You're The Last

You're The Last
Eps. 25


****


***Author Pov***


"Semangat ya kerja nya" Arka memberi adik sepupu nya semangat sebelum masuk kantor.


"Siap" ucap Mela mengacungkan jempol


"Yaudah aku turun dulu kak, Assalamualaikum" pamit nya dan turun dari mobil


"Wa'alaikumsalam" Arka melajukan mobil nya menuju Rumah Sakit.


Mela memandang Perusahaan besar di depan nya.


"Baiklah, mari masuk" ucapnya pada diri sendiri dan melangkah masuk. Banyak sorot mata yang memandang nya, namun ia hanya tersenyum. Ya, Melati memang sosok perempuan yang ramah pada siapapun.


Kini ia berada di ruangan Beni.


"Selamat bergabung di Perusahaan kami" ucap Beni mengulurkan tangan pada Mela.


"Iya Pak" menerima uluran tangan Beni.


"Baiklah, ruangan kamu ada di depan. Kamu harus siap sedia kalau saya membutuhkan" tutur Beni


"Baik Pak, kalau begitu saya permisi" ucap nya dan berbalik menuju meja baru nya.


Tanpa di sadari seulas senyum terukir di bibir tampan nya.


"Semoga kamu betah" gumam nya kala menatap punggung Mela yang semakin menghilang dari balik pintu.


"Ah astaga kenapa aku ini" ucap nya pada diri sendiri dan mendudukkan bokong nya di kursi kuasanya.


****


Mela memulai pekerjaan nya dengan semangat, ia harap ini adalah awal hidup nya yang baru.


"Hai, baru ya" seorang perempuan menghampiri nya


"Hai, Iya" sahut Mela sopan


"Kenalin aku Selvy" mengulurkan tangan memperkenalkan diri


"Aku Melati"


"Nama yang cantik seperti orang nya" puji Selvy, membuat sang empu tersenyum malu.


"Baiklah, selamat bekerja. Semoga kita jadi teman baik" ucap nya dan berbalik menuju meja nya. Melati hanya tersenyum


"Sepertinya dia sangat asik" gumam nya dan melanjutkan pekerjaannya.


Jam istirahat kini sudah tiba, naman Melati terlihat masih sibuk dengan pekerjaan yang di berikan atasannya itu.


"Heii, istirahat dulu yukk" Selvy menghampiri nya untuk mengajak istirahat


"Baiklah" ucap nya merapikan pekerjaan nya dan berdiri.


"Yuk" ajak nya.


Baru beberapa jam lalu mereka berkenalan, namun kini mereka seperti sudah dekat sejak lama.


"Oh ya, sebelum nya kerja dimana?" Tanya Selvy basa-basi


"Di Jakarta, Wijaya Group" mengingat nama Wijaya Group, mengingatkan ia pada Bagas. Kekasih hati nya


"Wahh Perusahaan besar, hebat banget kamu" puji Selvy, Mela hanya tersenyum sambil mengaduk minuman di depannya


"Bisa aja kamu"


"Terus terus, kenapa ke B*****?" pertanyaan Selvy membuatnya diam tak berkutik, ntahlah ia harus menjawab apa.


"Mel, kamu gapapa kan?" tanya Selvy memastikan


"Ah i....iya, aku gapapa" jawab Mela gugup


"Kenapa?" tanya nya lagi


"Emmm, pengen nyari suasana baru aja di B*****" sahut nya


"Ooohh" Selvy manggut-manggut seolah paham. Kini mereka berdua mengalihkan pembicaraan, membicarakan kisah atau kesibukan masing-masing.


"Ekhem" deheman seorang laki-laki membuat kedua perempuan itu menolehkan kepala


"Boleh saya gabung?" tanya nya, membuat kedua perempuan itu saling tatap.


"Ah iya silahkan Pak" jawab Selvy. Kini suasana menjadi canggung setelah kedatangan Beni. Ya, jarang sekali Beni mau ke kantin, apalagi duduk dengan karyawan perempuan. Ya, meskipun Beni jarang ke kantin, namun ia selalu duduk sendiri atau kadang dengan Nando temannya.


"Ga pesan makan?" Beni membuka suara, seolah paham kecanggungan di antara mereka setelah kedatangan nya


"Masih kenyang pak" sahut Selvy


"Kamu ga pesan makan juga Mel?" kini ia melontarkan pertanyaan pada perempuan di samping nya yang sedang menunduk.


