You're The Last

You're The Last
Eps. 17


****


***Author Pov***


Seorang laki-laki berjalan menghampiri sang wanita yang di cintai nya.


"Pak Bagas" ucap Ratna yang menyadari keberadaan Bagas, ia berdiri mempersilahkan Bagas duduk di samping Mela. Ratna dan Sari keluar dari ruangan Mela, memberi waktu untuk Bagas.


"Sayang, bangun" ucapnya dengan satu tangan mengelus puncak kepala dan satu tangan memegang tangan nya lembut


Lama sudah Mela tidak sadarkan diri, lama juga Bagas disana. Ia pun tertidur dengan tangan yang masih memegang tangan lemah itu.


***


Mela mengerjapkan mata perlahan,menatap sekeliling, ia ingin bangun dari tidur nya namun tangan nya terasa berat. Sontak ia melihat ada seorang laki-laki tertidur di atas tangan nya, di belai nya kepala pria di samping nya dengan mata memanas, menahan isak tangis. Membuat sang empu bangun dari tidur nya


"Sayang, kamu udah bangun" ucap Bagas menatap teduh manik Mela yang menangis


"Iya" sahut nya tersenyum


"Maafkan aku udah buat kamu menangi, kecewa" mencium tangan Mela berkali-kali dengan mata berkaca-kaca. Ia bangkit dari tidur nya memeluk erat Mela.


"Aku merindukan mu, aku akan mempertahankan hubungan kita" ucap nya lembut dengan mantap


"Mas"


"Ya sayang" sahut Bagas


"Menikah lah dengan wanita yang di pilih oleh kedua orang tua kamu"


"Tidak, aku tidak mau"


"Tidak mas, untuk apa mempertahankan hubungan tanpa restu orang tua? Itu malah akan membuat kedua belah pihak semakin kecewa. Kamu tidak mau kan berdosa sama kedua orang tua kamu?" ucap Mela lembut, menarik dagu Bagas agar menatap nya


"Aku mencintaimu" ucap Mela dengan air mata yang menetes di pipi nya. Membuat Bagas menangis karena nya, di peluknya dengan erat wanita di depan nya.


"Aku tidak bisa, aku tidak akan pernah bisa jauh dari kamu. Aku mencintaimu lebih dari apapun, hanya kamu yang mampu membuat ku jatuh cinta. Hanya kamu" ucapan Bagas dengan mengeratkan pelukan nya.


Tanpa di sadari ada dua pasang mata yang melihatnya dengan menahan Isak tangis. Ya, Arum dan Andi. Mereka berdua sudah kembali setelah membeli makan, namun ia urungkan untuk masuk ke kamar anak nya karena ada Bagas. Bukan tak ingin bertemu dengan Bagas, hanya saja mereka ingin tahu apa yang sedang terjadi.


"Bunda, Ayah" sapa nya kala melihat kedua orang tua nya yang berdiri, dengan sang Bunda yang menangis di pelukan Ayahnya. Arum dan Andi pun masuk menemui anaknya dan Bagas.


"Tante, Om" Bagas menghampiri Arum dan Yudha, bersimpuh di depan kaki kedua orang tua Melati. Melati tidak menyangka Bagas melakukan itu.


"Maafin Bagas yang sudah membuat putri Tante dan Om menangis, sakit karena Bagas" mendengar penuturan Bagas, Mela dan Arum semakin terisak.


"Bangun lah Nak" titah Andi agar Bagas bangun dari simpuh nya


"Om dengar semua nya, jangan membantah permintaan kedua orang tua mu nak. Om tau kalian saling mencintai, jika kalian memang berjodoh, suatu saat kalian pasti akan di pertemuan kembali dalam ikatan cinta yang halal"


Bagas memeluk Andi dengan erat, Andi benar-benar mengerti akan keadaan nya. Ia pikir Andi akan menghajar Bagas karena sudah membuat anak nya menangis.


****


"Sayang makan dulu" titah sang Bunda dengan sesendok bubur, namun Mela menggelengkan kepala nya.


