You're The Last

You're The Last
Eps. 10


Setelah makan dengan Pak Bagas, kini aku berada di taman belakang rumah dengannya. Ku sandarkan kepalaku di pundaknya, ada rasa nyaman sendiri ketika bersamanya.


"Pak Bagas kenapa ga ke kantor?" tanyaku


"Apa aku setua itu sampai kamu memanggil ku Bapak?" ucapannya membuatku mendongakkan kepala


"Bapak kan atasan saya" ucapku polos


"Di kantor memang kamu bawahan, tapi di luar bukan" lagi lagi ia mengacak rambutku


"Lalu aku harus panggil apa?" tanyaku polos


"Terserah" ucapnya dengan santai


"Kak? Mas?"


"Aku buka kakak mu" astaga dia benar-benar meyebalkan, gerutuku dalam hati


"Mas?" tanyaku ulang


"Boleh" ia tersenyum menggoda


****


*****Author Pov*****


Setelah hari yang membahagiakan kemarin dengan Bagas, kini Melati sudah terlihat sehat. Ia sudah rapi dengan pakaian kantor nya, dengan rambut kuncir kuda agar terlihat rapi dan elegant. Serasa penampilannya sudah bagus, ia berjalan turun ke bawah untuk sarapan


"Selamat pagi Bun, Yah, adikku yang jelek"


"Pagi sayang" Sabtu Bunda nya


"Anak Ayah udah bener-bener sehat?"


"Udah dong" ucap Mela semangat


"Ya iyalah sehat, kan kemarin udah di jenguk bos kesayangan Yah" cibir Davin yang di hadiah i jitakan di kepalanya. Membuat sang empu mengelus kepalanya.


"Bawa mobil sendiri atau Ayah antar kak?" tawar Ayahnya, belum sempat ia menjawab pertanyaan Ayahnya seorang laki-laki tampan dengan setelan jas rapi sudah bertamu di pagi buta


"Udah ada yang jemput tuh Yah" ucap Bundanya kala melihat Bagas berdiri di ambang pintu


"Nak Bagas, sini masuk dulu ikut sarapan"


"Ah iya Om terima kasih" ia berjala ke meja makan, mengambil tempat duduk di sebelah Melati. Mela menunduk malu


"Kak, di ambilin dong Bagas nya" ia mengangguk kikuk.


Bagas sengaja bertamu di pagi yang buta, karena ia ingin mengajak Mela berangkat ke kantor bersama. Meskipun awalnya Mela menolak tawarannya, namun ia tetap memaksa dengan dalih Mela masih belum sembuh total.


Mela enggan turun dari mobil Bagas, ia takut banyak bully an yang ditujukan padanya. Bagas menatap wanita di sampingnya dengan tersenyum


"Gak mau turun?"tanyanya, Mela menatao Bagas di sampingnya


"Aku takut"


"Gapapa, kamu harus mulai terbiasa dengan tatapan mereka. Apalagi nanti kalau sudah menjadi nyonya Bagas" ucapnya menggoda dan mengajaknya keluar


Banyak tatapan aneh dan terkejut melihat seorang bawahan turun dari mobil bersama atasan. Apalagi melihat Bagas menggenggam erta tangannya


"Pak Bagas jadian sama Melati ya"


"Cocok banget si"


"Melati cantik dan juga Pak Bagas yang tampan"


"uuhh baper"


Dasar kecentilan"


"Pasti dia menggoda Pak Bagas"


Banyak cibiran yang di lontarkan padanya. Ada yang mendukungnya dan dan ada yang tak menyukainya. Namun Bagas terlihat cuek, ia menggenggam terus tangan Mela sampai di depan meja kerja Mela. Namun Mela masihh setia menunduk


"Aku masuk dulu ya" pamitnya berlalu ke ruangan kerjanya


Melihat atasannya sudah pergi ke ruangannya, Sari dan Ratna menghampiri meminta penjelasan


"ekhem, cerita" ucap Ratna melipat tangan di dada seperti ibu yang sedang memarahi anaknya


"Melati mengembuskan nafas"


Ia mulai menceritakan bagaimana ia bisa dekat dengan Bagas hingga menjadi kekasihnya. Berawal dari ketidak sengajaan Bagas melihatnya di pinggir jalan hingga saat ini. Kedua temannya melongo tak percaya, bagaimana bisa seorang atasan dengan seorang bawahan.


