu berjalan terlbih dulu masuk ke dalam butik, di sana sudah ada Mama dan Tante Esti Mama dari Selly.


"Hai Tante" ku lihat wanita itu memeluk Mama ku, aku benar-benar muak.


"Hai sayang, calon menantu Mama cantik sekali" ucapan Mama pada Selly membuatku jengah


"Bagas, sini masuk" dengan malah ku langkahkan kaki masuk. Kulihat tiga wanita yang sedang asik memilah milih gaun, sedangkan aku hanya duduk. Menerawang ke depan membayangkan jika aku kesini dengan Melati sebagai calon istriku, seulah senyum tercetak di bibirku.


****


***Author Pov***


Seorang wanita cantik terlihat mengabaikan lembaran-lembaran kertas di depan nya, membiarkannya begitu saja. Dengan tatapan kosong lurus, sebulir air mata tiba-tiba jatuh dari pertahanan nya. Dua pasang mata yang menatap nya tak jauh dari tempat ia duduk, merasakan sedih kala melihat sahabat yang mereka sayang i harus hancur.


"Gue gak tega lihat Mela kayak gini" Ucap Ratna dengan mata berkaca-kaca


"Entah kesalahan apa yang sudah ia perbuat hingga di hukum seperti ini"


"Gue yakin Mela perempuan kuat" ucap Sari seolah yakin bahwa sahabat nya wanita kuat.


Jam kerja telah berakhir, ia melangkah keluar kantor dengan gontai. Berdiri di pinggir jalan menunggu taxi lewat dengan pandangan kosong. Adlan yang tak sengaja melewati tempat kerja Mela, melihat seorang perempuan yang ia kenali tengah berdiri di pinggi jalan. Ia melajukan mobil menghampiri Melati.


"Tin... tin...!!!" Adlan membunyikan klakson mobil, namun Melati tak bergeming. Ia pun memutuskan keluar dari mobil nya


"Mel" sapa nya membuat Mela gelagapan


"Oh haii" sahut nya


"Aku antar pulang ya" tawar nya, namun Mela masih diam.


"Udah ayo aku antar" menarik tangan Mela menuju mobil nya. Ia hanya diam melihat Adlan menarik tangan nya, pikiran dan hati nya sedang kacau.


Sepanjang perjalanan Mela hanya diam, tak ada niatan membuka suara. Adlan yang melihat Mela terdiam membuat nya ingin bertanya apa yang sedang terjadi


"Ekhemm" Deheman Adlan mampu membuat Mela menatap nya


"Mau beli minum dulu?" tawar nya, namun Mela hanya mengangguk sebagai jawaban. Kala melihat penjual minuman di pinggir jalan, Adlan segera menepikan mobilnya dan turun dari mobil diikuti Mela.


"Mell" Adlan membuka suara


"Ya?" sahut Mela


"Kenapa? ada masalah?" Mendengar pertanyaan Adlan, dada nya kembali sesak kala mengingat kejadian di kamar mandi kantor tadi.


"Tidak" Ia menunduk dan menggeleng lemah. Adlan menarik dagu Mela agar menatap nya, Adlan tahu Mela sedang tidak baik-baik saja.


"Heiii, kamu bisa cerita padaku. Anggap saja kita sahabat, berbagi cerita dengan sahabat membuat lebih baik bukan?" perkataan Adlan membuat hati nya tersentuh, ia memeluk Adlan erat. Seolah menyalurkan apa yang di alami nya. Ia menangis sesegukan di pelukan Adlan, tak peduli banyak sorot mata berlalu lalang memandang nya. Adlan membalas pelukannya, mengelus lembut rambut wanita cantik itu.


Tanpa di sadari sepasang mata menatap nya dengan penuh emosi, melihat kekasih nya berpelukan mesra dengan laki-laki lain. Ia mengepalkan tangan, ingin sekali ia turun dari mobil dan menghampiri wanita nya. Namun ia sadar, ia sedang bersama Selly dan Mama nya.


Sepii, itulah keadaan rumah nya. Kedua orang tua nya pergi ke acar rekan kerja nya.


Ia berjalan memasuki rumah dengan gontai, menaiki tangga satu persatu menuju kamar. Membuang tas ke segala arah, menghempaskan tubuh dengan kasar di atas kasur. Cuku lama ia merebahkan tubuh nya, ia beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Duduk termenung di balkon kamar dengan kaki di tekuk sampai dada. Menangis. Itulah yang dia lakukan. Baru kali ini ia merasakan hati nya sangat hancur, bukan karena sebuah penghianatan oleh kekasih nya. Namun karena terhalang restu orang tua nya.


****


***Di tempat lain***


"Selamat Malam Pak Andi" ucapan dari seorang lelaki yang usia nya tak lagi muda, mengulurkan tangan dengan sopan dengan wanita di sampingnya yang tak lain adalah istrinya


"Malam Pak" Sahut Andi menerima jabatan tangan dari pria di depan nya


"Bagaimana kabar anda?" ucap nya basa-basi


"Alhamdulillah sangat baik pak" sahut Andi.


Mereka terlarut dalam perbincangan masalah bisnis. Ya, Andi dan istrinya kini berada di pesta rekan kerja nya. Ia di undang oleh Ari, rekan bisnis di perusahaan nya. Bisa di bilang Perusahaan mereka bekerja sama. Tak lama seorang laki-laki seumuran mereka datang dengan sang istri.


"Selamat Malam Pak Ari" sapa nya


"Selamat datang calon besan" sahut nya menjabat tangan


"Perkenalkan ini Pak Andi, rekan bisnis saya. Pemilik Perusahaan besar yang berkembang pesat" ucap nya memperkenalkan Andi pada Yudha dengan bangga.


Ya, Perusahaan Andi memang Perusahaan besar yang berkembang pesat.


"Wahh hebat" ucap Yudha tulus


"Pak Ari dan Pak Yudha bisa saja" ucap nya malu


Mereka terlarut dalam perbincangan-perbincangan bisnis.


****


Pagi ini Mela tidak datang ke kantor. Semalam ia sudah memutuskan apa yang akan ia lakukan. Ia keluar kamar dan turun untuk sarapan.


"Pagi Yah, Bun" sapa nya pada kedua orang tua nya


"Pagi nak" sahut mereka


"Emmm, Mela bicara" ucap nya menundukkan kepala, seolah takut kedua orang tua nya tidak akan mengizinkan nya.


"Bicara apa kak?" tanya Arum


"Kenapa menunduk? kau tidak membuat kesalah kan?" tanya Andi yang mendapat gelengan cepat dari sang anak


"Mela mau ke Bandung Yah, Bun" ucapan Mela membuat Arum dan Andi mengerutkan kening


"Mela ingin memulai hidup di sana Yah, Mela ingin mandiri, Mela ingin bisa sukses" ucap nya dengan mata berkaca-kaca. Ya, dia tidak ingin mengatakan alasan ke Bandung karena ingin melupakan Bagas.


"Apa kamu yakin dengan keputusanmu?" tanya Andi memastikan


"Mela yakin Yah, Bun" ucapnya mantap


"Baiklah jika itu yang terbaik untukmu, Ayah dan Bunda mengizinkan" perkataan sang Ayah membuat nya senang


"Tapi Mela minta satu hal, jangan beritahu siapapun kepergian Mela" ucap nya memohon pada Ayah Bunda nya. Mendengar perkataan anak nya, mereka berdua sekarang mengerti alasan utama anak nya pergi ke Bandung.