"Kalau kamu tidak makan, nanti nggak sembuh-sembuh dong. Makan dulu ya nak, dikit aja" bujuk sang Mama yang mendapat anggukan dari Melati.


Tak lama seorang laki-laki datang dengan menenteng buah-buahan di tangan nya. Dia Adlan.


"Assalamualaikum malam Om, Tante" sapa nya pada kedua orang tua Mela


"Wa'alaikumsalam nak Adlan" Adlan mencium tangan kedua orang tua Mela


"Bagaimana keadaan kamu Mel?" tanya nya pada wanita yang terduduk lemah di tempat tidur


"Agak baikan kok" sahut Mela


"Bunda sama Ayah keluar dulu ya" pamit sang Ayah dan Bunda nya yang mendapat anggukan dari Mela


"Iya"


"Sini aku suapin, makan yang banyak" ucapnnya mengambil semangkuk bubur di meja dan menyiapkan pada Mela


"Tahu dari mana aku di Rumah Sakit?"


"Tahu dari temen kantor kamu tadi" Mela mengerutkan kening


****


**Flashback**


Sore ini Adlan berencana ingin ke kantor Mela. Ia ingin mengajak makan dengan Sarah. Ia bermaksud ingin mempertemukan Sarah dengan Mela, karena Sarah ingin meminta maaf atas kesalahan nya dulu.


Namun lama sudah Adlan menunggu di depan kantor Mela, tapi Mela tidak keluar-keluar. Namun ada perempuan yang ia kenal yang pernah ia temui bersama Mela.


"Permisi" sapa Adlan membuat wanita di depannya merubah wajah nya menjadi dingin.


"Apa mbak teman nya Mela ?"


"Ya" jawab Sari


"Kalau boleh tau apa Mela masih di dalam apa sudah pulang ?"


"Mela sedang di Rumah Sakit. Dia tidak masuk hari ini" jelas Sari


"Di Rumah Sakit?" tanya nya meyakinkan


"Ya, Mela sakit"


"Kalau boleh tahu Rumah Sakit mana mbak"


"Rumah Sakit xxx"


"Baiklah terima kasih atas info nya mbak" Sari mengangguk kan kepala, sedangkan Adlan berlalu pergi menuju mobil nya.


Ia berencana akan menjenguk Mela di Rumah Sakit nanti malam


**Flashback off**


****


***Bagas Pov***


Malam ini aku ingin ke Rumah Sakit, menemani Mela. Namun ketika aku turun dari tangga, suara Papa menghentikan langkah ku.


"Mau kemana kamu malam-malam begini" tanya Papa


"Bukan urusan Papa" ucapku cuek berlalu keluar rumah.


Ku lajukan mobil dengan kecepatan sedang, membelah jalanan kota Jakarta yang padat. Namun sebelum sampai di Rumah Sakit, aku sempatkan membeli bunga untuk kekasih ku.


30 menit sudah, kini aku berjalan menuju kamar Mela. Ku buka knop pintu pelan, terlihat Adlan di sana. Tertawa riang dengan Melati, aku iri ketika melihat laki-laki lain membuat perempuan yang ku cintai tertawa riang. Sedangkan aku? aku membuat nya sedih, bahkan menangis. Ku putuskan tetap masuk dan menghampiri nya.


"Hai sayang" sapa ku mencium puncak kepalanya, memberi bunga yang sudah ku beli tadi. Adlan bangkit dari duduk nya, ia berpindah ke sofa.


"Wahhh, cantik sekali" wajah nya sangat ceria, aku menyukai nya


"Kamu suka?"


"Suka banget,makasih mas" ucap nya mencium pipi ku sekilas. Aku tersenyum bahagia melihat nya ceria kembali. Aku berharap bisa seperti ini dengan nya selamanya.


"Sama-sama sayang" ucapku mengelus lembut rambut panjang nya


"Kamu sudah makan?" tanyaku kemudian


"Udah kok" jawab nya dengan senyum, ntahlah dia perempuan seperti apa. Bahkan dalam keadaan apapun ia tidak pernah melunturkan senyum manis nya. Senyum yang sekarang menjadi canduku.