Namun Ratna mengakui kalau sahabatnya itu berasal dari keluarga berada, jadi tak mungkin sulit mendapat restu dari keluarga Bagas.


****


Jam kerja sudah berlalu, namun Mela masih setia dengan laporan kerjanya. Padahal suasana kantor sudah sepi karena para karyawan sudah pulang. Jam menunjukkan pukul 16:30, Bagas keluar dari ruangan kerjanya, ia kaget melihat Mela masih setia dengan lembaran-lembaran di mejanya. Ia menghampiri kekasihnya itu dan juga bawahannya


"Kenapa belum pulang hm?" tanya nya pada Mela yang masih berkutat dengan lembaran di depannya


"Masih menyelesaikan laporan Pak, tapi ini udah selesai kok" ucapnya tersenyum


"Ini sudah di luar jam kerja sayang, kenapa panggil Pak?" ucapnya menggoda membuat sang empu salah tingkah, pipinya merah seperti tomat


"Kok pipinya merah?" lagi lagi ia menggodanya, ia segera menutup wajahnya yang memerah menahan malu


"Udah yuk sini aku bantuin" Bagas membantunya membereskan kerjaannya.


Sebelum pulang ke rumah, ia mampir ke restauran untuk makan. Karena tadi Mela tidak sempat istirahat.


****


Hari berjalan seiring dengan waktu. Hubungan mereka kini sudah memasuki 4 bulan menjadi seorang kekasih. Sudah saatnya Bagas memperkenalkan Melati pada Keluarga besarnya. Besok Ulang tahun Putri, keponakannya. Ia berniat mengajak Melati untuk datang ke acara itu


"Besok dandan yang cantik ya, aku jemput jam 18:30" pintanya pada Mela


"Kemana mas?"


"Putri ulang tahun, aku mau memperkenalkan kamu pada keluarga" ucapnya lagi lagi membuat Mela pipinya seperti tomat. Bagas mencubit pipinya gemass


****


***Melati Pov***


Aku sudah menentukan pakaian mana yang akan ku pakai untuk bertemu dengan keluarga besarnya Mas Bagas. Aku tak mau mereka merasa ilfil denganku. Aku memutuskan memakai dress berwarna hitam di atas lutut. 30 menit sudah, dan aku masih setia berdiri di atas cermin memperhatikan penampilanku. Suara ketukan pintu membuat ku menoleh


"Kak, Kak Bagas udah di bawah tuh" ucap Davin memberitahu


"Kakak cantik banget" lanjutnya membuat ku tersipu malu. Aku mengambil tas dan kado yang akan ku berikan pada gadis kecil cantik nantinya.


"Yah Bun" sapaku yang sudah dibawah


"Anak bunda cantik sekali" Ucap Bundaku, aku tersipu malu melihat tatapan Bagas padaku


"Pulangnya jangan malam-malam ya nak" petuah Ayahku. Kami pun pamit untuk pergi


****


Aku menatap takjub rumah besar mewah dengan desain modern, tak kalah besarnya dengan rumahku. Namun rumah keluarga Mas Bagas lebih terlihat mewah.


Ku lihat mas Bagas membuka kan pintu mobil untukku, ku terima uluran tangannya. Berjalan beriringan masuk kedalam rumah. Banyak mobil mewah terparkir rapi di depan rumahnya. Aku memasuki rumah dengan gelisah, takut jika kehadiran ku tak diinginkan keluarga Mas Bagas. Namun aku salah, seorang wanita cantik dengan usia yang tak lagi muda menghampiri kami


"Astaga siapa wanita cantik ini Bagas" ucapnya memujiku, aku tersipu malu


"Dia kekasih Bagas Tante" ucap mas Bagas mengeratkan tangannya


"Kenalkan nama Tante Widya, adik dari Mamanya Bagas" ucapnya memperkenalkan diri dan memelukku hangat. Ku lempar senyum manis padanya


"Melati Tante" kenalku padanya


"Nama yang canfim seperti orangnya. Udah sana ajak dia bertemu Papa dan Mama mu. Disana ada Nenek" titahnya pada Mas Bagas untuk mengajakku bertemu kedua orang tuanya