You're The Last

You're The Last
Eps. 04


***Bagus Pov***


Ku berjalan memasuki mobil bergegas pulang. Baru ku tancap pedal gas mobil, ku rem kembali. Menangkap sosok yang ku kenal sedang berdiri di pinggir jalan. Beberapa detik ku perhatikan, sepertinya dia sedang menunggu kendaraan umum lewat. Ku tancap pedal gas lagi menghampirinya dan berhenti tepat di depannya.


"Cantik" batinku. Ku turunkan kaca jendela mobil sedikit agar ia bisa melihatku. Mungkin dia kaget melihatku berhenti di depannya


"Masuk" titahku, membuatnya gelagapan


"Mau pulang kan? buruan masuk, saya antar. Sebentar lagi sudah mau hujan" ku tatap ia masih cengoh, di tatapnya langit yang mendung tanda akan turun hujan. Ia beranjak masuk ke dalam mobil.


"Menggemaskan" batinku


Hening, itulah keadaan saat ini di dalam mobil. Ku tancap kembali pedal gas membelah jalanan kota Jakarta yang macet. Ku lirik ia sekilas, ia hanya diam menatap ke luar jendela.


"Bagaimana keadaanmu?" tanyaku memecah keheningan


"Alhamdulillah sudah baikan Pak" ucapnya dengan senyum manis. Senyum yang membuat detak jantung ku berdegup kencang, ntahlah ada apa dengan diriku. Hanya sebuah senyuman darinya sudah membuatku girang.


"Rumah saya di Jl. xxx pak" lanjutnya


"Ya, aku sudah tau" ucapku, membuatnya melihatku dengan tatapan melongo. Ya, aku dengan sengaja meminta data para karyawan. Terutama data tentang Melati, ku ingin tau lebih banyak tentang wanita di sampingku ini. Terlihat konyol bukan?


"Bagaimana Bapak bisa tau?" ucapnya membuatku salah tingkah


"Ah itu, dari teman kantor mu" ucapku dusta. Padahal diam-diam aku mencari tahu tentangnya. Sangat konyol memang, entahlah ku rasa dia wanita yang berbeda dengan wanita-wanita di luaran sana. Mendengar jawabanku ia hanya manggut-manggut. Tak lama kami pun sampai di depan rumahnya, rumah besar dengan desain minimalis.


"Sepertinya dia anak orang yang berada, tapi mengapa dia memilih bekerja di tempat lain" batinku


"Bapak tidak mau berhenti mampir dulu?" tawarnya


"Lain kali saja" ucapku dengan seulas senyum tipis


"Kalau begitu saya masuk dulu Pak, terimakasih atas tumpangan dan untuk tadi di kantor Pak" ucapnya tulus


"Iya sama-sama"


"Hati-hati Pak" aku hanya tersenyum dan mengangguk, ada ketenangan sendiri dalam hatiku. Sepanjang perjalanan ku menyunggingkan senyum, aku tak pernah merasa sebahagia ini dengan mantan kekasihku yang sebelumnya. Melihatnya selalu ada ketenangan dalam diriku.


****


***Author Pov***


Setelah mobil Bagas berlalu, ia pun beranjak melangkah ke rumah. Baru selangkah berjalan masuk, langkahnya terhenti karena ucapan adiknya


"Apaan si, dah kakak mau masuk" ujarnya melangkah masuk menghiraukan ucapan adiknya. Davin memang suka sekali menggoda sang kakak, menurutnya itu adalah hobbynya membuat kakaknya kesal.


"Eh Bunda sama Ayah mana, kok sepi? " ucapnya berhenti melangkah dan berbalik menatap adiknya yang duduk di sofa bermain laptop


"Pergi ke acara teman kantornya Ayah kak" jelasnya, sang empu hanya manggut-manggut dan melangkah berjalan ke kamar. Bergegas pergi ke kamar mandi melaksanakan ritual mandinya. 30 menit sudah ia berkutat di dalam kamar mandi, baru ia keluar dari kamar mandi terdengar suara ketukan diluar pintu yang membuatnya kesal. Pasti itu adiknya.


"Ada apa?" Tanyanya dengan kepala menyembul di pintu


"Ada kak Adlan di bawah" ucap Davin dan berlalu pergi, terdengar helaan nafas kasar Mela, ia segera mengganti baju santai dan turun menemui tamunya.


"Ngapain ke sini?" ucapnya tanpa basa-basi


"Mau ngajak kamu keluar" ucapnya dengan santai


"Lagi capek" tolaknya cuek


"Sebentar aja Mel, plis" ucapnya memohon pada wanita di depannya. Cukup lama ia berdiam hingga akhirnya ia mengangguk dengan malas.


"Baiklah, hanya sebentar" ucap Mela dan beranjak pergi ke kamar mengganti pakaian. Berdiri di depan cermin, melihat tampilannya. Dengan sedikit polesan lipstik, dengan memakai sweater dan celana di atas lutut, dengan rambut yang dibiarkan terurai membuatnya terlihat cantik. Ia turun dengan santai, tatapan Adlan beralih menatapnya kagum. Ntahlah, apapun yang di kenakan Melati selalu terlihat cantik di mata Adlan . Malam ini Adlan ingin mengajaknya makan di luar, ia sangat rindu momen saat-saat berdua dengan Mela.


Adlan mengajaknya ke cafe, tempat favoritnya dengan Mela dulu selama masih pacaran. Mela menghembuskan nafas.


"Mau makan apa?" tawarnya


"Biasanya" ucapnya singkat. Ya, Adlan tau makanan favorit Mela. Ia masih ingat itu


"Gimana kerjanya?" tanyanya basa-basi


"Baik" lagi dan lagi jawaban singkat yang cuek, namun Adlan tak berhenti berusaha membuat Mela memaafkan dirinya. Ia akan berusaha dan berjuang mendapatkan Mela kembali.


"Inget gak dulu kita sering banget ke sini, kamu selalu meminta ice cream 5 porsi" ucap Adlan kala mengingat masa lalu yang lucu. Tanpa sadar Mela tertawa


"Iya ingat" sahutnya dengan tertawa mengingatnya dulu. Adlan bahagia melihat Mela tertawa seperti ini. Lama mereka berbincang mengingat masa lalu yang lucu, meskipun ada rasa canggung sedikit. 2jam sudah ia berada di Cafe bersama orang tersayang, ia pun beranjak pulang. Menggandeng dengan hangat tangan Mela, sontak membuatnya menatap Adlan. Namun yang ditatap hanya tersenyum dan melangkah keluar.


Tanpa di sadari ada seseorang yang melihatnya dengan tatapan yang sulit di artikan, senyum kecut tercetak di bibirnya. Wanita yang di kaguminya bersama laki-laki lain, tertawa lepas, bergandeng mesra.


"Gas, udah yuk pulang. Putri udah ngantuk nih" ajak seorang wanita yang duduk di depannya dengan seorang anak kecil cantik. Dia Farah,Kakak dari Bagas.


Putri adalah anak dari Farah. Ya, kini Bagas berada di Cafe nya, mengunjungi Cafe di saat ada waktu longgar untuk melihat perkembangan Cafe. Meskipun ia mempunyai tangan kanan sendiri tapi ia tidak puas jika tak melihat keadaan Cafenya secara langsung. Mendengar ajakan sang kakak, Bagas pun berjalan keluar cafe menggendong sang ponakan yang mengantuk.