You're The Last

You're The Last
Eps. 24


Mendengar jawaban dari Arka, ia memberitahu ruangan Beni pada Arka.


Setelah mendapat arahan, mereka berdua berjalan menuju ruangan Beni. Banyak sorot mata yang menatap mereka berdua dengan tatap kagum.


"Gila ganteng banget"


"Astaga cocok banget, laki-laki nya ganteng perempuan nya cantik"


"Ganteng bangett"


"Udah ada cewe nya di samping"


Mendengar bisikan-bisikan karyawan di Perusahaan tersebut, membuat Melati hampir meledakkan tawa nya. Banyak yang mengira jika ia adalah kekasih Arka, namun nyata nya ia sepupu.


Kini ia sampai di depan ruangan Beni, Arka mengetukkan jari seolah memberitahu kedatangan nya. Mendengar sahutan dari dalam ruangan , mereka berdua pun masuk.


"Sibuk amat lo" sapa Arka menghampiri sahabat nya yang terlihat sibuk dengan berkas di depan nya


"Huh, iya nih. Silahkan duduk" mempersilahkan Melati dan Arka duduk.


Melati menyodorkan surat lamaran kerja nya pada Beni. 2 menit sudah Beni melihat surat lamaran kerja, ia sangat kagum karena Mela sangat baik nilai dan prestasi nya.


"Kebetulan sekretaris saya mengundurkan diri karena melahirkan, jadi kamu bisa jadi sekretaris saya" mendengar perkataan Beni Mela melongo seolah tak percaya, tanpa harus interview kini ia sudah di terima bekerja sebagai Sekretaris nya.


"Se.. seriusan Pak?" tanya Melati memastikan


"Iya saya serius" ucapnya dengan seulas senyum.


"Terima kasih Pak"


"Ya, besok kamu mulai bisa kerja" Mela mengangguk antusias


"Thanks bro" ucapan terima kasih lolos dari bibir Arka pada sahabat nya itu


"Sama-sama"


****


***Beni Pov***


Sejak kemarin bertemu, ntah perasaan gue beda ketika melihat perempuan itu. jantungku rasanya berdetak lebih cepat dari biasa nya. Cantik, itulah kesan pertama saat melihat nya. Wajah nya yang cantik dan suara nya yang lemah lembut mampu membuat ku jatuh hati pada pandangan pertama.


Hari ini Arka akan datang ke kantor ku bersama sepupu nya untuk melamar kerja. Ya, aku sudah siapkan posisi terbaik untuk nya agar aku bisa lebih sering bersama nya.


"Sibuk amat lo" sapa Arka menghampiri ku yang sangat sibuk dengan berkas di depan ku. Ya, pekerjaan hari ini sangat lah banyak.


"Huh, iya nih. Silahkan duduk" aku mempersilahkan Melati dan Arka duduk.


Ku lihat dia menyodorkan surat lamaran kerja nya padaku, kulihat setiap lembar prestasi dan nilai-nilai yang sangat bagus. Aku kagum pada nya.


"Kebetulan sekretaris saya mengundurkan diri karena melahirkan, jadi kamu bisa menggantikan nya jadi sekretaris saya" Ku lihat Mela melongo seolah tak percaya, rasanya aku gemas pada nya.


"Se.. seriusan Pak?" tanya nya memastikan


"Iya saya serius" ucapku dengan seulas senyum.


"Astagaa, menggemaskan" batinku


"Terima kasih Pak"


"Ya, besok kamu mulai bisa kerja" Mela mengangguk antusias


"Thanks bro" ucapan terima kasih lolos dari bibir Arka padaku


"Sama-sama"


****


***Bagas Pov****


Aku terbangun dari tidur, ku tatap jam dinding menunjukkan pukul 09:00. Kepala ku rasanya sakit, ntah lah mungkin karena kebanyakan minum. Ku beranjak bangun dan melangkahkan kaki menuju kamar mandi.


Ku tatap ponsel ku, ingin sekali menghubungi nya. Saling bertanya kabar dan melihat nya.


"Bagas, turun nak. Makan dulu" suara Mama ku terdengar dari luar pintu. Aku berjalan menuju pintu tanpa berniat membalas ucapan Mama ku, berjalan menuruni tangga dengan malas.


