You're The Last

You're The Last
Eps. 08


***Author Pov***


Seorang wanita paruh baya masuk kedalam kamarnya, membangunkan anak laki-lakinya yang masih bergelut dengan selimutnya. Membuka gorden membiarkan sinar matahari masuk ke celah-celahnya, membuat sang empu menggeliat karena silaunya. Ia mengucek mata menatap wanita paruh baya di depannya


"Bangun gas, kamu nggak ke kantor?"


"Ke kantor mah" ucap Bagas masih mengantuk


"Yaudah bangun, nanti kesiangan" ucapnya berlalu pergi dari kamar sang putra. Mendengar ucapan Mama nya, ia pun beranjak ke kamar mandi melakukan ritual mandinya.


Pukul 06:45, kini ia sudah sampai di kantor. Dilihatnya meja Melati yang masih kosong tak ada penghuninya.


"Kemana dia? apa tidak bekerja?" tanya nya dalam hati dan melanjutkan langkahnya menuju ruangan. Berkutat dengan laptop di depannya, namun yang ada hanya bayangan Melati.


Pukul 12:00 para karyawan berlalu lalang mengantri makanan di kantin. Bagas hari ini ingin makan di kantin, ntah apa yang mendorongnya kesana. Namun belum sempat ia memesan minum, Adit terlihat berjalan ke arah ia berdiri


"Maaf, apa kau temannya Mela" ucapnya pada Bagas seketika


"Ah iya Pak saya temannya" sahutnya berhenti di depan atasannya itu


"Kemana ia sekarang, kenapa ia tidak ada di meja kerjanya?" tanyanya membuat Adit mengerutkan kening curiga, namun dengan cepat Bagas melanjutkan ucapannya


"Saya membutuhkan laporan keuangan bulan ini" ucapnya dusta, padahal ia sangat ingin mengetahui dimana Mela


"Mela sedang sakit Pak hari ini" jawabnya


"Sakit?"


"Iya Pak"


"Ah baiklah terima kasih" Ucap Bagas berlalu pergi.


Ia berinisiatif untuk menjenguk Mela ke rumahnya setelah pulang kerja


Kini ia sudah berada di depan rumah Mela, ia benar-benar menjenguknya. Lebih tepatnya ingin bertemu dengannya. Ia turun dari mobil dengan satu tangan membawa buah untuk sang wanita.


Baru ia melangkah masuk, terlihat disana sudah ada laki-laki yang ia temuinya kemarin. Ia berhenti di ambang pintu namun orang tua Mela menyadari kedatangannya


"Nak Bagas, silahkan masuk nak" Titah Ayah Mela


"Ah iya Pak" Bagas berjalan masuk ke rumah Mela, duduk bergabung dengan Ayah Mela dan laki-laki itu. Terlihat wajah angkuh dari laki-laki di depannya, memandangnya remeh.


"Sebentar ya, Mela masih di panggil sama Bunda nya"


"Iya Om" ucap Bagas dengan senyum tulus


"Ngomong-ngomong nak Bagas dari mana?"


"Dari kantor Om tadi langsung kesini" ucapnya jujur, Andi manggut-manggut mengerti. Tak lama Mela turun dengan sang Bunda, wajahnya pucat pasi.


"Nah itu dia, Ayah tinggal dulu ya" Andi beranjak pergi, meninggalkan putrinya dengan dua laki-laki. Mereka mengangguk, Mela duduk di kursi tempat Ayahnya tadi.


"Gimana keadaan kamu?" ucap Adlan dengan cepat sebelum Bagas mendahului pertanyaannya


"Udah agak baikan kok" ucap Mela dengan senyum yang dipaksa


"Kenapa bisa sakit? kan udah aku bilang jangan begadang karena kerjaan" Ucapnya perhatian, membuat Bagas panas sendiri di buatnya. Ia hanya diamm melihat laki-laki di depannya yang sedang mencari muka di depan Mela.


