
Kini aku sudah berada di ruang tamu, duduk berhadapan dengan orang di masa lalu. Penghianatan yang di lakukannya dengan teman baikku sampai saat ini masih terngiang di otakku. Ku hanya diam menunduk tanpa mau menatapnya, ku lirik dia sekilas
"Apa kabar?" ucapnya memecah keheningan diantara kami
"Baik" ucapku seadanya
"Aku merindukan kamu, sengaja aku pulang ke Indonesia untuk menemui kamu" ucapnya membuatku semakin muak
"Maaf atas semua yang aku lakukan dulu" ucapnya dengan lirih, ku dongakkan kepala menatapnya. Sorot matanya terlihat tulus, namun aku tak mau percaya begitu saja. Ku palingkan muka ke segala arah
"Mel, apa kamu masih marah sama aku?" Pertanyaan apa yang di lontarkan, jelas-jelas aku masih marah
"Tidak, aku cuma kecewa" ucapku, tanpa terasa air mataku menetes begitu saja kala mengingat kejadian dulu. Andai dia tidak bermain api dengan temanku, mungkin sekarang ini hubunganku dengannya baik-baik saja. Tak banyak bicara, tak lama kemudian ia pamit pulang. Ku rebahkan tubuhku di atas kasur, menatap langit-langit dan terlelap begitu saja
Hari ini aku tak membawa mobil sendiri, kepalaku rasanya pusing dan badanku lemas. Aku segaja meminta Ayah mengantarku kerja, karena memang arah kantor Ayah dan tempatku kerja satu arah.
Kuberjalan masuk kantor tanpa semangat, mungkin karena badanku tidak fit. Ku letakkan kepalaku di atas meja.
"Mel, lo ga papa?" ku dongakkan kepala, sosok Adit berdiri di depan mejaku. Menatapku dengan tatapan khawatir
"Aku ga papa" ku jawab dengan senyum yang tak pernah luntur
"Tapi muka lo pucet banget, badan lo panas" ucapnya sembari memegang keningku
"Aku gapapa dit" Ucapku meyakinkan dia. Ku dengar helaan nafas kasar, ia pun hanya mengangguk dan beranjak ke meja nya. Ku beranjak berdiri untuk pergi ke kamar mandi, mencoba menahan rasa pusing hingga akhirnya semuanya gelap
Ku kerjap-kerjapkan mata, menatap sekeliling penuh dengan obat dengan nuansa putih. Ku mencoba bangkit dari tidur, namun suara berat seseorang membuatku mencari asal suara itu
"Jangan banyak bergerak" Ucap lelaki itu berjalan ke arahku sambil membawa obat dan air
"Minum obat dulu" menyodorkan obat padaku, aku pun meminumnya dengan patuh
"Terima kasih Pak" ucapku tulus. Ya, Pak Bagas yang membawakan obat itu. Ia hanya mengangguk, astaga datar sekali wajahnya. Ku tahu dia tampan
"Apa Bapak yang membawa saya ke sini?" Tanyaku padanya. Lagi-lagi jawabannya membuatku kesal
"Apa kau melihat ada orang lain di sini selain aku?" jawabnya sarkatis, aku memanyunkan bibir dan merebahkan tubuhku kembali. tiba-tiba rasa kantuk menyerang, mungkin karena efek obat
****
Melihat sang perempuan tidur membelakanginya, ia menyunggingkan senyum kala mengingatnya kesal padanya.
"menggemaskan" batinnya
Berjalan ke arah sofa, mendudukkan pantatnya di atas sofa dengan tangan telentang. Terlihat wajah tampan yang sedikit lelah. Ya, ia yang membawa Melati ke ruangan kesehatan di kantornya. Ketika ia ingin ke kamar mandi, terlihat seorang perempuan tengah memijat keningnya dan akhirnya jatuh pingsan.
Tak lama kemudian bunyi derap langkah kaki tergesa-gesa terdengar masuk ke ruangan, ia mendongakkan kepala muncul dua orang perempuan. Perempuan yang sering bersama Mela, mungkin sahabatnya batinnya. Mereka belum menyadari keberadaan Bagas
"Mel, lo gapapa kan?" ucap Sari khawatir
"Kenapa ga bilang kalau sakit si, kalau sakit tadi tuh izin ga masuk kerja dulu" cibir Ratna, namun Mela hanya tersenyum kikuk melirik Bagas. Mungkin dua sahabatnya belum menyadari keberadaannya, Bagas hanua menatap nya jengah. Ratna dan Sari mengikuti sorot mata Mela.
"Pak Bagas" ucap Sari kaget
"Eh..maaf Pak kami tidak tau" ucap Ratna tak enak, namun Bagas hanya menganggukkan kepala tanpa berniat membalas ucapannya. Tak lama seorang laki-laki datang nyelonong masuk.
"Gue bilang juga apa tadi, sekarang lo pingsan kan. Bandel banget dah lo kalau di kasih tau" cibir Adit. Adit mengetahui Mela di ruang kesehatan dari teman kantor yang melihatnya. Bagas menatapnya penuh tanda tanya, panas. itulah yang di rasakan kala ada laki-laki yang lebih dekat. Tak mau berlama-lama di ruangan itu, ia beranjak keluar
"Saya keluar dulu" pamitnya, namun Melati seperti tak rela jika atasannya itu pergi
"Iya pak" sahut mereka
"Kenapa bisa sakit?" pertanyaan konyol Sari yang membuatnya jengah.
"Dia datang" ucap Mela, membuat ke tiga temannya mengerutkan kening tak mengerti
"Dia datang kembali" sebulir air mata jatuh dari pertahanannya. Kini ketiganya sudah paham yang di bicarakan Mela. Ya, Adlan. Mereka mengetahui tentang Adlan sang mantan kekasih Mela yang menghianatinya dengan teman baik Mela sendiri. Sari mendekat, memeluknya. Udah ya ga usah di pikirin lagi. Sedangkan Adit diam, ada rasa sesak tersendiri di dadanya.
Jam kerja sudah berakhir, kini seorang gadis cantik tengah berdiri di pinggir jalan menunggu taxi lewat. Keadaannya sudah membaik. Tak lama kemudian sebuah mobil berhenti di depannya, sedikit terbuka kaca membuatnya mengetahui siapa pria di dalam mobil itu.
"Pak Bagas" ucapnya lirih
"Masuk" titah Bagas, membuat sang empuh gelagapan
"Mau pulang kan? buruan masuk saya antar" titahnya, membuat sang empu berjalan menuju mobil sang atasan. Hening, itulah keadaan di dalam mobil. Sesekali ia melirik wanita di sampingnya. Seulas senyum tipis tercetak di bibirnya. Ia ingin mengenal Mela lebih dekat lagi, bukan hanya sebagai atasan dan bawahan. Namun lebih dari itu