Ku lihat di bawah sudah banyak keluarga. Ya, malam ini acara tunangan ku dengan Selly. Rasanya sesak kala mengingat Melati, perempuan yang ku cintai selama ini.


"Eh Bagas, sudah bangun" sapa Tante ku, namun aku hanya diam tanpa menjawab. mengambil air minum di kulkas.


****


"Gas, buruan ganti baju. Acara sebentar lagi di mulai" ucap kak Farah masuk ke kamar ku. Ya, acaranya di mulai pukul 7 malam.


"Nih pake" menyodorkan jas dan kemeja yang akan ku pakai. Aku hanya diam tanpa berniat menerima nya. Ku lihat Kak Farah menarik baju yang di sodorkan padaku kembali.


"Kakak tahu ini berat, tapi kamu gak bisa nolak permintaan Papa Gas" ucap kak Farah tiba-tiba, ku tolehkan kepala menatapnya. Dia menunduk, menangis


"Bagas mencintai nya kak" tak terasa air mata menetes, haha dasar cemen.


"Kalau kamu benar-benar mencintai nya, kejar dia" perkataan kak Farah membuatku tersenyum kecut


"Aku gak tahu dimana dia sekarang, dia pergi tanpa memberitahu Bagas. Bagas sudah menyakiti nya Kak" Aku menunduk, rasa nya sesak kala mengingat nya. Ku rasakan Kak Farah memelukku dari samping, ku rasakan dia ikut menangis. Ya, aku memang laki-laki yang lemah.


****


***Melati Pov***


Hembusan angin malam menyeruak ke tubuhku. Bintang yang bersinar terang, tapi tak seterang hatiku.


"Apa dia sudah benar-benar bertunangan dan melupakan ku?" lirihku. Ya, aku tahu jika dia malam ini akan tunangan. Kedua Sahabat ku telah memberitahu ku tentang ini, aku merindukan nya.


"Lupakan dia" ucapan seseorang dari belakang membuat ku menoleh


"Ikhlas kan dia bersama orang lain" lanjutnya menghampiri ku. Ku tundukkan kepala, sakit.


"Kak Arka tahu?" tanyaku kemudian


"Ya, Kakak tahu. Tante Arum sudah menceritakan semua nya"


"Kamu cantik, baik, kamu bisa mendapatkan seseorang yang lebih baik dari dia. Lupakan dia, biarkan dia bahagia dengan wanita pilihan orang tua nya. Jika kalian berjodoh, suatu saat Tuhan akan mempertemukan kembali" perkataan Kak Arka benar-benar membuat ku semakin menangis. Kak Arka menarikku dalam pelukannya, aku menangis sejadi-jadinya.


"Sudah malam, tidur sana. Besok hari pertama kamu kerja, berikan kesan yang baik" ucap nya mengurai pelukan


"Iya" ucapku


"Good" ucap nya mengusap rambut ku. Ku lihat dia berjalan melangkah keluar kamar.


"Kamu pasti bisa lupain dia Mel" lirihku, mengusap kasar air mata di pipi.


****


Hari ini adalah hari pertama aku kerja. Aku benar-benar harus memberikan kesan terbaik..


"Semangat Mel" ucapku menyemangati diri sendiri di depan cermin sebelum turun untuk sarapan.


"Aku pasti bisa" yakinku pada diriku sendiri.


Aku menuruni anak tangga satu persatu, di sana sudah ada Kak Arka dan Tante Linda.


"Selamat pagi Tante, Kak" sapa ku


"Selamat Pagi"


"Om Arif mana tan?" tanyaku


"Om mu lagi ke Restoran, lagi ada opening cabang baru" aku mengangguk paham. Oh ya, Om Arif mempunyai restoran besar dan sudah ada 5 cabang di lima kota.


Sedangkan Tante Linda mempunyai butik terbesar di kota B*****. Ya, keluarga ku memang sangat suka berbisnis. Namun beda hal nya dengan Kak Arka, ia memilih menjadi Dokter bedah karena cita-cita nya sejak kecil. Sedangkan aku? aku berusaha agar bisa membangun bisnis sendiri, agar bisa membuat bangga kedua orang tuaku dan keluarga.