"Ah tidak Pak" sahutnya sopan, Beni hanya mengangguk paham


****


Melati kini berada di ruangan Beni. Ya, Beni memanggil Melati untuk melihat pekerjaannya. Ah bukan, itu hanya alasannya saja agar bisa berduaan dengan Melati.


"Astaga apa aku sudah gila" batin nya melihat Melati duduk di kursi depannya


"Apa kamu nanti malam ada acara?" pertanyaan Beni membuat nya mendongakkan kepala


"Tidak Pak"


"Apa kamu mau makan malam denganku?" tawar nya


"Maaf Pak, tapi tidak ada jadwal bertemu dengan klien" ucap Melati polos, membuat Beni gemas sendiri


"Ah maksudku, aku mau kamu menemani saya makan malam" ucap Beni


"Saya?"


"Iya, apa kamu mau?"


Mela tak langsung mengiyakan ajakan atasan nya itu, ia tampak berfikir.


"Kalau tidak bisa juga gapapa" ucap Beni kemudian


"Baik Pak" jawaban Melati membuatnya lega, ia tersenyum


"Nanti saya jemput kamu jam 7 malam" Mela mengangguk paham.


****


Mela tampak memilah baju apa yang akan ia kenakan untuk makan malam dengan Beni. Lama ia berfikir, ia pun menemukan baju yang akan ia pakai nanti.


"Tumben rapi, mau kemana Mel malem-malem" Arka menyelonong masuk ke dalam kamar Mela, karena memang tidak di kunci dan terbuka sedikit


"Kak Arka! Ehhhh, anuuu" ia nampak gugup menjawab pertanyaan Arka. Terlihat Arka mengerutkan kening


"Jawab yang bener monyett" Arka menjitak kening Melati, membuat sang empu cemberut.


Tak lama terdengar suara ketukan di ruang tamu. Arka pun berlalu untuk membuka pintu.


"Beni, tumben lo kesini. Udah rapi banget lagi" ucap nya kala melihat Beni yang bertamu, namun ia seketika berfikir


"Oh jadi gak boleh nih gue kesini" jawabnya tak kalah sengit


"Aelahh baperan banget lo, masuk" mempersilahkan Beni masuk


"Lo gak jaga malam?" tanya nya pada Arka


"Enggak, masuk pagi gue hari ini" Beni manggut-manggut, seketika pandangan nya fokus pada perempuan yang turun dari tangga dengan memakai gaun selutut, rambut di gerai indah.


"Sangat cantik" batin nya


"Tunggu-tunggu, kalian..." ucapan Arka terpotong, seolah ia tahu


"Gue pinjem sepupu lo bentar ya" ucap nya menepuk pundak Arka


"Dah sono bawa pergi, jangan bawa pulang adek gue malem-malem. Gue jitak lo" ancam nya pada sang Sahabat


"Astagaa, tenang aja. Kayak gak tau gue aja lo" sedangkan Mela hanya menunduk


"Yuk" mengapit jemari Melati dengan hangat


"Gue pergi dulu" pamit Beni pada Arka


"Iya, hati-hati"


"Semoga kamu bisa lupain dia Dek" gumam nya kala melihat kepergian sepupu nya dengan sahabat nya.


****


Hening! Mela hanya menatap keluar jendela mobil. Sedangkan Beni melirik nya tanpa henti, seolah terhipnotis oleh kecantikan perempuan di sampingnya itu.


"Mau makan dimana?" tanya nya memecah keheningan


"Terserah Pak Beni aja" ucap nya menoleh pada Beni


"Hei, ini di luar jam kerja. Panggil Beni aja"


"Maaf Pak, tidak sopan" ucap Melati sungkan


"Panggil Beni aja ya" ucapnya tersenyum manis pada Mela


"Kak Beni?" tanya nya seolah meminta persetujuan


"Boleh" sahut Beni senang.


Bak seperti remaja yang sedang jatuh cinta, kini senyum di bibir Beni seolah tak luntur sama sekali. Ia senang akhirnya bisa berduaan dengan Melati


***


Jangan lupa tinggalkan komentar kalian, biar author tahu kekurangan nya😊