"Pak Bagas kok tahu kalau saya Sakit?" tanya Mela pada Bagas, ia senang karena Bagas datang menjenguknya


"Tadi Adit bilang kalau kamu sakit, ah iya ini saya bawakan buah" ucapnya menyodorkan buah yang di bawanya


"Tidak perlu repot-repot Pak" Mela tak enak hati pada Bagas


"Tidak apa" ucapnya dengan senyum tulus


"Mau makan buah?" tanyanya pada Mela membuat sang empu mengangguk. Ia ingin sekali memakan buah Jeruk


"Tida perlu, biar saya saja" ia mulai mengupas kulit Jeruk, Melati memperhatikan Bagas secara inci. Seulas senyum tercetak di bibir manisnya, Adlan yang melihat itu hanya tersenyum kecut apalagi melihat Mela yang menatap laki-laki itu dengan senyum manisnya. Ia pun beranjak pamit pada Mela untuk pulang


"Mel, kalau gitu aku pamit pulang dulu ya" pamitnya pada Mela


"Iya hati-hati" ucapnya tersenyum tulus, ia menatap Bagas yang menatapnya


****


***Melati Pov***


Aku sangat bahagia melihatnya datang ke rumah, sangat beda ketika Adlan yang datang.


"Mau makan buah?" tanyanya padaku, aku mengangguk. Karena aku ingin sekali memakan buah Jeruk


"Biar aku kupasin" ucap Adlan merebut Jeruk di tangan Pak Bagas


"Tidak perlu, biar saya saja"


Aku menatap Adlan dengan tatapan malas, aku sangat berharap bukan Adlan yang mengupaskan buah untukku. Dan ya, Pak Bagas yang mengupaskan buah untukku. Tak lama Adlan pun pamit pulang.


"Mel, kalau gitu aku pamit pulang dulu ya" pamitnya padaku


"Iya hati-hati" ucapku tersenyum tulus. Aku teringat dengan anak kecil yang bersama Pak Bagas, apakah itu benar anaknya? dan perempuan itu adalah Istri nya?


"emm, maaf Pak. Apa istri Bapak tidak marah melihat Pak Bagas menjenguk bawahannya?" Tanyaku hati-hati


"Istri?" ia menghentikan aktifitasnya mengupas Jeruk, mendengar pertanyaan Mela membuatnya ingin tertawa


"Apa aku terlihat sangat tua untuk mempunyai istri dan anak?" pertanyaan balik pada Mela


"Tidak" ucap Mela spontan


"Bukannya anak kecil waktu itu adalah anak Bapak?" Sontak Bagas tertawa, membuat Mela mengerutkan keningnya


"Bukan, dia anak kakak saya. Dia Putri, dan yang kemarin bersama saya adalah kakak saya" jelasnya membuat Mela salah tingkah karena malu


"Ah benarkah, maaf Pak" ucapnya dengan kikuk


"tidak masalah"


****


***Bagas Pov***


Aku senang melihat lelaki di depanku yang angkuh itu berpamitan pulang, itu artinya ada banyak waktu untukku berdua dengan Mela. Ku kupaskan jeruk untuknya, ia memakannya dengan sangat nikmat. Wajahnya yang pucat tak menghilangkan wajah cantiknya.


"emm, maaf Pak. Apa istri Bapak tidak marah melihat Pak Bagas menjenguk bawahannya?" aku mengerutkan kening mendengar pertanyaan yang ia lontarkan padaku


"Istri?" aku menghentikan aktifitasku mengupas Jeruk, mendengar pertanyaan nya membuatku ingin tertawa


"Apa aku terlihat sangat tua untuk mempunyai istri dan anak?" pertanyaanku balik pada Mela


"Tidak" ucap nya membuatku tersenyum.


"Bukannya anak kecil waktu itu adalah anak Bapak?" Pertanyaan apa yang ia lontarkan, lagi lagi pertanyaan nya membuatku tertawa. Kulihat dia mengerutkan keningnya melihatku tertawa


"Bukan, dia anak kakak saya. Dia Putri, dan yang kemarin bersama saya adalah kakak saya" jelasku membuat Mela salah tingkah karena malu


"Ah benarkah, maaf Pak" ucapnya dengan kikuk


"tidak masalah" jawabku melanjutkan mengupas Jeruk.


"Lalu laki-laki tadi bukankah Kekasihmu?" Kini aku melontarkan pertanyaan pada Mela mengenai laki-laki tadi. Ya, aku sangat ingin tahu tentang laki-laki tadi. Melihatnya pernah bermesraan dengan wanita lain membuatku semakin ingin tahu tentangnya, aku takut ia melukai perasaan orang yang ku sayangi